Hari yang Melelahkan
Waktu menunjukkan pukul 13.15 WIB. Fatiya baru pulang ke rumah lagi setelah dia pergi ke Bank mengirim uang ke Mbahnya di Purwokerto dari titipan Ibunya tadi pagi. Ibunya Bu Safinah kerja hingga sore hari, maka dititipkan kepada Tiya yang mempunyai waktu luang agak banyak.
Tiya membuka jilbabnya. Cukup panas hari ini. Dia menuju da
pur melihat apa masakan hari ini yang telah dimasak mba Eni tetangganya. Mba Eni kerja di rumahnya dari pagi jam tujuh hingga siang hari sekitar jam dua belas siang, mba Eni pulang ketika masakan, rumah dan setrikaan selesai dikerjakan. Keluarga Tiya memang sibuk semua. Ayahnya H. Muhammad Rahman, M.E. kerja di Yogyakarta sebagai Dosen di Universitas Gajahmada. Memegang mata kuliah Ekonomi. Pulangnya satu minggu sekali. Kakaknya sudah bekerja di Jakarta di salah satu Bank swasta. Sehari-hari dia tinggal bersama ibu, dan dua adiknya yang masing-masing masih sekolah. Yasmin adiknya paling kecil masih kelas lima SDN Kalibeber I dan adiknya yang laki-laki bernama Alif masih sekolah di SMA 1 Wonosobo.
“Yah… daging kambing…” Gerutu Tiya ketika melihat makanan di atas meja makannya.
“Assalamualaikum…” Yasmin baru pulang sekolah dan langsung meletakkan sepatunya di dalam rak sepatu. “Wa’alaikum salam… baru pulang Yas…” Yasmin mengangguk dan menyalami Tiya yang duduk di meja makan. Kemudian Yasmin mengambil gelas di dapur dan kembali lagi ke meja makan untuk mengambil air minum dari teko. “Glek…glek…glek… ahhhh… seger…” Yasmin baru duduk setelah minum. “Alhamdulillah tho ndok…” Kata Tiya, Yasmin pun nyengir memperlihatkan giginya yang bolong-bolong.
“Yas, beli baso aja yuk… mba lagi ga pengen makan makanan rumah ni…ga selera” Ajak Tiya pada Yasmin
“Emang mba Eni masak apa?” Tanya Yasmin
“Daging kambing” jawab tiya singkat. “Iya deh…aku juga moh makan daging… bau” Kakak beradik itu pun pergi meninggalkan rumah untuk membeli baso mas Melodi di seberang rumah. Sementara itu anak-anak TPQ sudah ada beberapa yang datang mereka sudah meletakkan tas nya di dalam kelas dan bermain di luar.
Selain mengajar di Mts, Fatiya juga membuka sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sorenya TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) Keduanya di beri nama PAUD Pancawarna dan TPQ Pancawarna. Sudah dua tahun ini dia mendirikan dua kegiatan pendidikan itu di rumahnya dibawah Yayasan Pancawarna yayasan yang didirikan ayahnya. Tahun lalu dia sudah mendapat bantuan dari Pemda Wonosobo untuk mendirikan sebuah kelas untuk kegiatan belajar mengajar. Kelas yang satu lagi berada di dalam mushola rumah yang di sulap menjadi kelas, namun bersih seperti aula. Jadi kelas pagi dan kelas siang memiliki dua kelas.
Fatiya makan bersama Yasmin lahap sekali. Akhir-akhir ini Tiya sering merasa lapar jika sudah waktunya makan. Hal itu disebabkan karena dua minggu lalu dia di vonis sakit maag dan hatinya pun sudah terkena. Maka dia tidak ingin merasakan sakit itu lagi. Dia tidak mau mengambil resiko minum obat yang pahit. Lagipula jika ia sakit, pekerjaannya akan terganggu. Banyak yang membutuhkan kesehatan dia.
Setelah makan, dia sholat berjamaah bersama Yasmin. Seketika itu pula anak-anak TPQ lainnya sudah banyak yang berdatangan.
***
“Bu…, ada yang mau daftar” Kata salah satu santri kelas B ketika memasuki kantor TPQ. “Iya suruh masuk saja” Kata Tiya, dia sedang merapikan meja yang berserakan buku-buku yang di pakai untuk mengajar di Play Group tadi pagi.
“Assalamualaikum bu…” Seorang ibu berusia 25 tahun masuk ke dalam kantor dan menyodorkan kedua tangannya untuk bersalaman
“Wa’alaikum salam Warohmatulloh… silakan duduk bu” Jawab Tiya sambil bersalaman dengan ibu itu.
“Saya mau mendaftarkan anak saya di TPQ ini”
“Baik bu, saya data dulu ya”
***
Tak jauh, Fauzan dan Taufik sedang menuju TPQ Pancawarna. Mereka adalah ustadz yang mengajar di TPQ Pancawarna. Fauzan adalah lulusan SMA Takhasus Al-Quran Kalibeber Wonosobo tahun lalu. Saat ini sedang sibuk mengirimkan lamarannya pada perusahaan-perusahaan di dalam kota dan luar kota. Namun usahanya sampai saat ini belum juga berhasil. Untuk mengisi kekosongannya, dia mengabdi pada Yayasan Pancawarna ini untuk mengamalkan ilmunya. Lagipula ia pernah belajar di SMA yang terkenal dengan hafalan Al_qurannya itu. Paling tidak, lulusannya harus hafal juz 30.
Sedangkan Taufik masih menjadi seorang siswa kelas tiga di SMAN I Mojotengah. Taufik tinggal tak jauh dari rumah Fauzan. Mereka sama-sama lulusan dari MTsN Kalibeber. Fatiya mengenal mereka dari kepala sekolah MtsN Kalibeber Pak Nu’man.
Setelah sampai di TPQ Fauzan dan Taufik masuk ke dalam kantor berukuran 3 x 4 meter itu untuk mengambil buku dan spidol. Di dalam Fatiya masih sibuk di depan komputernya. Dia hanya mengangguk saja ketika Fauzan dan Taufik masuk. Tiya terus meneruskan ketikannya.
Fauzan memegang kelas A kelas anak-anak yang usianya di bawah dari sembilan tahun. Fauzan ditempatkan Tiya di sana karena menurut Pak Nu’man, Fauzan lebih sabar orangnya. Anak yang usianya sekitar sembilan tahun ke bawah memang biasanya lebih suka rewel daripada sembilan tahun ke atas. Dan Taufik memegang kelas B. Ada yang sudah setingkat SMP juga mengaji di sana.
Sebenarnya diam-diam Fauzan mengagumi Tiya. Fauzan menginginkan mempunyai kakak seperti Tiya. Mereka terpaut usia tiga tahun saja. Tiya berusia 22 tahun, sedangkan Fauzan masih berusia 19 tahun. Namun karena Fauzan tinggi besar, dia tidak terlihat berusia 19 tahun. Fauzan kagum akan kinerja dan ide-ide Tiya. Tiya di mata Fauzan cukup kreatif mengelola pendidikan di Yayasan Pancawarna itu. Tiya saat ini memang masih bergerak sendiri, Ayahnya yang pulang seminggu sekali hanya bisa mengelola yayasan ketika dua hari saja yaitu sabtu dan ahad. Selebihnya di kelola oleh Tiya.
Fauzan hanya mempunyai adik. Itu pun laki-laki, adiknya masih duduk di bangku SD kelas enam dan juga ikut mengaji di TPQ itu masuk ke kelas B yang dipegang oleh Taufik. Fauzan betul-betul menginginkan sosok kakak perempuan yang bisa dia ajak sharing. Tiya termasuk pendiam sebagai seorang kepala TPQ. Dia berbicara seperlunya saja kepada Fauzan dan Taufik. Mereka pun kadang segan untuk memulai pembicaraan. Jika tidak ditanya maka tidak berbicara. Sedangkan Tiya sebenarnya juga masih canggung dengan kedua ustadz itu, mungkin mereka baru mengajar sekita tiga bulan sehingga Tiya juga segan berbicara aneh-aneh di luar pembicaraan tentang TPQ.
“Mba…antar Yas ke SMP 1 ya, alun-alunnya di pake Ustad Jefri Al-Bukhori ceramah, jadi Yas latihannya di pindah” Yasmin mendengarkan permintaan adiknya itu tanpa berhenti mengetik
“Lima menit lagi ya” Jawab Tiya. Tiya sering membuat cerpen sejak dia masih duduk di bangku Tsanawiyah. Pernah waktu itu cerpen pertama nya di muat di majalah Annida ketika ia masih duduk di bangku Aliyah kelas dua. Namun sampai saat ini cerpen-cerpen nya belum ada yang dimuat. Karena memang dia jarang mengirimkan lagi sejak kuliah di Universitas Islam Negri Malang. Kalaupun membuat cerpen, ending nya belum pernah ia selesaikan. Saat ini, dia ingin menyelesaikan cerpen-cerpennya yang sempat tertunda jalan akhir ceritanya.
Lima menit kemudian, Tiya mengeluarkan Mio nya dari garasi, tak lama ia panaskan, ia pun siap mengantarkan yasmin pergi ke SMP 1 Wonosobo untuk latihan Karate. Yasmin senang dengan kegiatan Bela diri itu. Yasmin baru dua bulan sudah meraih sabuk kuning. Sebelum berangkat, Tiya sempat menitipkan rumah pada Fauzan dan Taufik. Jika hendak mengambil air wudlu, kunci gerbang belakang yang menuju sungai sudah di letakkan di atas meja kantor. Santri TPQ Pancawarna terbiasa sholat berjamaah sholat asar, karena memang ada jadualnya. Karena di belakang rumah Tiya ada sungai tembusan sungai Serayu, maka para santri mengambil wudlu di sungai. Sungainya masih jernih dan arusnya tidak begitu deras, maka kebanyakan mereka lebih sering bermain di sungai daripada buru-buru mengambil saf untuk sholat. Taufik yang terkenal tegas, sering sekali memukul kaki mereka dengan bambu jika ada santri putera khususnya yang berlama-lama di sungai. Tiya sudah tahu para santri putera ada yang nakal seperti itu, sekali di kasih tahu, mereka malah melawan. Dulu sebelum Fauzan dan taufik datang, Tiya lah yang memarahi mereka.
