Zein tertunduk lesu mendengar penuturan Bima siang itu. Mengapa Bima tidak mengatakan dari awal pertemuan mereka? Sehingga Zein menaruh harapan lebih kepada Bima. Oh tidak! Ini tidak bisa diteruskan! Batin Zein.
“Jadi bagaimana Zein? Maukah kamu menerimaku?”
“Maafkan aku Mas Bim… aku tidak bisa menjadi yang kedua…”
Seketika tetesan air mata jatuh di pelupuk mata Zein dan dengan cepat ia hapus.
Bima menatap lurus wajah gadis yang baru ia kenal beberapa minggu ini. Dengan berat Bima menahan air mata yang juga ingin keluar dari bola matanya yang tajam. Oh… mengapa aku mencintai dua insan hawa??
“Pergilah Mas Bim… bahagiakan Mba Sita… namanya indah seindah wajahnya aku yakin itu dan kamu akan berbahagia bersamanya…”
Bima diam dan berlalu dari Zein. Betapa berat melangkahkan kaki meninggalkan Zein yang pasti hatinya terluka. Bima harus memilih… dan pilihannya jatuh pada Sita meski mungkin hatinya lebih besar memilih Zeini…
Zeini bergegas ke kamarnya. Ia menangis tersedu mengingat apa yang sudah ia alami begitu cepat. Ia begitu cepat menyukai Bima! Dan ia begitu cepat harus melupakan Bima…
***
Sita menunggu Bima di rumah. Berkali-kali ia menatap jam di rumah seakan bertanya kapankah Bima pulang ke rumah? Hingga ia terlelap tidur di sofa. Satu jam kemudian pada pukul sepuluh malam Bima tiba di rumah. Bima dengan pelan mengetuk pintu. Sita membukakan pintunya dan menyambut kedatangan Bima suaminya tercinta. Lalu ia membukakan sepatunya lalu memanaskan makanan. Mereka pun makan bersama.
“Ayah, bagaimana tadi? Apakah Zein menerimamu?” Tanya Sita dengan lembut
Bima hanya tersenyum, diam dan meneruskan makannya. Sita ikut diam dan tak berani bertanya lagi kepada Bima. Selesai makan, Bima ke kamar mandi setelah itu tidur. Sita dengan sabar menanti laporan suaminya itu. Namun hingga Bima terlelap Sita belum menemukan jawabannya. Sita pun tidur dan mengecup kening suaminya. Mungkin Mas Bima terlalu lelah hari ini. Pikirnya.
Paginya Bima masih diam. Ia berbicara seadanya dan tidak membahas pertemuannya kemarin dengan Zeini. Padahal Sita sangat ingin tahu apa yang terjadi. Dan ketika akan berangkat ke kantor. Bima mengajak Sita duduk di ruang keluarga. Barulah Bima bercerita bahwa kemarin Zeini tidak bisa menerimanya lamarannya. Dan ia tidak bisa menjadi istri kedua.
Sita menangkap kesedihan yang ada pada diri suaminya. Sita tahu bahwa Bima menyukai gadis itu dan ingin menikahinya. Dengan penuh kasih sayang, Sita menenangkan hati suaminya. Pengabdian Sita sebagai istri bagaikan seorang ibu kepada anaknya. Sungguh beruntung Bima mempunyai istri seperti Sita.
Setelah Bima berangkat ke kantor. Sita menelepon Zeini. Sita memang sudah memegang nomor Zeini.
“Assalamualaikum…” Sapa Zeini setelah Hp nya berdering
“Wa’alaikumsalam wr wb… Zein, saya Sita istrinya Mas Bima…” Sapa Sita balik
“Oh.. Mba…”
“Zein, maaf jika saya ikut campur dalam keputusan yang sudah kamu ambil. Tapi saya tidak bisa melihat wajah Mas Bima murung. Cobalah pikirkan lagi keputusanmu” Bujuk Sita pada Zein.
“Maaf mba… keputusan saya sudah bulat bahwa saya tidak bisa menerima Mas Bima. Terlebih lagi Mas Bima mempunyai istri baik dan solehah seperti mba. Zein tidak tega. Lagipula dari awal Zein tidak tahu status Mas Bima. Jika Zein tahu mungkin Zein tidak akan membiarkan perasaan ini” Zein agak terisak
“Zein, kamu sudah saya anggap adik sendiri. Tidak kah bisa kau rubah keputusanmu?”
“Maaf mba Sita… saya tidak bisa”
Sita diam sejenak “Ya sudah… meskipun tidak bisa. Moga tali persaudaraan ini tetap terjalin ya. Semoga nanti jodohmu akan segera datang. Bersabarlah. Apapun keputusanmu semoga itulah yang diridhoi Allah”
“Terimakasih Mba Sita. Mas Bima tidak salah memilih mba yang sangat baik ini. Saya harus banyak belajar dari mba”
“Segala puji hanya bagi Allah. Saya hanya manusia biasa Zein. Sudah ya. Wassalamualaikum” Sita mengakhiri pembicaraannya
“Alaikumsalam…”
Klik’…..
Sita menghela nafasnya. Lalu ia pergi mengambil air wudlu kemudian sholat Dhuha. Dalam sujudnya. Ia menangis. Dalam hati kecilnya ia merasa cemburu karena suaminya menyukai wanita lain. Di sisi lain, ia harus ikhlas menghadapi segala ujian ini. Bukankah ia yang memberikan izin kepada suaminya untuk menikah lagi? Lalu ia teringat ketika itu Bima pulang dari kantor dengan wajah sumringah. Ia dapati wajah itu ketika pertama kali ia melamarnya. Bima tampak lebih romantis dan bersikap seperti orang sedang pacaran. Sita yang begitu peka bertanya kepada suaminya. Bertanya apakah Bima sedang jatuh cinta pada seseorang? Dan benar saja Bima mengakuinya.
Bima bercerita bahwa ia berkenalan dengan Zeini oleh teman sekantornya yang merupakan sahabat Zeini. Zeini saat itu sedang pergi ke Bandung dan melamar pekerjaan di kantor Bima. Zeini sendiri berasal dari Cianjur. Sejak perkenalan itu Bima dan Zeini bertukar nomor telepon dan mereka makin akrab. Bima sendiri memang tidak mengaku bahwa ia sudah mempunyai istri. Jadi Zeini merasa hubungan mereka wajar dan Zeini pun menaruh rasa suka pada Bima. Begitupun Bima hingga akhirnya Bima bercerita pada Sita ingin menikah lagi.
Awalnya Sita kaget dan tersentak. Hal yang pernah ia kawatirkan akan terjadi juga. Memang sejak awal pernikahan Sita sudah menyiapkan diri bahwa kelak jika suaminya menikah lagi ia harus siap. Itulah pesan ibunya kepada Sita.
Bima pun dengan sopan meminta izin menikah lagi kepada Sita. Karena izin Sita lah yang membawa restu pernikahannya yang kedua ini. Lalu suami istri itu diskusi sebelum keberangkatan Bima ke Cianjur untuk melamar Zeini.
“Bunda, ayah tidak akan pergi ke Cianjur jika bunda tidak mengizinkan” Kata Bima
Sita menarik nafas menenangkan hati dan ia tersenyum seraya berkata
“Ayah, tetapkan niat. InsyaAllah bunda ikhlas. Bunda sudah menyiapkan jauh hari tentang perasaan ini. Bunda sudah minta petunjuk Allah dan bunda akan dukung ayah”
“Subhanallah… sungguh damai hati ini mendengar penuturanmu istriku…”
Lalu berangkatlah Bima ke Cianjur menemui Zeini.
***
Sepulang dari kantor. Bima nampak lesu. Sejak pulang dari Cianjur Sita melihat wajah suaminya selalu murung dan nafsu makannya berkurang. Sita sedih melihat keadaan suaminya itu. Dan benar saja. Keesokan harinya Bima muntah-muntah dan badannya panas. Menurut dokter, Bima kena tifus. Karena pikiran juga. Karena setelah ia pergi ke Cianjur dan Zeini menolak lamarannya sejak saat itu juga Zeini tidak pernah menghubungi Bima lagi. Meski sering Bima menghubungi Zeini. Hal itulah yang membuat Bima patah hati. Ada hati busuk yang menyelinap dari hati Sita. Kalau saja Bima tidak pernah bertemu dengan Zeini… Astaghfirullah… Sita membuang semua pikiran buruknya. Kini ia harus merawat suaminya.
Dengan sabar Sita menjaga Bima hingga kesembuhannya. Seminggu sudah Bima terbaring di Rumah Sakit dan Sita merawatnya. Buah hati mereka Fiona ditinggal di rumah bersama neneknya. Kadang Fiona yang masih berusia 4 tahun itu memanggil ayahnya karena sudah lama tidak pernah bermain lagi bersama. Dan ketika diajak ke rumah sakit. Fiona tampak sedih karena melihat ayahnya hanya bisa terbaring di kasur.
“Bunda… ayah kenapa? Fifi pengen maen sama ayah…” Fiona memegang tangan Bima
“Ayah lagi sakit nak… nanti kalau sudah sehat insyaAllah bisa main lagi sama kamu. Nah sekarang kamu mau ga nyuapin makanan ayah?” Bima merayu gadis kecil itu. Dan Fiona mengangguk tegas. Sita hanya bisa melihat keakraban ayah dan anak itu dan terus berharap semoga Bima cepat pulih.
Cukup lama Bima cuti dari pekerjaannya karena penyakit tifus nya agak akut. Selama itu pula Sita dengan sabar menemani Bima. Dan kini Bima sudah bisa pulang ke rumah. Kesehatannya belum juga pulih namun sudah bisa dirawat di rumah saja. Ketika berada di kamar, Bima meminta Sita untuk duduk di sampingnya. Ada hal yang ingin ia sampaikan.
“Sita, istriku yang manis… ayah ingin minta maaf sama bunda” Bima memegang jemari Sita. Dada sita berdegup kencang seperti pertama kali mereka bertemu pada malam pengantin.
Lalu Sita bertanya “Untuk apa yah?”
“Untuk semua yang telah ayah lakukan pada bunda. Ayah tau perasaan bunda akan terluka ketika ayah menyukai wanita lain bahkan ada niat ingin menikahinya. Tapi ayah melihat kesabaran yang bunda pancarkan membuat ayah malu dan tidak pantas untuk menyakiti bunda. Kini ayah sadar bahwa bunda itu terlalu indah untuk ayah duakan…” Pegangan Bima semakin erat dan hangat.
“Ayah… bunda sudah ikhlas jika ayah menikah lagi. Bunda sudah menyiapkan itu. Apalagi melihat ayah jadi sakit seperti ini mungkin juga gara-gara tidak terpenuhi keinginannya. Bunda jadi bersalah karena tidak bisa membujuk Zeini untuk menerima ayah dan……” Belum selesai Sita meneruskan kata-katanya Bima menutup bibirnya dengan jarinya…
“Ssstt… Sita bidadariku… tidak usah teruskan kata-kata itu lagi ya. Ayah sangat bersyukur mendapat istri seperti bunda. Ayah tidak bisa kuat kalau tidak ada bunda. Ayah hanya ingin bunda” Bima menatap tajam wajah Sita. Sita tersipu dibuatnya.
Taman terindah di syurga dunia adalah keluarga. Bima tidak akan melepas syurga itu untuk kedua kalinya. Ia ingin membangun keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah hanya bersama Sita.
Ketulusan cinta Sita dan kesabarannya membuat Bima terpesona kepada istrinya. Bima pun jatuh cinta lagi kepada Sita.
***
Tiga bulan kemudian…
“Bunda… tante Zeini menelpon…” Fiona memberikan telpon rumah itu pada Sita
“Assalamualaikum Zeini… apa kabar?” Sapa Sita
“Alhamdulillah mba, Zeini sehat… moga mba dan Mas Bima juga sehat. Gini mba… Zein ingin memberitahukan insyaAllah minggu depan Zein menikah”
“Alhamdulillah sama siapa Zein?”
“Sama kakak kelas Zein dulu waktu kuliah di Unpad. Mas dan Mba datang ya. Maaf undangannya nggak bisa dikirim. Hanya melalui telpon ini saja. Gapapa ya…”
“Iya ga apa-apa Zein. InsyaAllah kami akan datang. Salam untuk calon suami kamu ya”
“Iya mba. Salam juga untuk Mas Bima. Wassalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam wr wb”
Klik’
Cintailah insan kau kasihi dengan sekadarnya karena kelak engkau mungkin akan membencinya pula… Cintailah insan kau kasihi dengan sekadarnya karena kelak engkau mungkin akan membencinya pula…
Bencilah manusia kau musuhi Dengan seadanya Kerana kelak engkau mungkin Akan menyintainya pula.
Udara dingin selepas hujan malam itu membuat Seno menggerutukkan giginya. Ia berjalan pelan sepulang dari hotel tempatnya bekerja. Tangannya ia masukan ke dalam jaket tebalnya menyusuri jalan Al-Faisaliyah Riyadh itu.
Tak lama ia tiba di apartemen tempatnya tinggal bersama dua orang temannya. Husni dan Faray masih terlelap tidur. Mereka kerja di hotel yang sama yaitu di hotel AlFaisaliyah sebagai juru masak hotel tersebut. Hanya saja Seno kerja sip malam sedangkan Husni dan Faray kerja sip siangnya. Pukul sembilan pagi mereka belum bangun. Biasanya setelah solat subuh dan mengaji sebentar mereka tidur lagi. Bangun kira-kira jam sebelas siang.
Seno mengambil handuk yang ia gantung di balik pintu kamarnya. Kemudian ia bergegas membersihkan badannya yang lengket walau udara masih dingin. Lalu ia menyalakan air hangat yang tersedia di dalam kamar mandi itu. Seketika itu pula tubuh kurus tinggi itu dibasahi oleh tetes-tetes air yang berkumpul membasahi tubuh Seno.
Setelah Dhuha, Seno mengambil Al-Quran kecil yang ia simpan di dalam lemari. Meski padatnya ia bekerja, meski lelahnya ia bekerja, ia tak pernah lupa ajaran almarhum ayahnya untuk selalu membaca Al-Quran setiap harinya. Karena itu adalah perisai diri. Dalam Al-Quran banyak terdapat doa dan pelindung diri. Karena saat ini ia jauh dari keluarganya maka Al-Quran adalah perisai diri yang paling baik.
Baru setengah halama ia baca, telepon genggamnya berdering. Tertera tulisan “My Lady” di Hp tersebut. My Lady hanya miss call. Lalu Seno kembali merampungkan bacaannya.
***
Di tempat lain, seorang gadis tengah menunggu seseorang di depan layar komputernya. Ia sudah membuka layanan Yahoo Messenger. Tampaknya ia sedang janjian dengan seseorang. Tapi ternyata orang itu belum juga muncul. Maka ia membuka berita online yang ada. Tengah asyik membaca tiba-tiba muncul “BUZZ!” di kotak chatingnya.
Mulya_79: “Assalamualaikum My lady… how are you today??”
Begitulah sapaan yang ia terima. Lalu gadis itu membalasnya
Lady_Fan: “Wa’alaikumsalam My Man… I’m fine Alhamdulillah”
Mulya_79: “Kemana aja de? Kok baru OL lagi?”
Lady_Fan: “Hmm kayaknya kakak deh yang baru OL? Fani kan udah sering OL
nya juga”
Mulya_79: “Oh iya ya.. kakak lupa..kakak sibuk banget de”
Mulya_79 adalah Id dari Seno. Nama lengkapnya Seno Mulya Samudera dan Lady_Fan yaitu nama gadis itu Fani Fauziah Zahra. Mereka sudah berhubungan sejak tiga bulan lalu. Kala itu Seno status mereka hanyalah sebatas adik dan kakak saja. Tapi bunga-bunga dalam hati mereka kian merekah dan hati mereka tidak bisa dibohongi kalau antara mereka ada api asmara . Mungkin mustahil, mana mungkin seseorang yang belum pernah bertemu bisa jatuh cinta. Tapi itulah Seno dan Fani. Mereka pun tak mengerti mengapa mereka bisa demikian.
***
Tiba-tiba Fani menekuk mukanya. Ia kesal dengan sikap Seno hari ini. Meski sudah chating tapi sikap Seno membuat gadis berusia 23 tahun ini tak sedap dipandang. Yang ia lakukan saat ini adalah tidur sambil membaca buku “Perempuan Berkalung Sorban” ia membayangkan andai saja Seno bisa seperti karakter Hudori dalam cerita itu. Romantis dan idaman setiap wanita. Tapi Seno bukanlah seorang yang romantis. Fani kesal itu.
“Masak sih pas aku lagi marah sama dia, panjang lebar aku kemukakan kekesalanku sama dia… eeh apa coba jawabannya??? Klise banget!”
“Apaan?”
“Sabar lah de’ atau kamu bisa sabar dikit ga sih? Atau kamu jangan marah terus dong… Uuugh! Siapa yang ga BT coba? Aku tuh maunya dia jelasin ke aku panjang lebar kek… atau dia tuh ngademin perasaanku… bujuk-bujuk aku biar ga marah lagi kek… masa’ cuma kalimat itu aja yang keluar dari dia.. hhhhaaaahhh cape deehh ”
Saat itu Fani jadi teringat ketika curhat dengan sahabatnya Gitta. Gitta hanya tersenyum-senyum sendiri dan berkata pada Fani
“Makanya… pacaran tuh jangan jarak jauh… jadi sensi deh trus kamu kok bisa sih suka sama orang yang menurut aku belum jelas???”
Fani hanya menggeleng tak tau jawabannya. Baginya rasa suka kepada Seno tak dapat ia jelaskan dengan kata-kata. Ia hanya bisa merasakannya dan ia tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya pada Seno. Ketika ia suka maka ia suka, ketika ia sayang maka ia sayang. Sudah cukup!
***
Awalnya Seno tak mau ambil pusing dengan sikap “My Lady” nya itu. Fani mungkin sedang tidak mood saja hari ini. Atau ia sedang kesal di kampusnya kemudian Seno yang jadi tempat pelampiasan kekesalannya. Memang aneh wanita itu. Awal pembicaraan tampak bahagia, terkesan tidak ada masalah eh giliran sudah pertengahan pembicaraan mulai deh egoisnya muncul. Dasar wanita!
Wanita diciptakan bukan dari tulang ubun, sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja, tak juga dari tulang kaki karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak. Tetapi dari rusuk kiri, dekat hati untuk dicintai, dekat tangan untuk dilindungi. Dibalik rahasia agung tersembunyi dalam diri. Itulah sekeping hati yang takut pada ilahi berpegang pada janji mengabdikan diri.
Seno membaca bait yang pernah Fani kirimkan kepadanya lewat sms. Seno tertawa kecil… ia bisa menaklukkan unta padang pasir. Tapi ia tidak dapat menaklukkan hati wanita. Tersimpan beribu Tanya pada wanita. Bagaimana bisa memahami wanita karena ia adalah makhluk sensitif. Harus dengan lembut ia diraih. Fani… Fani… kaulah wanita itu…
***
“Kita akhiri saja hubungan ini kak… atau biasa seperti dulu lagi. Fani tak lagi berharap sehingga Fani tak lagi menuntut banyak dari kakak. Fani capek seperti ini terus. Marah ga jelas sama kakak. Fani takut membuat kakak gerah dan merasa risih dengan sikap Fani akhir-akhir ini”
Seno terhenyak dari tidurnya. “Aduh duh Fani…… bagaimana lagi harus kakak jelaskan sama kamu sih agar kamu ngerti keadaan kakak saat ini…” Seno bergumam dalam diri sambil memegang kepalanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang Hp berisi sms dari Fani. Ia hari-hari ini dibuat pusing oleh Fani yang maunya marah-marah terus.
“De, kamu tenang ya sayang… kakak akan pulang… dan akan menemui kamu. Tapi bukan saat ini. Saat ini kakak masih harus menyiapkan segalanya. Semua untuk kita. insyaAllah kalau jodoh ga akan kemana kok de’. Kamu masih mau nunggu kakak kan ? Miss You…”
Fani membaca sms balasan dari Seno. Fani tak lagi menjawabnya. Fani masih kesal. Kesal kepada dirinya sendiri yang menuntut terlalu banyak pada Seno. Padahal Seno sudah termasuk pria baik dan soleh. Hanya memang kurang romantis. Fani sayang kepada Seno hingga sosok Seno sulit tergantikan oleh yang lain. Meski banyak lelaki yang datang kepada Fani menyatakan rasa suka pada Fani, namun hati Fani sudah mentok kepada Seno. Hanya terkadang Fani kesalnya karena perhatian Seno terkalahkan oleh perhatian lelaki lain yang menyukai Fani. Andai saja yang lebih perhatian itu adalah Seno bukan orang lain.
Dua pasang kekasih ini hingga saat ini masih menjalani Long Distance Love… hanya Allah yang dapat menyatukan mereka. Akankah keduanya akan bertemu dan hidup bahagia bersama???
Sebuah Puisi Dipersembahkan untuk Fani dari Seno :
Lately you have been asking me
if all my words are true
Don’t you know I’ll do anything for you
Sometimes I haven’t been good to you
Sometimes I’ve made you cry
And I am sorry for everything
but I promise you girl
I promise you this
When the blue night is over my face
on the dark side of the world in space
When I’m all alone with the stars above
you are the one I love
So there’s no need to worry girl
My heart is sealed for you
And no one’s gonna take it away
cos’ I promise you girl
I promise you this
When the blue night is over my face
on the dark side of the world in space
When I’m all alone with the stars above
you are the one I love
Your voice is calling to me in my dreams
My love is stronger than it’s ever been
Wanita solehah adalah bidadari syurga yang hadir di dunia
Wanita solehah adalah ibu dari anak-anak yang mulia
Wanita solehah adalah istri yang meneguhkan jihad suami
Wanita solehah menebar rahmat bagi rumah tangga cahaya dunia akhirat
Lantunan syair itu membuat hatiku rapuh dalam sujudku… aku tak dapat menaikkan tubuhku yang sudah tersungkur hampir satu jam di atas sajadah ini. Air mataku meleleh layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya. Sesenggukan dan terkadang meyayat hati.
Oh inikah rasanya patah hati? Seketika membuatku menjadi melankolis dan rapuh. Hanya sebuah cinta bisa membuatku bukanlah Amir yang mereka kenal. Amir seorang pengambil kebijaksanaan, Amir seorang kepercayaan bos besar!!! Sungguh berat kuhentikan tangisan ini…
Ya Allah inikah rasanya kehilangan orang yang sangat dicintai?? Teramat berat kurasa…
Wanita solehah impianku akankah menjadi bagian dari hidupku??…
***
Sudah satu jam ini aku menunggu pesawat pemberangkatanku ke tanah air. Kontrak kerjaku sudah habis di sana. Aku akan pulang ke Indonesia dan mulai usahaku dari tabunganku selama bekerja di sana. Amira gadisku setia menungguku di sini. Ia asli Yordania. Tinggi, putih dan yang membuatku tertarik padanya adalah sorotan matanya yang tajam. Berbalut jilbab panjang warna coklat sangat pas ia kenakan ketika aku pertama kali bertemu di lobi hotel tempatku menginap ketika aku menjalani liburan kantor.
Ia yang menjadi Guide ku selama aku liburan di Yordania di Petra sebuah situs arkeologikal, terletak di dataran rendah di antara gunung-gunung yang membentuk sayap timur Wadi Araba, lembah besar yang berawal dari Laut Mati sampai Teluk Aqaba. Petra adalah kota yang didirikan dengan memahat dinding-dinding batu di Yordania. Petra berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘batu’. Petra merupakan simbol teknik dan perlindungan. Aku kagum dengan sosoknya yang paham betul dengan situs arkeologi itu. Tak biasanya Guide wisata ini adalah perempuan. Ia lancar berbahasa Inggris dan kami mulai akrab di sana.
Sejak itu kami sering mengirim kabar lewat email. Aku kagum padanya. Ia cerdas dan wawasannya luas. Sejak itu kami makin akrab dan kamipun memulai hubungan serius. Aku kedua kalinya jatuh cinta. Dulu pertama kali aku jatuh cinta pada teman kuliahku di Jakarta dulu. Tapi karena aku belum siap, ia menikah duluan dan kini ia sudah mempunyai anak dua. Sejak itu aku tidak pernah jatuh cinta lagi. Aku termasuk susah untuk jatuh cinta.
Dan setelah bertemu dengan Amira aku mulai merasakan getar itu lagi. Getaran yang dulu pernah aku rasakan pada Uswah pacarku dulu bahkan lebih. Kali ini aku serius ingin meminang gadis Yordan itu.
Aku kunjungi keluarga Amira. Mereka menerimaku dengan baik. Walau kami beda Negara, orangtuanya tidak mempermasalahkan apa-apa. Aku semakin mantap dengan pilihanku kali ini.
***
Kepulanganku kali ini bertepatan denganhari raya Idul Fitri, aku juga akan mengatakan kepada keluargaku tentang niatku ini. Aku akan meminang gadis pujaan hatiku. Gadis yang aku cintai dan mencintai aku. Amira dengan sabar menungguku untuk naik ke pesawat. Kali ini jilbab yang ia kenakan berwarna merah, berbunga-bunga namun aku melihat dari sorot matanya yang sayu bahwa ia ingin mengatakan tak rela melepasku pergi.
Waktu tlah tiba… aku kan meninggalkanmu tuk sementara
Kau seakan berbicara jangan pergi
Tapi aku hanya dapat berkata……
Aku hanya pergi tuk sementara
Bukan tuk meninggalkanmu selamanya
Aku pasti kan kembali pada dirimu
Sabarlah menanti…
Guratan senyum tersungging dari bibirnya yang ranum setelah mendengar rayuanku. Aku bukan merayu tapi aku telah berjanji padanya akan kembali. Aku pun segera masuk ke dalam ruang tunggu untuk menuju pesawat karena sudah tiba waktunya aku pergi. Amira melemparkan senyumnya yang tulus. Subhanallah gadis inikah yang akan mengisi hari-hariku nanti. Ya Allah permudahkan kami untuk bersatu.
Kepulanganku ke tanah air disambut oleh keluarga besarku. Mereka bangga denganku. Mereka merindukanku. Benar saja karena aku adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Aku dulu selalu dimanja oleh ibuku. Dan ketika aku pergi meninggalkan keluargaku seakan ada yang hilang dari mereka. Terutama ibuku. Ibu yang beberapa hari selalu murung ketika aku akan pergi bekerja ke Riyadh. Seperti yang aku katakan pada Amira, aku akan kembali pada Ibu… ibu pun rela melepasku pergi.
