Bidadari Syurga
Nadia kau keindahan wanita pujaan setiap pria…
Seluruh dunia kau gapai…
Ku nikahi ia dengan penuh percaya diri. Nadiatul Munawarah nama yang akan menjadi ibu bagi anak-anakku. Nama yang akan menemaniku mengarungi kehidupan baru. Entah berapa pria yang kecewa dengan pilihannya. Ia menerima pria hidung belang, mata keranjang seperti aku. Ya, memang sebelum ku bertemu dengan Nadia, aku memang menjadi pria yang suka menggoda wanita. Hanya sekedar membuat wanita itu GR saja. Atau sekedar menguji diriku apakah aku pantas menjadi pria yang banyak disukai wanita. Bukan untuk memiliki mereka.
Nadia meluluhkan hatiku dengan sikapnya, dengan senyumnya, dan pasti dengan kasih sayangnya. Ia berbeda dengan yang lain. Padahal aku tahu banyak kumbang yang datang kepadanya namun tak seorangpun bisa mereka dapatkan bungan nan harum ini. Nadia tak seperti diriku yang memanfaatkan kebaikan lawan jenisnya. Hingga ia tidak pernah dijuluki playgirl. Kalau sebutan playboy sudah menjadi makananku sehari-hari. Tapi tetap saja aku cuek.
Nadia membersihkan julukan playboy itu di pelaminan. Seluruh dunia gempar melihat pendamping Nadia. Beberapa orang kecewa dan beberapa lainnya merana. Tapi satu yang membuatku yakin akan hidup dengannya karena ia selalu mengatakan bahwa ia ikhlas hidup denganku walau tak pernah ia ucapkan dengan lisannya.
Ia sudah melayaniku dengan sepenuh hati ketika pertama kali menjadi suaminya. Ya, aku sudah menjadi suami resmi dirinya. Kesan malam pertamaku sangat indah. Tak pernah kurasakan sebelumnya bahwa keindahan pernikahan adalah saat malam pertama. Ia memberikan seluruh jiwa dan raganya kepadaku. Aku menjadi pria beruntung di malam itu. Wajahnya bak bidadari turun dari kahyangan, tak lepas kupandangi wajah lugunya saat itu. Oh… Nadia…
Ia memberiku anak-anak yang lucu. Aku minta lima ia memberi lima. Aku sangat bersyukur mempunyai istri seperti dia. Ia merawat anak-anakku. Ia patuh dengan perintahku. Ia taat padaku. Ia menjaga hartaku. Ia sungguh luar biasa.
Pernah ia terkulai lemas tak berdaya di pembaringan. Tubuhnya yang gemuk menjadi kurus. Aku tak tega melihat kondisinya. Aku sempat kehilangan senyumnya yang ketika ku goda selalu mengembang. Kucandai ia bagai kakak kepada adiknya. Tapi kini aku kehilangan canda tawa itu. Aku tak ingin kehilangan ia. Bukankah ia lima tahun lebih muda dariku? Mengapa harus ia duluan yang pergi? Ah… kutepis semua pikiran buruk itu. Ku asuh laskar-laskar kecilku. Tapi semua berkata tidak enak jika ayah yang mengasuh. Mereka merindukan ibunya. Oh… ternyata Nadia lebih capek mengurusi Laskar-laskar ku dari mereka bangun hingga tidur kembali. Namun Nadia tetap bersabar mendidik dan merawat mereka.
Para laskarku sudah dewasa. Nadia dan aku tak lagi muda. Aku bosan dengan Nadia. Nadia keriput begitu juga aku. Tapi kadang Nadia cerewet. Menyarankan tidak lagi makan ini itu, tidak lagi begadang dan larangan lainnya seperti aku anak kecil. Aku ingin bebas. Aku mencari bunga lain dari kehidupanku Nadia tidak tahu. Aku asyik dengan bunga baru itu. Nadia masih tidak tahu. Hingga akhirnya aku tertusuk duri dari bunga itu. Aku di hina, di caci oleh bunga yang tidak memberiku madu asli. Melainkan madu palsu berbalut susu. Aku terpuruk. Aku menhinakan diriku. Aku pulang ke Nadia.
Nadia diam. Nadia kecewa. Nadia terluka. Aku menyesal. Nadia tetap melayaniku. Tapi tak pernah ia menawarkan sesuatu kepadaku seperti dulu. Ia tak pernah menuntutku seperti dulu. Ia lebih suka diam. Ia lebih sering meng-iyakan keinginanku. Ia menganggapku Tuhan. Aku merasa tidak enak. Semakin tidak enak dengan sikapnya. Dan semakin bersalah.
Namun yang Nadia katakana adalah… bahwa ia salah selama ini melayaniku. Hingga aku tidak puas dan mencari bunga lain. Maka Nadia berjanji akan bersikap lebih hati-hati dan melayaniku dengan sepenuh hati tanpa menuntutku apa-apa. Subhanallah… Nadia istriku… Nadia yang bukan ku anggap budakku, membudakkan di kakiku. Mencuci kakiku yang dengan kaki ini sering aku tendang hatinya, sering aku buat kecewa ia. Tapi dengan ketulusannya bahwa ia lah yang salah melayaniku. Astaghfirullah… Rabb ampuni hamba yang telah menyia-nyiakan bidadari utusanmu yang berhati emas ini.