Sebelum Taufik dan Fauzan datang, sholat asar dibuat terpisah antara santri putra dan santri putri. Santri putri sholat berjamaah dengan Tiya dan santri putra sholat dengan Alif adiknya Tiya. Tapi kalau Alif sudah pulang dari sekolah, seringnya setelah asar ALif baru pulang karena ikut kursus bahasa inggris dari pulang sekolah hingga asar. Sering Tiya menunjuk Gias untuk menjadi imam teman-temannya. Walau dia masih duduk di kelas enam, namun bacaan Quran nya lebih bagus dari Irvan, Levi dan Safar yang sudah duduk di kelas SMP.
Sekarang karena sudah ada Fauzan dan Taufik, Tiya sudah tidak mengajar santri lagi dan yang mengimami bisa bergantian antara Fauzan dan Taufik. Tiya paling hanya memantau bacaan Al-Quran santri atau memantau cara mendidiknya Fauzan dan Taufik.
***
Fatiya menghentikan motor Mio nya. Dia cukup lama juga berada di jalan. Jalanan macet karena SMP 1 melewati alun-alun yang katanya magrib ini akan ada Ustad Jefri Da’I kondang yang akan berdakwah di alun-alun itu. Temannya, Dewi mengajak untuk melihatnya. Tiya sebenarnya ingin juga, tapi ia mungkin kelelahan jika harus menuruti ajakan temannya, lagipula temannya juga bersama teman kerjanya. Tiya bilang tidak janji bisa ikut menemani Dewi untuk melihat UJ.
Anak santri masih berada di luar. Mereka memang di kasih waktu lima belas menit setelah sholat asar untuk istirahat. Ada yang memanfaatkan untuk hafalan surat dan doa sehari-hari, ada yang jajan, ada pula yang bermain ayunan milik PAUD. Permainan yang ada di PAUD Pancawarna memang sumbangan dari dana bantuan Pemda waktu itu. Untuk kelas PAUD, anak-anak dikenai biaya perbulan hanya lima ribu rupiah saja sedangkan TPQ nya hanya dua ribu saja. Itu pun masih banyak yang menunggak. Belum lagi di sekitar lingkungan Tiya masih banyak anak-anak yang bermain daripada mengaji. Mungkin kurangnya kesadaran pendidikan di dalam keluarga. Itulah tujuan tiya dan ayahnya mendirikan yayasan pendidikan Pancawarna ini. Semoga ke depannya kampungnya Desa Kalibeber bisa lebih baik dari segi pendidikannya.
“Ibu sudah pulang? Sudah sholat belum? Kalo belum tunggu Tiya mau mandi dulu ya. Gerah ni” Tiya melihat Ibunya masih istirahat di meja makan di temani segelas air putih “Iya, Ibu juga baru pulang banget. masih sumuk” Jawab Ibu.
Tiya mandi cepat, dia masih ingin melanjutkan menulis cerpennya. Komputernya sengaja tidak di matikan. Alif sudah pulang ketika Tiya mengantar Yasmin latihan dan langsung memakai komputer yang sedang menyala itu. Setelah mandi Tiya dan Ibunya sholat berjamaah. Sekarang ini setelah TPQ ada yang memegang, Tiya dan Ibunya sering sholat berjamaah. Dan Ibu sering pulang sebelum sholat asar. Ibunya biasa di sebut Bu Nah, karena namanya bu Safinah. Ibunya sudah pegawai negri di Departemen Agama. Berangkat dari pukul delapan pagi pulang pukul tiga sore. Kalau ada proyek biasanya pulang hingga pukul lima sore. Walaupun sibuk, Ibunya tidak pernah absen membuat sarapan bagi anak-anaknya. Dari dulu Fatiya tidak pernah jajan pagi-pagi atau merasa lapar ketika belajar di kelas. Itu karena Ayah dan Ibunya selalu menyarankan untuk sarapan pagi di rumah. Sampai saat ini Fatiya sudah bekerja pun Ibunya selalu menyiapkan sarapan. Kadang dibantu oleh Tiya, kadang juga tidak. Karena kadang kalau malamnya Tiya terlalu lelah, habis subuh ia tidur lagi dan bangun jam setengah tujuh pagi. Sarapan sudah siap di meja makan. Fatiya memang masih manja dengan Ibunya walau sudah punya adik dua orang.
Setelah sholat, Tiya meneruskan menulis cerpennya. Sebelumnya, ia membuka winamp pada komputer, ia klik lagu berjudul “Ruang Rindu” karya Letto. Tiya memang menyukai karya-karyanya Letto. Tiya mengartikan cinta pada syair itu cinta pada sang khalik.
Tak berapa lama, Ilham santri TPQ datang ke kantor “Bu, latihan drama ga?” Tanyanya “Lho, memang sudah selesai? Ustadz Taufik mana?” Tiya menghentikan sejenak kerjaannya. “Itu lagi di kelas A bantuin ustadz Fauzan” Lanjut Ilham lagi “Oh, ya sudah kalau begitu, kamu ambil tape itu ya” Tiya menunjuk pada sebuah Tape butut yang ia beli dulu ketika masih kuliah, Tape itu hasil dari dia mengawas ujian SPMB di Universitasnya. Honornya ia belikan Tape Recorder itu. Kemudian Tiya men save kerjaannya tadi dan menuju kelas B untuk latihan drama.
Tiya biasa membuat pementasan drama bagi santri TPQ karena biasanya di yayasan sering diadakan acara-acara besar seperti maulid nabi, atau pun perpisahan santri dan perpisahan anak PAUD. Saat ini Tiya melatih santri untuk tampil pada acara perpisahan.
Tiya mengarang skenario dan yang melatihnya. Dramanya lebih ke drama musikal, karena Tiya memang suka menyanyi. Dulu ketika SD pernah dijadikan perwakilan sekolahnya untuk tampil pada perlombaan sinden cilik di sekolah di kota Wonosobo. Namun dia hanya menang sebagai juara tiga.
Tema cerita tentang mencintai ciptaan Allah. Dan setting nya dipakai setting sinetron Entong Abunawas dari Betawi, hal itu dimaksudkan agar anak-anak tidak lah bosan berlatih.
***
Malam pun tiba. Habis Isya, Tiya membuka buku matematika kelas sembilan dan kelas delapan. Besok Tiya masih harus mengajar di MtsN Kalibeber. Memang Tiya sengaja mengambil jurusan Matematika ketika di Bandung, hal itu karena masih kurangnya tenaga pendidik yang berasal dari jurusan matematika. Kebanyakan guru yang mengajar matematika asalnya bukan berasal dari jurusan matematika. Maka setelah Tiya lulus, Pak Nu’man kepala sekolah MTsN langsung merekrut Tiya yang sebenarnya masih berstatus sebagai pamannya Tiya.
Untuk guru di Kober, tiya sudah mempunyai dua orang temannya yang mau mengajar di sana. Yang satu adalah lulusan dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan akuntansi namanya Heny. Hari senin sampai rabu kelas A Kober di pegang oleh Tiya, dan Heny bertugas sebagai TU yang mengurusi uang tabungan dan sumbangan. Kemudian hari kamis dan jumatnya, Tiya menyerahkan kelas A kepada Heny, karena harus mengajar di MTsN. Satunya lagi guru kelas B, namanya Ratna kalau dia memang lulusan PGTK yang memang jurusan untuk pengajar anak-anak usia 0-6 tahun.
Heny tinggal sekampung dengan Tiya, rumahnya dengan Tiya hanya terbatas lima rumah saja. Sedangkan Ratna tinggal di kampung sebelah yaitu Desa Mojotengah.
Setelah belajar untuk pembasahan besok di MTsN, Tiya mengambil buku agenda khusus PAUD. Ia mencatat kegiatan apa yang seharusnya diberikan besok pada anak PAUD, agar Heny tidak terlalu bingung karena tiga harinya kelas A dipegang oleh Tiya. setelah selesai, Tiya kembali meneruskan cerpennya. Hari ini dia begitu bersemangat untuk menghayal lagi dalam dunia fiksinya. Dia pun menyalakan modemnya. Hari ini dia belum melihat apakah ada surat yang masuk pada inboknya. Selingan ketika dia buntu cerita.
“You have 3 recheave message” tulisan itu tertulis pada pojok kiri sesaat setelah Tiya mengaktifkan Yahoo Messengernya. Dia pun meng klik tulisan itu. Sambil menunggu, Tiya membuka kembali cerpennya. Setelah selesai menuangkan ide yang ada pada cerpennya, Tiya melihat surat yang datang untuknya. Satu dari Friendster dan satu lagi dari kakaknya Tio yang berada di Jakarta dan satu lagi dari Rangga.
Tiya membuka surat dari kakaknya dulu
Assalamualaikum dek, kakak cukup sedih denger adek ga jadi menikah. Tapi kakak tahu adek pasti kuat menghadapi ini, adek pasti tegar. Laki-laki bukan Cuma dia kok. Masih banyak yang mau berjuang bersama. Semangat ya. Kakak maunya pulang, tapi kerjaan di sini cukup banyak. Libur pun hari ahad saja. Kakak terus berdoa dari Jakarta ini buat adek ya. Semoga adek selalu bahagia
-Kakakmu Tio-
Tiya menarik nafas, menahan air matanya yang akan jatuh. Kemudian dia pun membuka surat dari Rangga
Salam,…
Dik gimana kabarnya? tidak sedih lagi ya. Adik harus kuat dan tegar. Allah bersama adik. Doanya mas mau pergi ke Medan mengisi acara bedah buku bersama Fikrul Ghifari selama dua hari. Nanti kalau adik masih nangis, cerita saja sama mas. Kalau mau chating, sms mas. InsyaAllah kalau ada waktu, mas siap “dengerin” adik. Sudah dulu ya. Ini mas titip cerpen karangan mas ketika mendengar berita dari adik seminggu lalu.