Makan malam keluarga besar di gelar sehari setelah kedatanganku. Buka puasa bersama di rumah orangtuaku. Beberapa keponakanku berlarian kesana kemari. Semua kakak-kakaku kumpul di rumah yang telah menjadikanku besar seperti ini. Di rumah dimana dulu aku selalu di didik oleh orangtuaku.
Selepas sholat magrib berjamaah kami kumpul di ruang makan. Pembicaraan ringan menghiasi meja makan kami. Rencana-rencana kakak-kakakku dan yang lain dikemukakan sekalian minta doa dari ayah dan ibu. Kini giliran si bungsu mengemukakan keinginannya.
“Amir, usia kamu sudah cukup untuk menikah. Pekerjaan pun sudah mapan. Tunggu apa lagi? Apa perlu abang carikan calon buat kamu?” Bang Hasan kakak keduaku yang paling dekat denganku bertanya padaku.
Aku tersenyum dan kebetulan makananku sudah selesai juga yang lain jadi tidak terlalu mengganggu makan malam kami. “Ayah, ibu sebelumnya Amir minta maaf karena berita ini mendadak dan Amir tidak bicara kepada yang lainnya tentang hal ini” Aku mengambil gelas di sampingku. Rasanya deg degan juga. Aku menenangkan diri dengan meneguk beberapa air.
Kemudian aku bercerita tentang Amira. Beberapa yang mendengarkan ada yang kagum dengan ceritaku ada juga yang sepertinya akan menyerangku dan berkata tidak setuju dengan pilihanku. Semua resiko sudah aku pilih.
Ibu langsung berkata “Amir, apa tidak ada gadis asli Indonesia yang bisa kamu jadikan istri? Tidak terlalu jauh Negara itu dengan Indonesia? Ibu sudah tua nak. Ibu tidak sanggup jika bepergian kesana dan jika ibu rindu dengan kamu juga anak-anakmu nanti apakah kamu tega membiarkan ibu dan ayah pergi ke sana?” Aku mencoba tenang dengan penolakan langsung dari ibu.
“Iya nak. Kami sudah tidak muda lagi. Sudah sering capek jika berjalan jauh. Bukannya kami tidak percaya kamu jarang pulang ke Indonesia, kami juga ingin sekali-kali mengunjungi rumahmu jika sudah menikah nanti. Tapi jarak Negara itu terlalu jauh bagi kami nak…” Ayah menyambung pembicaraan ibu.
“Tapi yah, bu… Amir dan Amira akan hidup di Indonesia. Kami akan membangun usaha di sini…” Aku mencoba memberikan mereka pengertian.
“Bukan soal itu sebenarnya nak… coba pikirkanlah sekali lagi” Ayah menutup pembicaraan ini.
Aku menarik nafas. Kakak-kakaku diam. Bang Hasan mencoba untuk menenangkanku dengan mengelus pundakku karena ia duduk di sampingku. Pembicaraan ditutup dengan keputusan yang gamang. Aku disuruh untuk memikirkan keputusanku lagi. Amira gadisku bagaimana nasibku jika aku tak bisa kembali padamu?
Esoknya aku berbicara kepada orangtuaku tentang hal ini kembali. Semua kakakku menyerahkan keputusanku pada kedua orangtuaku karena restu masih pada mereka. Namun hasilnya tetap sama. Ayah dan ibu masih tidak menyetujui jika aku menikah dengan Amira.
Maka di malam takbiran disaat umat muslim mengumandangkan takbir tanda syukur dengan nikmat yang Allah berikan, tanda sebuah kemenangan, sangat berbeda dengan keadaanku. Aku menahan tangisanku di atas sajadah ini. Berharap ayah dan ibu membuka hatinya untuk menikahkanku pada Amira.
Perlahan aku bangun dari sujudku. Kuhapus air mataku. Aku terus mengucapkan takbir dalam kesunyian malam. Bayang wajah Amira muncul di setiap ku pejamkan mata. Oh bagaimana kabar gadisku di sana Ya Allah… adakah ia juga merindukanku seperti aku merindukannya saat ini?
Kubenahi peralatan solatku. Aku membuka komputer dan berniat menghubungi Amira. Aku kirim pesan singkat padanya bahwa aku sedang On Line. Tak lama kemudian Amira juga online. Ia terlihat sangat bahagia dengan kehadiranku. Ia sangat menungguku datang dan memberiku kabar bahagia dari ayah dan ibu.
Aku tak tega memberinya kabar yang tidak enak ini. Aku hanya mencoba ia untuk bersabar dan terus berdoa. Amira menangis. Sangat jelas air matanya turun dari kedua mata indahnya. Aku bisa melihatnya dari kamera. Aku pun tak dapat menahan air mataku lagi. Dan ah… aku tutup saja komputernya tak dapat ku teruskan jika begini. Aku kembali rapuh. Maafkan aku Amira…
Sudah empat bulan aku membangun usaha di Indonesia. Aku buka usaha makanan cepat saji di sebuah counter di mall. Cukup banyak juga pengunjungnya. Aku lupa dengan kesedihanku. Aku terkadang rindu dengan suara Amira, aku rindu dengan tatap matanya, terkadang ia memberiku surat elektronik dan ku balas datar. Tak ada kata rindu dalam jawaban surat itu. Walau sebenarnya aku sangat merindukannya. Biarlah ia menganggapku jahat agar ia bisa bahagia mencari yang lain. Aku memang pengecut. Namun selama ini tak ada gadis yang bisa menempati ruang hatiku selain ia. Padahal ayah, ibu juga kakak-kakakku sering mengenalkanku pada gadis yang sudah siap menikah juga. Mulai dari anak Kiai sampai anak pengusaha juga. Tak satupun bisa mengubah posisi Amira di hatiku.
Hingga datang seorang pelanggan restoranku. Fikria namanya. Ia bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah muslim di Jakarta. Ia enam tahun lebih muda dariku. Aku sering merasa terhibur dengan cerita-ceritanya, dengan karyanya yang kadang ia berikan padaku. Ia menganggapku sebagai abangnya saja.
Fikria gadis ceria. Tak pernah aku melihatnya murung. Kami akrab karena aku butuh ia dengan segala bentuk keceriaannya. Aku bisa menghapus kesedihanku selama ini. Ia pun selalu mendengarkan cerita-ceritaku tentang Amira. Fikria mendukungku untuk menjemputnya di sana.
“Ka Amir, cobalah kakak terus mengambil hati orangtua kakak. Mungkin saja saat ini mereka belum tahu siapa mbak Amira itu. Kalau saja kak Amir menunjukkan keseriusan kakak untuk menikah dengan mbak Amira, mungkin saja orangtua kakak mau menerimanya” Fikria duduk di depanku dan sambil mengaduk-aduk es campur pesanannya ketika berbicara itu.
“Iya sih de’, kakak juga bingung dengan keadaan ini. Bagai buah simalakama. Jika pilih orangtua Amira akan terluka, jika pilih Amira kakak bisa-bisa tidak dapat restu dari orangtua de’ huh… bingung kakak jadinya”
“Kakak jangan memilih… Ria kan tadi bilang ke kakak untuk meyakinkan lagi orangtua. Kalau kakak yakin, hati orangtua bisa luluh kok…”
“Tapi de’ guru kakak juga menyarankan untuk mencari gadis Indonesia aja… aduuuh tambah pusing… sudah lah jangan cerita itu lagi. Gimana kerjaannya de? Lancar ya? Hehe…” Aku mengalihkan pembicaraan. Sementara itu wajah Fikria yang imut itu langsung ditekuk olehnya lalu menyimpan telapak tangan kanannya di atas keningnya berucap “Cape deeeehhh” Hahaha… kami tertawa bersama.
Tak jarang Fikria mengirimku sebuah puisi karangannya. Dan puisi itu langsung di terbitkan pada majalah tempat ia bekerja. Ia memang berbakat menjadi seorang pujangga. Beruntungnya aku, sebelum diterbitkan akulah orang pertama yang bisa membaca karyanya dahulu. Aku dianggapnya spesial. Terimakasih de’ lirihku ketika menerima karyanya yang selanjutnya.
Suatu hari. Rasa rinduku pada Amira tak tertahankan lagi. Aku ingin ke Negara nya dan bertemu dengan ia. Hal itu karena ada surat darinya yang mengatakan bahwa ia sakit parah dan membutuhkanku di sisinya. Orang yang pertama kali aku hubungi adalah Fikria. Aku minta sarannya untuk hal ini. Fikria menyarankanku untuk pergi menemui Amira dengan syarat izin dulu pada orangtua. Namun itu tak mungkin karena orangtuaku pasti tidak mengizinkanku.
Aku tetap nekat dan akan pergi menemui Amira barang seminggu saja. Aku minta Fikria menyembunyikan berita kepergianku pada orangtua dan saudara-saudaraku. Aku ditemani Fikria ke bandara. Seperti ketika aku dulu ditemani Amira ketika akan pulang ke Indonesia, Fikria pun menemaniku.
Aku menatap wajah Fikria yang ada di depanku dengan sebuah laptopnya. Ia sedang menulis cerita pendek yang akan dimuat di majalahnya. Walau ia sibuk, ia rela menyempatkan untuk menemaniku di sini karena aku yang minta. Tak ada wajah menyesal menemaniku di sini. Yang aku lihat hanyalah beberapa senyuman yang tersungging di bibirnya yang mungil itu ketika aku memanggil namanya.
“De’…” Aku iseng menyapanya hanya untuk melihat senyumnya
“Iya kak?” Ia mendongakkan wajahnya disertai senyumnya yang khas. Tiba-tiba ada yang menyusup dalam relung hatiku. Sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya ketika Fikria ada di dekatku.
“Ah ga jadi de’…” Aku tersenyum simpul, sedangkan Fikria melanjutkan ketikannya dengan sedikit jengkel. Aku senang membuatnya kesal. Terkadang lucu. Maklumlah aku tidak punya adik. Fikria adalah adik spesialku. Tak akan kulepas ia dalam kehidupanku.
Pesawat akan berangkat satu jam lagi tapi pengantar tidak boleh masuk ke dalam. Sudah cukup aku menunggu di luar. Saatnya aku siap-siap masuk ke dalam. Aku pamit pada Fikria. Ia menutup laptopnya dan mengantarku hingga ke pintu dalam. Kembali ia melemparkan senyumnya yang khas. Aku bisa tenang dengan senyumnya itu.
Setelah menukar tiket, aku melihat Fikria pulang membelakangiku dan berdiri jauh dari pintu kemudian melambaikan tangannya padaku. Entah kenapa aku melihatnya berjalan sangat lemah tak biasanya aku lihat seperti itu. Ingin aku bertanya padanya tapi aku sudah harus masuk ke ruang tunggu. Akupun membalas lambaiannya.
Aku kemudian menelponnya di ruang tunggu.
“Iya kak? Kenapa?” Terdengar suara Fikria agak parau dan kurang jelas
“Ade ga kenapa-kenapa?” Tanyaku kuatir.
“Ga apa-apa kak…kakak hati-hati ya…”
“Oh gitu syukurlah. Makasih ya de’…”
Entahlah seakan ada yang mengganjal dalam hatiku. Mengapa kali ini terasa berat meninggalkan Fikria di sini? Bukankah tidak ada yang bisa menggantikan posisi Amira dalam hatiku? Lalu mengapa aku merasa kuatir dengan Fikria? Akankah Fikria yang aku rindukan nanti ketika aku bertemu dengan Amira? Mengapa wajah Amira tidak muncul dalam benakku? Mengapa hanya wajah Fikria? Ya Allah aku kembali dalam kebimbangan…
Sementara itu pesawat akan segera berangkat. Terasa berat melangkahkan kakiku dari ruang tunggu ini. Ingin rasanya aku batalkan penerbangan ini. Tapi bukannya aku sudah lama ingin bertemu gadis pujaanku Amira? Bukankah aku akan menjenguknya yang sedang sakit yang membutuhkan diriku? Ya Allah mengapa banyak sekali pertanyaan ini?
Fikria… biasanya kamulah yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku walau tak harus dijawab. Kehadiranmulah yang membuatku tenang…
Barangkali satu kursi dalam pesawat itu kosong. Di ruang tunggu ini hanya ada aku duduk termangu. Tak jelas akan kemana. Aku tak bisa memutuskan akan kemana langkah kakiku berjalan. Aku dikejutkan dengan sebuah teguran dari seorang satpam. Bahwa aku sudah duduk lama di sana. Ketika kulihat jam dipergelangan tanganku… Ya Allah… aku sudah berada di ruang ini selama dua jam! Aku tak jadi pergi ke Singapura! Aku memilih diam di bangku ini! Ada apa denganku???
Terdengar suara Hp ku bergetar…
“Assalamualaikum… Ria tahu kakak tidak akan pergi… kembalilah kak… Ria masih menunggu kakak di luar” Klik…telepon diputus! Fikria meneleponku seakan tahu akan keadaanku. Segera aku bergegas keluar. Aku harus bertemu dengan Fikria. Bagaikan tidak pernah bertemu berminggu-minggu dengannya. Aku berlari terus berlari mencari gadis berkerudung biru yang mempunyai senyuman yang bisa meluluhkan hatiku…
Lariku di rem seketika… aku masih melihatnya berdiri di sana seperti dua jam lalu aku melihatnya di sana. Aku merasa bahagia menemukannya di sana. Ia tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Ingin aku memeluknya tapi tak boleh. Aku lalu sujud syukur di teras bandara.
“Kak… bangunlah…”
“De’… alhamdulillah…” Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku memutuskan untuk tidak kembali ke sana. Aku yakin Amira akan menemukan kebahagiaannya tanpaku. Keikhlasan hati Fikria membuatku mampu memilihnya.
Senja menyambut pertemuan kami setelah berpisah selama dua jam. Burung-burung kembali ke sarangnya setelah seharian mencari makan. Terpaan angin lembut menerpa wajah kami menyambut datangnya angin malam… Dan Fikrialah yang akan menemaniku dalam kehidupanku ini…
Aku menikah dengannya dengan sedikit keterpaksaan. Aku menyukainya. Namun tidak sepenuh hatiku. Aku pernah kecewa dengan lelaki yang sebelumnya dekat denganku. Maka aku memilihnya. Banyak temanku bilang aku menikah dengannya karena pelampiasan. Aku mengakuinya tapi pernikahan haruslah terjadi karena ia sudah melamar dan orangtuaku sudah menerimanya. Aku hanya diam mendengar keputusan orangtuaku menerima pinangan Kak Ridho setahun lalu.
Aku kecewa dengan Mas Harun Karena tak kunjung datang ke rumah. Janjinya ia akan melamarku. Janjinya setelah studi S2 nya selesai ia akan datang. Tapi setelah kelulusan S2 nya selesai empat bulan kemudian ia tak kunjung datang. Alasannya ia sudah di kontrak kerja oleh sebuah perusahaan ternama di Malaysia. Hanya ia dan sepuluh orang dari Universitas Indonesia yang di kontrak kerja di sana. Aku bisa terima alasannya dan aku bisa menunggunya. Tapi ternyata aku mendapat berita bahwa ia sudah meminang gadis lain. Hancur lebur aku mendengar penuturan temannya. Karena jarak kotaku dan Jakarta sangat jauh aku tidak bisa dengan mudah menyusulnya dan memarahinya. Aku yang berada di Ketapang Kalimantan Barat ini hanya bisa berkomunikasi lewat internet dan Hp saja.
Ya, Mas Harun berasal dari Jakarta dan aku asli Ketapang. Aku bertemu lewat dunia maya. Kami pernah bertemu hanya satu kali saja. Aku bela-belain untuk pergi ke Jakarta demi bertemu dengannya. Sayang, Mas Harun tidak pernah mengunjungi rumahku. Tapi hubungan spesialku sudah berlangsung selama dua tahun meski lewat dunia maya.
Aku sangat yakin Mas Harunlah pelabuhan terakhirku. Ia sudah sering berbicara dengan orangtuaku dan menjanjikanku untuk ia nikahi. Hingga kabar itu datang dari temannya sendiri.
Seketika hatiku hancur mendengar itu. Bagaikan ombak di lautan ketika melihatnya bersanding dengan wanita lain di sebuah foto yang temannya kirimkan lewat emailku. Mengapa ia tidak pernah bilang jika akan meninggalkanku? Mengapa ia tega berbohong? Sejak itu aku tidak pernah lagi membuka hati pada lelaki lain. Aku cukup kecewa dengan sikap Mas Harun yang membuatku mencap jelek pada lelaki lain.
Saatku sedang terluka. Kak Ridho datang di kehidupanku. Memang sebelumnya ia memang selalu mengusik kehidupanku. Ia selalu memberikanku perhatian-perhatian nyata. Tapi aku tidak pernah mengabaikan perhatiannya. Aku menganggapnya sebagai kakakku layaknya saudara. Tapi ternyata sudah lama ia menaruh hati padaku. Ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya hingga dua bulan sejak putusnya aku dengan Mas Harun ia mengajakku menikah. Aku seakan tak percaya dengan penuturannya. Namun ia selalu meyakinkanku bahwa ia ingin hidup denganku.
“De’ Rima, kaka serius ingin menikah dengan ade’. Tolong bicarakan pada ayah dan bunda ya de’. Istikhorohlah buat kaka. Kaka akan menunggu jawaban ade’…” Kedua matanya menatapku tajam saat ia melihat kedua mataku. Tatapannya sendu dan seketika aku merasa tenang berada di dekatnya. Ya Allah inikah orang itu? Yang selama ini aku cari dalam hidupku? Tapi mengapa bayangan Mas Harun masih saja bermain di kepalaku?
Aku dalam kebingungan. Aku tidak ingin menyakiti hati Kak Ridho dengan menerima pinangannya. Karena ia akan menjadi pelampiasanku saja. Aku sudah berbicara pada ayah dan bunda tentang hal ini. Saran mereka agar aku menerimanya saja. Ayah dan bunda tampaknya menyukai Kak Ridho.
“Rima, kamu mau menunggu siapa lagi? Harun? Dia sudah menjadi suami orang. Sudah lupakan dia. Ridho ada untuk kamu. Jangan sia-siakan dia. Bunda merasa dia bisa membahagiakan kamu nak”
“Iya Ma, ayah tidak meragukan keseriusan Ridho padamu. Walau ia hanya seorang pedagang sepatu, tapi ayah yakin ia bisa membimbingmu dan menghidupi kamu”
Ayah dan bunda sudah setuju dengan permintaan Kak Ridho untuk meminangku. Ya memang banyak perbedaan antara Mas Harun dan Kak Ridho. Mas Harun yang akademis yang selalu perfect, berbeda dengan Kak Ridho yang hanya pedagang sepatu. Tepatnya ia pengusaha sepatu. Setelah lulus kuliah, kak Ridho membuka usaha sepatu di pasar. Ia ciptakan kreasi pada sepatu-sepatunya. Tapi ia tak pernah malu dengan titel S1 nya. Tak seperti Mas Harun yang tidak mau jika harus memulai usaha dari nol dulu.
Setelah dipikir, aku akhirnya menyutujui saran orangtuaku dan menikah dengan Kak Ridho. Pernikahan kami cukup meriah. Orangtua kak Ridho sangat sayang padaku. Mereka seakan bangga mempunyai menantu sepertiku. Aku menjadi tidak enak karena aku masih belum bisa menerima kak Ridho sepenuh hatiku. Dan bayangan Mas Harun masih selalu muncul di benakku. Andai saja aku menikah dengan orang yang aku cintai sepertinya aku akan bahagia. Dan orang yang aku cintai adalah Mas Harun. Ah… tapi itu masa lalu. Aku benci dia tapi aku mencintainya…
Pernikahan kami terlihat bahagia. Kak Ridho selalu memanjakanku. Ia tidak pernah memaksaku untuk melayaninya. Jika ia lapar, ia akan masak sendiri. Ia mencuci bajunya dan bajuku. Sebelum aku pergi ke kantor, ia menyiapkanku sarapan. Ia adalah pengganti ibuku. Dan aku… masih belum ada benih cinta dalam diriku. Maafkan aku kak…
Aku selalu diantar kak Ridho ke tempat pekerjaanku. Aku bekerja di sebuah bank swasta yang masuk mulai pukul delapan pagi dan pulang pukul empat sore. Dan kak Ridho yang mempunyai waktu cukup banyak terkadang membawakanku makan siang dan selalu antar jemput. Banyak teman-temanku bilang aku sangat beruntung memiliki suami seperti kak Ridho. Tapi aku malah berpikir andai saja kak Ridho adalah Mas Harun oh betapa bahagianya diriku. Air mataku meleleh mengingat itu semua.
Setahun sudah aku menikah dengan kak Ridho. Aku belum juga bisa memberinya keturunan. Padahal ia sangat ingin mempunyai buah hati dariku. Entahlah meski aku sudah bisa melupakan Mas Harun tapi aku masih belum bisa mencintai Kak Ridho seperti aku pernah mencintai Mas Harun.
Pekerjaanku sudah hapir selesai. Kini aku siap-siap akan pulang. Hari ini kak Ridho tidak bisa menjemputku karena katanya ada sesuatu yang harus di kerjakan. Ya sudah aku bisa pulang sendiri. Baru saja aku akan beranjak dari kursiku, Hp ku bergetar di dalam tas. Aku membuka tasku dan mengeluarkan Hp ku. Aku duduk kembali. Sebuah nomor yang tak ku kenal. Aku sapa seseorang di sana. Yang jawab suara seorang perempuan.
“Betulkah ini dengan Mbak Rima?” Tanya perempuan itu
“Iya ini dengan Rima. Ini siapa ya?” Tanyaku
Lama ia tak menjawab. Aku mendengar isak tangis di balik suara itu. Aku diam sejenak
“M..m..aa..f mbak saya jadi nangis. Tapi sebelumnya tolong jangan tutup dulu telponnya. Saya Nesa istrinya Harun… hiks.. hiks…”
Deg! Jantungku seakan berhenti mendengar suara itu. Bagaimana bisa istrinya Mas Harun menelponku? Apakah nomorku masih ada di Hp nya Mas Harun sehingga Istrinya bisa menelponku? Aku coba menenangkan diriku dan menenangkan Nesa yang dari tadi tak kunjung diam dari tangisannya.
“Iya mbak gimana? Mbak nya tenang dulu ya”
Akhirnya Nesa bisa berbicara. Aku mendengar ceritanya hingga kupingku panas dan beberapa teman kantorku hampir pulang semua. Ternyata Nesa tau nomorku dari Hp Mas Harun. Ia belum menghapus namaku. Nesa mengakui bahwa ia lah yang merebut Mas Harun dariku. Nesa muncul setelah hubunganku dengan Mas Harun berjalan selama satu tahun. Memang, Nesa terlihat lebih cantik dan perawakannya ideal layaknya artis. Tak heran Mas Harun bisa jatuh hati kepadanya.
Namun pernikahan mereka tidak bahagia. Mas Harun yang seorang workacholik tidak ingat waktu. Ia lupa akan kewajiban sebagai suami. Nesa bergelimang harta namun ia kurang dari perhatian Mas Harun. Mas Harun ternyata tidak jadi bekerja di Malaysia, tapi ia kerja di salah satu perusahaan ternama di Indonesia dan posisinya cukup bagus di sana. Maka ia menjadi orang penting. Namun ia tak sadar bahwa ia sudah mempunyai istri. Kasihan Nesa.
Panjang lebar Nesa berkeluh kesah kepadaku dan meminta maaf kepadaku atas sikapnya yang telah merebut Mas Harun dariku. Aku bilang aku sudah mengikhlaskannya. Mungkin memang tidak jodoh dengan Mas Harun kataku. Akupun memberinya doa semoga hubungan mereka masih bisa diperbaiki lagi. Aku berjanji pada Nesa untuk selalu mendoakannya. Tapi aku tidak bisa memberi Mas Harun saran atas pernikahannya ini karena sudah bukan urusanku lagi. Nesa pun berterimakasih kepadaku.
Aku menarik nafas lega. Ku rogoh telinga kananku di balik jilbabku. Wah sudah panas. Dan ketika ku lirik jam di tangan kiriku sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Padahal tadi ketika Nesa nelpon masih jam empat kurang. Aku beranjak dari kursiku dan berpamitan kepada satpam karena hanya dia yang dari tadi di kantor.
Di dalam angkot, aku berpikir tentang apa yang sudah Nesa alami. Jika aku jadi menikah dengan Mas Harun apakah kehidupanku akan seperti itu juga? Oh betapa beruntungnya aku memiliki kak Ridho yang sangat perhatian kepadaku. Kak Ridho yang tak pernah menuntutku untuk membalas mencintainya. Ia yang selalu memberiku cinta yang aku sendiri tidak pernah memberinya cinta sepenuhnya kepadanya. Ya Allah maafkan hamba yang telah menyia-nyiakan kebaikan suamiku selama ini. Izinkan hamba untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku selama ini pada Kak Ridho. Aku mulai rindu padanya. Aku ingin segera sampai di rumah dan akan ku peluk ia dengan cintaku. Cinta yang selama ini aku tunda untuk orang lain. Kali ini hanya untuk suamiku.
Dua puluh menit sudah aku tiba di rumah. Rumah tampak sepi. Mungkin kak Ridho belum pulang batinku. Aku sedih. Inginnya aku memberikan kecupan manisku di pipinya harus di tunda. Aku masuk ke rumahku yang sudah tampak gelap karena sebentar lagi Magrib. Aku melihat meja makan sudah ada lauk nasi lengkap. Kak Ridho memang selalu memasak untuk kami. Biasanya pulang kantor aku langsung makan bersama Kak Ridho, kali ini aku tidak ingin makan duluan. Aku ingin menunggu suamiku.
Setelah mandi aku ambil Hpku. Kak Ridho belum juga datang padahal adzan Magrib sudah berkumandang. Tak biasanya pekerjaannya belum selesai. Biasanya ketika ia menjemputku dari kantor, berarti toko nya sudah tutup juga. Aku mencoba menelponnya tapi tak diangkat. Aku mencoba sms dengan nada agak kesal. Kemudian aku solat Magrib sendirian. Aku menangis dalam doaku. Ya Allah beginilah rasanya jika tidak ada suami, rumah ini sepi tanpa cerita-ceritanya. Padahal baru hari ini ia tidak ada. Aku kembali menangis. Akankah Kak Ridho bersikap seperti Mas Harun?