40 tahun sudah ku arungi hidup bersama Nadia. Nadia masih tetap seperti dulu. Seakan tak ada lagi orang yang ia cintai selain diriku dan putra-putraku. Ia rela mati demi kami keluarganya. Kini giliranku yang diam tak berdaya. Ku hanya bagaikan seonggok daging yang hanya bisa terdiam di atas kasur empuk yang tak empuk bagiku. Seluruh badanku tak bisa kugerakkan kecuali pergelangan tangan dan kepalaku. Aku bersyukur masih bisa menulis tulisan ini.
Nadia merawatku. Ialah dokter terbaikku. Nadialah ibuku. Ia menyuapiku, ia memandikanku, ia membuang kotoranku, ia menggantikan bajuku, ia membacakan ayat-ayat suci Al-Quran di telingaku, ia mendongeng untukku. Ia Nadia… ya Nadia istriku…
Tak pernah ku mendapat kehidupan yang sempurna. Segala yang terjadi dalam kehidupanku penuh cobaan dan tantangan. Namun semua itu tak kurasakan. Yang kurasakan adalah nikmat dan nikmat. Semua itu karena Allah memberikanku pendamping yang selalu sabar melayaniku. Aku tegar karena Nadia, aku kuat karena Nadia selalu mengingatkanku pada-Mu. Ya Rabb… pertemukan kami kembali di syurga-Mu… percantiklah wajahnya hanya untukku… hanya untuk suaminya bukan untuk orang lain… titip Nadia dan putra-putraku…
Dan ketika tulisan ini dilanjutkan, ayahku tercinta telah pulang ke Rahmatullah… ibu mendampingi ayah hingga akhir hayatnya. Tak pernah ibu tinggalkan ayah di kamarnya. Mereka selalu berdua. Sholat pun ayah tetap menjadi imam ibu di tempat tidurnya. Ibu tak pernah jijik atau bosan dengan penyakit ayah.
Dan ketika ayah pergi. Ibu yang memandikannya. Ibu tidak menangis. Ibu sudah banyak menangis. Ibu tegar. Karena ayah meminta ibu untuk tidak menangis ketika ayah pergi. Dan ibu taat kepada perintah ayah. Ibu yakin dengan janji ayah bahwa ibu akan menyusul ayah di alam sana.
Kini ibu selalu hanyut dalam zikir cinta. Tak pernah ibu bersolek untuk mendapatkan pengganti ayah. Ibu yakin ibu akan menyusul ayah tak lama lagi. Tiap waktu, tiap malam ibu bersujud di sajadahnya.
Mungkin ayah tak betah tinggal sendiri di sana. Tiga bulan kemudian ibu menyusul ayah. Ibu hanyut dalam sujudnya hingga lupa pulang ke dunia. Kudapati ibu terbujur kaku dengan balutan mukena. Tubuhnya wangi dan ketika kulihat wajahnya terpancar senyuman kebahagiaan. Ibu bertemu Allah dan ayah. Subhanallah…
Yasmin Ahmad, Okt 24th 2008
Teruntuk Ayah dan Bunda

syukur alhamdulillah akhirnya aq pny temen yang bisa nulis.
pdhl aq sndr pengen bisa nulis dari sejak SMP tapi tak satu judul pun yang rampung…. malu aq ama fat!!!!
amazing banget deh nulisan fat, enak dibaca mudah dicerna…
mungkin fat bisa menambahkan pesan2 moral dan ahlak didalam tulisannya, jadi yang baca ngga cuma dapat cerita saja tp juga manfaat….
terus berkarya ya fat…
jujur aq pengen seperti kmu…..
Huhu… rasa2nya,gw banged tu fat
agak2 mirip kan Maria sama Nadia
Tuh kan gw bgt! Narses dah ach.. Hehehe
Doain aja seperti itu, wanita hebat.. wanita sholehah, sebaik2nya wanita kan…
sedih bacanya huhuhuhu…
sabar..sabar…
allah beserta orang-orang yang sabar..
Nadia…. dialah wanita terhormat idamanku…
Dimana dia?
bantu aku menemukannya…
masih adakah wanita seperti Nadia,di dunia ini?
Jika ada, tunjukkan padaku…
karena dia yang akan menyembuhkanku…
membawaku menuju rumah tangga sakinah,mawaddah,wa rochmah
baldatun thoyyibah wa robbun ghofur
Pasti ada… hanya… kalau mau istri yang seperti Nadia… maka harus baik dulu jadi suami… yaaa peribahasanya Wanita Baik untuk Lelaki yang Baik…
Ok deh selamat Mencari!!!
Bagus… Menarik… Meskipun cerita seperti itu sudah banyak… cukup terharu, cerita itu banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan itu mencerminkan bahwa seorang wanita itu lebih kuat dari laki-laki…
Semoga bisa jadi seperti NADIA…..
mantappp…..ajarin donk fat…aku jg dah lama pengen nulis..tp sprti kt temenmu itu, tak satu judul pun rampung. Eh, pernah dech, jaman kuliah dulu…hehehehe….
terlalu panjang….karena saking pinternya…tapi jadi…
jika nadia itu ada …di belantara manakah aku dapat mencium bau harumnya…kadang kutemukan mawar indah…tapi berduri…
meski aku yakin dia ada…
namun aku hampir-hampir putus asa..
karena beratnya medan dan banyaknya rintangan
namun aku tetap yakin bahwa dia ada..
entah di mana….