Wassalam
Tiya membuka Attachment yang tertulis di bawah surat itu. Dia buka dan dia masukkan ke dalam file nya ia menunda untuk membacanya. Cerpennya juga dia pending lagi. Dia sudah tidak konsen lagi. Tiya ingin segera berlari untuk mengambil wudlu, ia ingin menangis lagi di hadapan Allah. Komputer dan modem segera ia matikan. Waktu telah menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh lima menit. Tiya pun mengambil air wudlu. Matanya sudah memanas.
Pertemuan dengan Rangga
Tiya sholat hajat dua rokaat dan tiga witir. Dia selalu ingat pesan Rangga kalau mau tidur di usahakan tidak meninggalkan sholat witir. Rangga sudah Tiya anggap kakaknya sendiri. Dia usianya hampir sama dengan kakaknya Tio 26 tahun. Hanya beda beberapa bulan saja. Mereka bertemu di sebuah pameran buku yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena Kota Wonosobo. Rangga adalah penulis. Kebetulan dia sudah melahirkan karyanya yang bagus dikonsumsi untuk kalangan pelajar dan mahasiswa. Lebih ke hal romantis, namun tujuannya untuk beromantis ria dengan Allah. Rangga pun banyak memasukkan ayat-ayat Al-Quran pada novelnya. Dia mempunyai misi berdakwah lewat novelnya itu. Rangga Syaputra nama penanya. Nama penanya memang sama dengan nama aslinya. Karyanya yang terkenal adalah novel berjudul “Kasih Bukan Sekedar Cinta”. Novel itu sudah terkenal di kalangan pelajar dan mahasiswa, termasuk Tiya sendiri. Saat itu Tiya tidak menyangka akan bertemu langsung dengan Rangga di pameran tersebut, pasalnya Rangga memang bukan berasal dari Kota Wonosobo melainkan berasal dari Surakarta. Tapi saat itu Rangga menyempatkan ikut menjadi panitia pameran buku di Wonosobo itu. Sekaligus promosi novelnya juga.
Pertemuan pertama dengan Rangga, Tiya saat itu sedang membaca prolog novel karangan Fikrul Ghifari yang berjudul “I’am Sorry Good Bye” karena bukunya masih terbungkus plastik. Rangga yang kebetulan berada di stand buku-buku baru mendekati Tiya yang sedang asik membaca prolog buku tersebut yang lumayan panjang.
“Assalamualaikum dik, penasaran dengan buku ini ya?” Sapa Rangga
“Wa’alaikum salam… eh.. i…iya” Tiya tampak kaget dengan sapaan Rangga
“Daripada penasaran lebih baik di beli saja. Di jamin tidak akan menyesal setelah membeli dan membacanya. Saya yakin Fikrul ini akan menjadi penulis yang besar” Rangga menjelaskan
“Oh ya? Menarik juga promosinya. Apa mas sudah pernah membacanya? Atau ketemu dengan orangnya?” Tiya sudah mulai membalikkan badannya ke arah Rangga
“Kebetulan dia kakak kelas saya ketika berada di Mesir dulu. Karyanya sudah tersebar di kalangan mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir, hanya dia tidak mau dulu menelurkan karyanya di Indonesia sebelum dia merampungkan S-2 nya” Rangga menjelaskan
“Oh begitu ya? Berarti mas kuliah juga di Mesir? Wah, saya berbicara dengan orang hebat dong” Tiya sedikit meledek
“Biasa saja dik, tidak usah dilebih-lebihkan” Rangga merendah. Sebenarnya Tiya belum tau dia berbicara dengan siapa. Tiya pernah membaca buku karya Rangga hanya dia belum membelinya. Karena dia pernah di pinjami Dewi untuk membaca novel Rangga, makanya Tiya agak segan membelinya karena memang sudah pernah dibaca dan tidak penasaran lagi. Lagipula di biodata penulis, tidak ada foto Rangga.
“Ok deh… saya beli buku ini. Tapi sebelumnya saya mau tanya dulu sama mas tentang buku Fikrul ini. Dari prolog di belakang buku ini diceritakan ada seorang perempuan yang pernah terjun ke lembah kenistaan hingga ia sempat mau bunuh diri namun tidak jadi karena ia mulai merasakan hidayah yang Allah berikan padanya. Nah yang saya tanyakan adalah mengapa judulnya itu “I am sorry good bye” bukannya “I have to good bye”. Karena agar jelas bahwa perempuan itu memang tidak lagi mengulang perbuatannya dulu. Itu saja pertanyaan saya” Tiya memborong pertanyaan kepada Rangga. Sementara itu Rangga mulai asik dan mengagumi kecerdasan Tiya yang tanpa ia sadari di keluarkannya lewat kritikannya itu
“Ok.. begini ya dik.. bukannya saya tidak ingin menjelaskan mengapa Fikrul ini mengarang judul “I am sorry good bye” bukannya “I have to good bye” semua dijelaskan oleh pengarang dengan kita mengikuti alur ceritanya. Maka judul yang sesuai ya memang judul ini. Kita sebaiknya tidak membacanya hanya sepintas atau hanya berdasarkan pemikiran yang lebih banyak mengandung unsur subjektifnya, sebaiknya dibaca dan di ikuti alur cerita ini. Memang, banyak yang mengatakan novel ini terlalu berbelit. Tapi justru dari cerita yang berbelit inilah judul yang sesuai bisa di cerna. Paham dik?” Rangga menjelaskan panjang lebar
Tiya manggut-manggut. Tiya pun merasa senang bisa berdiskusi dengan Rangga.
“Oh iya dik, ini ada buku untuk kamu gratis dari saya” Rangga menyerahkan buku dengan sampul biru berjudul “Kasih Bukan Sekedar Cinta” Yaitu novelnya sendiri “Wah terimakasih ya mas. Sebenernya saya sudah pernah membacanya, jadi saya agak males untuk membelinya. Padahal saya seneng lho isi novel ini. Apalagi lebih banyak hal romantisnya yang cenderung di sukai kaum hawa seperti saya ini” Tiya mengambil buku yang di sodorkan Rangga.
“Tapi mas, memangnya mas tidak di marahi panitia lain kalo saya tidak membayarnya. Berarti itu dibayar oleh mas dong. Trus nanti honor mas berkurang. Wah saya ndak enak ni mas” Tiya mulai gelisah
“Sudah ambil saja. Ini gratis dari pengarangnya kok” Rangga tersenyum
“Maksud mas gratis dari Rangga? Kalau iya, mas ketemu dimana? Saya penasaran juga dengan pengarang buku ini lho. Kira-kira dimana saya bisa bertemu dia?” Tiya sedikit agresif. Sementara itu Rangga geli melihat gadis yang ada di depannya itu kebingungan. Namun tawa nya ia tahan untuk menjaga sikapnya.
“Ini kartu nama saya dan ada email saya, jika ada yang perlu di diskusikan saya suka untuk berbagi” Bukannya menjawab pertanyaan Tiya, Rangga malah memberikan kartu nama pada Tiya. Tiya jadi sedikit jengkel namun tetap mengambil kartu nama Rangga, dan seketika itu pula Tiya melotot ke kartu itu seakan melihat kejadian aneh
“Ja…jadi mas adalah Rangga Syaputra?” Tiya langsung bertanya lagi pada Rangga, dan Rangga dengan gaya cool nya hanya mengangguk saja. Tiya kemudian diam dan malu.
“Maaf ya dik, bukannya saya mau membohongi adik tapi, saya suka berkenalan dengan cara seperti ini, perkenalan kita cukup menarik kan? dan bisa menjadi sumber inspirasi saya untuk karya saya selanjutnya” Dasar penulis… Tiya akhirnya minta tandatangan dari Rangga. Walau sebenarnya dalam novelnya itu sudah ada tandatangan Ranga, tapi sebenarnya itu hanyalah kopi-an saja. Dan Rangga pun mau menandatangani kembali buku novelnya yang telah di berikan kepada Tiya.
Sejak itu, Tiya dan Rangga sering berdiskusi tentang dunia seni khususnya tentang karya tulis. Tiya yang punya hobi membuat cerpen sering mengirimkan cerpen pada Rangga untuk di edit. Ikatan emosional mereka pun semakin dekat. Kadang Rangga merasakan sesuatu yang dirasakan oleh Tiya, begitupun sebaliknya. Ya, Tiya dan Rangga memiliki perasaan lebih bukan sekedar adik kakak atau teman biasa. Perasaan itu datang tiba-tiba tanpa disadari lewat karya-karya yang sering Rangga kirimkan pada Tiya dan karya-karya Tiya dan dikirimkan kepada Rangga. Rangga mulai jatuh hati, apalagi melihat visi misi kehidupan Tiya yang ingin memajukan pendidikan di Kampungnya. Cerita kehidupan Tiya merupakan karya terbesar yang akan di buat oleh Rangga selanjutnya.
Mereka tidak menyatakan perasaan mereka, namun mereka sudah bisa merasakannya. Ketika Tiya membutuhkan Rangga, Rangga ada untuk Tiya. Tiya merasa diperhatikan oleh Rangga. Sungguh indah jika dijalani. Tapi sayang, sejak pertemuan pertama, Tiya dan Rangga sering bertemu hanya dalam waktu satu bulan saja. Itupun hanya enam kali pertemuan. Sejak pameran buku berakhir, Rangga tidak pernah lagi bertemu Tiya. Hal itu karena Rangga bekerja di sebuah majalah di Jakarta. Rangga diangkat sebagai editornya. Dan juga merangkap sebagai tim ide kreatif. Untuk menemui Tiya akan sulit sekali. Seperti kakaknya Tio, Rangga hanya bisa menyapa lewat surat elektronik dan telpon juga sms. Lagipula sebenarnya Rangga adalah tulang punggung keluarganya. Rangga adalah anak yang sekolah jauh hingga Mesir, dia harus menjadi kebanggan keluarga dan keluarga pun menuntut jika sekolah jauh, maka penghasilan pun harus besar. Ayah dan Ibunya hanya petani biasa. Adiknya ada tiga lagi yang masih sekolah, dua kakaknya sudah menikah dan sudah mempunyai tanggungan masing-masing. Saat ini Rangga lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Karena Rizki adiknya yang besar juga sedang belajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Rangga pun harus mempunyai bekal untuk biaya kehidupan adiknya selanjutnya nanti di sana, walau sebenarnya Rizki sering bilang tidak usah repot membiayai. Tapi hati seorang Rangga sangat bertanggung jawab pada adik-adiknya.