Dalam sujudku aku mendengar pintu di ketuk. Aku bangun dari sujudku dan menuju pintu. Kak Ridho sudah pulang. Ia membawa bingkisan besar. Aku bertanya dan memarahinya sedikit. Ia hanya tersenyum mendengar omelanku. Tapi kali ini ia aneh. Setelah aku puas berbicara, ia malah mengajakku naik ke atas loteng dengan bingkisan itu. Aku dipersilakan duduk di kursi yang tersedia di atas loteng ini. Dan ia minta aku jangan pergi kemana-mana.
Ia kemudian turun lagi dan tak lama ia membawakan nampan berisi makanan. Ia simpan di atas meja sebelah kursi tempat ku duduk. Aku ingin membantunya tapi ia malah melarangku. Ia kemudian mematikan lampu dan menyalakan lilin.
“Ade’ izinkan kaka melayani ade ya malam ini? Makanan ini sengaja kaka siapkan tadi siang untuk makan kita di malam ini. Kaka kira ade akan makan sebelum kaka pulang. Tapi ternyata ade menunggu kaka datang dan makan bersama. Terimakasih ya de’. Kaka tau ade cinta sama kaka” Kak Ridho tersenyum. Dan aku merasakan kekuatan senyumnya yang langsung menyentuh hatiku. Aku tidak ingin kehilangan senyuman itu!
“Iya ka. Justru ade yang seharusnya mengucapkan terimakasih sama kaka karena kaka ga pernah bosan untuk mencintai ade’…” Kamipun sama-sama makan malam.
Setelah makan. Ia mengajakku membuka bingkisan besar itu. Oh ternyata sebuah teropong bintang. Ia membuatnya sendiri selama sebulan ini. Ia merancang dan menyusunnya sendiri. Bukanlah teropong biasa. Aku bisa melihat bintang yang jaraknya beribu-ribu kilometer di atas sana. Pantas saja ia mengajakku ke atas loteng ini.
“Kaka tadi magriban di toko. Kaka sengaja buat teropong ini di toko karena halamannya agak luas dan tempatnya jarang ade’ kunjungi jadi aman. Tapi maaf ade’ makannya jadi telat ya. Selamat ulang tahun istriku. Jagalah cintaku selalu. Simpanlah di salah satu bintang di sana, agar cintamu tidak ada yang mengusik lagi?”
Aku tidak bisa berkata apa-apa hanya meneteskan air mata. Aku memeluknya dan ia pun mendekapku. Subhanallah. Aku sangat mencintai suamiku.
Ayah mengenalkannya ketika usiaku menginjak enam tahun. Ia bukan mamaku. Tapi ia Ummiku begitulah yang ayah katakan padaku. Ummi Zahra kata ayah. Aku menuruti kata-kata ayah. Ummi Zahra memanggil ayah dengan sebutan Abi. Bagiku yang biasa tinggal di lingkungan yang mewah, modern, merasa aneh dengan sebutan itu. Walau aku masih tergolong anak kecil tapi wawasanku luas tak seperti anak kampung lainnya. Ayah selalu mengajariku hal yang baru dan hal yang bisa membuatku cerdas.
Mau tidak mau aku memanggil Ummi dengan sebutan Ummi Zahra. Dandanannya sederhana tapi tampak rapi. Ia memakai penutup kepala. Kata ibu guru ku di TK namanya jilbab. Tidak seperti mama yang tidak memakai penutup kepala. Mamaku cantik bagaikan artis. Rambutnya indah, tubuhnya putih mulus sehingga sayang jika harus dibalut baju panjang bahkan memakai penutup kepala. Namun sesuatu yang berbeda ketika ayah membawa Ummi di kehidupan kami.
Ummi Zahra masih muda. Ia belum pernah mengasuh anak seusiaku. Aku selalu menolak ajakannya untuk makan, mandi, belajar bahkan mengaji. Ketika sudah ayah peringatkan baru mau aku turuti. Aku tidak ingin ada pengasuh baru di kehidupanku. Aku ingin mama. Tapi kata ayah mama sudah bersama papa lain. Aku tidak mengerti dan jika sudah berdebat dengan ayah, aku mengurung diri di kamar dan menutup pintu tanpa di kunci.
Selagi aku marah. Ummi Zahra selalu memperingatkan ayah untuk selalu sabar menghadapiku dengan segala kehidupan baruku bersama ibu baru. Tetap saja aku yang masih kecil tidak mau mengerti. Aku ingin ayah dan mama. Bukan Ayah dan Ummi bahkan Abi dan Ummi.
Namun setiap kali aku akan terlelap tidur. Ummi Zahra selalu masuk ke dalam kamarku dan menyelimuti tubuhku yang tak berselimut. Ummi mengelus rambutku yang terkadang aku tampik sentuhan tangannya. Ummi tetap sabar berhari-hari mengelus rambutku sebelum tidur setelah menyelimuti tubuhku yang selalu membelakanginya ketika ia melakukan itu. Kemudian Ummi membacakan doa tidur yang jarang sekali ayah bawakan karena sibuknya ayah bekerja. Aku hafal bacaan mau tidur dari ibu guru ku di TK. Tapi aku terus di ingatkan Ummi Zahra untuk membaca doa itu tiap malam hingga aku hafal. Namun aku masih cuek dengan sikap Ummi. Aku pura-pura tidak mendengar. Padahal aku mengikuti setiap bacaan Ummi.
Beberapa tahun sudah kulalui hidup baru bersama Ummi dan Abi. Ya Abi. Bukan ummi yang mengajariku. Bukan pula ayah. Sebutan itu aku keluarkan dari mulutku sendiri tanpa paksaan siapapun. Ada suatu hal yang membuatku menyebut Abi bukan ayah lagi. Karena sejak ayah kenal dengan Ummi. Ayah tak lagi sibuk seperti dulu. Ayah selalu memperhatikanku. Ayah selalu mengambilkan rapotku. Ayah selalu mengajakku bertamasya. Aku menemukan sosok lain pada ayah dan aku tidak ingin melepas semua itu. Ayah sudah tiada. Yang ada hanyalah Abi. Ya, aku punya Abi kini bukan ayah.
Tanpa kenal lelah Ummi mengurusku hingga dewasa. Berkali-kali aku tidak mau menuruti permintaan Ummi untuk mengaji dan memilih untuk main Play Station. Aku bilang kepada ummi Norak, Ga gaul, Ga ngertilah… Tapi Ummi dengan tegas berkata “Fahri… jika kamu tidak mau mengaji ummi tidak akan bisa menolongmu lagi di saat datangnya hari yang akan memisahkan kita, hari yang akan memisahkan anak dengan ibunya, hari yang akan dibinasakannya seluruh yang ada di bumi ini. Ummi sudah memperingatkanmu. Sekarang terserah pada kamu. Ummi tidak akan lagi mengajak kamu mengaji. Semua terserah pada kamu ya” Ummi marah. Terlihat wajahnya memerah dan matanya menahan turunnya bulir-bulir air mata. Aku cuek dan menganggap angin lalu saja omongan Ummi. Dan tetap meneruskan permainanku. Aku tau Ummi pasti menangis di dalam kamar. Kejadian ini waktu aku belum tahu siapa Ummi sebenarnya. Hingga…
Suatu hari. Aku, Ummi dan Abi berjalan-jalan untuk membeli perlengkapanku. Aku ingin bermain Band. Dan Abi akan membelikan sebuah Drum alat Band kesukaanku. Aku duduk di depan bersama Abi. Ummi di belakang. Ummi tidak pernah protes dengan segala keinginanku. Kecuali jelek untukku Ummi baru memberi saran yang tegas. Aku masih belum nerima Ummi seratus persen ketika usia itu. Aku masih SD kelas lima tapi sudah ingin bermain Drum seperti penggebuk drum lainnya. Kami keluar mobil. Aku menggandeng tangan Abi. Aku tidak ingin melihat Abi menggandeng tangan Ummi. Tapi Abi tetap menggandeng tangan Ummi di tangan yang satunya.
Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang di depanku. Mungkin remnya blong dan aku tak dapat menghindar dengan cepat karena laju mobil itu terlalu kencang. Ketika mobil sudah mau menabrakku. Aku hanya bisa menutup mata. gandengan Abi terlepas dari tanganku. Tubuhku jatuh seakan ada yang mendorongku. Aku tersungkur bersama Abi. AKu mendengar jeritan Ummi!!!
Aku melihat Ummi jatuh tak jauh dari mobil yang oleng tadi. Kaki Ummi dan tangannya berdarah. Ummi tak sadarkan diri. Kami langsung membawanya ke rumah sakit. Ummi… demi aku ummi rela mengorbankan hidup ummi sendiri… ummi… maafkan ku selama ini… aku termenung dalam penyesalan.
Ummi yang baik kini terbaring lemas di rumah sakit. Urusan rumah aku dan Abi yang mengurusi. Oh betapa tidak enaknya mengurus diri sendiri. Biasanya ada Ummi yang membantuku menyiapkan buku-buku. Memperingatiku untuk mengganti baju. Walau cerewet tapi hidupku jadi teratur dengan segala perintah Ummi. Kini Ummi masih tidur di atas pembaringan. Oh Ummi… Aku dan Abi membutuhkan Ummi…
Ketika ku tidur sambil termenung di dalam kamarku. Teringat beberapa tahun silam ketika ku baru pertama kali mengenal Ummi. AKu teringat Ummi yang selalu menyelimutiku, membelai rambutku, bahkan tak jarang mencuri-curi untuk mencium keningku. Tapi kini hal itu akan hilang beberapa hari. Ummi tak lagi begitu karena keadaan ummi yang tidak memungkinkan. Kini yang kurindu Ummi bukan yang lain… Aku ingin Ummi mendekap tubuhku… Aku butuh Ummi…
Selimutku yang dulu tak lagi bisa menyelimuti seluruh tubuhku. padahal aku kedinginan. Tapi seakan ada yang masuk ke dalam kamarku dan menyelimutiku. Seperti mimpi. Ada yang mengganti selimutku dengan selimut yang lebih tebal. Mataku tetap terpejam. Aku merasa nyaman dengan selimut baru itu. Kemudian sebuah sentuhan tangan lembut membelai kepalaku dan… sebuah kecupan lembut mendarat di keningku. Perlahan kubuka mataku…
Ummi… aku bahagia sekali… Ummi sudah pulang. Ku peluk mesra ummi… aku tidak ingin melepasnya… Tapi Abi melarangku untuk memeluknya terlalu lama. Tangan Ummi belum pulih benar. Tergurat senyuman tulus ummi berikan kepadaku. Ummi duduk di sampingku dan me nina bobo kan ku kembali. sentuhan tangan lembutnya membuatku bermimpi indah bersama Ummi dan Abi…
Ku nikahi ia dengan penuh percaya diri. Nadiatul Munawarah nama yang akan menjadi ibu bagi anak-anakku. Nama yang akan menemaniku mengarungi kehidupan baru. Entah berapa pria yang kecewa dengan pilihannya. Ia menerima pria hidung belang, mata keranjang seperti aku. Ya, memang sebelum ku bertemu dengan Nadia, aku memang menjadi pria yang suka menggoda wanita. Hanya sekedar membuat wanita itu GR saja. Atau sekedar menguji diriku apakah aku pantas menjadi pria yang banyak disukai wanita. Bukan untuk memiliki mereka.
Nadia meluluhkan hatiku dengan sikapnya, dengan senyumnya, dan pasti dengan kasih sayangnya. Ia berbeda dengan yang lain. Padahal aku tahu banyak kumbang yang datang kepadanya namun tak seorangpun bisa mereka dapatkan bungan nan harum ini. Nadia tak seperti diriku yang memanfaatkan kebaikan lawan jenisnya. Hingga ia tidak pernah dijuluki playgirl. Kalau sebutan playboy sudah menjadi makananku sehari-hari. Tapi tetap saja aku cuek.
Nadia membersihkan julukan playboy itu di pelaminan. Seluruh dunia gempar melihat pendamping Nadia. Beberapa orang kecewa dan beberapa lainnya merana. Tapi satu yang membuatku yakin akan hidup dengannya karena ia selalu mengatakan bahwa ia ikhlas hidup denganku walau tak pernah ia ucapkan dengan lisannya.
Ia sudah melayaniku dengan sepenuh hati ketika pertama kali menjadi suaminya. Ya, aku sudah menjadi suami resmi dirinya. Kesan malam pertamaku sangat indah. Tak pernah kurasakan sebelumnya bahwa keindahan pernikahan adalah saat malam pertama. Ia memberikan seluruh jiwa dan raganya kepadaku. Aku menjadi pria beruntung di malam itu. Wajahnya bak bidadari turun dari kahyangan, tak lepas kupandangi wajah lugunya saat itu. Oh… Nadia…
Ia memberiku anak-anak yang lucu. Aku minta lima ia memberi lima. Aku sangat bersyukur mempunyai istri seperti dia. Ia merawat anak-anakku. Ia patuh dengan perintahku. Ia taat padaku. Ia menjaga hartaku. Ia sungguh luar biasa.
Pernah ia terkulai lemas tak berdaya di pembaringan. Tubuhnya yang gemuk menjadi kurus. Aku tak tega melihat kondisinya. Aku sempat kehilangan senyumnya yang ketika ku goda selalu mengembang. Kucandai ia bagai kakak kepada adiknya. Tapi kini aku kehilangan canda tawa itu. Aku tak ingin kehilangan ia. Bukankah ia lima tahun lebih muda dariku? Mengapa harus ia duluan yang pergi? Ah… kutepis semua pikiran buruk itu. Ku asuh laskar-laskar kecilku. Tapi semua berkata tidak enak jika ayah yang mengasuh. Mereka merindukan ibunya. Oh… ternyata Nadia lebih capek mengurusi Laskar-laskar ku dari mereka bangun hingga tidur kembali. Namun Nadia tetap bersabar mendidik dan merawat mereka.
Para laskarku sudah dewasa. Nadia dan aku tak lagi muda. Aku bosan dengan Nadia. Nadia keriput begitu juga aku. Tapi kadang Nadia cerewet. Menyarankan tidak lagi makan ini itu, tidak lagi begadang dan larangan lainnya seperti aku anak kecil. Aku ingin bebas. Aku mencari bunga lain dari kehidupanku Nadia tidak tahu. Aku asyik dengan bunga baru itu. Nadia masih tidak tahu. Hingga akhirnya aku tertusuk duri dari bunga itu. Aku di hina, di caci oleh bunga yang tidak memberiku madu asli. Melainkan madu palsu berbalut susu. Aku terpuruk. Aku menhinakan diriku. Aku pulang ke Nadia.
Nadia diam. Nadia kecewa. Nadia terluka. Aku menyesal. Nadia tetap melayaniku. Tapi tak pernah ia menawarkan sesuatu kepadaku seperti dulu. Ia tak pernah menuntutku seperti dulu. Ia lebih suka diam. Ia lebih sering meng-iyakan keinginanku. Ia menganggapku Tuhan. Aku merasa tidak enak. Semakin tidak enak dengan sikapnya. Dan semakin bersalah.
Namun yang Nadia katakana adalah… bahwa ia salah selama ini melayaniku. Hingga aku tidak puas dan mencari bunga lain. Maka Nadia berjanji akan bersikap lebih hati-hati dan melayaniku dengan sepenuh hati tanpa menuntutku apa-apa. Subhanallah… Nadia istriku… Nadia yang bukan ku anggap budakku, membudakkan di kakiku. Mencuci kakiku yang dengan kaki ini sering aku tendang hatinya, sering aku buat kecewa ia. Tapi dengan ketulusannya bahwa ia lah yang salah melayaniku. Astaghfirullah… Rabb ampuni hamba yang telah menyia-nyiakan bidadari utusanmu yang berhati emas ini.
40 tahun sudah ku arungi hidup bersama Nadia. Nadia masih tetap seperti dulu. Seakan tak ada lagi orang yang ia cintai selain diriku dan putra-putraku. Ia rela mati demi kami keluarganya. Kini giliranku yang diam tak berdaya. Ku hanya bagaikan seonggok daging yang hanya bisa terdiam di atas kasur empuk yang tak empuk bagiku. Seluruh badanku tak bisa kugerakkan kecuali pergelangan tangan dan kepalaku. Aku bersyukur masih bisa menulis tulisan ini.
Nadia merawatku. Ialah dokter terbaikku. Nadialah ibuku. Ia menyuapiku, ia memandikanku, ia membuang kotoranku, ia menggantikan bajuku, ia membacakan ayat-ayat suci Al-Quran di telingaku, ia mendongeng untukku. Ia Nadia… ya Nadia istriku…
Tak pernah ku mendapat kehidupan yang sempurna. Segala yang terjadi dalam kehidupanku penuh cobaan dan tantangan. Namun semua itu tak kurasakan. Yang kurasakan adalah nikmat dan nikmat. Semua itu karena Allah memberikanku pendamping yang selalu sabar melayaniku. Aku tegar karena Nadia, aku kuat karena Nadia selalu mengingatkanku pada-Mu. Ya Rabb… pertemukan kami kembali di syurga-Mu… percantiklah wajahnya hanya untukku… hanya untuk suaminya bukan untuk orang lain… titip Nadia dan putra-putraku…
Dan ketika tulisan ini dilanjutkan, ayahku tercinta telah pulang ke Rahmatullah… ibu mendampingi ayah hingga akhir hayatnya. Tak pernah ibu tinggalkan ayah di kamarnya. Mereka selalu berdua. Sholat pun ayah tetap menjadi imam ibu di tempat tidurnya. Ibu tak pernah jijik atau bosan dengan penyakit ayah.
Dan ketika ayah pergi. Ibu yang memandikannya. Ibu tidak menangis. Ibu sudah banyak menangis. Ibu tegar. Karena ayah meminta ibu untuk tidak menangis ketika ayah pergi. Dan ibu taat kepada perintah ayah. Ibu yakin dengan janji ayah bahwa ibu akan menyusul ayah di alam sana.
Kini ibu selalu hanyut dalam zikir cinta. Tak pernah ibu bersolek untuk mendapatkan pengganti ayah. Ibu yakin ibu akan menyusul ayah tak lama lagi. Tiap waktu, tiap malam ibu bersujud di sajadahnya.
Mungkin ayah tak betah tinggal sendiri di sana. Tiga bulan kemudian ibu menyusul ayah. Ibu hanyut dalam sujudnya hingga lupa pulang ke dunia. Kudapati ibu terbujur kaku dengan balutan mukena. Tubuhnya wangi dan ketika kulihat wajahnya terpancar senyuman kebahagiaan. Ibu bertemu Allah dan ayah. Subhanallah…
Di tengah alun-alun kota Sukabumi, di depan Lapang Merdeka ada sebuah warung baso yang terkenal. Orang-orang menyebutnya dengan baso SMEA. Entah apa asal usul dari nama tersebut. Tempatnya tidak luas. Melainkan memanjang. Di sana ada dua insan yang asyik menikmati baso kesukaan mereka. Namun ada salah seorang yang kelimpungan menghadapi sikap seseorang yang lain.
Risna kebingungan menghadapi sikap sahabatnya yang sampai saat ini belum juga mengakhiri masa lajangnya. Padahal ia sendiri sudah menjalani kehidupan baru hampir dua tahun. Walau belum dikaruniai anak, ia merasa bahagia karena suaminya selalu menyayanginya. Terbukti tubuhnya yang kurus kini sudah melebihi berat badannya dua tahun lalu. Sembilan kilo telah ia tingkatkan. Tapi tetap saja sahabatnya Fahra Fikria itu belum juga megikuti jejaknya. Apakah ia takut akan menikah?
“Bukan gitu Na, Ra ga pilih-pilih. Ra ingin suami yang tepat. Ga asal pilih. Lagipula di keluarga Ra usia Ra itu jarang yang menikah. Bibi Ra kebanyakan menikah di usia 25 tahun bahkan lebih sedangkan Ra, di sebut anak SMA juga masih pantes. Hehehe…” Fahra menyeruput es jeruknya
“Ok, ok. Kamu emang ga pilih-pilih. Tapi kamunya yang buat standar tinggi untuk kriteria suami kamu. Kamu yang terlihat exclusive. Sekarang bukan lagi masalah usia Ra, keadaan kamu saat ini tuh emang udah saatnya untuk menikah. Bejibun tanggung jawab kamu tanggung. Aku yakin kamu kuat, tapi ga selamanya kamu akan kuat. Aku yakin di setiap malam kamu merindukan seseorang yang bisa diajak bicara selain orangtuamu kan?” Risna meninggikan suaranya menceramahi Fahra yang tiba-tiba memberhentikan suapan baso yang terakhir.
Risna diam dan meneruskan makan basonya. Fahra menatap wajah Risna yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu. Fahra memakan basonya yang terakhir dan menghabiskan es jeruknya. Kemudian memeluk Risna.
“Iya, iya kakakku… nanti Ra ga akan terkesan pilah pilih lagi, ga akan merasa diri exclusive. Puas?” Fahra mencubit dagu Risna
“Uuuh… emang aku ini anak kecil apa? Ya sudah, aku sih hanya bisa mendoakan semoga saja kamu cepet ketemu jodoh yang soleh, baik dan…”
“Berkacamata!!! Itu yang menarik” Fahra memotong
“Yeee dasar penggila the glases man… tar kalau ketemunya yang min nya banyak gimana?”
“Yaaa jangan dong, yang pasti keliatan gaul dan pinter… ah duniawi… bayar yuk…” Fahra menggandeng Risna menuju kasir.
Fahra gadis berusia 23 tahun itu bukannya tidak pernah menjalin suatu hubungan yang serius. Hampir satu tahun lalu ia akan melangsungkan pernikahan. Namun tidak jadi karena pihak laki-laki yang memutuskan duluan. Dari sana ia lebih selektif dalam memilih calon suami. Ia tidak ingin pacaran lagi. Kalaupun ada seseorang yang ia sukai dan menyukainya terlebih jika ingin melamarnya ia hanya meminta perkenalan dan setelah itu langsung menikah, tanpa pacaran yang hanya membuat janji-janji palsu saja, menghabiskan biaya untuk pacaran. Lebih baik biayanya digunakan untuk biaya menikah daripada menambah dosa, naudzubillahmindzalik. Maka Fahra tidak ingin lagi mengenal istilah pacaran. Jilbab sudah lama ia pakai, namun syariat Islam masih jarang ia terapkan dalam kehidupannya. Urusan duniawi selalu menggodanya untuk melupakan akhiratnya. Astaghfirullahal’adziim.
Reza Firdaus, laki-laki berkacamata yang datang setelah satu hari ia putus dengan mantan pacarnya ingin mengajaknya berhubungan serius. Reza masih kuliah S2 dan sedang menulis tesisnya. Kata Pak Bondan yang juga teman satu sekolah tempat Fahra mengajar mengenalkan teman satu sekolahnya waktu di pesantren dulu.
“Ini lho Bu Ra, temen saya waktu SMP nyambi pesantren dulu. Dia sedang serius mencari calon istri. Kebetulan dia juga mempunyai yayasan pendidikan milik keluarganya. Ia ingin mencari calon istri yang bisa mengajar. Dari sekian ibu guru di sekolah kita yang masih single dan cocok buat dia ya Bu Fahra ini. Ia juga katanya ndak bisa konsentrasi mengerjakan tesisnya jika belum menikah. Usianya sudah matang lho. Penghasilan sudah lebih banyak dia daripada saya dan ia menjadi andalan keluarganya untuk memimpin yayasan pendidikannya” Pak Bondan berkata panjang lebar kepada Fahra sebelum bertemu Reza dengan menunjukkan fotonya.
“Lho kok saya sih pak? Padahal yang lain kan banyak yang masih single juga. Apalagi yang pak Bondan katakan, ia punya yayasan pendidikan dan saya hanya orang biasa. Apalagi mendampingi seorang ustad yang sudah menjadi andalan keluarganya. Saya bukan siapa-siapa kok pak” Fahra merendah
“Lho bukannya Bu Fahra juga seorang kepala sekolah taman kanak-kanak di desa ibu? Itu berarti ibu adalah orang yang luar biasa. Jarang lho di usia muda kayak ibu sudah membangun sebuah sekolah walau lingkup kecil. Mau ya saya kenalin?” Karena Pak Bondan terus memaksa akhirnya Fahra mau juga dikenalkan dengan Reza. Setahu Pak Bondan Bu Fahra memang dari awal ia masuk ke SMP Citra Mandiri Kota Sukabumi itu masih sendiri dan tetap sendiri. Lagipula Pak Bondan orangnya suka agak memaksa. Kalaupun Fahra masih mempunyai pacar, Pak Bondan tetap saja akan mengenalkan Reza dengan Fahra. Orangnya agak ngeyel soalnya.
Pertemuan dengan Reza berlangsung di kantin SMP Citra Mandiri. Kala itu jam istirahat. Mereka bertiga berkumpul bertiga di meja bundar. Setelah Pak Bondan mengenalkan Reza pada Fahra mereka akrab dengan membicarakan masalah akademis. Reza banyak mendominasi pembicaraan tersebut. Dari awal Fahra tidak menemukan kecocokan di hatinya. Reza seorang yang ramah, sopan, cerdas dan berkacamata seperti kesukaanya Fahra. Namun hatinya berkata lain. Namanya juga perkenalan. Setelah itu terserah Reza dan Fahra menindaklanjuti perkenalannya itu.
Malamnya Reza langsung sms kepada Fahra bertanya kabar tentang dirinya. Perhatian Reza seakan sudah menemukan calon yang pas untuk mendampinginya. Padahal Fahra sama sekali tidak bisa mengubah hatinya menjadi simpati kepada Reza. Ia menganggap Reza seperti menganggap Pak Bondan dan teman guru yang lain. Jawaban sms Fahra hanya sekedar saja dan tidak berbentuk pertanyaan lagi. Sehingga si penerima sms akan mengerti bahwa Fahra tidak ingin melanjutkan sms-an itu. Lama-lama Reza juga bosan mendapat sms yang singkat, padat dan jelas dari Fahra seperti pertanyaan Reza yang menanyakan sedang apa? sudah makan belum? apa kegiatan hari ini? Dan lain sebagainya. Bagi Fahra itu bukanlah pertanyaan yang harus di jawab panjang lebar. Maka ia hanya menjawab “Alhamdulillah sudah”, “Sedang ngerjain tugas”, “Ngajar” dan sering menjawab “Iya” atau “Ok” saja untuk menjawab sms Reza yang panjang lebar. Jika di telepon selalu saja Fahra memberi alasan seperti sedang sibuk lah atau tidak diangkat-angkat karena sedang di dapur. Manalagi Fahra sulit untuk di temui, selalu saja ada alas an untuk menolak pertemuan ke dua kalinya dengan Reza.
