Ummi ku…

Ayah mengenalkannya ketika usiaku menginjak enam tahun. Ia bukan mamaku. Tapi ia Ummiku begitulah yang ayah katakan padaku. Ummi Zahra kata ayah. Aku menuruti kata-kata ayah. Ummi Zahra memanggil ayah dengan sebutan Abi. Bagiku yang biasa tinggal di lingkungan yang mewah, modern, merasa aneh dengan sebutan itu. Walau aku masih tergolong anak kecil tapi wawasanku luas tak seperti anak kampung lainnya. Ayah selalu mengajariku hal yang baru dan hal yang bisa membuatku cerdas.

Mau tidak mau aku memanggil Ummi dengan sebutan Ummi Zahra. Dandanannya sederhana tapi tampak rapi. Ia memakai penutup kepala. Kata ibu guru ku di TK namanya jilbab. Tidak seperti mama yang tidak memakai penutup kepala. Mamaku cantik bagaikan artis. Rambutnya indah, tubuhnya putih mulus sehingga sayang jika harus dibalut baju panjang bahkan memakai penutup kepala. Namun sesuatu yang berbeda ketika ayah membawa Ummi di kehidupan kami.

Ummi Zahra masih muda. Ia belum pernah mengasuh anak seusiaku. Aku selalu menolak ajakannya untuk makan, mandi, belajar bahkan mengaji. Ketika sudah ayah peringatkan baru mau aku turuti. Aku tidak ingin ada pengasuh baru di kehidupanku. Aku ingin mama. Tapi kata ayah mama sudah bersama papa lain. Aku tidak mengerti dan jika sudah berdebat dengan ayah, aku mengurung diri di kamar dan menutup pintu tanpa di kunci.

Selagi aku marah. Ummi Zahra selalu memperingatkan ayah untuk selalu sabar menghadapiku dengan segala kehidupan baruku bersama ibu baru. Tetap saja aku yang masih kecil tidak mau mengerti. Aku ingin ayah dan mama. Bukan Ayah dan Ummi bahkan Abi dan Ummi.

Namun setiap kali aku akan terlelap tidur. Ummi Zahra selalu masuk ke dalam kamarku dan menyelimuti tubuhku yang tak berselimut. Ummi mengelus rambutku yang terkadang aku tampik sentuhan tangannya. Ummi tetap sabar berhari-hari mengelus rambutku sebelum tidur setelah menyelimuti tubuhku yang selalu membelakanginya ketika ia melakukan itu. Kemudian Ummi membacakan doa tidur yang jarang sekali ayah bawakan karena sibuknya ayah bekerja. Aku hafal bacaan mau tidur dari ibu guru ku di TK. Tapi aku terus di ingatkan Ummi Zahra untuk membaca doa itu tiap malam hingga aku hafal. Namun aku masih cuek dengan sikap Ummi. Aku pura-pura tidak mendengar. Padahal aku mengikuti setiap bacaan Ummi.

Beberapa tahun sudah kulalui hidup baru bersama Ummi dan Abi. Ya Abi. Bukan ummi yang mengajariku. Bukan pula ayah. Sebutan itu aku keluarkan dari mulutku sendiri tanpa paksaan siapapun. Ada suatu hal yang membuatku menyebut Abi bukan ayah lagi. Karena sejak ayah kenal dengan Ummi. Ayah tak lagi sibuk seperti dulu. Ayah selalu memperhatikanku. Ayah selalu mengambilkan rapotku. Ayah selalu mengajakku bertamasya. Aku menemukan sosok lain pada ayah dan aku tidak ingin melepas semua itu. Ayah sudah tiada. Yang ada hanyalah Abi. Ya, aku punya Abi kini bukan ayah.

Tanpa kenal lelah Ummi mengurusku hingga dewasa. Berkali-kali aku tidak mau menuruti permintaan Ummi untuk mengaji dan memilih untuk main Play Station. Aku bilang kepada ummi Norak, Ga gaul, Ga ngertilah… Tapi Ummi dengan tegas berkata “Fahri… jika kamu tidak mau mengaji ummi tidak akan bisa menolongmu lagi di saat datangnya hari yang akan memisahkan kita, hari yang akan memisahkan anak dengan ibunya, hari yang akan dibinasakannya seluruh yang ada di bumi ini. Ummi sudah memperingatkanmu. Sekarang terserah pada kamu. Ummi tidak akan lagi mengajak kamu mengaji. Semua terserah pada kamu ya” Ummi marah. Terlihat wajahnya memerah dan matanya menahan turunnya bulir-bulir air mata. Aku cuek dan menganggap angin lalu saja omongan Ummi. Dan tetap meneruskan permainanku. Aku tau Ummi pasti menangis di dalam kamar. Kejadian ini waktu aku belum tahu siapa Ummi sebenarnya. Hingga…

Suatu hari. Aku, Ummi dan Abi berjalan-jalan untuk membeli perlengkapanku. Aku ingin bermain Band. Dan Abi akan membelikan sebuah Drum alat Band kesukaanku. Aku duduk di depan bersama Abi. Ummi di belakang. Ummi tidak pernah protes dengan segala keinginanku. Kecuali jelek untukku Ummi baru memberi saran yang tegas. Aku masih belum nerima Ummi seratus persen ketika usia itu. Aku masih SD kelas lima tapi sudah ingin bermain Drum seperti penggebuk drum lainnya. Kami keluar mobil. Aku menggandeng tangan Abi. Aku tidak ingin melihat Abi menggandeng tangan Ummi. Tapi Abi tetap menggandeng tangan Ummi di tangan yang satunya.

Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang di depanku. Mungkin remnya blong dan aku tak dapat menghindar dengan cepat karena laju mobil itu terlalu kencang. Ketika mobil sudah mau menabrakku. Aku hanya bisa menutup mata. gandengan Abi terlepas dari tanganku. Tubuhku jatuh seakan ada yang mendorongku. Aku tersungkur bersama Abi. AKu mendengar jeritan Ummi!!!

Aku melihat Ummi jatuh tak jauh dari mobil yang oleng tadi. Kaki Ummi dan tangannya berdarah. Ummi tak sadarkan diri. Kami langsung membawanya ke rumah sakit. Ummi… demi aku ummi rela mengorbankan hidup ummi sendiri… ummi… maafkan ku selama ini… aku termenung dalam penyesalan.

Ummi yang baik kini terbaring lemas di rumah sakit. Urusan rumah aku dan Abi yang mengurusi. Oh betapa tidak enaknya mengurus diri sendiri. Biasanya ada Ummi yang membantuku menyiapkan buku-buku. Memperingatiku untuk mengganti baju. Walau cerewet tapi hidupku jadi teratur dengan segala perintah Ummi. Kini Ummi masih tidur di atas pembaringan. Oh Ummi… Aku dan Abi membutuhkan Ummi…

Ketika ku tidur sambil termenung di dalam kamarku. Teringat beberapa tahun silam ketika ku baru pertama kali mengenal Ummi. AKu teringat Ummi yang selalu menyelimutiku, membelai rambutku, bahkan tak jarang mencuri-curi untuk mencium keningku. Tapi kini hal itu akan hilang beberapa hari. Ummi tak lagi begitu karena keadaan ummi yang tidak memungkinkan. Kini yang kurindu Ummi bukan yang lain… Aku ingin Ummi mendekap tubuhku… Aku butuh Ummi…

Selimutku yang dulu tak lagi bisa menyelimuti seluruh tubuhku. padahal aku kedinginan. Tapi seakan ada yang masuk ke dalam kamarku dan menyelimutiku. Seperti mimpi. Ada yang mengganti selimutku dengan selimut yang lebih tebal. Mataku tetap terpejam. Aku merasa nyaman dengan selimut baru itu. Kemudian sebuah sentuhan tangan lembut membelai kepalaku dan… sebuah kecupan lembut mendarat di keningku. Perlahan kubuka mataku…

Ummi… aku bahagia sekali… Ummi sudah pulang. Ku peluk mesra ummi… aku tidak ingin melepasnya… Tapi Abi melarangku untuk memeluknya terlalu lama. Tangan Ummi belum pulih benar. Tergurat senyuman tulus ummi berikan kepadaku. Ummi duduk di sampingku dan me nina bobo kan ku kembali. sentuhan tangan lembutnya membuatku bermimpi indah bersama Ummi dan Abi…

Allahummaghfirlii… Wali waalidayyaa… Warhamhumaa… Kamaa… Rabbayaanii… Soghiraa…

(Cerita ini dipersembahkan untuk

seseorang yang dengan tulus mengasuh anak dari suaminya)

Yasmin Ahmad, 29 Oktober 2008

~ oleh fathiya04 pada Oktober 29, 2008.

6 Tanggapan to “Ummi ku…”

  1. assalamualaikum

    wah…Hebat banget ya…
    hati2 novel buatan sendirinya di ambil org….ntr jadi disebarluas kan. tapi, cerita nya memang seru abis….aku jadi teringat dengan kisah keluarga pertama ku , dan akhirnya punya ibu tiri dipanggil Umi juga.tapi gak seperti umi kamu yang baik dengan setulus hati.sampai akhir nya papa ku meninggal dikarenakan siksaan batin yang umi aku lakukan. meninggal sakit jantung, padahal 30 menit sebelum itu aku masi ngmng dengan papa aku.bahwa papa aku sudah sampai di medan dari banda aceh,dan ingin menunggu acara wisuda ku.

    tapi bagi ku ini jalan yang terbaik yang diberikan allah kepada ku!!

  2. Wassalamualaikum
    Terimakasih comment nya… waduh jahat banget atuh sampe plagiat?? Doain semoga nggak ya…

    Wah sedih juga sekelumit kisahmu… hmm yang sabar ya.. Fat buat cerpen ini untuk mewakili calon ibu Muda yang akan menikah dengan duda. Dan mengajak Ibu muda ini untuk tetap sayang dengan anak suami seperti anak sendiri. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap kata yang fat rangkai ini ya.

    Dan tetep semangat ya!!!

  3. ceritanya sangat sedih sekali..
    sungguh menyentuh hati..

    sayangilah kedua orangtua kita disaat mereka masih hidup!!

  4. Waahh..pasti seneng banget bisa punya ummi yang seprti itu untuk anak-anakku kelak…he…
    Allohumma qurrotaa’yuni wal ja’alna lil muttaqina immama…Amin…

  5. Amiin… Semoga yang di harapkan di rodhoi Allah ya. Amiin

  6. ayo fat, mana postingan mu selanjutnya?
    kok ga diupdate lagi?

    hihihi….. ^_^

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.