Kabar sedih
Tiya menarik nafas panjang ketika selesai sujud di atas sajadah nya. Ia telah meminta kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik untuk kehidupannya. Tiya sedang di uji Allah dalam kesabarannya. Ia teringat akan Febrianto.
Febri atau biasa di panggil Anto adalah kakak kelas Tiya ketika kuliah di Malang. Anto berasal dari kota Banjarnegara tapi kini ia mengajar di SMAN I Mojo Tengah. Anto menyewa kontrakan untuk tempat tinggalnya. Tiya mengenal Anto ketika sudah menjadi guru di SMAN. Ketika kuliah dulu ia mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam dan hampir tidak pernah bertemu dengan Tiya, Karena setahun setelah Tiya masuk UIN Malang, Anto wisuda. Pertemuan mereka ketika Tiya berkunjung ke SMAN I Mojo Tengah almamaternya dulu untuk memberikan undangan pernikahan temannya. Disana ia bertemu Anto. Keakraban mereka karena sama-sama berasal dari UIN Malang fakultas yang sama. Karena Tiya pun masuk ke Fakultas Tarbiyah atau keguruan.
Tiya bertemu Anto dulu sebelum bertemu Rangga. Anto perhatian dengan Tiya begitupun Rangga. Tiya merasa masih asik berteman dengan keduanya. Hingga suatu hari Anto menyatakan keseriusannya untuk menjadi kekasih Tiya. Saat itu Tiya ragu akan orang yang di pilihnya. Di sisi lain Tiya memiliki perasaan lebih kepada Rangga tapi perhatian Anto cukup bisa membuat perasaan Tiya bahagia.
Tiya belum memutuskan sejak sebulan Anto menyatakan keseriusannya. Tiya memang sudah ingin menikah karena usianya yang walaupun tergolong masih muda, namun Tiya ingin menikah muda. Kalau menunggu Rangga yang masih punya tanggungan adik-adiknya lagipula tempat kerjanya jauh. Tiya akan sulit memahami karakter Rangga. Lagipula Tiya tidak ingin merusak persahabatan dengan Rangga. Ia ingin Rangga tetap menjadi temannya hingga tua nanti. Itu berarti ia bisa memilih Anto. Anto pun adalah seorang yang prima di mata Tiya. Kriteria suami idaman Tiya ada di diri Anto kurang lebih seperti itu. Namun ada beberapa kekurangan yang dimiliki Anto, tapi itu tidak masalah bagi Tiya yang mempunyai rasa optimis. Tiya berpikir, seiring berjalannya waktu, sikap-sikap itu akan bisa di rubah.
Setahun yang lalu akhirnya Tiya memilih Anto. Ia cukup bahagia dengan kehadiran Anto yang begitu perhatian. Anto pandai berpujangga. Walau ketika bertemu, Anto kadang bersikap cool tidak seperti ketika Anto mengirimkan sms puitis kepada Tiya. Tiya sudah sedikit memahami karakter Anto. Tiya begitu sabar menghadapi sikap Anto yang menurut kaum hawa kurang romantis. Anto memang romantis lewat puisi-puisi nya saja. Tiya begitu bangga dengan Anto, begitupun Anto. Teman-teman mereka sering mengatakan mereka adalah pasangan serasi.
Rangga tahu hubungan antara Tiya dan Anto. Tiya tidak pernah melewatkan untuk menceritakan kehidupannya pada Rangga. Tiya pun bangga pada Rangga. Sejak Tiya memilih Anto, Tiya akan berhenti berpikir untuk memiliki Rangga sebagai kekasihnya. Ia akan terus menganggap Rangga bagaikan Tio kakaknya.
Seiring berjalannya waktu. karena dari awal hubungan Tiya meminta hubungan yang serius pada Anto begitupun Anto seperti itu. Akhirnya mereka berniat menikah setahun setelah hubungan mereka memahami karkater masing-masing.
Tiya yakin bahwa Anto lah jodohnya. Begitupun Anto. Persiapan pernikahan pun akan dilaksanakan. Orangtua Tiya sudah mengetahui maksud Anto ingin menikahi Tiya. Namun terkadang konflik terjadi pada diri Anto. Konflik itu terjadi ketika Tiya dan keluarganya meminta maskawin kepada Anto. Anto yang sudah tidak memiliki orang tua merasa tidak enak jika tidak bisa memenuhi permintaan keluarga Tiya. Padahal sebenarnya keluarga Tiya menyerahkan kepada Anto sebagai pihak laki-laki untuk memberikan maskawin semampunya. Awalnya Anto agak sulit untuk mengambil keputusan dan bahkan pernah bicara ke Tiya untuk mundur dari pernikahan. Tapi dengan pengertian Tiya akhirnya disetujui pula oleh Anto. Namun, Anto kembali berpikir. Untuk memberikan maskawin sudah tidak ada masalah, hanya bagaimana nanti selanjutnya. Dia belum menjadi Pegawai Negri dan masih menjadi guru honorer. Gajinya perbulan belum cukup jika dipakai untuk kehidupan berdua. Kadang Anto harus berpuasa karena uangnya sudah habis.
Hal itu tidak menjadi alasan bagi Tiya. Tiya terus meyakinkan diri Anto untuk terus menggapai niat suci pernikahan. Toh Tiya juga bekerja, itu artinya Tiya tidak ingin merepotkan suami nantinya.
Hingga sebulan lalu Tiya meminta kepastian Anto. Siap menikah atau tidak dengan Tiya. Tiya rasa sudah saatnya untuk meminta ketegasan Anto. Jika hubungan tanpa ada kepastian dan tidak ada usaha menuju pernikahan lebih baik berpisah daripada diteruskan begitu pikir Tiya. Itu pun atas saran orangtua Tiya. Mereka tidak ingin anaknya berpacaran lama-lama.
Tiya meminta Anto untuk datang melamar pada hari ahad. Karena kebetulan ayahnya sedang ada di rumah. Tiya meminta ketegasan jika Anto tidak datang pada hari itu, maka hubungan mereka cukup sampai di situ. Mungkin Tiya terlalu memaksa Anto jika seperti itu, tapi karena sifat Tiya yang koleris membuat Tiya harus mengambil sikap. Tiya akan siap dengan segala resiko. Nanti atau sekarang, Tiya niat menikah karena Allah.
Namun apa yang terjadi. Anto tidak pernah datang ke rumah Tiya. Tiya sudah berbicara kepada orangtuanya kalau Anto akan datang bersama pamannya untuk melamarnya. Tiya bilang seperti itu karena seminggu sebelum hari itu Anto menyanggupi permintaan Tiya. Bahkan Anto bilang sudah persiapan.
Tiya terpukul dan sedih. Harapannya sirna. Anto tidak datang dan hanya memberi kabar lewat telpon saja.
“Tiya, sudahlah cari laki-laki lain yang bisa membahagiakan kamu. Mas tidak sanggup melihat kamu sedih jika hidup bersama Mas yang dalam kehidupan sehari-harinya saja serba kekurangan. Mas selalu berharap ingin hidup bersama kamu. Tapi Mas lemah Tiya, mas tidak ingin kamu terluka. Tapi inilah keputusan yang terbaik buat kita”
“Tapi mas, kenapa saat itu mas mengiyakan? Tiya sudah bicara sama bapak dan ibu. Mereka kira mas akan datang. Mas jahat sudah mempermainkan hati Tiya.” Tiya kesal pada Anto
“Kok Tiya beranggapan seperti itu? Mas tersinggung dengan kata-katamu. Mas tidak ada niat mempermainkan kamu. Kamu tau sendiri keadaan mas…”
Tiya tidak bisa berbicara apa-apa lagi, dia hanya menangis di dalam kamarnya. Kemudian Anto langsung mematikan Hp nya sehingga Tiya tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara lagi. Anto pun merasa sakit karena tidak bisa membahagiakan Tiya. Anto berpikir lebih baik Tiya hidup bersama orang lain yang bisa membuatnya bahagia.
Tiya menangis di dalam kamar. Ibu datang menghampirinya. “Sudah nak… kamu bisa tegar kok. Mungkin saja Anto belum jodohmu, tapi mungkin memang jodohmu hanya perjalanannya harus seperti ini dulu” Ibu terus mengelus rambut Tiya. Ibu sangat tau perasaan yang dialami Tiya saat itu.
***
Tiya menghapus air matanya yang jatuh dari tadi. Mukenanya basah oleh airmatanya. Kejadian seminggu lalu masih saja terbayang olehnya. Tiya harus segera tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu ruang tengah sudah di matikan oleh Ibunya. Yasmin tidur di kamar Ayah dan Ibu jika ayah sedang tidak pulang. Tiya melipat mukenanya mematikan lampu kamarnya kemudian tidur dengan selimutnya yang tebal. Udara Wonosobo terlalu dingin jika tidur tidak memakai selimut. Karena letaknya tak jauh dari Gunung Dieng yang terkenal dengan banyak terdapat candi itu.
Gebyar Muharam
Tiya keluar dari kelas delapan. Setelah istirahat ia sudah tidak mengajar lagi di Mts karena jam pertama ia memegang kelas sembilan. Tapi ia masih harus tetap berada di sekolah hingga pukul dua belas siang. Karena ia mendapat giliran guru piket. Ia memasuki ruang guru yang sudah ada ibu Fufah dan ibu Sandra. Bu Fufah adalah guru Biologi dan ibu Sandra adalah guru Sejarah. Kemudian ada Pak Dedi guru Ekonomi berada di ruang guru. Mereka semua masih single kecuali pak Dedi yang tergolong masih penganten baru. Pak Dedi menikah lima bulan lalu. Nama Istrinya hampir sama dengan Fatiya. Hanya kalau Fatiya nama panjangnya adalah Fatiya Nurrahman sedangkan istri pak Dedi hanya Fatiya saja.