Menghadapi sikap Fahra yang dingin begitu, akhirnya Reza mundur juga. Namun sebelum mundur, Fahra meminta maaf duluan kepada Reza karena sikapnya selama ini yang sangat berbeda ketika pertama kali bertemu waktu itu. Reza akhirnya mengerti dan hingga kini tidak pernah memberi kabar kepada Fahra lagi. Pak Bondan pun juga tidak membujuk Fahra untuk menyukai Reza. Urusan hati memang sulit.
“Kamu itu nyari yang gimana sih Ra? Udah jelas-jelas Reza madecer alias masa depan cerah, berkacamata, mau lulus S2 sastra inggris. Wajah ga jelek-jelek amat. Agamis pula” Risna bertanya pada Fahra setelah Fahra bercerita tentang Reza.
“Ra nyari yang pas di hati”
“Mau sampai kapan ketemu yang cocok di hati? kamu kan belum mencoba untuk memupuk perasaan kamu sama dia. Toh nanti cinta akan datang setelah nikah. Trus lagi, kamu kalau jawab sms ya jangan singkat-singkat kayak gitu dong. Kalau ke aku sih yang udah paham kamu boleh-boleh aja. Tapi ke orang yang baru kamu kenal kok gitu. Ga baik tuh”
“Memang Ra gini orangnya. Udah deh… Ra mau sendiri dulu. Lagian baru aja putus seminggu yang lalu. Masa’ udah dapet lagi. Ra ingin bercinta dengan-Nya terus” Fahra mengacungkan telunjuknya ke atas atap kamarnya tersenyum pada Risna. Risna melihat novel karya salah satu penulis religi di Indonesia ini yang tergeletak di atas kasur Fahra, ia tahu jika ada buku yang tergeletak di atas kasur Fahra, maka ia tengah melahapnya. Risna juga melihat buku sufi lainnya yang tersusun di rak Fahra. Risna berfikir kalau temannya ini sedang mencari jati dirinya dan sedang menjadi kekasih Allah.
Fahra bukan seorang pendiam dulunya. Juga bukan seorang yang cerewet. Ia diam ketika ia ingin diam dan ia cerewet ketika ia ingin cerewet. Tapi kini ia lebih dikenal sebagai seorang yang pendiam. Ia bicara jika ada yang mengajaknya berbicara itupun jika dibutuhkan bicara. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk diam di kamar. Depan komputer, membaca buku, ke dapur jika waktunya membantu masak Umminya kemudian kembali ke kamar lagi. Jika malam ia menangis teringat akan kenangan indah bersama mantan kekasihnya dulu dan dengan janji-janji yang dulu. Namun sekarang tangisannya karena penyesalan yang mendalam. Penyesalan telah membuang waktunya untuk berpacaran. Namun ia bersyukur bahwa Allah masih memberinya kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Dan saat ini yang Fahra cari hanyalah untuk meraih cinta-Nya. Cinta sejati-Nya. Dan di setiap malam, Fahra rela sujud lama untuk meraih cinta-Nya.
Lelaki Misterius
Malam dingin menyelimuti Sukabumi. Hujan yang turun sore hari membuat udara tambah dingin. Setelah solat hajat, Fahra langsung tidur dan agak mengigil kedinginan. Padahal selimutnya sudah tebal. Karena lelah ia langsung nyenyak. Di tengah tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang belum ia kenal sebelumnya. Seorang laki-laki yang hanya terlihat punggungnya saja. Fahra penasaran dengan sosok laki-laki itu. Ia melihat keadaan sekeliling tidak ada manusia lain selain ia dan laki-laki itu. Sekelilingnya berwarna hijau seakan ia berada di padang rumput luas dan tak bertepi. Ia mendekati laki-laki itu dan sekaligus hendak bertanya dimanakah ia sekarang.
Namun ketika ia akan menegur laki-laki itu, seketika itu pula laki-laki itu menghilang. Fahra mencari dimana ia dan sekelilingnya tidak ada orang lain selain ia sendiri. Nafasnya seakan sesak mendapati ia sendirian di sana. Lalu tiba-tiba ia terbangun dengan nafas tersengal-sengal seakan ia habis berlari jauh. Ia membaca doa tidur kembali dan membaca ayat kursi kembali lalu tidur lagi. ia masih mengantuk.
Esoknya ia menceritakan mimpi itu pada Risna di telepon. Tak biasanya Fahra bercerita tentang mimpinya pada orang lain. Biasanya ia hanya selalu menganggap bahwa mimpi adalah sekedar bungan tidur saja. Namun baginya mimpi kali itu berbeda. Ia masih ingat dengan potongan rambut laki-laki itu dari belakang dan baju yang laki-laki itu pakai adalah kupluk putih dan berbaju putih panjang. Risna menanggapinya dengan serius juga. Dan menyarankan untuk sholat istikhoroh.
Malam kedua setelah ia solat istikhoroh ia bermimpi lagi sama seperti mimpi hari kemarin. Ia masih di padang rumput tak terbatas. Dan laki-laki itu masih membelakanginya. Kali ini ketika Fahra mendekatinya, ia malah pergi meninggalkan Fahra dan mempercepat langkahnya. Fahra pun mempercepat langkahnya. Karena semakin cepat Fahra melangkah, maka laki-laki itu pun mempercepat langkahnya lagi. Akhirnya Fahra berhenti. Begitupun laki-laki itu berhenti. Fahra kebingungan. Ia kemudian membuka mulutnya hendak bertanya.
“Tuan, siapakah anda? Dapatkah anda mengatakan dimanakah saya berada?” laki-laki itu diam dan tidak berkutik. Fahra mengulang pertanyaan yang sama dan sedikit meninggikan suaranya. “Adinda berada di masa depan” Jawab laki-laki misterius itu. Fahra mengerenyitkan dahinya berpikir. Adinda? Masa depan? Apa maksud dari jawabannya? Pertanyaan itu menggelayuti pikiran Fahra. “Lalu mengapa tuan membelakangi saya? Dan apa yang tuan lakukan di sini?” Tanya Fahra kembali “Saya membelakangi Adinda karena belum saatnya saya memperlihatkan wajah saya. Dan saya di sini menunggu saat yang tepat” Jawab laki-laki itu “Maksud waktu yang tepat itu bagaimana? Maaf tuan, saya betul tidak mengerti” Seketika itu angin kencang menerpa wajah Fahra hingga ia tidak bisa melihat sosok tubuh laki-laki itu. Dan… “Astaghfirullah… hosh… hosh… hosh…” Ia terbangun dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia melihat jam di Hp nya yang ia simpan di samping bantalnya. Pukul 03.30 WIB. Ia kemudian bangun untuk sholat Tahajjud.
Ia berdoa semoga mimpi tadi bukan berasal dari setan sehingga ia lupa dan terus memikirkan mimpinya dengan melupakan pekerjaan yang lainnya.
Pertemuan!
Orangtua Fahra akan pindah ke Kota Palembang. Ia dan kakaknya Farhan Faisal ditinggal di Sukabumi. Fahra meneruskan karirnya di Sukabumi sebagai tenaga pendidik. Dan kakaknya Farhan bekerja di salah satu Bank swasta sebagai teknisi. Lagipula hanya dua tahun saja orangtua mereka pindah di sana. Hitung-hitung latihan mandiri di rumah sendiri. Banyak temannya yang mendoakannya semoga tahun ini ia segera menemukan jodohnya dan menikah. Terlebih lagi akan ditinggal oleh orangtuanya. Kakaknya jarang pulang ke rumah. Pulang satu minggu satu kali. Selama orangtuanya tinggal di Palembang, ia tinggal di temani adik asuhnya yang sudah SMA Euis namanya. Euis adalah anak dari tetangganya di Sukabumi. Ia anak yatim sejak masih SD. Abinya mengangkatnya karena dulu ayahnya sering membantu Abinya menjaga perkebunan milik ayahnya. Kini Euis sudah SMA dan sudah bisa membantu-bantu Fahra ngurus rumah ketika Fahra terlampau sibuk di luar.
Bu Siti Fathimah, Pak Abdul Hakim, Fahra dan Farhan kakaknya tiba di Bandara Soekarno Hatta. Fahra terkagum melihat sekelilinga bandara dan beberapa pesawat yang melintas di luar. Maklum saja ini kedua kalinya ia akan naik pesawat terbang dulu ia pernah naik namun ketika usianya masih lima tahun. Rasa naik pesawat terbang sudah hilang di makan waktu dan memorinya sudah terhapus dari bayangannya. Yang ia ingat hanyalah ia kala itu duduk tanpa merasakan apa-apa di pesawat. Beberapa pramugari berjalan menuju pesawat. Ramping, putih, tinggi, cantik. Mereka memakai rok panjang,tapi sayang belahannya bisa membuka paha mereka yang putih. Kalau saja mereka memakai celana panjang sepertinya berjalan pun tampak nyaman. Fahra berpikir jika ia menjadi direktur pesawat atau direktur apapun, seorang wanita yang menjadi karyawannya akan diwajibkan memakai jilbab. Berpakaian sopan dan menutup aurat.
“De’, bengong aja… ayo naik, dah dipanggil tuh” Farhan memutus gumaman Fahra dan segera menuju pesawat. Mungkin ia adalah orang yang termasuk norak naik pesawat. Ia meminta duduk di paling pinggir dekat kaca setelah bicara dengan seseorang yang mau menukar tempat duduknya. Sabuk pengaman sudah ia pasang, intruksi pramugari untuk keselamatan penumpang juga sudah ia dengarkan dengan baik. Sekarang saatnya take off. Pesawat berjalan lebih cepat dan kemudian ia merasakan pesawat miring karena akan naik ke udara. Subhanallah Fahra merasakan tubuhnya melayang di udara. Kota Jakarta yang padat itu terlihat jelas berada di bawahnya. Kemudian pesawat menikung sangat terasa. Pesawat mengambil posisi yang benar untuk naik lebih tinggi lagi di atas awan dan beberapa menit kemudian barulah posisi pesawat stabil. Kerajaan awan terlihat jelas di atas. Bagaikan bongkahan salju yang bertumpuk-tumpuk. Rumah penduduk sudah tak terlihat lagi. kini Fahra terbuai dalam zikir cinta pada-Nya. Sungguh dahsyat keagungan Allah. Dan Fahra merasakan nikmat syukur yang masih bisa ia rasakan hingga detik ini.
45 menit perjalanan dari Jakarta ke Kota Palembang. Kini ia tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Palembang. Tampak sepi tidak seperti di Jakarta. Ia dan keluarganya di jemput relasi Abi nya langsung menuju kontrakan.
Udara Palembang tak seperti di Sukabumi. Walau di Sukabumi polusi sudah banyak didapati, namun udara ketika malam atau subuh bahkan setelah hujan masih terasa dingin. Berbeda di Palembang. Kota yang akan menuju Metropolitan itu terasa panas ketika malam atau subuh hari. Setelah hujan pun tetap bisa merasakan kegerahan. Namun tak seperti Jakarta yang panasnya lebih dari Palembang.
Malam pertama di Palembang ia menuju jembatan Ampera yang membelah sungai Musi. Ia berjalan ditemani Farhan. Berfoto-foto ingin menunjukkan pada Risna ketika pulang nanti ke Sukabumi lagi. Kembali ia terkagum akan kekuasaan Allah. Di sungai Musi ini beribu masyarakat Palembang bisa memanfaatkan sungai ini. Baik ikannya, airnya, hingga dipergunakan untuk alat transportasi untuk mengangkut barang dari daerah lain.
Tapi sayang. Rasa cinta Allah sering disalahgunakan oleh hamba-Nya. Fahra melihat di bawah jembatan Ampera ini banyak sepadang muda mudi berdua an menikmati indahnya sungai Musi di malam hari. Mereka tak sadar bahwa perbuatan mereka tidak boleh dilakukan. Kecuali sudah bersuami istri. Walaupun hanya ngobrol, tapi tetap saja hal itu sangat dilarang Islam. Rasa sayang Allah mereka balas dengan perbuatan yang bisa merugikan diri mereka sendiri. Fahra merenungi dirinya yang dulu juga pernah khilaf. Yaitu ikut trend anak muda dengan berpacaran. Astaghfirullah… Fahra menghela nafas dan kemudian segera pulang ke kontrakan.
Di perjalanan ia kembali berpikir tentang fenomena pacaran di bawah sungai Musi itu. Andai saja ia bisa berduaan bersama suaminya nanti. Tentu hatinya tidak akan kesepian seperti sekarang ini. “De’jangan tidur ya” Farhan mengagetkan lamunan Fahra di atas motor “Iya iya nggak tidur kok” motor pun melaju dengan kencang menuju Lorong kulit tempat kontrakan Abi dan Umminya.
Seminggu sudah Fahra dan Farhan menemani kedua orangtuanya di Palembang. Kini saatnya mereka kembali ke tempat masing-masing. Fahra ke Sukabumi sedangkan Farhan ke Jakarta. Cuti kerjanya besok sudah berakhir. Maka hari ini mereka ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin. Jam enam pagi lebih mereka tiba di Bandara. Hampir setengah jam mereka menunggu panggilan, akhirnya mereka di panggil untuk memasuki pesawat menuju Kota Jakarta.
Senyum manis pramugari menyambut kedatangan penumpang. Ia kemudian mencari nomor duduk dan kembali ia duduk di pinggir pesawat. Tak lama kemudian duduk pula seorang pemuda yang duduk di samping Farhan karena tempat duduknya tiga tiga bukan dua dua. Selama di pesawat, Farhan asyik mengobrol dengan pemuda itu yang bernama Ramdhan. Lulusan dari Universitas Kebangsaan Malaysia tiga tahun lalu jurusan sastra inggris ini adalah seorang novelis. Kedatangannya ke Palembang untuk mengisi bedah buku novelnya di Universitas Sriwijaya. Bukunya saat ini sedang Best Seller dan banyak mengandung sastra sehingga bagus untuk kalangan mahasiswa. Tulisannya yang paling populer adalah novel tentang kisah nyata seorang gadis dari tanah rencong yang beberapa tahun lalu terkena tsunami. Dalam novel itu diceritakan seorang gadis yang kehilangan seluruh keluarganya tepat di depan matanya sendiri. Ia merasa menyesal tidak bisa membantu Ayah, Ibu dan adik perempuannya untuk naik ke atas genting Masjid Baiturrahman yang memang kala itu banyak penduduk yang bertahan di atas Masjid.
Seluruh keluarganya tak bisa ia bantu karena saat itu air sangat deras. Gadis itu mempunyai toko yang tak jauh dari masjid. Karena kejadiannya sangat cepat, gadis itu segera berlari dan menarik-narik keluarganya untuk segera naik ke atas masjid. Gadis itu memang terkesan tomboy. Sering memanjat pohon ketika kecil. Namun sayang adik dan kedua orangtuanya tak bisa meraih uluran tangan gadis itu hingga terseret arus badai. Ramdhan membuat novel itu yang berjudul “Raih Mimpi” tampak hidup dan membuat yang membacanya akan merasakan sakitnya dan sedihnya gadis itu.
Teuku Ramdhan Pratama keturunan Jawa Aceh. Ibunya asli Jawa Tengah tempat lahirnya Kartini di Rembang sedangkan ayahnya asli Aceh. Kala itu Teuku Muhammad Rizki ayahnya Ramdhan menikah dengan Ibunya Dewi Nurmalasari yang bertemu di sebuah penerbit buku di Jakarta. Ayahnya sebagai editor dan ibunya sebagai designer buku. Mereka akhirnya memilih menetap di Jakarta. Maka Ramdhan dan adiknya Teuku Dwisasono lebih dikenal sebagai orang Jakarta. Namun sudah dua tahun ini sejak ayahnya pensiun dari perusahaan penerbitan buku itu mereka pindah ke Bogor. Ibu Dewi setelah menikah tidak lagi bekerja. Namun Bu Dewi menjadi pelukis dan saat ini sudah mempunyai Galeri dan mempunyai murid-murid yang terus semangat belajar bagaimana membuat lukisan yang baik tersebut. Maka di usia senja mereka dengan sebuah Galeri di daerah Bogor tepatnya di daerah Tajur bisa menghidupi mereka berdua. Ramdhan sudah mempunyai penghasilan sendiri dan adiknya Dwi juga sudah bekerja di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Riau.
Fahra memalingkan muka ke Ramdhan ketika Farhan mengenalkannya adiknya itu. Kedua tangan Fahra mengatup di depan dadanya. Kemudian Ramdhan pun membalas salam Fahra. Fahra saat itu belum tahu bahwa Ramdhan adalah seorang penulis. Fahra tidak ikut dengan pembicaraan Farhan dan Ramdhan.
Satu jam berada di pesawat membuat telinga Fahra mendengung beberapa kali. Setelah keluar dari Bandara Soekarno Hatta Fahra, Farhan dan Ramdhan naik Bus Damri menuju Bogor dan mereka masih duduk bertiga. Pembicaraan Ramdhan dan Farhan pun tampak sangat seru. Fahra diam saja dan lama-lama mengantuk lalu tertidur. Sebenarnya Fahra kagum dengan Ramdhan setelah berkenalan dengannya. Sedikit-sedikit ia mendengar percakapan Ramdhan dan kakaknya itu. Ia baru tahu kalau Ramdhan seorang penulis di Bus Damri ini. Fahra kagum kalau ternyata seorang penulis ini berpenampilan rapi dan sopan. Rambutnya tertata rapi, jam tangan yang di letakkan di kiri membuat nilai plus untuk Ramdhan di mata Fahra berarti dia selalu tepat waktu orangnya begitulah pikiran Fahra.
Ingin Fahra juga ikut ngobrol dengan Ramdhan tapi Fahra malu untuk memulai pembicaraan itu. Makanya Fahra memilih diam dan akhirnya tertidur pulas hingga sampai di terminal Bus Baranangsiang. Sebelum berpisah Farhan memberikan sebuah kartu nama yang ia berikan pada Ramdhan. Kemudian mereka berpelukan seakan sudah menjadi sahabat lama. Farhan memang cepat akrab orangnya berbeda dengan Fahra yang lebih dominan rasa malunya daripada cerewetnya. Baguslah seorang wanita sebaiknya begitu.
Fahra dan Farhan melanjutkan perjalanan dengan menaiki kol agar cepat sampai di rumah. Orang sana biasa menyebutnya mobil setan. Karena larinya kencang dan sopirnya berani untuk nyelap nyelip di saat macet. Yang biasanya perjalanan dari Bogor menuju Sukabumi bisa sampai empat jam karena macet di tiga titik yaitu di Ciawi, Cicurug dan Cibadak bisa ditempuh dalam waktu dua setengah jam bahkan dua jam. Tapi tangan dan kaki hingga jantung harus siap untuk bertahan takut-takut terjadi kecelakaan karena saking ngebutnya dan suka ngerem mendadak juga. Farhan sengaja kembali ke Sukabumi dulu menemani adiknya. Esok pagi baru ke Jakarta dengan motornya.
“Assalamualaikum…” Ramdhan memasuki teras halaman rumahnya dan mengetuk pintu depan. Dua kali ia ketuk barulah terbuka. “Alaikumsalam… eh Mas Ramdhan tos uih sini bibi bawakan tasnya” Bi Neneng yang sudah mempunyai satu cucu itu menyambut kedatangan Ramdhan yang biasa di panggil mamas atau mas di keluarganya. Kemudian Ramdhan menyerahkan tas gendongnya yang tidak terlalu berat itu dan langsung duduk di meja makan. “Uuuh bi, laper nih. Ayah dan Ibu mana? Kok tumben pagi-pagi sudah sepi? Padahal sebelum berangkat tadi habis subuh mereka bilang ga akan kemana-mana” Ramdhan menuang air putih yang selalu tersedia di meja makan.”Itu mas, temennya bapak baru saja meninggal dunia karena stroke itu lho Pak Rangga lamun teu salah mah. Makanya bapak sama ibu pergi pagi-pagi dan kalau mas Ramdhan dateng, istirahat aja” Bi Neneng masuk ke dalam dapur dan mengambil piring. “Innalillahi wainnailaihi rooji’uun” lirih Ramdhan. Pak Rangga dan ayahnya sudah lama berteman. Dari dulu sebelum menikah. Ramdhan pun sering bermain dengan Neng Liana putri satu-satunya Pak Rangga ketika kecil dulu.
Ramdhan capek dan langsung tidur setelah makan. Satu jam kemudian Pak Rizki dan Bu Dewi pulang ke rumah. Ramdhan terbangun mendengar suara mobil terparkir di garasi. Ramdhan langsung menciumi tangan ayah dan ibunya setelah mereka tiba di dalam rumah. “Wajahmu seperti baru bangun ndok?” Tanya Bu Dewi “Iya bu. Tadi mamas langsung tidur habis makan” Jawab Ramdhan “Kebetulan nak. Kamu sudah di rumah. Ada yang perlu kami sampaikan kepada kamu” Pak Rizal mengajak Ramdhan dan Bu Dewi duduk di karpet ruang tengah.
“Baru saja sahabat ayah meninggal dunia. Mungkin tak lama lagi ayah akan menyusulnya. Ayah ingin sebelum ayah meninggal, ayah sudah menggendong cucu di rumah ini. Dan anak pertama ayah adalah kamu nak. Kamu pun sudah cukup umur untuk menikah dan sudah mempunyai penghasilan sendiri. Yaa walau ayah tidak memaksa kamu tapi menikah itu adalah ibadah yang tak boleh ditunda” Pak Rizki mengawali pembicaraan serius itu
“Iya mas. Mamas sudah 28 tahun dan sudah sepantasnya menikah. Anak Bi Neneng saja yang usianya baru 24 tahun sudah mempuyai anak satu. Lha kamu nikah pun belum. Memangnya pacar mamas siapa toh? Kok ndak pernah cerita sama ibu dan ayah?” Bu Dewi juga mendukung saran Pak Rizki agar Ramdhan segera menikah.
Ramdhan bingung dengan pernyataan dan pertanyaan ayah ibunya. Jujur saja ia saat ini sedang sendiri dan belum mempunyai calon. Dulu ia pernah mempunyai gadis yang akan dinikahinya. Namun gadis itu ternyata dijodohkan oleh orangtuanya. Dan akhirnya Ramdhan tidak jadi menikah dengan gadis itu. Seluruh kesedihannya ia tumpahkan pada novel berjudul “Belum Waktunya”.
“Hei kok bengong? Kamu sudah punya calon? Ceritalah pada kami” Pak Rizki mengagetkan lamunan Ramdhan. Ramdhan menarik nafas panjang. “Ayah, Ibu, insyaAllah jika mamas sudah mempunyai calonnya, mamas akan bilang ke ibu dan ayah. Tapi saat ini mamas memang belum punya calon. Mamas pun ga mau pacaran lagi. kalau sudah ada mamas akan langsung melamarnya dan prosesnya bukan pacaran lagi. Seperti anak ABG saja bu kalau pacaran. Hehehe…”
“Ya sudah kalau kamu belum punya pacar eh calon. Ada gadis yang juga sudah waktunya untuk menikah tapi belum juga ketemu jodohnya. Kalau ayah mempertemukan kamu dengan diamau?”
“Nita? Sarah? Rara? Atau siapa?” Tanya Ramdhan penasaran lagi. Padahal nama-nama yang ia sebutkan adalah tetangganya dulu waktu di Jakarta dan kini mereka semua sudah menikah
“Liana” Jawab Pak rizki
Deg! Jantung Ramdhan seakan berhenti. Tak mungkin pikirnya. Liana sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Tak mungkin ia akan jadikan istri. Hingga saat ini ia tidak akan menganggap Lia sebagai orang lain. Ia betul menganggap Lia sebagai adik kandungnya sendiri. Ramdhan menanggapi jawaban ayahnya dengan bijak.
“Yah, Bu. Kalau mau jujur Lia itu sudah mamas anggap seperti adik sendiri. Tapi jika memang dia jodoh mamas biarkan mamas istikhoroh dulu untuk menemukan jawabannya dan kemantapan hati mamas untuk menerima ia sebagai calon istri mamas” Senyum Ramdhan mengembang tulus
“Iya nak. Istikhorohlah minta petunjuk-Nya. Lia sendiri sebagai anak satu-satunya juga menginginkan suami yang bisa menggantikan sosok ayah di keluarganya. Sudah lama Pak Rangga meminta ayah untuk mencarikan jodoh untuk putrinya itu karena ia sendiri sudah lama sakit-sakitan. Pilihan ada padamu nak” Pak Rizki menepuk pundak putra pertamanya itu.
Bu Dewi pun tersenyum mendengarnya.
Riuh Gelak Tawa Anak-anak
Di pagi yang cerah, di sebuah desa Dayeuh Luhur yang dilewati sungai Cipelang Gede Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi segerombolan anak-anak kecil tengah bermain di halaman rumah Fahra. Ada yang bermain ayunan, jungkat-jungkit, bahkan ada yang bermain lari-larian. Itulah suasana di rumah Fahra setiap hari. Sebuah taman kanak-kanak sengaja ia dirikan di depan rumahnya agar rumah itu tidak selalu sepi. Bu Siti dan Pak Abdul panggilan orangtua Fahra sibuk bekerja dan jika pulang biasanya sore hari. Maka jika pagi hingga siang suasana rumah tampak sepi. Maka Fahra mendirikan TK Fikri sesuai namanya di depan halaman rumahnya itu. Selain menjadi kepala sekolah TK Fikri, Fahra pun mengajar Tekhnik Ilmu Komputer di SMP Citra Mandiri seminggu dua kali. Hal itu karena sewaktu kuliah dulu ia mengambil jurusan Teknik Informatika di Universitas Islam Negeri Jakarta. Empat bulan kemudian mengambil akta IV di Universitas Terbuka Jakarta.