Pak Dedi pernah bilang kepada Fatiya jika ia belum menemukan istrinya, pasti ia akan memilih Fatiya Nurrahman bukan Fatiya saja. Begitulah lelucon yang sering dikatakan Pak Dedi kepada Tiya. Tiya hanya senyum-senyum saja dan selalu berkata kepada pak Dedi “Syukuri pak, pasti istri bapak lebih baik dari saya, makanya kita tidak berjodoh. Salam ya buat mba Fatiya”
Kepala sekolah yang adalah paman Tiya masuk ke dalam ruang guru. Ia menemui Tiya yang masih asik ngobrol dengan Bu Sandra, Bu Fufah dan Pak Dedi.
“Fat, bapak mau bicara sebentar tolong ke ruangan saya ya” Tiya mengikuti Pak Nu’man dari belakang dan memasuki kantor kepala sekolah. Pak Nu’man biasa memanggilnya Fat bukan Tiya seperti yang lain. Itu adalah panggilan keluarga ayahnya kepada Tiya. Pamannya adalah adik ayahnya. Sedangkan keluarga Ibunya Tiya dan Tiya sendiri biasa memanggil dengan sebutan Tiya.
“Begini Fat, dua hari lagi kan mau diadakan gebyar Muharram di sekolah kita, waktu itu ustadz Subhan bersedia untuk mengisi acara kita ini. Tapi tiba-tiba malam tadi dia mengundurkan diri karena ia harus mengantar ibunya berobat ke Singapura. Katanya diperlukan waktu selama tiga hari berada di sana. Karena ayahnya sudah tidak ada. Dia lah yang bertanggung jawab. Dia pun tidak menyangka karena waktu paman memintanya untuk mengisi acara di sini ibunya sehat-sehat saja. Tapi katanya kemarin Ibunya terlalu banyak pikiran, maka berakibat pada jantungnya. Beliaupun menyayangkan kejadian ini. Nah maksud paman apa kamu punya teman yang bisa menggantikan Ustadz Subhan?”
Jika di depan para guru memang Pak Nu’man membiasakan diri mengaku Bapak kepada Tiya tapi kalau sudah di dalam ruangan kadang kata-kata paman keluar dengan sendirinya.
“Wah piye toh iki saya juga ndak punya teman yang bisa dihubungi paman. Mmm tapi nanti saya coba tanya Fauzan aja. Dia kan lulusan SMA Takhasus Al-Quran barangkali punya temen atau kenalan yang bisa bantu kita”
“Yo wis semua saya serahkan sama kamu ya Fat”
“Ok paman… Tiya ke ruang guru lagi ya” Tiya undur diri dari kantor kepala sekolah. Tiya berpikir, seandainya dia masih berhubungan dengan Anto pasti Anto lah yang akan menggantikan Ustadz Subhan. Tapi ia pesimis Anto akan menyanggupi permintaan Tiya. Apalagi saat ini nomor Hp Anto sudah tidak bisa dihubungi lagi. Tiya juga tidak pernah menyimpan nomor Hp temannya Anto. “Ah sudahlah, harapan lain ada pada Fauzan” pikirnya begitu.
***
Gebyar Muharram MTsN Kalibeber Wonosobo cukup meriah dengan hadirnya tim marawis sekolah asuhan pak Fuad. Mereka membawakan lagu Nawarti Ayyami, Ya Ghali, hingga sufna sufna. Tiya paling suka lagu sufna sufna apalagi yang membawakannya adalah Rendra anak kelas sembilan. Suaranya renyah karena sudah pecah, tapi dengan perubahan suaranya itu semakin membuat lagunya enak di dengar.
Pengganti ustad Subhan adalah Lukman Al-Hakim. Ia adalah pengajar di Ponpes Al-Asy’ariyyah. Karena SMP dan SMA Takhasus Al-Quran berada di bawah Yayasan Al-Asy’ariyyah, Fauzan dulu juga sering ikut pengajian bersama ustadz Lukman yang masih tergolong muda itu. Pada zamannya Lukman adalah Hafidz termuda. Usianya baru genap 15 tahun ketika ia sudah menjadi Hafidz pada acara Khotmil Quran Yayasan Al-Asy’ariyyah bersama peserta lainnya. Peserta lainnya kebanyakan sudah berusia 17 tahun ke atas ketika menjadi hafidz. Usianya kini baru 27 tahun. Ia kini memegang qiraat di pesantren itu. Suaranya bagus. Ia pernah dikirim untuk mengikuti MTQ tingkat kota.
Sebagai penanggung jawab, Tiya harus menemani Lukman sebelum naik ke panggung. Tiya sedikit diskusi tentang pribadi Lukman. Lukman lulusan dari Universitas Ilmu Al-Quran yang dulunya Institut Ilmu Al-Quran. Fakultas Sayriah dan dia mengambil jurusan Perbankan Syariah. Saat ini dia dipercaya menjadi ketua koperasi Ponpes Al-Asy’ariyyah dia pun membuka cabang di daerah asalnya yaitu daerah Pekalongan. Untuk koperasi di daerahnya di percayakan kepada adiknya Umar. Jika Koperasi di Ponpes Al-Asy’ariyyah saat ini sudah berbentuk seperti supermarket mini, kalau di Pekalongan baru berbentuk toko yang berisi dengan sembako juga berfungsi sebagai koperasi simpan pinjam. Koperasi di Pekalongan sudah berjalan tiga tahun dan dia berniat tahun depan akan membuat koperasinya menjadi mini market juga.
Tiya yang juga baru mendirikan Koperasi di Pancawarna sangat tertarik dengan ilmu yang di miliki Lukman. Tapi sayang, Lukman hanya mempunyai waktu sedikit. Maka pembicaraan selanjutnya bisa lewat email atau Tiya datang langsung ke Ponpes Al-Asy’ariyyah.
Acara siang itu berjalan dengan baik. Ustadz Lukman mulai di perhitungkan oleh Pak Nu’man. Sebenarnya Lukman ceramah bisa dihitung dengan jari. Dia paling tidak mau ceramah jika isi yang dibawakan pada ceramahnya hanya menempel saat itu saja. Ketika beberapa hari kemudian biasanya hilang dengan kebiasaan-kebiasaan yang sudah lumrah walau tidak boleh dilakukan. Lukman lebih suka jika dijadikan pembicara tentang tema pengembangan diri atau berkaitan dengan ekonomi Islam khususnya tentang Koperasi. Lukman mau ceramah di MTsN Kalibeber karena Fauzan memintanya dengan sangat memelas dan memang Fauzan sudah dianggap adik sendiri bagi Lukman karena sering mengikuti latihan Qiraat. Tema yang dibawakan Lukman juga tidak jauh dengan Pengembangan Diri. Karena usia Mts biasanya sudah mulai sulit di atur. Karenanya Lukman membawa kan tema itu. Pembawaan Lukman tidak seperti menggurui tapi lebih ke tanya jawab dan diskusi sehingga tidak seperti ceramah melainkan diskusi. Itulah ciri khas Ustadz Lukman.
***
Tiya malam itu tidur cepat. Dia melewatkan sholat witir sebelum tidur. Ia setelah magrib ketiduran. Biasanya jika tidak ada ayah, dan hari biasanya, sholat Magrib, Isya dan Subuh selalu dilakukan berjamaah bersama, Alif yang mengimami. Untuk Zuhur dan Asar pun jika ada lebih dari satu orang mereka mengharuskan untuk terus berjamaah. Kalau ada ayah karena ayah ada setiap weekend dan semua libur, sholat lima waktu terus di lakukan berjamaah tanpa terlewat. Malam itu Ibu sengaja tidak membangunkan Tiya, Ibu melihat Tiya tertidur sangat lelap.
Pukul dua pagi Tiya terbangun. Tubuhnya sudah di selimuti. Lampu kamarnya sudah dimatikan dan pintu kamarnya sudah di tutup. Tiya bangun untuk mengambil wudlu. Sebelum ia melangkah ke ruang tengah terdengar suara “gedebuk” suara ada yang jatuh. Ia segera menyalakan lampu ruang tengah yang tak jauh dari kamarnya. Owalah… ternyata Yasmin baru saja terjatuh dari sofa di ruang tengah. Yasmin biasa menonton TV hingga tertidur di sofa. Ibu selalu membangunkan dia untuk pindah namun tetap saja tidak mau. Ya mau tidak mau, Yasmin di tinggal di sofa. Mau di angkat, dia bukan anak kelas tiga lagi yang waktu dulu jika tertidur di sofa bisa dipindahkan. Bahkan ALif sekalipun yang badannya tinggi agak kerepotan untuk mengangkatnya.
Tiya tertawa setelah melihat Yasmin yang jatuh dari sofa itu. Sementara Yasmin dengan muka manyun tanpa memperdulikan Tiya yang tertawa langsung masuk ke dalam kamar Ibu. Yasmin pun terlelap kembali.
Setelah sholat Isya, ia melanjutkan sholat hajat dan Tahajjud dan diakhiri sholat witir. Tak lupa ia berdoa dengan meneteskan air matanya untuk diberikan ketenangan hati dan diberikan yang terbaik untuknya. Dia juga meminta untuk diberikan pengganti yang lebih baik jika memang Anto bukanlah jodohnya. Tiya kemudian teringat Rangga. Rangga selalu ada jika ia sedang sedih. Apakah Rangga memang jodohnya kelak. Tiya terus berharap semoga Allah memberikan yang terbaik.
Tingkah anak PAUD
Tiya sedang mengajar di PAUD. Ketika mengajar anak-anak kecil itu, kesedihan Tiya bisa dilupakan. Ada saja tingkah yang dibuat anak-anak. Ada Dzikri yang usianya masih empat tahun ia tiba-tiba memotong rambutnya ketika sedang bermain menggunting kertas. Saat itu Tiya masih sibuk dengan tugas yang akan diberikan kepada anak-anak nanti sepulang sekolah. Kemudian Dzikri datang dan memberikan potongan rambutnya kepada Tiya “Ibu, Dzikri motong rambut ni” Tanpa rasa bersalah dzikri memberikan potongan rambutnya dengan menyeringai tertawa. Spontan saja Tiya kaget dan langsung memberi pengertian kalau gunting itu hanya digunakan untuk memotong kertas. Kalau untuk memotong rambut ada gunting jenis lain. Dzikri pun akhirnya menurut.
Ada pula yang jika ke sekolah selalu menangis jika ibunya tidak mau mengantarnya. Sebagai gurunya harus terus memperhatikan anak-anak seperti itu. Belum lagi jika ada yang mau buang air kecil, hampir semua anak ikut-ikutan temannya yang mau ikut buang air kecil. Kejadian itu banyak di alami di kelas A. Karena masih kecil-kecil dan jika mau buang air kecil, celana mereka harus dibuka kan oleh Tiya kemudian di pasangkan kembali. Hanya beberapa yang sudah bisa memakai sendiri. Kadang Heny membantu Tiya setelah selesai memasukkan uang sumbangan atau tabungan ke dalam kas PAUD.
PAUD di mulai pukul delapan pagi dan selesai pukul sepuluh. Tiya ada janji dengan Pak Bambang di MTs hari ini. Pak Bambang adalah guru Bahasa Indonesia. Dia lulusan dari Unsoed Purwokerto. Usianya 29 tahun. Dan baru mempunyai anak satu berusia 5 tahun. Pak Bambang termasuk orang yang bilang jika belum menikah, pasti akan memilih Tiya sebagai pendampingnya. Tiya sebenarnya tidaklah secantik Zaskia Mecca atau Dian Sastrowardoyo. Posturnya pun tidak terlalu tinggi. Tapi ia mempunyai wajah imut, itam manis. Tapi juga imut sebenarnya, jika Tiya memakai baju putih abu-abu masih bisa disejajarkan dengan anak SMA lainnya. Wajahnya unik. Selain itu prestasinya yang membuat orang lain kagum dengannya. Begitulah kata orang. Tiya sendiri masih sangsi jika Pak Bambang dan Pak Dedi berbicara seperti itu.
Tiya segera menemui Pak Bambang yang sudah berada di ruang guru. Setelah menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya untuk menyatakan salaman dengan Pak Bambang, Tiya bertanya tentang maksud ajakan Pak Bambang semalam tadi. Selama ini Pak Bambang sering bertanya tentang PAUD kepada Tiya karena kebetulan Tiya juga dipercaya sebagai ketua HIMPAUDI Kecamatan Mojotengah Kota Wonosobo. HIMPAUDI adalah Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini. Jika TK ada IGTK atau Ikatan Guru Taman Kanak-kanak ada pula IGRA atau Ikatan Guru Raudhotul Athfal. Maka ini adalah organisasi PAUD. Sedangkan Pak Bambang mendirikan PAUD di kabupaten Wonosobo. Dugaan Tiya sih seperti itu juga.
“Memang ada apa sih pak? Apa tentang PAUD lagi? Dananya belum turun ya? Sing sabar wae toh…” Tiya membredel pertanyaan ke Pak Bambang.
“Bukan itu kok. Begini, langsung saja ya. Kemarin teman SMP saya namanya Satrio datang ke rumah saya. Dulu kita pernah satu pondok di Ponpes Al-Ihsan Purwokerto. Dia sedang S-2 di Unsoed jurusan Bahasa Inggris dan sekarang sedang tesis. Dia sebenarnya sudah ingin menikah, dia tidak bisa konsen melanjutkan tesisnya jika tidak menikah dulu. Karena dia memang sudah siap menikah. Dia menginginkan isteri seorang pendidik. Karena dia juga mempunyai yayasan di daerah Dieng. Dia ingin istrinya nanti juga bisa berjuang bersama di yayasan dia. Dia mempercayakan kepada saya untuk mencarikan jodohnya. Dia selama ini tidak pernah berani untuk menyatakan cinta kepada seorang perempuan. Dia sangat percaya pada saya bu. Saat itu saya bingung merekomendasikan siapa. Padahal masih banyak guru yang single dan juga seorang pendidik. Tapi yang kira-kira cocok adalah Bu Fatiya ini. Kalau ibu mau ta’aruf kita bisa ketemu dia di Mesjid Agung sekarang, siapa tahu cocok. Tadi saya sudah sms dia. Gimana bu?”
Pak Bambang memang menyangka Tiya masih sendiri sejak setahun lalu masuk ke Mts itu sampai saat ini. Tiya cukup apik menyimpan urusan pribadinya kepada teman-teman gurunya. Tiya berpikir sejenak tentang ajakan Pak Bambang. Jarang-jarang Tiya kenalan dengan orang yang sedang kuliah S-2. Siapa tahu bisa cocok dan kemudian menikah dengan Satrio.
“Iya deh pak, boleh. Tapi sebelumnya saya mau tanya dulu. Usianya berapa ya?” Tiya sedikit nyengir bertanya tentang usianya
“27 tahun”
“Oh begitu…sekarang pak jalannya?”
“Ok”
Mereka berdua menuju mesjid Agung. Pak Bambang dan Tiya masing-masing membawa motor. Sehingga saling beriringan menuju mesjid Agung.
Lima belas menit kemudian mereka tiba di Mesjid Agung. Satrio sudah sampai sepuluh menit yang lalu ketika di sms oleh pak Bambang. Satrio berkacamata, sehingga terlihat suka membaca. Tiya ketika bertemu dengan Satrio langsung suka dengan penampilannya. Seperti Lukman gumamnya. Lukman pun berkacamata. Tiya memang suka laki-laki berkacamata, terlihat lebih inteleknya.
Mereka pun berkenalan dan pembicaraan lebih di dominasi oleh Satrio. Seakan Satrio pun langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Tiya hanya menjawab seadanya ketika ditanya oleh Satrio. Pak Bambang berada di tengah mereka. Kadang Tiya bertanya kepada Satrio tapi hampir semua pertanyaannya telah dijelaskan oleh Satrio. Satrio begitu semangat hari itu.
Sudah hampir dua jam mereka berbincang-bincang. Tiya sedikit menjelaskan tentang dirinya kepada Satrio karena sebagian besar sudah diceritakan Pak Bambang. Adzan Zuhur pun berkumandang. Mereka sholat berjamaah di mesjid.
Setelah itu, Tiya izin pamit karena harus pulang. Alasannya anak-anak TPQ akan datang sebentar lagi. Dan di rumahnya pasti tidak ada siapa-siapa karena biasanya jam 12 siang mba Eni sudah pulang ke rumahnya di sebelah. Walaupun berada di sebelah rumah, ia tidak enak untuk meminta bantuan mba Eni lagi karena anak-anaknya pun sudah pulang. Satrio sebenarnya masih ingin berlama-lama di mesjid itu. Dan ingin segera mendapat jawaban Tiya bersediakah menjadi istrinya kelak. Satrio memang sudah merasa cocok dengan Tiya dari hasil cerita Pak Bambang dan setelah melihat wujudnya, Satrio langsung yakin bahwa pak Bambang tidak salah memilih Tiya untuk dikenalkan pada Satrio. Akhirnya Tiya bisa pulang juga. Walau agak alot menolak ajakan Satrio untuk berlama-lama dulu meneruskan pembicaraan di mesjid.
Tiya pulang dengan sedikit perasaan malas untuk bertemu kembali dengan Satrio. Tiya menyukai kepintaran Satrio. Tapi dia kurang suka dengan gaya bahasanya. Terlalu tinggi untuk Tiya. Dan tadi pun Satrio lebih mendominasi pembicaraan. Tiya menyukai laki-laki yang tawadhu’ namun tidak merasa tawadhu’. Satrio sekilas tampak sempurna dimata Tiya namun setelah bertukar pikiran, kurang cocok. Berbeda ketika ia bertemu dengan Rangga atau Lukman.
Tiya rasa sebaiknya tidak meneruskan hubungan dengan Satrio. Lagipula suasana hati belum stabil. Baru satu minggu ia putus dengan Anto. Walaupun diusahakan sedikit-sedikit melupakan Anto, namun perasaan trauma masih ada. Ia masih ingin menenangkan diri dulu. Walau ia juga terus berikhtiar.
Malamnya, Pak Bambang sms ke Tiya menanyakan bagaimana kesan pertama dia bertemu dengan Satrio. Tiya menceritakan apa adanya pada Pak Bambang dan sebaiknya Satrio tidak menunggu dia karena alasannya kurang cocok. Pak Bambang mencoba untuk menjelaskan kepada Tiya untuk menunggu beberapa hari dan beberapa pertemuan lagi setelah itu baru bisa diputuskan. Namun Tiya tidak setuju dengan saran Pak Bambang. Tiya tidak akan bisa jika melanjutkan hubungan dengan Satrio ke arah serius. Pak Bambang akhirnya mengerti. Tiya pun bernafas lega.
Menjadi artis
Di tempat lain. Rangga sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi acara temu penulis besok. Ia menemani Fikrul Ghifari yang menciptakan buku I’m Sorry Good Bye. Buku itu laris manis sampai telah dibuat film nya. Dugaan Rangga benar bahwa Fikrul akan menjadi seniman besar. Rangga bercita-cita seperti itu. Saat ini sedang ia persiapkan. Ia diminta oleh ketua umum FLP Indonesia Mba Helvy Tiana Rosa untuk menemani road show bersama Fikrul. Tugasnya di kantor ia titipkan pada timnya. Ia hanya pergi seminggu saja.
Ia sekamar dengan Fikrul malam itu di Hotel. Mereka bagai teman yang sudah lama tidak bertemu. Fikrul pernah satu rumah dengan Rangga ketika di Mesir. Tapi hanya dua tahun saja. Setelah itu Rangga selesai S-1 dan Fikrul masih harus menyelesaikan S-2 nya. Fikrul menelpon anak dan Istrinya di Sukabumi. Fikrul asli Sukabumi. Sementara itu Rangga membuka laptop usangnya. Ia memasang internet wairless di laptopnya. Ia ingin bercerita kepada Tiya. Kalau di sms, tidak akan puas batinnya. Rangga pun segera membuka Hp nya memberi tahu agar Tiya mengaktifkan komputernya dan memasang modemnya. Itu pun jika Tiya tidak sibuk, jika Tiya sibuk biasanya Rangga hanya menulis surat yang nantinya akan dibaca oleh Tiya.