Fahra sedang berkumpul bersama kedua guru yang mengajar TK Fikri. Ada masalah yang sering dialami mereka. Tapi bulan ini sudah kesekian kalinya masalah itu terjadi.
“Bu Rika, Bu Aura. Bulan ini murid kita tidak semua yang bayaran. Dari duapuluh lima yang bayar hanya lima belas saja. Ini berarti keuangan perbulan berkurang. Ada yang sudah dua bulan hingga tiga bulan tidak membayar. Tapi Alhamdulillah honor bulan ini untuk ibu-ibu masih ada namun tidak sepenuhnya. Saya kurangi sedikit. Bulan depan jika ada rizki akan saya lunasi honor untuk bulan ini. Semoga ibu-ibu bisa memaklumi” Fahra berkata seakan tidak enak. Beberapa bulan lalu hal yang sama juga pernah terjadi. Bulan ini pun terjadi kembali
“Iya bu ga apa-apa kami ngerti kok. Mereka semangat belajar saja kami sudah puas. Itu berarti di desa kita orangtua sudah sadar untuk menyekolahkan anak-anaknya di usia dini. Walau terkadang para orangtuanya kekurangan untuk membayar sekolah” Bu Aura berbicara
“Iya bu. Rika juga ngerti” Senyum Rika mengembang. Rika usianya lebih muda dari Fahra dan Aura. Mereka semua belum menikah.
“Ibu… Bu Fahra… ada tamu bu…” Panggil Bu Nurma salah satu orangtua di TK Fikri. “Siapa bu? Suruh masuk saja” Kata Fahra “Nyari Kang Farhan tamunya nunggu di teras. Mangga atuh bu” Jawab Bu Nurma kemudian pamit keluar kantor “Oh iya terimakasih ya bu” kemudian Fahra menuju teras depan. Aura dan Rika kembali ke kelas masing-masing. Aura memegang kelas B dan Rika memegang kelas A.
Fahra melihat seorang pemuda duduk di teras depan rumah. Sepertinya ia kenal, tapi dimana?
“Assalamualaikum” Sapa pemuda itu setelah Fahra keluar mendekati sang tamu
“Alaikumsalam” Jawabnya
“Bisa saya bertemu dengan Kang Farhan?” Tanya Pemdua itu yang tak lain adalah Ramdhan. Fahra tidak mengenalinya karena kali ini ia memakai kacamata, sewaktu bertemu di Bandara kacamatanya tidak ia pakai.
“Oh Kang Farhan sedang di Jakarta sudah satu bulan yang lalu. Ini… mas Ramdhan ya?” Tebak Fahra setelah duduk di samping Ramdhan agak jauh. Ramdhan mengangguk. Ia datang ke Sukabumi karena ada pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh BKPRMI Kota Sukabumi dan panitia meminta Ramdhan untuk mengadiri pelatihan itu sebagai penulis novel anak muda. Sengaja ia tidak menelepon Farhan agar memberinya surprise apakah ia masih mengenalinya satu bulan ini. Tapi ternyata Ramdhan lupa bahwa Farhan bekerja di Jakarta bukan di Sukabumi.
“Oh gitu ya. Waduh saya jadi ganggu dik Fahra dong. Sedang ngajar ga?” Tanyanya
“Nggak kok mas. Ada gurunya. Saya sih diam di kantor saja ngerjain tugas lain” Senyumnya
“Hebat dong. Masih muda sudah menjadi kepala sekolah” Puji Ramdhan
“Segala Puji hanya bagi Allah. Kalau bukan Fahra dan temen-temen siapa lagi yang mau membangun sarana pendidikan di desa sini mas. Eh tunggu sebentar ya mas. Saya buatkan minuman dulu” Yang dimaksud temen-temen adalah Aura dan Rika. Mereka masih satu desa sama Fahra.
“Eh ga usah repot. Semuanya yang ada dikeluarin saja. Hee… sambil ini bawa oleh-oleh dari saya ke dalam” Ramdhan jago bercanda juga orangnya. Ia memberikan tiga ikat taleus oleh-oleh asli Bogor. Fahra pun mengambil dan izin masuk sebentar disertai senyuman karena tak menyangka kalau Ramdhan mengajaknya bercanda tadi.
Setengah jam berada di rumah Fahra, Ramdhan pun pamit. Ia harus datang ke sekretariat BKPRMI Kota Sukabumi di Gedung Pusat Kajian Islam karena sekitar dua puluh menit lagi acara akan segera dimulai. Jarak rumah Fahra dengan PUSKI tak jauh. Bisa ditempuh sepuluh menit saja dengan kendaraan. Fahra menyayangkan dirinya karena tidak bisa mengikuti pelatihan jurnalistik itu karena harus mengerjakan tugasnya untuk membuat Rancangan Pembelajaran yang harus dikumpulkan besok di SMP Citra Mandiri.
Ramdhan pun pamit. Ada suatu yang Fahra ingat ketika Ramdhan membalikkan tubuhnya membelakangi Fahra. Tengkuk dan punggung Ramdhan tampak seperti laki-laki yang pernah muncul di mimpi Fahra. Hanya saja rambut Ramdhan agak lebat daripada laki-laki misterius dimimpinya yang berambut cepak. Fahra segera menepis pikirannya itu dan mengembangkan senyum kepada Ramdhan ketika hendak masuk ke dalam Honda Civic hitamnya. Ramdhan pun membalas. Seketika itu ada kilatan menyambar hati pemuda Aceh-Jawa itu. Seperti ada yang bergetar. Senyuman Fahra sangat manis dilihat. Walau wajahnya tidak putih, tidak pula hitam, kuning langsat kalau orang bilangnya begitu sangat cocok dengan baju hitam dan kerudung pink yang ia kenakan. Ramdhan merasa bahagia setelah bertemu dengan Fahra. Dan selama mengisi pelatihan ia merasa bersemangat sekali. Senyuman Fahra masih menghiasi pikirannya. Subhanallah… lirihnya.
Hp Ramdhan bergetar. Ia baru saja sampai di Bogor. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Sebuah sms ia buka. Liana mengirimnya sms. “Assalamualaikum Dhan, sedang apa? Bisa ke rumah Lia malam ini? Mamah ingin ketemu”
“Alaikumsalam. Aku baru saja pulang dari Sukabumi mengisi pelatihan. Maaf jika tidak bisa hari ini. Sepertinya aku capek sekali. Sampaikan salam takdzim pada mamah ya” Ramdhan pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan sholat isya.
Liana gadis cantik, tinggi semampai, berambut panjang, putih banyak laki-laki yang suka padanya. putra pertama dan satu-satunya dari Pak Rangga dan Bu Endang. Pak Ranggaberteman dengan Pak Rizki yang sama-sama merantau di Jakarta. Mereka dulu satu kontrakan. Pak Rangga bekerja di Bank sebagai teknisi sedangkan Pak Rangga sebagai editor buku. Makanya bakat ayahnya dimiliki oleh Ramdhan hingga kini. Liana lulusan Universitas Negeri Jakarta jurusan komunikasi dan sekarang sudah bekerja di Telkom di Jakarta Selatan. Mereka tinggal di daerah ciputat. Sejak Pak Rizki memberikan pilihan calon kepada Ramdhan, sejak itu pula Liana sering memberinya sms yang berupa perhatian. Berbeda ketika dulu. Ketika dulu Liana memberi sms sesekali saja. Waktu itu memang Liana juga sedang mempunyai kekasih. Karena sekarang sudah putus maka ia mendekati Ramdhan. Lagipula antara Bu Endang dan Pak Rizki sudah membicarakan perjodohan anak-anak mereka. Tapi semuanya dikembalikan kepada anak-anak mereka.
Ramdhan duduk lama di atas sajadah. Ia berpikir bahwa ia tidak akan bisa menganggap Liana sebagai calon istrinya. Perasaannya berkata bahwa Liana ia anggap adik. Usahanya untuk istikhoroh tidak menemukan jawaban bahwa Liana adalah jodohnya. Rasa sayang kepada Liana bukan rasa sayang kepada lawan jenis seperti orang lain. Melainkan rasa sayang kepada saudara. Ramdhan pun sujud meminta petunjuknya agar ia diberi yang terbaik juga untuk Liana.
Fahra rindu dengan Abi dan Umminya disana. Ingin nelpon tapi sudah jam sebelas malam takut mereka sudah tidur. Ia masih memikirkan nasib guru-guru di Tk Fikri yang rela diberi honor seadanya. Ia sendiri bahkan tidak memikirkan honornya sendiri. Honor di SMP Citra Mandiri pun apa adanya. Dia belum menjadi PNS. Kadang honor dari SMP Citra Mandiri ia bayarkan untuk honor guru di TK Fikri. Di saat keadaan begini ia ceritakan pada Umminya karena ia lebih dekat dengan Umminya. Kali ini ia harus menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Umminya. Ia butuh seseorang yang mau mendengarkan ceritanya hari ini, di malam ini, di saat apapun. Ia butuh pendamping hidup… lalu ia melanjutkan sholat hajatnya menangis di hadapan-Nya.
Calon Isteri
Krik.. krik.. suara jangkrik terdengar dari Hp Fahra. Itu berarti ada sms yang datang. Kemudian baca.
“Salam. Benarkah ini dengan Fahra Fikria? Jika benar ini dengan Ramdhan teman Kang Farhan”
“Wassalam. Iya betul, ini dengan Fahra”
“Jika tidak keberatan boleh saya menelpon adik?”
“Boleh”
Ada apa ya Mas Ramdhan nelpon dia? Tau dari siapa nomornya? Oh mungkin dari Farhan. Pikir Fahra. Ramdhan bilang bahwa dia akan sering berkunjung ke Sukabumi lanjutan dari pelatihan waktu itu karena BKPRMI akan mendirikan Rumah Pena untuk para penulis baru di Sukabumi. Ramdhan diminta sebagai motivator dan pemantau Rumah Pena itu. Karena tidak punya saudara di Sukabumi, maka keluarga Farhan lah yang sering dikunjunginya. Kadang ia datang bersama Farhan di hari sabtu minggu untuk botram bersama. Botram adalah makan nasi liwet yang dimasak dengan bawang merah, daun salam, ikan asin bahkan rempah-rempah lain dan di makan di atas daun pisang bersama-sama ditemani sambal terasi. Makannya di belakang rumah dekat kolam ikan. Uuih… nikmat rasanya.
Sejak itu, Ramdhan sering bercerita tentang keluarganya, tentang pekerjaannya, aktifitasnya dan apapun kepada Fahra juga Farhan. Mereka sudah layaknya keluarga. Ramdhan merasa nyaman jika bertemu dengan Fahra, begitupun Fahra. Walau hanya satu bulan sekali mereka bertemu, tapi komunikasi lewat telpon sering dilakukan. Ramdhan lebih sering menelepon Fahra dan bercerita ini itu. Ramdhan memang suka berbicara daripada Fahra. Dan Fahra lebih sering mendengarkan. Fahra tak pernah bosan mendengar cerita-cerita Ramdhan, ada hal baru yang selalu ia dapatkan. Fahra jadi tahu dunia jurnalistik, tahu dunia tulis menulis dan banyak hal baru yang ia dapatkan dari cerita-cerita Ramdhan.
Bulan ini semua Tk di Kecamatan Warudoyong mendapatkan bantuan dari Pemda sebesar5 juta rupiah. Tapi hanya Tk Fikri saja yang tidak kebagian. Pertimbangannya karena tahun lalu sudah mendapatkan bantuan dana. Tapi kalau klasifikasinya sudah pernah mendapat bantuan dana, mengapa Tk lain yang juga pernah mendapat bantuan berkali-kali seperti dari Propinsi bisa mendapat lagi. Fahra kecewa dengan penyeleksian yang dirasa tidak adil itu. Padahal Tk Fikri selalu aktif mengikuti organisasi Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI). Tapi tetap saja “orang dalam” soal bantuan pun bisa bermain. Jika bisa mengambil “hati” atasan atau sedikit lincah dalam bermain peran mendekati atasan maka dialah yang di “lihat” oleh atasan. Tak perduli siapa yang lebih membutuhkan melainkan siapa yang sering “memuji” menyedihkan…
Fahra duduk diam di kantor. Ia harus menerima apapun yang Allah berikan. Namanya juga perjuangan di sela-selanya pasti ada faktor untuk menuju kedewasaan. Salah satunya menerima apapun yang terjadi dan selalu bersyukur dengan yang diberi. Buruk menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Semoga bantuannya ada walau tidak harus dari pemerintah yakinnya. Aura dan Rika melihat Fahra di balik ruangan kantor. Ia tahu Fahra kecewa dengan keadaan ini tapi mereka tahu Fahra gadis yang kuat.
Sedang sedih-sedihnya, Ramdhan nelpon. Katanya mau datang ke rumah langsung dan sedang menuju Sukabumi ia habis dari Bandung habis mendapat royalty yang besar dari penjualan bukunya yang berjudul “Meraih Mimpi”. Katanya mau mampir dulu ke rumah Fahra.
Fahra menyambut kedatangan Ramdhan di teras seperti biasa. Ramdhan melihat ada yang berbeda dengan raut muka Fahra. Seperti sedang sedih. Ramdhan pun bertanya. Awalnya Fahra tidak mengaku. Tapi setelah didesak akhirnya Fahra menceritakan tentang kesedihannya kepada Ramdhan. Baru kali ini Fahra cerita tentang kesedihannya pada Ramdhan. Cerita Fahra begitu mengalir dan lancar. Ramdhan ia anggap Farhan kakaknya dan Ramdhan dengan tenang mendengar cerita-cerita Fahra. Saking asyiknya cerita ia lupa bertanya tentang kabar Ramdhan. Setelah Fahra bercerita tentang hari ini, Ramdhan bercerita tentang hari ini juga pada Fahra. Fahra yang sedih hilang seketika karena Ramdhan mengisi ceritanya dengan candaan-candaan.
“Nah gitu dong… kan jadi keliatan manis…” Ramdhan menggoda Fahra yang tersenyum
“Ra,sebenarnya maksud kedatangan mamas ini untuk memberikan ini. Mamas senang sekali dengan kegiatan Ra yang mau membangun desa. Mungkin isi amplop ini ga seberapa. Tapi mohon terima. Semoga isinya bermanfaat untuk anak-anak disini dan TK Fikri ini” Ramdhan memberikan sebuah amplop coklat berisi uang kepada Fahra. Fahra diam saja. Ia takut ada maksud lain dari Ramdhan yang nantinya Fahra tidak sanggup untuk membayarnya.
“Ayo terimalah. Mamas ikhlas memberikannya. Ini adalah sebagian royalty yang mamas terima tadi siang. Dan mamas sengaja menyisihkan untuk TK Fikri ini. Niatnya nanti mamas juga ingin mendirikan yayasan sosial. Ya hitung-hitung pajak kerja mas dan juga investasi juga agar nanti kalau mamas mendirikan yayasan tidak susah uangnya. Terima ya” Ramdhan agak memaksa dan sedikit mencandai Fahra seakan ia akan membangun yayasan bersama dengan Fahra.
“Alhamdulillah. Makasih ya mas. Ra terima amplop ini. Semoga Ra bisa amanah” Setelah itu Ramdhan pamit pulang. Ramdhan jika datang sendiri tidak pernah lama. Kecuali jika ada Farhan ia bisa berlama-lama. Ia takut ada fitnah jika ia datang sendiri dan ngobrol lama dengan Fahra walaupun di luar. Fahra merasa bersyukur walau bantuan yang diberikan Ramdhan tidak sebesar bantuan Pemda tapi Fahra tetap bersyukur. Selain itu tanpa harus membuat Laporan Pertanggung jawaban dana. Haha… repotnya jika mendapat bantuan dari Pemda.
Perkenalan Fahra dan Ramdhan sudah menginjak bulan ke lima. Mereka sudah semakin akrab. Setiap ada kejadian penting Ramdhan selalu memberi kabar kepada Fahra. Ia seakan menemukan adik baru yang selalu mendengar cerita-ceritanya. Dulu waktu sekolah karena usianya dengan adiknya Dwi tak begitu jauh, mereka selalu saling cerita walau mereka sama-sama lelaki. Tapi keakraban mereka bagai saudara perempuan. Tapi sejak ia kuliah di Universitas Kebangsaan Malaysia ia sudah jarang bercerita dengan Dwi. Paling lewat e-mail itupun jarang karena kesibukan kuliahnya. Kini ia merasa nyaman jika memberikan kasih sayang seperti adik sendiri ke Fahra. Semakin hari semakin memupuk rasa itu. Ia tak lagi menganggap Fahra adiknya. Ia kini semakin memikirkan Fahra. Jika ia mendapat sms atau menelpon Fahra perasaannya jadi berbeda, agak kikuk dan senang rasanya jika sudah berkomunikasi dengan Fahra. Ia yakini ia jatuh cinta.
Ramdhan melewati pasar Degung yang ramai ketika pagi saja. Itu pun tidak seramai Pasar Pelita atau Pasar Gudang di pusat Kota Sukabumi yang 24 jam selalu ada. Kemudian ia terus menelusuri Cisaat bayang wajah Fahra menempel di benaknya. Ia mendengarkan lagu Letto Bunga Di Malam Itu di radio Mega Swara FM terdengar suara Noe Letto yang merdu seakan menimang-nimang hatinya yang mulai kasmaran.
Malam itu lah malamku
ketika aku bertemu denganmu
dalam hati ku tersedu
tanganku tergenggam menahan haru
mataku tak lepas darimu
walaupun ku sendiri ragu
Reff:
bunga menebar sejuk wewangian malam itu
ku tak mampu menahan rasa yang tak menentu
lalu muncullah rasa di dalam benakku
ku tak pantas memandangi wajahmu
Rindu itu belum hilang
walau pertemuan itu terkenang
dalam hatiku berdoa
jangan sampai aku pernah terlupa
Padamu penjaga hidupku
tak pernah meninggalkan aku
Lagu itu lebih cocok ditujukan pada penguasa alam Allah SWT Yang Maha Lembut kepada setiap makhluk-Nya. Ramdhan pun meresapi lagu itu untuk-Nya.
Ia tiba di rumah Fahra jam empat sore setelah sholat asar di Mesjid Agung. Pulang dari Fahra jam lima sore. Kini sebelum adzan magrib ia sudah tiba di Masjid Nawawi dekat Palagan Ambarawa Bojong Kokosan di bawah Masjid ia parkir Honda Civic miliknya. Masjid Nawawi memang terletak agak jauh dari jalan raya. Ia terletak di atas bukit. Tampak indah jika berada di atasnya melihat pemandangan ciptaan Sang Maha Pengasih. Ia menggulung kemejanya dan celana nya lalu masuk ke dalam tempat air wudlu, tak lupa kacamatanya ia selipkan pada kancing di tengah depan lehernya. Segarnya air masuk ke seluruh bagian yang ia basuh. Tak lama kemudian ia masuk dan tidak langsung duduk. Ia sholat Tahiyyatul Masjid dahulu sholat menghormati masjid.
Suara muadzin mendayu-dayu terdengar syahdu dihati Ramdhan. Ia merasa kecil sebagai manusia. Setelah kumandang adzan magrib ia langsung sholat berjamaah. Banyak jamaah yang datang dari luar. Penduduk sekitar jarang yang datang. Entah mereka lebih suka sholat di rumah atau memang ada alasan lain. Begitulah kondisi masjid-masjid di Indonesia ramai ketika Jumatan saja. Tapi tidak semuanya begitu.
Udara dingin makin masuk ke dalam Civic. Ramdhan tidak menyalakan AC nya. Tapi tetap saja udara dingin masuk melalui celah kaca. Telpon di sakunya berdering. Ia hampir kaget dibuatnya karena getarannya. Ia mengangat telponnya dan memperlambat kecepatan mobilnya.
“Assalamualaikum…” Sapanya
“Wa ‘alaikumsalam. Nak Ram. Bisa mampir ke RS Internasional Bintaro? Lia sakit tifus dari tadi muntah-muntah terus” Bu Endang mamanya Lia berbicara dengan suara parau
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. InsyaAllah mah saya akan segera ke sana. Tapi mungkin agak lama datangnya. Sekarang saya masih di Ciawi baru pulang dari Bandung” Kini Ramdhan agak mempercepat laju mobilnya. Ia merasa khawatir dengan keadaan Liana yang sudah ia anggap adik sendiri.
Sebenarnya Ramdhan sudah capek seharian ini belum istirahat. Tapi mungkin kunjungannya di RS bisa menghibur Bu Endang dan Liana bisa lebih cepat sembuh. Untung saja sudah di tol, jadi langsung cepat sampai di Bintaro. Di sana sudah ada ayah dan ibunya Ramdhan juga Bu Endang. Liana tertidur lemas di pembaringan. Rumah sakit elit di kawasan Bintaro ini membuat Liana tidur tampak nyaman. Tapi yang namanya sakit apapun tidak nyaman. Ramdhan mendekati Liana dan duduk di sampingnya. Ia mengelus rambutnya yang tergerai. Mendoakan agar ia cepat sembuh. Liana yang merasakan sentuhan Ramdhan langsung membuka matanya.
“Dhan… sudah lama?” Liana membetulkan posisi tidurnya.
“Belum baru aja. Sudah makan?” Tanya Ramdhan
“Lia ga mau makan tuh Dhan. Dia baru mau makan kalau kamu sudah datang” Bu Endang berbicara mendekati meja yang diatasnya tersimpan bubur lalu memberikan mangkok berisi bubur kepada Ramdhan. Ramdhan pun menerimanya.
“Kok gitu. Ayo makan dulu. Aku suapi ya” Ramdhan kemudian mulai menyuapi Liana. Liana yang dibantu Bu Endang memperbaiki posisinya menjadi posisi duduk. Liana pun mau disuapi Ramdhan. Bu Endang dan kedua orangtua Ramdhan melihat anak-anak mereka sangat romantis. Tapi tak terasa oleh Ramdhan. Ia merasa takut Fahra cemburu jika melihat adegan ini. Fisiknya berada di rumah sakit tapi hatinya berada di Sukabumi.
Setelah makan. Ramdhan dan kedua orangtuanya pulang ke Bogor. Ayah dan ibunya memakai mobil Innova sedangkan Ramdhan berbeda tapi mereka tetap beriringan. Ramdhan di depan. Sampai di rumah setelah Ramdhan bersih-bersih, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi Ramdhan sudah lelah dan mulai baring di tempat tidurnya. Baru saja ia berbaring ibunya masuk dan duduk di kasur mengelus-elus rambut anak sulungnya itu.
“Bu, kangen sama Dwi ya? Dah di telpon belum minggu ini?” Ramdhan bertanya pada ibunya
“Sudah, katanya dia jadi tambah gemuk karena enak pekerjaannya ditambah lagi dia sudah punya calon istri. Waduh dia mendahului kamu tuh ndok kamu kapan? Maaf ya nak, ibu terus-terusan meminta kamu untuk segera menikah”
“Ga pa pa kok bu. Mamas juga sedang berusaha” Ramdhan tersipu malu berkata begitu
“Kamu tadi terlihat akrab dan sayang sekali dengan Lia. Kamu betul memilih dia?” Tanya Bu Dewi. Ramdhan bangun dari tidur-tidurannya. Ia kemudian bercerita tentang semuanya kepada ibunya. Perkenalan dengan Fahra hingga perasaan sesungguhnya pada Liana. Bu Dewi sebagai ibu mendengarkan dengan serius cerita anaknya itu.
Zikir Cinta
Sesibuk apapun Ramdhan selalu menyempatkan diri untuk bangun malam dan sholat Tahajud dan Istikhoroh. Setelah sholat ia berdzikir meminta pendamping hidup yang benar-benar dipilih oleh Allah untuknya. Apakah Liana atau Fahra. Awalnya mereka dianggap sebagai adik sendiri. Tapi perasaannya kepada Fahra melebihi perasaan ke adik sendiri. Ia terus berzikir meminta petunjuk. Hingga ia tertidur di sajadah tanpa ia sadari. Ia kemudian bermimpi. Ia bermimpi sedang mendekati seorang gadis berpakaian putih. Wangi bunga Tanjung tercium walau jarak masih agak jauh. Kemudian ketika sudah dekat seakan ada yang mendorongnya untuk memeluk gadis yang tak tampak wajahnya itu tapi tak lama. Setelah itu ia melihat banyak anak-anak bermain di sekitarnya tanpa melihat gadis yang telah ia peluk tadi. Bunyi sms mengagetkan Ramdhan dan terbangun dari mimpi yang sebentar. Sebuah sms dari Fahra yang mengajak untuk bangun sholat tahajud.
Ramdhan tersenyum setelah membaca sms itu dan langsung membalasnya bahwa ia sudah bangun dari tadi tapi ketiduran dalam zikirnya. Ucapan terimakasih kepada Fahra karena telah membangunkannya lagi. Setelah mengirim sms, Ramdhan merenung tentang mimpi itu. Ia mencoba merangkai mimpinya. Anak-anak, dan seorang gadis misterius. Siapakah dia? Diakah calon istriku nanti? Dan mengapa Fahra langsung ada dalam kehidupan nyata dengan memberikan sms langsung? Akahkah Fahra calon istrinya? Banyak pertanyaan dalam hatinya.
Paginya ia cerita kepada Bu Dewi mengenai mimpinya. “Hamdulillah nak, bagi ibu itu petunjuk atas usahamu untuk mencari calon istri. Mimpimu itu ibu rasa mengarah kepada Fahra. Yang punya anak-anak banyak siapa? Ada gadis lain yang punya anak banyak ndak?” Ramdhan sudah lama bercerita tentang Fahra dan keluarganya dan perasaan beberapa hari ini yang dirasakan oleh putranya itu. Dan Bu Dewi yakin jika mimpinya mengarah kepada Fahra
“Iya juga sih bu. Selama ini mamas ga pernah dekat dengan gadis yang anaknya banyak selain Fahra. Dan perasaan mamas semakin mantap untuk memilih Fahra”
Ramdhan mengatakan keseriusannya untuk menikahi Fahra tentunya setelah izin kepada Farhan. Hatinya mantap memilih Fahra untuk ia jadikan istri. Perasaannya berbeda tak seperti perasaannya kepada Liana. Hal ini juga sudah ia bicarakan kepada ayah ibunya. Ayah dan ibunya hanya bisa mendoakan semoga Allah memberikan yang terbaik buat putranya itu.