“Dik, mas lagi buka Yahoo ni. Adik sibuk ga? Chat yuk jika tidak sibuk” Begitulah sms yang dikirimkan Rangga pada Tiya. Lima menit kemudian, Tiya menjawab.
“Maaf mas, komputernya sedang dipakai ayah. Jadi kemungkinan ndak bisa. Mas kirim surat saja ya. Pasti Tiya baca”
“Mau chatting sama siapa?” Tiba-tiba Fikrul yang tadi menelpon keluarganya duduk di samping Rangga. Mereka bagai kakak beradik. Usia Fikrul tiga puluhan.
“Adik” Jawab Rangga singkat
“Yang di Yogya?”
“Bukan… yang di Wonosobo”
“Oh…adik ketemu gede ya?” Fikrul menggoda Rangga. Rangga hanya tersenyum. Memang iya dalam hatinya. Tapi ah, cukup sebagai adik saja. Pikir Rangga selanjutnya.
Sebelum Rangga mengirimkan surat kepada Tiya, Hp Rangga berbunyi lagi. Sebuah sms datang. Rangga membukanya, ternyata dari Tiya.
“Oh iya mas, katanya mau ke Medan nemenin mas Fikrul ya? Kalau ketemu dia, tolong salamin ya. Aku juga suka karya-karyanya” Rangga tersenyum. Kemudian bicara kepada Fikrul yang sudah siap untuk tidur
“Mas, adikku Tiya nitip salam. Adikku yang diwonosobo. Katanya penggemar sampeyan juga”
“Wa’alaikum ‘alaihassalam” Jawab Fikrul. Kemudian Rangga sms balik ke Tiya.
Pupus
Lukman duduk di pojok Masjid Al-Asy’ariyyah. Dia sedang bingung memikirkan kata-kata Ibunya tadi siang di telpon. Kata Ibunya Rika sudah mempunyai pilihan lain. Dia tidak ingin dijodohkan dengan Lukman. Padahal Lukman sudah menunggu Rika selama dua tahun agar ia menyelesaikan kuliahnya dulu setelah itu mereka menikah.
Usia Lukman waktu itu masih 25 tahun. Ia mengatakan kepada Ibunya Hj. Aminah bahwa ia sudah ingin menikah. Tapi ia ingin Ibunya yang memilih jodoh untuknya. Karena ibunya kenal dengan Haji Rozak teman ayahnya Lukman, Haji Zaenal. Haji Rozak adalah teman Haji Zaenal ketika berada di Jakarta dulu. Mereka sama-sama berasal dari Pekalongan. Kemudian mereka mengadu nasib di Jakarta ketika usia mereka masih muda. Mereka baru lulus SMA. Mereka berguru kepada Kiai di Ponpes As-syafi’iyah. Mereka membantu memasak di dapur pesantren. Karena mereka memang tidak mempunyai uang. Mereka mau bekerja apa saja asal bisa belajar. Dari sana mereka akhirnya bisa membuka usaha sendiri. Haji Rozak membeli tanah di daerah Bekasi dan Haji Zaenal pulang ke Pekalongan dan mengembangkan usahanya di sana. Usahanya adalah usaha perikanan air tawar. Kemudian mereka menikah dan masing-masing mempunyai anak. Haji Zaenal Mempunyai Putra bernama Lukman dan Umar sedangkan Haji Rozak mempunyai tiga anak yaitu Rayhan, Rika, dan Ruslan.
Kini Haji Zaenal telah meninggal ketika usia Lukman sudah 23 tahun. Dia baru lulus dari UNSIQ. Ekonomi keluarga langsung di pegang oleh Lukman. Tentang perikanan, Lukman belum begitu ahli. Maka sekarang perikanan itu dipegang oleh adiknya Haji Zaenal yaitu pak Zaelani. Namun statusnya bagi hasil. Lukman pun yang pernah mengikuti pelatihan Koperasi langsung memasukkan usaha perikanan itu di bawah Koperasinya. Alhamdulillah usahanya tambah maju. Ibunya Lukman sangat bangga pada putranya itu. Haji Zaenal pernah berpesan sebelum meninggal kepada Hj. Aminah istrinya kalau bisa salah satu anaknya ada yang dinikahkan dengan anak Haji Rozak untuk mempererat tali silaturahim. Tapi itu tidak memaksa. Takutnya nanti tidak cocok. Itu hanya harapan Haji Zaenal saja. Syukur-syukur kalau di penuhi.
Haji Rozak senang sekali jika Rika mau menikah dengan Lukman. Lukman yang cerdas, kreatif, kaya pula. Jika Lukman ikut menjadi cover boy Indonesia wajahnya bisa termasuk nominasi. Hanya kekurangannya pada mata. Walau begitu, dia cukup bisa memakai model kacamata agar tidak terlihat seperti yang kekurangan penglihatan. Dia sudah Min dua. Lukman sering baca dari dulu. Tak heran jika sekarang min nya sudah dua.
Rika saat itu masih kuliah semester awal. Rika bilang kepada ayahnya belum siap jika harus menikah saat itu karena masih ingin meneruskan kuliah dulu. Kalau ia sudah semester tujuh atau delapan mungkin sudah siap untuk menikah. Lukman pun siap menunggu. Lagipula Lukman mulai dipercaya memegang Koperasi Pesantren Al-Asy’ariyyah sehingga bisa menabung lebih banyak untuk menikah.
Mereka bertemu kadang satu tahun hanya beberapa kali saja. Awal-awal mereka dijodohkan, Lukman sering bersilaturahmi ke Bekasi untuk menemui Haji Rozak dan keluarganya. Rika pun sudah menganggap bahwa kelak Lukman menjadi suaminya. Tahun pertama sangat mulus. Hanya di tahun ke dua. Setelah Rika mengikuti berbagai kegiatan di kampus, kemudian berkenalan dengan berbagai teman. Rika pun menjalin hubungan dengan teman kampusnya. Rika juga memiliki wajah anggun. Tak heran banyak yang menyukainya. Ia terkenal dengan pintar berbicara. Rika sengaja mengambil jurusan Publik Relation di Universitas Indonesia. Karena ia bercita-cita ingin menjadi presenter. Tubuhnya tinggi putih. Tutur bahasanya bagus.
Banyak teman Rika tidak memakai jilbab, tapi Rika tetap memakai jilbab. Ia sudah diajarkan ayahnya untuk memakai jilbab sejak duduk di tingkat SMP. Ayahnya memasukkan dia tinggal di pesantren Al-Masturiyah. Ketika SMA ia pindah ke Bekasi lagi. Dan meneruskan di SMU 8 Jakarta. Namun jilbab yang dipake Rika kini berbeda ketika ia sekolah di tingkat SMP dan SMA. Ketika SMA ia jarang untuk mengikat jilbabnya ke leher. Tapi ketika kuliah semester tiga, dia mulai coba-coba mengikat jilbabnya. Alasannya karena kini aktifitasnya lebih banyak sehingga ribet jika jilbabnya tidak simple. Pergaulannya sudah agak bebas.
Ayah dan Ibunya sudah sering berpesan agar hati-hati dalam pergaulan. Tapi Rika selalu menjelaskan “Ini kan tuntutan profesi aku mah, pah, lagian nanti aku yakin akan menjadi penyiar TV yang terkenal. Yang bangga pasti mamah papah juga kan?” Ayah Ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala. Rika memang dari kecil sering dimanja karena anak perempuan satu-satunya di keluarga itu.
Rika mempunyai kekasih teman se jurusannya. Mereka merasa cocok karena mempunyai kecocokan. Lukman sudah sering diabaikannya. Ketika Lukman datang ke Bekasi, Rika sering alasan mau pergi mengerjakan tugas. Lukman sama sekali tidak curiga. Lukman merasa senang kalau calon istrinya nanti adalah wanita yang aktif. Namun jika sudah menikah nanti harus terkontrol kesibukannya untuk tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.
Baru saja bulan lalu Lukman pulang dari Bekasi. Biasanya Lukman tidak pernah menginap di sana. Lukman sering memesan tiket pesawat pulang pergi. Kalaupun kemalaman di Bekasi, ia akan menginap di penginapan saja. Ia masih sungkan dengan keluarga Haji Rozak walau sudah sering bertemu. Sebulan lalu ia tidak bertemu dengan Rika. Katanya Rika sedang pelatihan presenter di Bandung. Padahal Lukman sudah memberitahu Rika akan datang dan bertanya apakah ia ada di rumah atau tidak. Jika tidak ada mungkin kedatangannya bisa di tunda. Rika waktu itu menjawab ada. Tapi ternyata Rika berangkat lebih awal sebelum Lukman datang.
Sejak saat itulah Rika sudah tidak tahan dengan perjodohan itu. Awalnya Rika menyukai Lukman. Tapi mungkin Rika lebih cocok dengan kekasihnya yang baru karena lebih nyambung jika berbicara. Pembicaraan Lukman lebih sering ke enterpreuner dan bisnis. Sedangkan Rika tidak begitu menyukai itu. Rika pun bicara kepada orangtuanya bahwa ia akan memutuskan hubungan dengan Lukman. Kedua orang tuanya kaget mendengar itu. Di bujuk bagaimanapun tetap saja Rika memilih kekasihnya yang baru. Akhirnya dengan sangat berat Haji Rozak memberitahu kepada Hj. Aminah. Ia sengaja tidak bilang kepada Lukman. Biarlah Ibunya yang memberitahunya.