Ramdhan akan menjemput Liana di rumah sakit. Bu Endang bergantian dengan adiknya Bu Enah menunggui Liana di RS karena Lia dirawat selama 5 hari. Ketika Ramdhan datang, Liana sudah bersiap-siap akan pulang. Kini giliran Bu Endang yang menjaga Liana.
Ramdhan ikut mempersiapkan perlengkapan Liana untuk dibawa kembali pulang. Liana tampak bahagia karena Ramdhan ada di sisinya saat ini. Dengan manja Liana minta di tuntun Ramdhan untuk ke luar kamar hingga ke dalam mobilnya.
Tanpa berbasa basi setelah semua masuk, Ramdhan langsung menancap gas nya ke daerah Ciputat. Liana duduk di belakang bersama Bu Endang. Obrolan kecil mereka lakukan di mobil hingga sampai kurang lebih satu jam. Ciputat memang biangnya macet. Apalagi pas pasar. Karena tidak ada terminal untuk menampung para angkot jurusan Pondok Labu, Kebayoran, hingga Pamulang dan masih banyak lagi bus-bus mini yang menuju Bogor dan sekitarnya. Sudah lama warga Ciputat menginginkan adanya fly over untuk menghindari kemacetan itu. Bahkan mereka bergabung dalam perkumpulan warga CIPASERA yaitu Ciputat, Ciputat, Cisauk, Pamulang, Pondok Aren, Pagedangan, dan Serpong untuk mendeklarasikan Kota Tangerang Selatan. Intinya mereka ingin berdiri sendiri. Termasuk menangani masalah kemacetan ini.
Sampai di rumah Liana tidak istirahat lagi di kamar. Ia lebih senang menemani Ramdhan di ruang tamu. Ia bilang kepada Ramdhan sudah sangat sehat. Melihat kondisi Liana yang sudah sehat ditambah pengakuannya tadi tanpa berlama Ramdhan langsung mengutarakan isi hatinya kepada Bu Endang dan Liana agar Liana tidak berharap lebih kepada Ramdhan dan Ramdhan memang harus tegas dalam hal ini.
Sudah sering Ramdhan bilang kepada Bu Endang bahwa perasaannya kepada Liana tidak lain adalah perasaan seorang kakak kepada adiknya. Dan ketika Ramdhan sudah memilih gadis untuk dijadikan istrinya Ramdhan pun bicara kepada Bu Endang dan Liana. Liana terkejut dengan pernyataan Ramdhan. Ia merasa kecewa dan tidak terima diperlakukan begitu. Liana masuk kamar dengan mendobrak pintu kamarnya setelah Ramdhan menceritakan keinginannya. Bu Endang hanya diam melihat sikap anaknya itu.
“Mah, maaf. Bukannya saya mau menyakiti hati Lia. Tapi berkali-kali saya bicara kepada dia bahwa dia saya anggap adik sendiri. Dan saya akan siap membantu apapun untuk dia. insyaAllah jika sudah saatnya, Lia akan bertemu jodohnya” Ramdhan harus tegas. Selain tidak mau memutus tali silaturahmi ia pun tidak ingin memaksakan perasaannya kepada Lia.
“Tapi apa tidak bisa kamu coba untuk menyukai Lia? Cinta kan bisa datang setelah pernikahan” Bu Endang mencoba menghibur anaknya yang pasti mendengar di balik pintu kamarnya
“Mah, saya sudah coba untuk menyayangi Lia seperti sayang antara lawan jenis. Tapi tetap saja tidak bisa. Rasa cinta saya tidak bisa di rubah kepada Lia”
“Ya sudahlah. Mamah hanya berharap semoga Ramdhan bahagia dengan pilihannya ya. Dan Neng ga sedih terus menerus” Jawaban Bu Endang membuat Ramdhan lega
“Iya semoga Lia menemukan kebahagiaannya ya Mah” Ramdhan kemudian pamit pulang. Di dalam kamar, Lia menangis deras. Ia memukul-mukul kasurnya dengan kepalan tangannya. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Dalam hatinya menaruh dendam kepada gadis yang telah merebut cintanya Ramdhan.
Lamaran
Pertemuan dua keluarga akan dilaksanakan hari ini di Sukabumi. Pak Abdul dan Bu Siti
sudah datang satu hari yang lalu dari Palembang. Persiapan sederhana sudah selesai untuk menyambut calon menantu dan besan. Farhan menjadi tim sibuk. Sedangkan Fahra dari tadi diam di kamar setelah mandi ditemani Risna sahabatnya. Ia tampak nervous.
“Alhamdulillah Na, sebentar lagi Ra akan dilamar. Saat yang Ra tunggu selama ini bahwa akan ada seseorang yang Ra cintai akan melamar Ra.”
“Iya Alhamdulillah aku seneng dengernya. Tapi ini belum final lho. Ini baru lamaran belum ke pernikahan. Jangan bertindak yang macam-macam dulu walau ia sudah menjadi calon suami kamu”
“InsyaAllah. Ra akan menunggu saatnya tiba. Ra akan jaga diri” Senyum mengembang dari keduanya
Tak berapa lama kemudian rombongan Pak Rizki datang. Mereka hanya bertiga karena Dwi tidak bisa izin dari pekerjaannya. Mereka pun duduk di ruang tamu. Sambutan hangat menyambut keluarga itu. Mereka tampak akrab. Terkecuali Ramdhan yang dari tadi diam saja. Soalnya gadisnya belum keluar dari kamar.
“Lho nak Ramdhan kenapa dari tadi diam saja? Ayo di makan suguhannya” Tegur Pak Abdul. Ramdhan hanya mengangguk senyum
“Ya terang saja dia diam pak. Bidadarinya saja belum keluar dari kamar” Ledek Farhan. Ramdhan pun tersipu malu. Kemudian Fahra dipanggil keluar oleh Farhan. Memang tadi perjanjiannya sebelum dipanggil, Fahra tidak mau keluar. Alasannya takut grogi di depan orangtua Ramdhan. Maka dengan malu-malu Fahra keluar kamar. Dibalut kerudung biru dan baju gamis polos berwarna putih Fahra terlihat sangat manis walau sangat sederhana gaun yang dipakainya. Mata Ramdhan tak lepas sedikitpun dari Fahra hingga ia duduk di samping kedua orangtuanya. Hampir setengah hari keluarga Ramdhan menghabiskan waktu di Sukabumi. Mereka sampai botram bersama di kolam ikan belakang.
Pernikahan sudah ditentukan. Satu bulan kurang tiga hari dari hari lamaran. Fahra sibuk belanja ini itu dan mempersiapkan ini itunya dibantu Risna. Untung saja suami Risna tidak keberatan istrinya pergi-pergi terus, tentunya setelah minta izin dari suaminya. Suami istri itu sudah menganggap Fahra dan keluarganya adalah keluarga mereka sendiri.
Krik… krik… “Salam dik. Gimana persiapannya? Sudah luluran? Rawat diri dengan baik ya. Agar suamimu nanti tambah cinta melihat kecantikanmu” Ramdhan menggoda Fahra di sms
“Wassalam mas. Iya, iya Ra sih nurut aja kata mas. Asal ga yang aneh-aneh saja hehe” Jawab Fahra meladeni
Satu bulan ini Fahra tidak boleh bertemu dengan Ramdhan kalau kata orangtua itu di pingit. Memang sebelumnya juga begitu. Mereka bertemu satu bulan sekali. Bagi Fahra itu sudah biasa. Tapi karena merasa akan menjadi istri satu bulan rasanya satu tahun. Itulah yang dialami orang yang sedang kasmaran.
Hp Fahra bordering ketika ia selesai mengajar di SMP Citra Mandiri
“Assalamualaikum”
“Wa ‘alaikumsalam warahmatullah…”
“ Fahra kenalkan saya Lia. Bisa kita ketemu? Saya sekarang ada di hotel Permata Hijau dan ingin bertemu dengan kamu sekarang. Ini ada kaitannya dengan Ramdhan. Bisa? Terimakasih sebelumnya”
“Maaf, ini teh Lia yang saudaranya mas Ramdhan bukan?”
“Iya betul”
“Memangnya ada apa dengan mas Ram?”
“Nanti saja dibicarakan. Ok ya waktu saya tidak banyak” Klik! Hp terputus. Fahra bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Ada apa sebenarnya dengan Ramdhan? Mengapa ia tidak menelpon Fahra saja jika ada yang penting? Sebelumnya Ramdhan sudah pernah cerita tentang Liana. Tapi tidak cerita bahwa Liana pernah jatuh hati pada Ramdhan. Jarak dari SMP Citra Mandiri ke Hotel Permata Hijau hanya sejauh 2 km. Kemudian Fahra langsung menuju restoran di hotel tersebut dan menemukan seorang gadis yang tidak berjilbab memakai baju hitam celana hitam agak ketat dilihatnya. Rambutnya lurus tertata rapi. Tubuhnya ramping, putih dan wangi jika berada di dekatnya. Seperti artis Ussy Sulistiyowati. Fahra mendekati Liana.
“Maaf. Teh Lia bukan?” Tanya Fahra
“Iya saya Lia” Lia menyilakan Fahra duduk dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Fahra pun menyambut salam itu
“Langsung saja Ra. Aku kesini mau jujur sama kamu tentang hubunganku sama Ram saat ini” Deg!! Jantung Fahra berdegup kencang. Belum cerita apa-apa Fahra langsung menerima sinyal yang jelek dari pembicaraan ini nantinya. Namun Fahra mencoba menenangkan diri. Dalam hatinya berdzikir dan berdoa semoga apa yang akan didengarnya tidak akan membuat dirinya lepas emosi. Dan ia akan pasrah atas kabar buruk atau baik yang akan di bawa Lia.
“Sebenarnya sudah hampir dua tahun aku dan Rama menikah. Namun kami hanya menikah di bawah tangan. Kami belum meresmikan pernikahan kami di KUA. Awalnya pernikahan kami bahagia. Tapi setahun belakangan ini Ram jarang pulang ke rumah karena kesibukannya pergi ke beberapa kota. Tak jarang gadis lain menelpon dia ketika ia ada di rumah. Ketika ia berada di kota lain ia selalu menganggap dirinya masih single dan belum beristri. Saya selalu bersabar dengan sikapnya. Dan saya lebih sedih lagi mendengar bahwa dia akan menikah dengan seorang gadis di Sukabumi yaitu Fahra. Saya dapat nomor Fahra dari Hp dia sendiri. Dia sering menelpon kamu dan sms kamu. Membaca sms nya hatiku sakit sekali. Aku… aku… tidak tahan lagi… hiks… hiks…” Ackting Lia sangat meyakinkan Fahra. Lia mendunduk seakan sedang menangis. Fahra kecewa dan merasa dibohongi oleh Ramdhan tentang statusnya. Apa sih yang ia cari dari gadis desa yang sederhana, biasa-biasa saja, sedangkan Lia yang cantik bisa ia tinggalkan begitu saja.
“Teh, maaf. sebenarnya Ra ga tau sama sekali kalau mas Ram itu sudah beristri. Jika Ra tau teteh adalah istrinya, Ra ga akan meladeni sikap mas Ram yang lebih kepada Ra” Fahra mencoba menenangkan tangisan Liana.
“Ra percaya kan sama aku? Kita sama-sama perempuan. Aku ga akan rela jika ia menyakitimu juga dan menjadi korban selanjutnya” Lia kembali meyakinkan Fahra bahwa perkataannya benar.
Walau agak ragu, Fahra mengangguk agar lebih tenang lagi hati Liana. Hari itu Sukabumi hawanya panas. Fahra menahan amarahnya hingga pulang lagi ke rumahnya. Liana tersenyum bahagia karena sepertinya usahanya untuk memisahkan Ramdhan dan Fahra akan berhasil.
Fahra diam di atas sajadahnya. Tangisnya sudah lama menetes. Apakah Ramdhan bukanlah jodohnya? Apa maksud Ramdhan mengkhianati istrinya dan berpaling padanya? Kembali Fahra bersujud lama sekali.
Sejak pertemuan itu, Fahra tidak menceritakan apapun ke siapa-siapa. Ia malu dan merasa telah merebut suami orang. Telpon dan sms Ramdhan tidak ia angkat dan balas. Padahal seharian ini Ramdhan baru menghubungi Fahra karena kesibukannya yang baru. Menulis novel baru. Ramdhan merasa aneh dengan sikap calon istrinya itu. Ada apa gerangan? Tak biasanya Fahra tidak mengangkat telpon darinya. Ah mungkin saja Fahra sedang sibuk. Ramdhan berbaik sangka saja dengan sikap Fahra.
Malamnya seperti biasa setelah ia solat hajat, Fahra tidur dan bermimpi lagi bertemu dengan laki-laki berbaju putih yang hanya Nampak dari belakang saja. Fahra kembali bertanya siapakah dia. Dan jawaban laki-laki itu tetap sama bahwa dia sedang berada di masa depan. Padahal sudah lima bulan terakhir mimpi itu tidak datang ke dalam tidurnya. Dan Fahra sudah melupakan mimpi itu. Tapi kenapa saat ini muncul kembali? Suasananya masih hijau. Namun kali ini tampak lebih cerah dari sebelumnya. Kali ini lagi-lagi Fahra mencoba untuk mendekati laki-laki itu. Dan laki-laki itu tidak menghindar. Rasa penasaran Fahra akan terjawab. Tengkuk dan punggungnya sangat terlihat jelas ketika jarak Fahra dengan laki-laki itu satu meter. Dan ketika akan melangkahkan kaki ke depan. Wush…. Seketika laki-laki itu hilang. Fahra kembali kebingungan. Ia melihat di sekelilingnya tidak ada siapapun. Lalu ia duduk. Fahra seakan sedih berada sendiri di padang yang luas itu. Ketika akan meneteskan air mata. Sesosok tubuh memeluknya dari belakang. Pelukan yang erat namun tak sakit dirasakan. Tangan yang melingkar melalui lehernya berwarna putih. Karena yang memeluknya adalah laki-laki yang tadi. Fahra sama sekali tidak bisa melihat wajah laki-laki itu. Kemudian di telinganya dibacakan sebuah ayat Ar-Rahman. Fahra mendengarkannya dengan penuh syahdu dan setelah beberapa ayat dibacakan, lamat-lamat terdengar jauh… jauh… Fahra bangun dari mimpinya. Subhanallah… Ya Rabb hamba bisa mendengar lantunan ayat-ayat Mu dalam mimpi hamba. Sujud syukur Fahra lakukan sebelum bangun untuk solat Tahajud.
Ditemani suara jangkrik di sepertiga malam terakhir. Fahra merenung. Siapakah laki-laki itu? Apakah jodohnya? Mengapa ia selalu bilang bahwa ia berada di masa depan? Apakah ia Ramdhan? Tapi mengapa tengkuk Ramdhan tak seperti tengkuk laki-laki itu? Mungkinkah Ramdhan bukan jodohnya? Air mata mulai meleleh kembali dikedua matanya. Ia merasa sedih sekali. Ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Ramdhan dan kini ia harus pasrah melepasnya demi istrinya. Ya, Fahra harus pasrah atas apa yang terjadi dengan dirinya.
Dua minggu lagi pernikahan akan segera di mulai. Persiapan semuanya sudah dibereskan sebelum dua minggu ini. Kecuali undangan yang belum disebar. Fahra ragu untuk menyebarkannya. Sedangkan ia belum cukup berani menanyakan hal yang sebenarnya kepada Ramdhan. Sudah dua hari ini telpon dan sms Ramdhan tidak diangkat. Jika nelpon ke rumah, Fahra selalu bilang kepada adiknya Euis kalau ia sedang sibuk dan selalu ada alasan untuk tidak bicara pada Ramdhan.
Akhirnya setelah sholat zuhur, Ramdhan pergi menemui calon istrinya itu bersama ibunya walau dalam perjanjiannya mereka tidak boleh bertemu dulu sebelum menikah. Mereka akhirnya bertemu. Fahra mencium tangan Bu Dewi ketika sampai.
“Ndok, kamu tampak pucat. Kamu sakit?” Tanya Bu Dewi pada Fahra
“Nggak bu. Hanya kelelahan saja” Fahra bohong. Padahal kantung matanya agak membesar terlihat semalam ia habis menangis
“Dik, ada apa sebenarnya? Ceritalah pada mamas?” Ramdhan menatap kedua mata Fahra dan Fahra tak kuasa kehilangan sorot mata yang ia kagumi itu jika harus berpisah dengannya. Akhirnya Fahra menceritakan kedatangan Liana dan semua ceritanya. Fahra merelakan Ramdhan untuk kembali kepada Liana dan menjalin keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah dan menganggap Fahra sebagai saudara saja.
Ramdhan dan ibunya kaget mendengar penuturan Fahra. Tak disangka Liana tega berbuat seperti itu. Bu Dewi menghibur calon menantunya itu
“Nak Fahra, kok kamu langsung percaya sama Lia? Kamu bahkan ndak komfirmasi dulu sama calon suami kamu. Seharusnya kamu percaya sama Ram. Ibu yakin Ram tidak akan tega berbuat seperti itu. Ibu tau yang sebenarnya”
“Tapi bu, bukannya Ra tidak percaya sama mas Ram. Walaupun mas Ram dan Teh Lia belum menikah, tapi kalau posisi Ra mengganggu hubungan mas Ram dan teh Lia, lebih baik Ra mundur saja. Ra tidak ingin ada yang terluka” Ra menahan sesak di dadanya karena air mata sudah mulai mengalir
Ramdhan tersenyum melihat tulusnya cinta Fahra padanya.
“Subhanallah. Gadis sepertimu memang sulit dicari. Adik rela melepas calon suamimu untuk kebahagiaan orang lain tanpa memperdulikan kebahagiaan adik sendiri. Jika mas bersama Lia belum tentu bahagia. Kan mas sebelumnya sudah pernah bilang kalau antara mas dan Lia hanya sebatas persaudaraan saja tidak lebih”
Walaupun sudah dibujuk dua orang, Fahra tetap tidak enak dengan Liana. Ia merasa sudah merebut Ramdhan dari kehidupan Liana. Setelah berada dua jam di rumah akhirnya Bu Dewi dan Ramdhan pamit pulang. Bu Dewi berpesan agar Fahra tidak berpikiran macam-macam. Ia bangga memiliki calon menantu yang tulus menyayangi putranya itu. Ramdhan pun berpesan kepada Fahra
“Adik manis, jangan nangis… nanti kalau mamas telpon diangkat ya. Percaya sama mas. Mas sayang sama adik. Senyumnya mana?” Seketika itu senyum Fahra mengembang sedikit. Hatinya belum lega. Ahlamdulillah lirih Ramdhan setelah diberi senyuman Fahra.
Kini satu minggu lagi pernikahan Fahra dan Ramdhan akan berlangsung. Masih ada saja keganjalan di hati Fahra. Ia masih memikirkan bagaimana perasaan Liana nanti. Hingga ketika Fahra sedang duduk bersama saudara-saudaranya yang datang dari kota lain atau tetangganya mempersiapkan apapun untuk hari H seseorang mengetuk pintu rumahnya. Liana mengambil kerudung langsung dan memakainya kemudian lari ke depan rumah. Yang datang adalah Liana. Ia terkejut. Kemudian ia mempersilakan Liana duduk di kursi teras. Lama keduanya diam.
Kemudian Liana mengawali pembicaraannya. Ia jujur bahwa cerita waktu itu bohong belaka. Ia mengaku salah kepada Fahra dan keluarganya. Ia pun merasa bersalah kepada Ramdhan juga keluarganya. Sejak kedatangan Ramdhan ke rumah Fahra, Bu Dewi langsung bertemu dengan Liana berbicara dari hati ke hati. Liana tidak dimarahi melainkan layaknya ibu, Bu Dewi paham akan perasaan yang ia alami saat itu. Untuk menerima kenyataan ia harus mengurung diri selama seminggu. Pekerjaannya ia tinggalkan. Dan akhirnya ia bisa merasakan ketulusan hati Fahra.
“Ra, kamu memang pantas mendampingi Ram. Kamulah yang akan kuat bersamanya. Jika gadis lain mungkin akan memarahiku dan mencaciku. Jika gadis lain mungkin ia akan merebut Ram dariku. Tapi kamu berbeda. Kamu tidak pernah menghubungiku dan berkata kasar kepadaku. Bahkan kamu merelakan Ram untuk menjadi milikku. Aku tau cerita itu dari Bu Dewi. Ram beruntung sekali mendapatkan istri sepertimu” Liana kali ini berkata jujur. Fahra menatap matanya dan terlihat bahwa Lia pun tulus merelakan Ram menikah dengan Fahra. Alhamdulillah mereka berdua pun berpelukan layaknya saudara yang lama sekali tidak bertemu.
Akhirnya hari itu datang juga. Tenda biru terpasang di halaman rumah keluarga Pak Abdul. Murottal didendangkan untuk menyambut kedatangan tamu yang akan mengikuti prosesi akad nikah. Dan tiba saatnya calon mempelai pria duduk di hadapan calon mertuanya. Sebelum ijab qobul, Ramdhan menghadiahi Fahra yang duduk di dalam dengan lantunan surat Ar-Rahman. Ramdhan membacakannya dengan tartil dan hafalan. Tak disangka Fahra terkejut dengan pembacaan ayat-ayat itu. Suara yang didengar persis seperti ayat yang pernah ia dengar di mimpinya. Subhanallah, Alhamdulillah, wa Laailaahaillallah wallahu akbar. Fahra mendengarkan dengan takdzim lantunan ayat-ayat tersebut.
Setelah selesai membacakan surat itu. Ijab qobul pun diucapkan. Hanya dengan satu kali ucapan Fahra Fikria kini sah menjadi istri Teuku Ramdhan Pratama.
Di kamar. Sepasang suami istri baru itu duduk di atas kasur biru. Ramdhan menatap wajah istrinya dengan kagum. Fahra tampak berbeda dengan dandanannya. Ia pangling melihat bidadari turun dari kahyangan ke Sukabumi. Fahra yang mendengar rayuannya Ramdhan mencubit pinggang Ramdhan dengan mesra.
“Dik. Mas punya hadiah istimewa buatmu”
“Apa itu mas?”
“Tunggu sebentar ya” Ramdhan mengambil salah satu kado yang tersimpan di meja kamar pengantin. Hadiah itu sengaja akan ia buka dan dipersembahkan kepada Fahra.
“Bukalah dik” Ramdhan memberikan kado itu untuk Fahra. Fahra membuka dengan hati-hati. Ternyata isinya adalah sebuah buku. Novel terbarunya Ramdhan berjudul “Ku Peluk Kau Dalam Zikirku” Fahra kagum dengan hadiah itu. Novel itu sengaja Ramdhan buat mulai dari pertemuannya dengan Fahra hingga mimpinya yang pernah memeluk Fahra dalam mimpi.
“Mas merasa pernah mimpi memeluk adik. Tapi tidak lama. Mamas langsung terbangun dari mimpi itu” Ramdhan senyum.
“Mas, bisa berbalik sebentar? Ra ingin melihat mas dari belakang” Fahra ingin meyakinkan bahwa Ramdhan lah yang selama ini ada di mimpinya. Dan ketika Ramdhan berbalik. Subhanallah benar sekali. Tengkuknya sama dengan tengkuk laki-laki dalam mimpi Fahra. Kali ini rambut Ramdhan di potong cepak. Selama ini Ramdhan jarang memotong rambutnya lebih cepak sehingga Fahra tidak paham bahwa sebenarnya Ramdhan lah yang muncul dalam mimpinya selama ini.
“Ada apa dik. Kok senyum-senyum sendiri?”
“Ah nggak mas… ada aja…”
“Yee… genit ya… hehe…”
“Makasih ya mas kadonya”
“Sama-sama dik. InsyaAllah dua minggu lagi buku ini akan diterbitkan. Adik yang pertama kali tahu tentang buku ini”
Fahra tersenyum. Dasar penulis. Apa-apanya ditulis. Jangan-jangan ketika Fahra ingin mundur dari pernikahannya juga ditulis. Dan ketika Fahra bertanya kepada Ramdhan tentang hal ini Ramdhan menjawab.
“Baca saja. Nanti adik akan menemukannya”
“Iih kan malu mas…” Ramdhan pun hanya tertawa menghindari cubitan istrinya.
Sebulan mereka menikah. Mereka mendirikan Yayasan Pendidikan di Desa tempat tinggal Fahra. Dan yang paling di utamakan adalah sekolah kehidupan. Di sana bakat apapun akan di asah. Teuku Ramdhan Pratama dan Fahra Fikria adalah salah satu contoh anak muda yang mau membangun bangsa, agama dan negaranya.
Lukisan tulisan ini bisa mewakilkan suasana hatiku. Hati yang dulu bahagia, sedih kemudian bahagia kembali. Entah kebahagiaan yang kedua ini bersifat nisbi atau mutlak.
Ia mengusik kehidupanku dengan perhatian seorang adam kepada hawa yang seakan mencari-cari pasangannya selama tiga ratus tahun lamanya. Begitupun sang hawa. Hawa merindukan adam yang ia rindukan dalam kehidupannya. Hingga tiba saatnya skenario Allah bermain menyapa episode kehidupanku selanjutnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia membuat hari-hariku berwarna, mau makan ingat dia, mau apapun ingat dia, semua bayangnya selalu ada dihadapanku begitulah kata sang pencinta yang sedang di mabuk asmara. Ah… andai ku lebih tau asmara ini tak boleh dilanjutkan.
Tak boleh dilanjutkan karena bagai lagu yang pernah dipopulerkan Diva Indonesia yang akrab di sapa Uthe…
Aku cinta kepadamu…
Aku rindu di pelukmu…
Namun ku keliru telah membunuh cinta dia dan dirimu…
Atau seperti lagu Band Baru di kancah musik Indonesia The Massive
Kuakui ku sangat, sangat merindukanmu…
Tapi kini ku sadar ku diantara kalian…
Menyedihkan! Memalukan! Tak punya harga diri! Mau ditaruh dimana harkatmu sebagai wanita jika tidak bisa menghargai wanita lain yang sudah berada di sisinya?
Mundur! Aku harus mundur! Dengan segala caci maki yang kutujukan pada diriku sendiri. Tak punya malu! Aku mengutuki diri terus menyalahkanku…
“Tidak! Adik tidak salah dalam posisi ini… Aku yang salah mengelabui dan mengingkari kenyataan… tapi semua ini karena aku tidak ingin kehilanganmu adikku… adik sayang…”
Bah!!! Pujiannya tak mempan di hatiku jika masih mengorbankan hati yang lain.
“Percayalah… adik akan tetap menjadi bunga di hatiku yang selalu bersemi dan sekecil apapun adik tumbuh terus akan ku pupuk hingga berkembang”
Ia seakan menggenggam tanganku erat ketika mengatakan itu. Aku tidak bodoh!!! Aku tidak ingin menghancurkan hati yang lain…
“Hati yang mana? Siapa? Aku sudah memilih… adiklah hatiku… yang lalu biarlah berlalu… izinkan ku membuktikan kata-kataku..”
Kupalingkan muka darinya tidak hatiku. Hatiku tak bisa membohongi bahwa bunga itupun tumbuh bersemi dalam hati. Walau sekeras apapun kuhancurkan bunga itu tetap saja ia tumbuh sebagai bunga liar nan indah… ah… aku lemah…
Kuturuti kemauannya. Dan kemauanku… Sang Maha Penyayang lah yang berhak atas diriku dan ia. Ingin ku menunggu tapi aku takut penantianku ini hanya akan berbalas sia-sia. Tapi duhai tuan yang merasa bahwa aku menyayanginya aku akan tetap menumbuhkan rasa itu dalam hatiku, tak kan ku buang lagi meskipun kau tak akan pernah hadir dalam mimpi bahkan hidupku… bukankah cinta sejati adalah cinta yang tak pernah mengharapkan balasan? Cinta yang tulus adalah cinta yang selalu membahagiakan pasangannya? Aku akan berusaha menjadi bagian dari kesucian cinta dua manusia hingga akhir hayat nanti dan bertemu kembali di akhirat. Itulah tuan yang ingin ku tunggu.
Duhai tuan yang berada disana… kini ku tak perduli lagi siapa anda. Tuan yang memiliki hati yang merindukan cinta sejati, kini ku tak lagi mengharap balasan, kini ku tak perduli lagi nisbi kah fatamorgana kah cintamu yang sering tuan tujukan kepadaku…
Tuan yang membaca tulisan ini… lukisan tulisan ini bentuk rasa yang tak pernah aku gambarkan saat ini kepada tuan…
Subhanallah! Betapa baiknya hati isteriku, setelah aku mengatakan kalau aku akan menikah lagi dengan janda kaya tapi sesungguhnya aku menikahinya karena ingin mengajaknya menuju kebaikan. Lagipula wanita itu memang sedang belajar agama bersamaku. Aku takut terjadi fitnah, dan dia memang sedang membutuhkan seseorang yang menuntunnya dan keluarganya ke jalan Allah. Mungkin dengan bertemunya dia dengan ku adalah jalan yang diberikan Allah kepada kami.
Sepulang dari tempat pengajian, aku pulang ke rumah. Seperti biasa kalau aku pulang, dia menyempatkan diri untuk menyambutku walaupun sesibuk apapun dia di rumah. Wanita yang telah kunikahi 23 tahun silam ini seperti tak pernah bosan mengurusiku. Setelah makan malam, aku membicarakan keinginanku itu. Dengan ragu dan takut nanti Siti ini akan sakit hati atau terluka, akhirnya aku ungkapkan saja perihal itu. Lagipula kalau Siti tidak setuju dengan pernikahanku itu, akan aku batalkan niatku itu.
“Bunda, ayah mau mengatakan hal yang serius”
“Hal apa yah? Sepertinya serius sekali?”
“Bunda, boleh tidak kalau ayah menikah lagi?”
Sepintas seperti gurauan saja, tapi sebenarnya maknanya dalam. Aku lihat Siti agak kaget mendengar ucapanku itu. Dia terlihat tertunduk lesu, aku jadi tidak enak telah mengucapkannya.
“Tapi nda, ayah akan menikah kalau sudah dapat persetujuan dari bunda. Dan kalau bunda tidak setuju akan ayah batalkan”
Dengan menatap tajam mata Siti aku teruskan kata-kataku dengan alasanku menikah lagi
“Ayah ingin menikahi dia karena dia dan keluarganya butuh bimbingan agama. Dia sudah dua bulan ini belajar ngaji sama Ayah dan dia dan keluarganya paling sering bertanya tentang agama, makanya tak jarang Ayah pergi ke rumahnya hanya sekedar untuk mengajarkan keluarganya dan dia mengaji, Bunda juga tahu kan kalau Ayah pergi ke sana? Dia janda kaya harta tetapi Ayah melihatnya dia miskin agama. Sebagai sesama muslim, Ayah ingin membantunya dengan menikahinya sehingga Ayah lebih bisa sering membimbingnya, itupun dengan kerelaan hati Bunda”
Panjang lebar aku jelaskan keinginanku tanpa Siti bertanya padaku.
“Maaf yah, mungkin saat ini Bunda masih terkejut mendengar keinginan Ayah. Kalau Bunda tidak menjawabnya sekarang tidak apa-apa kan? Lagipula sudah malam, Ayah harus istirahat.”
Setelah membereskan piring, Siti beranjak dari meja makan. Aku tahu perasaannya belum bisa menerima kenyataan itu. Perasaan bersalah kini menggelayuti hatiku. Ku peluk Siti yang berbaring di sampingku dengan tidur membelakangiku, aku tidak marah dengan sikapnya malam itu, aku tahu ia terluka dan ku rasakan bahwa ia sedang menangis…
Keesokan harinya, seperti biasa. Siti menyiapkan sarapan pagi untukku dan untuk anak bungsu kami yang masih duduk di bangku SLTP. Kedua anakku yang lain berada di Jakarta kuliah di sana. Tak heran jika si bungsu ini amat manja dengan Bundanya.
“Bunda, besok Fifi ambil rapot, Bunda dateng ke sekolah ya”
“Sama Ayah aja ya nak, besokkan Ayah libur” Tawarku, bukannya aku ingin mengambil hati Siti karena ingin keinginanku dikabulkan olehnya, tapi aku besok memang libur dan aku tahu pekerjaan Siti lebih banyak.
“Oh ya udah deh, Ayah, Bunda, Fifi berangkat dulu ya, Assalamualaikum” Fifi bergegas keluar rumah menuju sekolahnya.
tak lama kemudian…
“Ayah…,”
Aku memalingkan muka ke Siti setelah membaca koran
“Setelah Bunda memikirkan apa yang ayah katakan semalam, dan setelah Bunda minta petunjuk sama Allah, Bunda ikhlas ayah menikah lagi. Tapi, dengan syarat Ayah harus berlaku adil kepada keluarga di sini dan keluarga disana.”
Subhanallah…Kata-kata itu dapat aku rasakan sangat ikhlas dan bijaksana. Tak mungkin aku dapatkan wanita seperti ini lagi, wanita yang ada sewaktu aku butuhkan, wanita yang setia menemaniku di saat senang dan sedih. Dan aku menjadi lebih sayang sama Siti. Siti memang wanita solehah yang Allah turunkan untukku.
“Tapi yah, kalau boleh jujur Bunda agak terluka ketika mengingat Ayah sedang berada di tempat lain sedangkan istri dan anak-anak ayah berada di sini, Bunda boleh tidak meminta Ayah sesuatu lagi?”
“Apa itu Bunda?”
“Bunda memang bukan isteri Rasul yang kuat ketika dimadu, Bunda juga bukan malaikat. Bunda hanya manusia biasa yang mempunyai rasa cemburu. Bunda minta ketika ayah berada di sini, tolong jangan ceritakan tentang kehidupan ayah yang lain, bersama isteri Ayah yang lain. Biarkan diri Ayah adalah Suamiku sendiri dan Ayah dari anak-anak kita tanpa dimiliki oleh orang lain”
“InsyaAllah, Ayah akan berlaku adil dengan isteri-isteri Ayah, dan InsyaAllah apa yang bunda inginkan akan dapat ayah wujudkan, Ayah juga butuh bimbingan Bunda”
Anggukan Siti membuatku tenang. Kudekati ia dan kupeluk erat tubuhnya, kurasakan kehagatan yang tulus ia berikan kepadaku, walaupun kami sudah tidak muda lagi, tapi perasaanku padanya masih seperti dulu sewaktu pertama kali aku menyukainya. Karena dia selalu bisa menjadi yang terbaik untukku. Ya Allah bahagiakanlah Siti di dunia dan di akhirat. Amin.
Maafkan aku menduakan cintamu, walaupun berat rasa hatiku tinggalkan dirimu…
Aku terpaksa mendua demi cintaku padanya. Padahal aku mencintai dia lebih dari nyawaku sendiri. Aku mengagumi dia lebih dari wanita manapun. Aku menyayangi dia lebih dari menyayangi aku sendiri. Tapiaku tidak ingin melihatnya merana jika ia harus hidup bersamaku kelak…
1
Waktu itu, sepulang kuliah. Ku bergegas menuju kosannya. Ku ayunkan kaki dengan perasaan senang dan rindu. Sudah hampir empat hari aku tidak bertemu dengannya. Bagiku satu hari saja tidak bertemu dengannya hariku hampa tiada warna. Karena kesibukanku, baru hari ini aku bertemu dengannya.
Arini nama kekasihku itu, ia setahun lebih dulu menduduki bangku kuliah daripadaku. Aku jatuh cinta dengannya saat aku jumpa dirinya, auranya terpancar dari wajahnya. Aku mulai mengaguminya saat itu. Kini, ia sudah lulus sebagai Sarjana Ekonomi. Dan aku masih saja berkutat dengan kegiatanku di kampus.
Aku ingin sekali menikahinya, dilihat dari umurnya ia sudah cukup untuk mendapatkan pendamping dalam hidupnya. Tapi, aku merasa tidak pantas memilikinya. Aku yang masih kuliah dan belum mapan bekerja, dan background keluargaku pun menurutku tidak pantas disandingkan dengan keluarganya yang ada keturunan darah biru. Keluargaku termasuk keluarga Broken Home. Kini kedua orangtuaku sudah tiada, aku tinggal bersama adik dan nenekku. Walaupun ia tidak pernah memintaku untuk segera menikahinya, tapi aku tahu kalau ia juga menginginkannya. Kalau ingat hal itu, hatiku sedih dan aku ga tau harus berbuat apa. Padahal aku seorang laki-laki, tapi dalam menyangkut hal ini aku lemah. Aku kehilangan kekuatanku sendiri.
Sering aku bilang padanya, kalau ada seorang laki-laki akan menikahinya, aku serahkan ia kepada laki-laki itu. Yang pasti ia bertanggung jawab dan setia. Tapi setelah aku berbicara seperti itu, ia malah mengeluarkan air matanya yang bening itu. Hal itu membuat aku terluka juga bahkan semakin terluka, karena sebenarnya aku tidak ingin ada orang selain aku yang memilikinya lagi.
Hingga suatu hari selepas kuliah, aku menemuinya. Kulihat ia tetap cantik walaupun tidak memakai polesan bedak. Wajah kuning langsatnya membuatku tak bosan memandangi wajahnya.
“Arini, aku rindu sama kamu…”
“Rini juga…”
“Tapi Rin, ada sesuatu hal serius yang ingin aku bicarakan sama kamu”
“Apa itu?” Tatapnya tajam
“ Kamu benar-benar mau pindah ke desa kamu?”
Arini tidak menjawab, ia hanya mengangguk.
“Plis, bisa ga nunggu satu tahun lagi kamu tinggal di sini. Aku janji tahun depan aku akan lulus kuliah, tapi kamu harus di sini. Aku ga tau gimana hari-hariku tanpa kamu ada di sini”
“Tapi Lang…Ibuku membutuhkanku di sana, ia harus mengurusi usaha cateringnya sendiri selama aku berada di sini. Aku ingin berbakti dahulu sama ibuku sebelum aku menikah”
Sebenarnya jawaban itu pernah aku dengar sebelumnya, tapi aku ingin terus bertanya dan mendapatkan jawaban yang berbeda dan tentu saja jawaban yang dapat membuatku senang.
“Kapan kamu mau pulang?”
“Besok pagi”
“Secepat itukah?” Walaupun aku kecewa, tapi aku tidak dapat menahan keinginannya, besok pagi aku harus siap mengantarnya pulang. Udara Jakarta semakin panas, kutatap kedua bola mata Arini yang sendu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus lama tidak melihat mata indahnya itu nanti.
2
Alarm HP yang ku setting jam lima pagi cukup membuatku bangun cepat. Sebelumnya aku selalu saja tidak mengindahkan suara alarm berbunyi. Tapi karena pagi ini aku akan mengantar Arini pulang, semangatku harus ku pacu dengan cepat, demi Arini apapun akan kulakukan. Ku telfon Arini agar menungguku datang, sengaja aku pinjam mobil keluarga untuk mengantar Arini ke desanya di Cianjur. Setelah mendapat izin dari keluarga aku langsung men starter mobil menuju kos Arini.
Barang-barang yang di bawanya lumayan banyak. Sebelum berangkat, aku tanyakan lagi keseriusannya pulang ke desanya. Tapi tetap saja jawabannya ialah jawaban yang kemarin.
“Elang, aku pun merasakan apa yang kamu rasakan. Aku lebih kawatir ketika aku jauh dari kamu, kamu kan hanya bisa manja sama aku, trus bagaimana kalau aku ga ada, inilah saatnya kamu untuk bersikap dewasa. Aku menunggumu menjemputku di sana, dan kamu harus janji kalau kamu akan setia dengan cinta kita”
Memang, selain dengan mamaku yang telah tiada, aku hanya bisa bermanja-manjaan dengannya, aku temukan bahwa ia lah yang bisa membuatku tenang dan kubutuhkan.
“Iya Arini, aku ingin awal semester delapan nanti aku akan melamarmu. Aku juga minta kamu untuk setia sama aku ya” Ku kecup keningnya, aku berjanji setahun lagi aku akan meminangnya dan menjemputnya ke dalam pangkuanku. Perjalanan kali itu membuatku tenang.
==0==
Seminggu sudah Arini meninggalkan kota Jakarta. Perasaan rinduku sudah bisa membuatku sakit di dalam dada ini. Tapi aku tidak punya pilihan banyak. Aku bisa saja main ke rumahnya, tapi aku juga harus serius kuliah agar aku cepat selesai. Lagipula ongkos menuju rumahnya lumayan juga, untuk seorang aku yang hanya punya penghasilan dari mengajar privat. Aku hanya bisa bersabar menunggu semua ini. Sms darinya tak pernah alpa, tapi itu semua belum cukup kalau belum melihat wajahnya, foto berukuran dompet miliknya yang aku pinta pun belum cukup membuatku sedikit mengurangi rasa rinduku padanya. Aku sudah tergila-gila padanya, Arini…oh Arini…
Malam minggu ini aku duduk sendiri di luar rumah, biasanya aku sibuk mencari tempat yang belum aku kunjungi bersama Arini di Kota Jakarta ini. Namun mulai malam ini, aku harus sendiri memikirkan Arini…
Tut..tut..tut..tut HP Nokia 8210 ku berbunyi, kubuka sms yang datang. Sebuah pesan dari Danu temanku, ia memintaku untuk menjaga rental komputernya yang berada tak jauh dari rumahku. Ku turuti permintaannya daripada aku bengong sendirian tak ada teman. Hanya lima menit saja aku sudah sampai di rental. Suasana rental penuh dengan orang-orang yang berkepentingan. Padahal malam minggu, tapi masih saja banyak kerjaan, rental temanku Danu memang selalu ramai dikunjungi, kebanyakan dari anak-anak muda yang datang, karena tempatnya memang di buat untuk anak-anak muda. Setelah aku datang, aku langsung ditawari ngetik oleh Danu, “Nih, ketikin punya Nia. Dia minta diketikin, nanti jam sembilan dia ambil. Makanya gue minta bantu lo, soalnya kerjaan gue banyak juga ni” “Sip deh” Lumayan, bisa mengusir sedikit kerinduanku pada Arini.
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, orang-orang yang berada di rental sudah mulai sedikit, ketikanku sebentar lagi sudah hampir selesai, kurang lebih dua jam sudah aku mengetik, capek juga. Tapi nanti aku bisa dapat komisi dari Danu. Tak lama kemudian, datang seorang gadis berambut sebahu, berbadan seksi dan wangi tubuhnya dapat aku rasakan dengan jarak satu meter. Dia menanyakan Danu padaku,
“Maaf, lo tau Danu dimana?”
“Oh, gue ga tau juga, soalnya dari tadi gue ngetik jadi ga tau kalo dia keluar, paling keluar sebentar, ntar juga dateng. Ada yang bisa gue bantu?” Tanyaku pada gadis itu
“Tadi gue nitip ketikan sama dia yang judulnya…nah ini dia, oh jadi lo yang ngetikin? Udah selesai belom?” Belum sempat ia memberitahukan judulnya, ia sudah menemukan jawabannya, ternyata ia Nia yang menitipkan ketikannya pada Danu tadi.
“Udah ni, tinggal di print” Jawabku.
“Udah di edit belom?”
“Udah dong, lagian janjinya kan datang jam sembilan, berarti sebelum jam sembilan udah harus selesai dong” Senyumku, diapun tersenyum puas. Terlihat sekilas ia manis juga untuk dilihat, tapi wujudnya belum bisa menghapus betapa sempurnanya Arini di mataku. Kecantikan dari dalam yang Arini pancarkan bisa mengalahkan gadis-gadis yang hanya memperlihatkan kecantikan luarnya saja. Kemudian Danu pun datang,
“Eh Nia, udah dateng, gimana Lang udah selesai kan?”
“Ini lagi di print”
“Oiya, Nu, gue kok ga dikenalin sama temen lo ini?” Nia berbicara, padahal ketika aku sudah tau namanya saja itu sudah cukup bagiku.
“Lho, emang dari tadi belom pada kenalan? Lang, kenalan dong” Pinta Danu
“Oh iya, Elang” Aku sodorkan tanganku padanya
“Nia…” Aku tidak bisa berlama-lama menjabat tangannya, aku takut kalau tindakanku ini akan menghianati cintaku pada Arini, Nia tersenyum padaku, ada sesuatu yang aneh kulihat dari matanya. Ah! tapi segera ku tepis semua itu, mungkin aku terlalu Ge eR saja.
“Danu, anterin gue pulang yuk, udah malem ni, gue takut pulang sendiri” Setelah semua urusan Nia selesai, dia pun ingin segera pulang.
“Ah, biasanya juga lo pulang sendiri” Tolak Danu
“Iiih, jahat banget sih sama gue, gue kan jarang-jarang ke sini malem-malem. Seringnya kan gue datengnya siang, ayo dong..bentar kok ga lama” Manja juga gadis ini, gumamku dalam hati
“Eh, Lang, lo mau ga nganterin Nia? Gue bentar lagi mau ketemu sama orang ni di sini penting, tar takut ga keburu, orangnya juga ga bisa lama-lama gitu nungguin gue, gimana mau ga? Lo pake deh motor gue” Akhirnya, Danu memintaku mengantar Nia yang sudah menunggu di luar. Padahal aku malas mengantarnya lagipula baru kenal, Danu juga sih terlalu sibuk jadi orang, Hhh sudahlah. Ku ambil kunci yang disodorkan Danu padaku.
“Kok lo yang nganter? Gue kan minta Danu yang nganterin. Mmm jadi ngerepotin lo ni? Emang Danu ga bisa anter ya?”
“Iya, dia mau ketemuan sama orang, takut ga keburu ketemu sama orang” Maafkan aku Arini, aku tidak bermaksud menghianatimu, aku hanya mengantarnya sebentar. Kukendarai motor Tiger milik Danu dan mengantar Nia pulang.
HP ku berbunyi lama, kubuka mataku sedikit untuk mengetahui siapa yang sudah meneleponku, terbaca tulisan “Arini” pada HP mungilku, kuangkat walaupun masih berat membuka mata
“Hallo sayang…”
“Hallo juga, eh sebentar lagi subuh lho, bangun yuk”
“Iya, ya, aduh makasih ya sayang udah mau bangunin aku, aku kange…n banget sama kamu, udah hampir dua minggu ini aku ga ketemu sama kamu, kamu kesini dong…” Kalau sudah ngobrol dengannya perasaan manjaku selalu saja kumat.
“Yee, kamu dong ke sini, aku juga kangen banget sama kamu pengen ketemu, aku di sini masih sibuk. Setelah ada aku, usaha catering Ibu lebih banyak orderan, jadi aku belum sempat ke Jakarta lagi”
Aku tersenyum dan bangkit dari tidurku “ Iya ni Rin, aku juga masih sibuk kuliah, tugasku semakin banyak lagi pula sebentar lagi aku akan PKL, doain aku agar aku kuat menghadapi semua ini ya sayang”
“Iya, doaku selalu menyertaimu…Nah sekarang bangun ya, azan subuh udah terdengar ni di Cianjur, kalau di Jakarta udah belum?” Tanyanya disertai tawa ringannya
“Belum tuh, tidur lagi ah, kan belum azan” Candaku
“Heh! Ga boleh! masak sih belum? Ih kamu…Udah dulu ya,”
“Iya, Honey…Miss U” Kututup telpon setelah Arini menutup telponnya, suasana bercanda inilah yang selalu membuatku rindu padanya.
3
“Elang, ketikin tugas gue lagi dong… Danu lagi ga ada di rental, sedangkan gue capek banget kalo harus ngetik sebanyak tujuh lembar ini setelah seharian gue ke kempus, mau ya? Pliiis… Besok dead line ni…” Telpon dari Nia selepas maghrib yang memintaku untuk membantu mengerjakan tugasnya. Mau tidak mau aku harus mengerjakannya, aku memang sedang membutuhkan uang untuk proposal Praktek Kerja Lapangan ku, uang hasil privat tidak cukup, karena uang itu aku pergunakan untuk ongkosku sehari-hari, aku sudah malu meminta sama nenekku, ya..walaupun aku masih belum bisa menyukupi kebutuhan adikku, paling tidak aku sudah bisa membiayai kehidupanku sendiri.
Nia sudah menungguku di depan teras rental, tampaknya ia kesal menungguku yang datang agak lama.
“Kemana aja sih lo? Gue kan udah nunggu lama…, nih” Dia menyerahkan bahan ketikannya.
“Sori, tadi nenek gue minta dibeliin sate dulu buat ade gue” Ku bergegas menuju meja komputer yang kosong dan mulai mengetik. Wangi aroma tubuh Nia membuatku nyaman mencium aromanya, tapi wangi tubuh Arini walaupun ia memakai parfum hanya sedikit, membuatku lebih nyaman berada dekat di sampingnya.
“Lang, biar cepet beres, gue bacain deh”
“Nah gitu dong” Kuserahkan kembali bahan ketikannya. Selama aku membantu Nia ngetik, tak jarang kami tertawa bersama, dia kuliah Diploma Tiga semester lima Jurusan Akuntan Bisnis di salah satu Universitas Swasta di Jakarta. Dia lucu juga, anaknya blak-blakkan. Mungkin karena umurnya lebih mudadua tahun dari aku, tak jarang dia menunjukkan sikap manjanya. Setelah selesai dia ingin aku mengantarnya pulang lagi.
“Tapi gue ga punya motor, lo mau gue anter pake angkot aja?”
“Ga pa pa deh, daripada gue di angkot sendirian, si Danu kemana lagi hari gini belom pulang” Gerutu Nia. Kemudian aku pulang setelah izin dengan Bang Hendri pemilik rental atau abang kandung Danu.
Diangkot, Nia menunjukkan ke agresifannya. Ntah kenapa dia selalu memegang pahaku saat mobil menyalip mobil yang lain, sebenarnya aku malah takut dengan sikapnya. Tapi ah mungkin ini hanya ketakutan saja. Padahal ketika aku naik angkot bersama Arini, aku yang merasa kawatir. Aku yang selalu siap memegang tangannya kalau-kalau ia terkejut, tapi Arini selalu tenang. Sangat berbeda dengan Nia.
“Thanks ya Lang, lo udah bantuin gue ngetik, udah nganter gue pulang lagi, eh duduk dulu yuk” Nia langsung menggandeng tanganku dan menuju kursi yang tersedia di teras rumahnya, padahal niatnya aku hanya mengantarnya pulang. Nia menyuruhku diam di kursi dan dia izin masuk sebentar. Tak lama kemudian ia membawakan dua gelas air jeruk dingin.
“Nih diminum ya, lo pasti capek udah ngetik disana ga disuguhin apa-apa” Aku hanya tersenyum, iya juga sih. Ku serup air jeruk manis itu. Selama itu Nia masih saja bercerita tentang dia, keluarganya dan semuanya yang bisa dia ceritakan padaku. Aku lebih banyak mendengarkan. Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, aku harus pulang karena tidak enak dengan keluarga Nia.
Hari-hari berikutnya, lebih sering kulalui bersama Nia. Entah kenapa, dia selalu ada tugas mengetik dan selalu aku yang disuruhnya mengetik, padahal ia juga sebenarnya bisa mengetik sendiri. Tapi, hari-hariku kini sedikit ada warnanya, bersamanya perasaan rindu kepada Arini tidak terlalu kurasakan seperti dulu yang kadang membuatku tidak enak makan. Nia selalu memberikan perhatiannya padaku. Pernah suatu hari ia mengatakan kalau ia sayang padaku, dan ia membutuhkan aku dalam hidupnya. Saat mendengar itu, perasaanku bimbang, di sisi lain aku sudah mempunyai Arini dan aku tidak ingin menghianati cintaku padanya tapi di sisi lain aku juga mulai menaruh perasaan sayang pada Nia.
Akhirnya aku ceritakan saja bahwa sebenarnya aku sudah mempunyai kekasih. Entah percaya atau tidak, Nia tetap ingin memiliki aku dan ia tidak peduli apakah aku sudah punya kekasih atau belum.
Arini, maafkan aku yang sudah menghianatimu. Tapi aku yakin dengan hatiku, posisimu tetap istimewa di dalam hatiku. Aku pun bingung apakah akumempunyai perasaan cinta pada Nia atau aku hanya seorang laki-laki yang kesepian karena jauh dari kekasihku? Aku belum bisa mengatakan kalau aku cinta pada Nia, walaupun ia sering mengucapkannya padaku, aku selalu membalas ucapannya dengan kata sayang bukan cinta. Karena cintaku hanya buatmu Arini…
HP ku berbunyi lagi, sebuah sms dari Arini. “Elang, kenapa perasaanku akhir-akhir ini ga enak ya? Kamu baik-baik aja kan?” Memang benar Rin, aku sudah membohongimu, maafkan aku karena tidak jujur kepadamu tentang hidupku sekarang yang sudah menduakan cintamu. Sms nya tak kujawab, aku bingung menjawabnya. Selama ini aku tidak pernah membohonginya, mungkin aku laki-laki paling jujur kepada kekasihnya. Padahal bisa saja aku berbohong kalau perasaannya hanyalah perasaan seseorang ketika jauh dengan kekasihnya dan aku di sini baik-baik saja, tapi itu tidak kulakukan, Arini terlalu baik kalau harus dibohongi.
4
Enam bulan sudah Arini meninggalkan Kota Jakarta ini, kini sudah liburan semester tapi yang aku lakukan adalah melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan). Selama enam bulan ini, belum pernah aku mengunjunginya. Dan liburan ini inginnya aku mengunjunginya, tapi aku tak sempat lagi.
Hingga suatu malam, Arini menelponku. “Lang, hiks’!” Ia menangis,
“Elang…”
“Ada apa Rin?” Tanyaku tak tenang
“Hiks’..aku mau curhat sama kamu..”
“Ya udah, bilang sama aku kamu kenapa?”
“Mungkin ini hanya kesensitifan aku yang belum bisa menerima semuanya Lang,…” Sesaat Arini diam
“Ada seorang anak teman Ayah yang sudah beberapa kali datang ke rumahku, aku fikir ia hanya mengunjungi Ayah karena dia juga berbisnis dengan Ayah, tapi…tadi ia bilang ke Ayah kalau ia ingin melamarku…hiks hiks” Arini, menangis sesenggukan, ingin rasanya aku memeluknya dan menyandarkan kepalanya pada bahuku dan aku mendengarnya hanya bisa diam, hal yang aku takutkan terjadi juga, sebelum aku melamarnya sudah ada yang melamarnya dahulu.
“Walaupun Ayah menyerahkan semuanya sama aku, tapi aku ga punya alasan tepat kalau aku sebenarnya menginginkan kamu yang jadi suamiku nanti, lagipula kalau aku bilang aku masih ingin sendiri dulu itu bukan alasan tepat, Lang… usiaku memang sudah waktunya tapi aku masih ingin menunggu kamu…Lang, kamu janji ya jemput aku di sini?” Aku takut aku hanya memberinya harapan yang belum pasti, setelah lulus kuliah pun belum tentu aku langsung dapat pekerjaan. Aku takut ia tidak bahagia bersamaku nanti.
“Arini, kamu jangan terlalu berharap yang ga pasti, mungkin dia lebih baik dari aku. Dengar Arini, aku sayang dan cinta sama kamu, tapi aku ga ingin hidup kamu jadi ga bahagia ketika harus hidup bersama aku, masa depanku belum jelas, sedangkan dia sudah mempunyai pekerjaan dan aku yakin hidupmu akan tercukupi bersamanya” Mataku mulai memanas saat mengucapkan kata-kata itu
“Elang… bukan jawaban itu yang aku harapkan dari kamu, mana janji kamu yang waktu itu pernah kamu bilang sama aku kalau kamu ingin menjemputku dan kita akan hidup bersama? Lagipula, kalau hidupku berkecukupan tapi aku tidak mempunyai cinta bersama orang yang hidup bersamaku apa artinya hidup ini Lang…??” Aku diam, dadaku semakin sesak. Air mata mulai keluar dari kedua mataku. Segera ku hapus air mataku dan kutarik nafasku
“Arini… aku juga ingin membahagiakan kamu, tapi…” Belum sempat kuteruskan
“Elang! Kalau kamu udah ga mau mempertahankan dan memperjuangkan hubungan ini kenapa ga kamu bilang? Kalau kamu udah ga peduli lagi sama aku? Ya udah, mungkin selama ini aku salah selalu mengharapkan kamu, kamu berubah Lang…” Bip! Arini mematikan HP nya. Malam itu, malam yang mengejutkan buatku.
Esoknya, kutemui Nia. Aku mendatanginya karena aku ingin melampiaskan kesedihanku padanya. Aku mencoba menutupi kesedihanku dengan mencari kebahagiaan dari Nia. Nia yang manis selalu menyambutku dan membuatku senang berada di sampingnya, perasaan sedihku berkurang setelah bersamanya walaupun ia tidak tahu sebenarnya aku sedang bersedih.
==0==
Arini tidak lagi menghubungiku, dan entah mengapa setelah aku bertemu dengan Nia perasaanku sedikit mulai tidak perduli lagi dengan Arini. Mungkin karena aku sudah mendapatkan kebahagiaanku sendiri bersama Nia. Padahal perasaan inilah yang paling aku takutkan. Ya, aku takut Arini juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Aku paling tidak suka ketika Arini telah berpaling dari cintanya. Walaupun aku mungkin sudah melakukan hal itu. Aku memang egois untuk hal ini.
Tapi saat ini aku membenci Arini. Mungkin kalau dari awal ia tidak meninggalkanku disini, aku dan Arini masih baik-baik saja. Jarak telah membuatku bersikap tidak dewasa. Aku berjanji tidak akan menghubunginya lagi, biarlah ia bahagia bersama laki-laki yang telah siap menikahinya dan aku tidak boleh mengharapkannya setia lagi padaku. Biarlah cerita antara aku dan Arini hanyalah cerita yang telah berakhir dengan kekecewaanku. Tapi cintaku pada yang lain hanyalah sisa-sisa cintaku pada Arini. Aku tidak mungkin memberikan semua cintaku pada orang lain karena cintaku sudah aku serahkan semua buat Arini, entah apa aku bisa memberikan cintaku seperti aku memberikan cintaku pada Arini. Aku sedang marah dengan keadaanku saat ini.
“Lang… Dari tadi kok bengong aja? Ada apa sih?” Tanya Nia membuyarkan lamunanku
“Oh, ngga” Aku hanya menjawab seperti itu. Nia pun diam, mungkin dia bingung melihatku diam.
“Nia, makasih ya kamu udah buat hari-hari aku berwarna, kamu selalu ada saat aku butuhin” Aku memegang erat tangannya dan kurasakan sentuhan jari-jarinya yang mungil itu, tapi kembali aku teringat tangan Arini yang sedang aku pegang, sebenci apapun aku pada Arini, sebahagia apapun aku dengan orang lain, tapi sosok Arini tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Aku diam kembali, aku ingin menangis tapi aku tahan, aku tidak akan menangis dihadapan orang lain kecuali di depan Arini, kecuali Arini yang memberikan punggungnya untuk ku sandarkan. Kini aku semakin rindu padanya, aku ingin menemuinya. Ya! Aku harus menemuinya, aku tidak akan menjadi laki-laki yang lemah. Aku harus mempertahankan hubunganku dengan Arini. Aku yakin Arini akan ada untukku ketika aku datang. Ku cium kedua tangan Nia dan ku kecup keningnya.
“Nia, aku pergi dulu ya. Sekali lagi makasih. Kamu udah ngasih semangat buat aku hari ini”
“Aku disini selalu ada buat kamu Lang, karna kamu kekasihku dan aku sayang banget sama kamu” Aku tersenyum
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau pulang dulu ada tugas banyak” Tanpa memperdulikannya lagi, aku langsung pergi meninggalkan Nia sendiri. Maafkan aku Nia, kalau aku berkata jujur apa yang telah aku alami, kamu akan merasa sebagai pelampiasanku saja. Walaupun mungkin sebenarnya seperti itu.
Aku segera memasukkan beberapa pakaian yang akan aku bawa ke Cianjur. Aku berniat menginap di rumah saudaraku yang berada di sana. Mungkin saat inilah aku menemui Arini. Aku tahu, kesibukanku kuliah yang sudah membuatku tidak pernah mengunjunginya. Aku izin selama tiga hari hanya untuk Arini.
Berada di dalam bis selama lima jam adalah perjalanan yang cukup melelahkan bagiku. Pukul setengah tujuh malam aku tiba di terminal Cianjur. Semangatku belum padam untuk menemui Arini. Tapi dari terminal, rumah Arini masih jauh. Lagipula, aku belum mandi. Malam ini aku putuskan untuk menginap di rumah Pamanku. Aku sengaja tidak menelpon Arini, aku ingin memberinya surprise. Aku sangat rindu padanya.
Paginya, dengan berpakaian rapi dan tubuh wangi. Kuputuskan untuk menyegerai mengunjungi Arini. Enam bulan yang lalu aku baru mengetahui rumahnya Arini setelah satu tahun aku bersamanya. Kupercepat langkahku setelah turun dari angkot. Dadaku berdegup kencang, aku begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan Arini. Kutarik nafas dalam-dalam agar tenang.
Gerbang rumah Arini sudah kulewati, aku mulai menuju teras rumahnya yang asri itu. Tiba-tiba langkahku terhenti, aku melihat Arini dan seorang laki-laki yang sedang duduk di teras itu. Laki-laki itu tampak rapi dan usianya telihat tiga tahun lebih tua dibandingkan aku. Pikiranku mulai tidak karuan, Arini begitu serius mendengar cerita laki-laki tersebut. Hingga aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, kebahagiaanku sirna sudah.
“Elang!” Kudengar suara Arini memanggilku, tapi tak kuindahkan aku terus mempercepat langkahku. Aku dengar dia mengejarku.
“Elang tunggu!” Aku berhenti, aku tegarkan diriku. Aku pun ingin menyapanya dan bercerita tentang hidupku disana tanpa dia disisiku. Aku rindu padanya.
“Elang, aku ga tau kamu akan datang. Dan aku ga ngeh kalau kamu ada disana. Udah lama? Lang, akhirnya kamu datang, aku kangen sama kamu..” Senyuman manis tersirat dari wajahnya, Sentuhan tangan Arini menyambutku dan kusambut sentuhan itu. Sentuhannya masih hangat kurasakan.
“Ngga lama kok, tapi kayaknya kamu lagi ada tamu ya? Aku ganggu dong?”
“Kok ngomong gitu sih? Dia Danny anak temennya ayah, lagian dia lagi nunggu ayah. Tapi kata ayah aku disuruh nemenin dulu. Kamu kan udah jauh-jauh dateng kesini masuk yuk” Ajakan Arini membuat aku menjadi tak enak. Mungkin laki-laki itu adalah laki-laki yang akan menikahi Arini.
“Nggak Arini, aku pulang aja deh. Aku sudah melihat kamu aja udah seneng, kamu baik-baik aja kan? Kalau kamu senang dengan keadaanmu sekarang bersama Danny aku juga akan senang”
“Lang! Kamu kok sekarang kayak gitu sih? Aku ini masih Arini kamu, aku ga mau berpaling dari cinta kamu, lagipula Danny atau laki-laki lain ga ada yang bisa membuat aku jatuh cinta sama mereka, kamu yang selalu aku harapkan. Tapi kenapa kamu jadi begini? Kamu datang kesini untuk memantapkan cinta kita kan? Jawab Lang…” Nada suara Arini meninggi, aku pun tidak mau bertengkar lagi. Mungkin pembicaraan kami terdengar oleh Danny, kulihat dia masih diam di teras.
“Maafkan aku Rin, aku datang ke sini bukan untuk cinta kita. Aku kesini untuk memberitahu kalau…” Aku terpaksa mengatakan hal yang bisa menyakitkanku sendiri, aku diam sejenak mengumpulkan semua kekuatan yang ada.
“Aku bukanlah Elang yang dulu lagi, aku sudah, menghianati kamu. Aku kesini hanya untuk memberitahu kalau kamu jangan menaruh harapan lagi sama aku, aku sudah punya yang lain dan aku bahagia bersamanya, maafkan aku kalau selama ini aku berbohong sama kamu kalau aku masih cinta sama kamu. Hal itu karena aku bingung mengatakannya. Mungkin saat inilah hal yang tepat untuk aku mengatakannya” Berat aku mengatakannya, tapi mungkin dengan perkataanku seperti itu bisa membuat Arini tidak lagi mempertahankanku yang belum punya apa-apa ini.
“Nggak Lang, kamu bohong! Kamu ga mungkin seperti itu. Aku ga percaya!” Arini mengeluarkan butiran-butiran air matanya
“Maafkan aku Arini, aku harus pulang” Kulepaskan genggaman tangannya dan kuhapus air matanya “Dia lebih baik dari aku, aku yakin kamu pasti bahagia dengannya. Mungkin dia punya cinta buat kamu. Kalau kamu terus mempertahankanku yang ada hanya perasaan terluka, karena cintaku sudah aku berikan sama yang lain. Aku jahat Rin. Kamu jangan pilih aku” Air matanya semakin deras, tapi aku harus bergegas meninggalkannya karena semakin dia menangis semakin membuatku tak tahan melihatnya. Aku mendengar ia memanggilku kembali, tapi aku terus mempercepat langkahku. Pagi yang mendungsemendung hatiku.
Dugaanku salah. Aku pulang ke Jakarta dengan perasaan terluka. Aku pengecut! Aku tidak bisa mempertahankan cintaku! Aku benci dengan keadaanku seperti ini. Tapi aku belum bisa berbuat banyak. Aku tahu perasaanmu Rin, tapi aku takut kamu tidak akan bahagia bersamaku nanti.
5
Cuaca Jakarta yang panas kembali kurasakan. Aku langsung pulang ke rumah. Tidak ada gairah hidup lagi dalam diriku. Ku buka pintu kamar, ku taruh tas punggungku dan kurebahkan tubuhku ke kasur yang kurang empuk ini. Kupejamkan mata, terasa panas. Dan kembali butiran air mata keluar dari kedua mataku. Kutarik nafas panjang dan segera ku hapus air mata. Aku segera beranjak menuju rumah Nia. Aku mencoba menghibur diri, aku masih punya Nia. Awalnya memang aku yang jahat kepada Arini menduakan cintanya, tapi sekarang aku yang terluka lebih terluka ketika melihat Danny berada di rumahnya menemaninya dan bayangan Danny dan Arini seolah-olah menghantuiku, aku melihat mereka tertawa bahagia. Aku sekarang hanyalah benalu yang ingin menganggu kehidupan mereka. Kini aku memang harus melepas Arini.
“Nia, kamu dimana? aku mau ketemu” Sebuah sms kulayangkan kepada Nia. Kemarin sms nya tak ku balas. Aku memang tidak memberitahunya kalau aku pergi ke Cianjur. Aku ingin hari ku hanya untuk Arini ketika aku berada di sana, tapi ternyata tak sesuai dugaanku.
“Sayang…kamu kemana aja sih? Koq sms ku ga kamu bales?” Tanya Nia saat kami bertemu
“Aku ada tugas banyak banget, jadi ga pengen diganggu, maaf ya” Bohongku
“Kamu bohong! Kamu pergi nemuin kekasih kamu ya? Aku udah curiga sama kamu, aku ga suka dibohongin” Darimana ia tahu?
“Kemarin aku ke rumah kamu, kata nenek kamu, kamu pergi ke Cianjur. Pastinya kamu ke sana hanya untuk nemuin dia kan? Kok kamu jahat sih sama aku? Aku kira, kamu udah lupa sama dia dengan seringnya aku bersama kamu, aku udah serahin semua cintaku sama kamu, tapi apa itu belum cukup juga? Aku ga mau kehilangan kamu Lang…” Nia menangis, aku tidak menyangka ia mencintaiku seperti itu dan tidak ingin kehilangan diriku.
“Aku tahu, aku udah merebut dia dari kamu. Tapi aku ga bisa melepas kamu saat kamu ada buatku. Aku ingin orang yang memiliki kamu tuh aku, bukan dia. Aku memang egois! Tapi aku ingin miliki kamu” Nia melanjutkan kepedihannya selama ini. Ini semua memang salah aku, sekarang aku tidak bisa melepas dia. Hal ini akhirnya tejadi, aku lebih memilih wanita lain dari pada Arini.
“Nia, aku memang pergi ke sana, tapi aku ke sana hanya untuk ngasih tahu kalau aku udah milih kamu, aku ketemu sama dia tapi aku bilang sama dia kalau aku sudah ada kamu yang menemani hari-hariku selama ini. Itu artinya aku milih kamu, maafkan aku udah bohong sama kamu, tapi saat ini aku ga akan nemuin dia lagi, karena udah ada kamu di hatiku” Ku peluk ia yang sedang terisak-isak, ia menatap mataku dan ku anggukkan kepalaku meyakinkannya. Kini memang saatnya aku serius pada hubunganku dengan Nia. Aku harus belajar untuk mencintai Nia. Selamat tinggal Arini…
==0==
Semua kenangan antara aku dan Arini masih kusimpan. Aku masih belum bisa membuangnya, biarlah menjadi kenangan manisku kalau aku pernah mencintai dan menjalani percintaan bersama seorang wanita indah yang sangat aku cintai. Kini foto yang menghiasi meja kamarku adalah foto Nia. Kupandangi wajahnya yang manis itu, aku berkata dalam hati kalau aku belum bisa mencintainya seperti aku mencintai Arini.
6
Skripsiku hampir selesai, waktu tiga bulan penelitian yang aku butuhkan untuk menyelesaikan skripsiku. Dan sebentar lagi aku menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Gelar yang sama dengan Arini. Huh! Kenapa selalu Arini yang ada di fikiranku, padahal sudah lima bulan aku tidak pernah menghubungi atau dihubunginya lagi. Aku sengaja mengganti nomorku, ketika ia menelpon ke rumah, aku selalu menghindar. Karena sikapku yang seperti itu, mungkin ia merasa aku sudah tidak peduli lagi denganku. Biarlah ia beranggapan seperti itu.
Dahulu, waktu aku masih bersamanya aku rela datang ke acara wisuda Arini. Padahal waktu itu aku sedang melaksanakan KKN atau Kuliah Kerja Nyata di daerah Banten dan aku tidak boleh izin kalau alasannya tidak jelas. Tapi aku nekat untuk izin menemui nenekku di rumah karena nenek membutuhkanku saat itu. Lagipula aku izin hanya satu hari saja, demi Arini apapun aku lakukan, termasuk berbohong dengan alasan nenek.
Kini, impianku dulu Arini juga melakukan hal yang sama. Aku ingin Arini lah yang menjadi pendamping wisuda ku dan ia yang memberi bunga dengan ucapan “selamat” tinggal kenangan. Aku hanya bisa tertegun dalam hati, semua sudah berubah. Lupakan Arini.
Besok tepatnya tanggal 29 Juli 2006 aku di wisuda. Tempatnya selalu sama di dalam kampusku sendiri karena memang sudah ada gedung yang dipakai buat acara wisuda atau acara besar lainnya. topi dan jubah Toga sudah menggantung di kamarku, jas dan sepatu sudah kusiapkan. Aku tidak ingin besok terlambat, karena pasti jalanan di sekitar kampus padat oleh mobil pribadi yang mengantar para wisudawan.
“Sayang, kamu lagi ngapain? Besok aku datang ke rumah kamu dulu ya, kamu jangan pergi dulu sebelum aku datang”sebuah sms dari Nia mengagetkanku yang sedang duduk di depan komputerku.
“Iya, makanya datengnya pagi-pagi biar ga aku tinggal” Kubalas sms nya.
Esoknya, setelah sarapan aku bersiap-siap memakai jas dan sepatu. Topi dan jubah toga niatnya aku pakai setelah sampai di kampus. Nia belum juga datang padahal sebentar lagi aku akan berangkat. Ku panaskan mobil di garasi, nenek dan adikku masih di dalam. Kembali aku teringat Arini, pasalnya semalam aku bermimpi bertemu dengannya, dalam mimpiku Arini hanya menampakkan dirinya dari kejauhan, kupanggil ia namun ia tetap berada di kejauhan itu. Akhirnya kudekati ia tapi ia malah pergi menjauh dariku, kupanggil ia tapi tetap saja ia menjauh dariku. Dalam mimpiku, terasa dijantungku berdegup kencang dan aku langsung terbangung dengan nafas tersengal-sengal. Apakah ini sebuah firasat bagiku?
“Dor!!” Suara kejutan Nia membuyarkan lamunanku.
“Kok bengong aja? Duh ganteng banget Elang ku ini, nenek di dalam? Aku temuin dulu ya” Aku hanya tersenyum, Arini…Arini kenapa selalu saja ada bayanganmu yang menghantuiku?
Kujalankan mobil dengan di temani nenek, adik, dan Nia. Dan tiba tepat pukul delapan di kampus. Aku langsung masuk gedung bersama nenekku. Nia bersama Adikku menunggu di tenda luar. Karena undangan hanya satu saja yang boleh memasuki gedung. Delapan ratus orang wisudawan tertampung di dalamnya di tambah delapan ratus undangan membuat gedung tampak ramai. Bangku-bangku pun di atur rapat. Wisuda kali ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Arini, andai kamu datang hari ini… Kembali aku memikirkan Arini.
Kurang lebih tiga jam sudah aku berada di gedung itu. Setelah acara selesai, aku keluar bersama nenekku menyapa teman-teman lainku yang belum sempat wisuda bersamaku dan barangkali ada Arini datang untukku.
Hiruk pikuk keadaan luar gedung membuatku gerah. Setelah bertemu dengan teman-teman, aku menuju mobil untuk segera pulang karena aku sudah lapar. Toga masih aku kenakan, karena mungkin saja masih ada teman-temanku yang belum bertemu denganku agar bisa berfoto denganku dengan toga ini, narsisku.
Tiba-tiba dari kejauhan samar-samar aku melihat sosok yang tak asing lagi bagiku, dia melemparkan senyumnya untukku di balik pohon rindang sekitar gedung. Kemudian ia berpaling dan pergi meninggalkan pohon itu setelah aku melihatnya. Arini! Pekikku dalam hati, aku tidak percaya ia akan datang untukku. Kubergegas menemuinya dan meninggalkan nenek, adik dan Nia. Aku mengejarnya dikerumunan orang, cepat sekali ia menghilang. Aku yakin dia adalah Arini, aku bisa merasakannya.
“Arini!” Panggilku setelah menemukannya.
“Arini tunggu!” Aku mengejarnya, namun dia terus mempercepat langkahnya, aku pun langsung menarik tangannya.
“Arini!” Dia membalikkan badannya, dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Selamat ya Lang, impianmu kini sudah terwujud” Ia tetap tersenyum, senyumnya yang dulu dan sangat aku rindukan.
“Arini, kamu datang juga. Aku ga nyangka kamu akan datang. Makasih ya” Tanpa berterimakasih atas ucapannya aku mengucapkan kata-kata itu karena perasaanku saat ini lebih bahagia.
“Aku udah janji sama kamu kalau aku akan datang saat kamu wisuda. Kini janji itu udah aku tepati, sekarang izinkan aku pergi” Entah mengapa tanganku tetap memegang erat tangannya, seakan aku tidak ingin melepasnya kembali
“Arini, kamu bahagia?” Tanyaku ingin tahu keadaannya dan ia hanya mengangguk pelan, tapi matanya kembali berkaca-kaca, seakan aku tak percaya dengan jawabannya itu.
“Kamu yakin kamu bahagia?” Tanyaku lagi menegaskan
“Iya Lang, aku bahagia saat kamu bahagia, aku tahu kamu sudah bahagia bersamanya, aku ga ingin mengganggu hubungan kalian” Arini mendongakkan kepalanya menegaskan jawabannya.
“Lalu bagaimana hubungan kamu dengan Danny?” Tanyaku penasaran.
“Dia menerima sikapku yang dingin kepadanya, dia ga ingin aku memilihnya karena terpaksa, Hhh… Kini aku sendiri lagi seperti dulu” Arini melepaskan genggaman tanganku dan kembali menunduk. Ternyata Arini masih tetap mempertahankan sikapnya pada Danny seperti dulu, aku menyangka setelah aku tinggalkan ia, Arini akan berpaling pada Danny yang bisa menjamin hidupnya, tapi ternyata Arini, masih yang dulu.
“Arini, kamu ga sendirian. Aku masih menyimpan perasaan sama seperti dulu pada kamu dan sebenarnya…” Belum aku melanjutkan kata-kataku, Nia datang dan berbicara.
“Sebenarnya kamulah wanita yang ia cintai dalam hidupnya, selama ini walaupun aku selalu bersamanya aku ga bisa merasakan cintanya Elang”
“Nia, kamu…” Lagi-lagi pembicaraanku dipotong Nia
“Diam kamu Lang, perasaan wanita itu lebih peka. Kamu bisa bilang cinta dan sayang sama aku, kamu bisa bersikap romantis sama aku, tapi kamu selalu membayangkan Arini kan? Semua perbuatan yang kamu lakukan itu bukan karena aku, tapi karena kamu ingin melupakan Arini, tapi kamu ga bisa Lang. Aku bisa merasakannya? Kamu memang jahat Lang. Kenapa kamu ga bilang terus-terang?”
“Arini, kamu adalah wanita yang pantas buat Elang, dia lebih membutuhkan kehadiranmu dalam hidupnya. Elang ga akan bisa hidup tanpa kamu, aku tahu itu”
“Nia, maafkan aku udah menghancurkan perasaan kamu, tapi aku datang ke sini bukan untuk merebut Elang dari kamu”
“Sssttt… Arini, aku yang udah merebut Elang dari kamu. Elang ga pernah menggodaku, Elang selalu jujur tentang kamu tapi aku selalu menapikannya. Aku udah egois merusak hubungan kalian. Sekarang aku ingin melihat kalian bahagia lagi” Nia meneteskan airmatanya dan memegang tanganku dan Arini
“Nia, kamu selalu baik sama aku. Kamu selalu mendengarkan keluh kesahku selama ini walaupun tentang Arini. Aku memang jahat”
“Sudahlah. Semua karena adanya kehadiranku dalam kehidupan kalian. Kalian adalah bukti cinta sejati yang tidak pernah putus” Nia memeluk Arini. Semoga Nia mendapatkan laki-laki yang baik dan setia harapku.
Hujan sudah menghiasi Kota Jakarta sejak dua hari yang lalu. Kini gerimis sudah mulai berjatuhan. Kami sama-sama menuju mobil untuk pulang. Arini, aku janji aku akan mempertahankan cintaku padamu, aku tidak akan melepaskanmu lagi karena kamulah wanita terindah dalam hidupku.
Komentar Terakhir