Air mata Lukman menetes. Mesjid sudah gelap. Mesjid itu sengaja tidak di kunci. Karena banyak santri yang tertidur di sana karena habis belajar atau habis menghafal Al-Quran. Di Mesjid itu juga banyak yang melakukan I’tikaf. Lukman menyerahkan semua kepada Allah apa yang telah terjadi. Bagi Lukman Rika adalah istri impiannya. Selain fisik yang indah, Rika juga cerdas. Lukman berfikir jika mereka menikah, anak-anak mereka juga akan menjadi cerdas. Agamanya dapat diperoleh dari ayahnya, sedangkan ilmu dunianya didapatkan dari Ibunya. Itulah impian Lukman selama ini sebelum menikah dengan Rika. Lukman telah menutup hati bagi gadis lain. Walaupun banyak anak Kiai yang meminta dirinya untuk bersedia menjadi suami atau bahkan Kiai itu sendiri yang datang untuk meminta Lukman menjadi suami dari putri-putri mereka. Lukman dengan tegas mengatakan bahwa ia sudah mempunyai calon. Lukman sangat bangga dengan Rika. Tapi apa yang dilakukan Rika, ia menghianati Lukman. Tapi memang sudah begitu jalannya dan Lukman hanya bisa bersabar. Harapannya pupus sudah.
Kini Lukman menyerahkan semuanya pada Allah. Semoga Allah memberikan penggantinya yang lebih baik.
Tersenyum sendiri
Fatiya membuka sms nya. Ia baru selesai mandi. Sms itu dari Ibu Hera pengelola PAUD Asy-‘ariyyah katanya ingin meminjam proposal bantuan PAUD. Fatiya menjawab sms itu. Dan akan menemui di PAUD bu Hera.
Setelah mengajar di PAUD, Tiya menyalakan Mio nya. Ia akan menemui bu Hera di rumahnya. PAUD Asy-‘ariyyah dan rumah Bu Hera hanya berjarak seratus meter saja. Tadinya Tiya datang ke PAUD dulu. Tapi kata Bu Yuli bu Hera sudah ada di rumahnya. PAUD itu masih di bawah Yayasan Al-Asy‘ariyyah. Bu Hera masih keponakan dari salah satu putra Alm. KH. Muntaha Alhafidz. Entah Putra yang mana. Yang jelas masih keturunan dari pendiri Ponpes itu.
Mereka membicarakan seputar HIMPAUDI dan tentang ke PAUD-an. Bu Hera sudah berumur 30 tahun, namun ia masih belum dikaruniai anak. Kadang Bu Hera bercerita tentang masa muda nya sebelum nikah kepada Tiya. Tiya merasa senang jika ada yang percaya kepadanya dan mereka bercerita kepada Tiya hingga hal yang paling rahasia. Banyak dari yang bercerita kepadanya mengaku baru pertama kali cerita kepada Tiya. Itu artinya hanya Tiya yang tahu dan sangat dipercaya. Itu karena Tiya dinilai lebih banyak mendengarkan ketika ada yang berbicara dan lebih kalem ketika di ajak curhat.
“Jadi gimana ndok hubunganmu sama mas e?” Bu Hera bertanya tentang hubungan Tiya dengan Anto. Bu Hera dan Ibu Pengelola PAUD lainnya beserta tutor sudah tahu kalau Tiya sudah akan menikah dengan guru SMAN I Mojo Tengah itu, yaitu Anto. Karena tiga bulan lalu HIMPAUDI Kecamatan Mojo Tengah sudah mengadakan acara gebyar HIMPAUDI diantaranya lomba-lomba untuk anak-anak Usia Dini. Anto menjadi juri hafalan doa dan surat pendek. Itu pun atas keputusan bersama. Dari sana, hubungan Tiya dengan Anto diketahui oleh anggota HIMPAUDI lainnya. Termasuk bu Hera.
“Anu bu… saya… sudah ndak hubungan lagi sama mas Anto” Tiya menjawab pertanyaan Bu Hera. Sedih
“Serius kamu? Kenapa? Kok bisa?” Kadang Bu Hera memanggil Tiya dengan Ibu. Tapi kadang di luar pembicaraan organisasi Bu Hera memanggil dengan ndok, kamu atau adek.
“Iya bu, kejadiannya baru aja minggu lalu. Mas Anto ga siap menikah” Tiya kini terlihat tegar menceritakan semuanya pada Bu Hera yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri.
Setelah selesai urusannya. Tiya pamit pulang. Sebelumnya ia ingin mampir dulu ke warung Mbok Darmi.Warung itu sudah lama berdiri sejak dulu mbok Darmi masih gadis. Sekarang Mbok Darmi sudah punya cucu lima. Sekarang mungkin sudah di pegang sama Mba Siwi anaknya yang nomer dua. Warung itu terletak di samping Koperasi Ponpes Al-Asy‘ariyyah. Tiya ingin membeli Nasi Megono yang terbuat dari nasi dicampur dengan sayur-sayuran dan kelapa, dia juga mau membeli gorengannya sekalian, dia paling suka membeli gembos atau ampas tahu yang di goreng dengan terigu, dan Rolado yaitu daun singkong yang telah direbus kemudian dibuat bulat-bulat seperti bola kemudian digoreng bersama telur yang dikocok. Makanan itu menjadi makanan favoritnya bersama teman-temannya dulu ketika masih sekolah di SMP Takhasus Al-Quran.
Tiya pernah mencoba membuat semua makanan tadi di rumah bersama Ibu dan Yasmin. Tapi rasanya kurang enak dan pas. Makanya ia akan membeli banyak makanan itu, karena ia sudah lama ngidam makanan itu. Pastinya orang rumah pun suka makanan tradisional Wonosobo itu.
Pulangnya Tiya mampir ke Koperasi pesantren. Ada yang harus ia beli lagi, yaitu opak. Opak ini juga salah satu makanan ciri khas dari Kalibeber berasal dari singkong di haluskan. Opak di sini berbeda dengan kota lain. Warnanya putih dan rasanya khas sekali. Penduduk Desa Kalibeber hampir semua bisa membuat opak ini. Opak ini adalah oleh-oleh terbanyak yang diborong oleh keluarga santri yang datang menengok atau santri yang akan pulang pasti membawa oleh-oleh ini. Termasuk Tiya, dia akan membeli banyak. Untuk tambahan isi koperasinya.
Ketika masuk, Tiya langsung bertemu dengan Lukman. Kebetulan Lukman sedang mengontrol Koperasi Al-Asy‘ariyyah itu. Mereka langsung saling sapa sebentar. Kemudian Tiya langsung mengambil Opak dan dengan cepat balik lagi ke kasir. Tiya mengajak Lukman berbicara tentang koperasinya di yayasannya. Tiya meminta link dari Lukman untuk distribusi opak ini di koperasinya. Dengan senang hati Lukman menyanggupinya. Selanjutnya mereka meneruskan bisnis mereka lewat Hp saja. Karena Tiya harus buru-buru pulang. Tiya sakit perut belum makan. Dan segera ingin makan nasi megono nya.
Lukman memperhatikan Tiya ketika keluar dari Koperasi. Wajah ceria Tiya membuat Lukman juga cerah. Walau kemarin dia baru saja bersedih. Lukman berpikir, gadis menarik itu pasti sebentar lagi akan menikah. Andai saja belum, pasti dia akan melamarnya. Pikirnya begitu. Karena Tiya termasuk gadis berbeda dengan purtri Kiai lainnya. Tiya ini selalu terlihat ceria dan energik. Tiya pun terlihat cerdas. Dari gaya bicaranya sudah terlihat kalau dia cerdas. Lukman suka kepribadiannya.
Tiya pun berpikiran sama. Lukman selalu terlihat menarik. Tak beda ketika ia bertemu untuk pertama kalinya. Dia berpikir andai saja Lukman belum akan menikah, dan mau dengannya, Tiya tidak akan menolak lagi. Karena Lukman termasuk tipe suami idaman Tiya. Seperti Anto, tapi Lukman lebih banyak. Tiya mengendarai motor sambil tersenyum-senyum sendiri. Untung saja dia memakai helm, jadi tidak terlihat orang-orang dijalan kalau ia senyum-senyum sendiri.
“Aduh…ma’e…perutku terus berbunyi je’ ” Tiya menyeringai menahan perutnya. Tiya tahu kalau Lukman akan segera menikah. Cerita itu ia dapat dari Bu Hera. Karena suami Bu hera adalah karyawan koperasi Al-Asy‘ariyyah. Kabarnya pernikahannya akan dilangsungkan sekitar dua bulan lagi. Seluruh karyawan koperasi itu sudah mengetahui bahwa bos mereka akan mengakhiri masa lajangnya. “Hhhh… Tiya, Tiya. Mbok yao sadar… Mas Lukman itu mau nikah. Pastinya calon istrinya cantik, putih, tinggi. Beda dengan kamu, udah item, kurus, ga tinggi-tinggi amat. Eh tapi yakin kok, akan ada yang datang menjemputku dengan segenap cintanya. Ciee…” Tiya masih saja berkhayal.
Malamnya, Tiya membuka emailnya. Surat dari Rangga belum dibacanya.
“Assalamualaikum dik, Semoga sehat ya. Mas bagaikan artis lho di sana. Walau sebenarnya yang artis bukanlah mas. Tapi karena Mas Fikrul duduknya ga jauh dari mas, jadi serasa ikut kecipratan deh. Hehe. Eh iya dik, dapet salam dari mas Fikrul juga. Gimana PAUDnya? TPQ nya? Koperasinya? Semoga lancar ya. Kemarin mas baru lihat foto-foto kegiatan Pancawarna di friendster adik. Alhamdulillah kayaknya ada kemajuan ya dik. Mas doakan agar adik bisa bertahan memperjuangkan semuanya. Amiin”
Kemudian Tiya me Reply membalas surat dari Rangga.
“Wa’alaikum salam. Alhamdulillah apik mas. Gimana dengan mas Rangga? Hati-hati jangan sampe kecape’an yo. Perute ojo di kosongi. Tiya bangga lho mas jadi adik mas. Apalagi bisa nitip salam langsung sama mas Fikrul. Alhamdulillah semua lancar mas. Hati Tiya juga insyaAllah udah ndak sedih-sedih amat. Maaf. Surat kemarin baru bisa di balas sekarang. Ya sudah. Semoga hidup kita semua selalu diberkahi Allah. Amiin”
Kemudian Tiya mengirim surat ke Tio. Tiya menceritakan pertemuannya dengan Lukman. Saat ini, Tiya hanya ingin bercerita tentang Lukman ke Tio daripada ke Rangga. Tiya berpikir mungkin kalau cerita ke Rangga kalau sudah menemukan calon yang pas saja. Kalau sebulan lagi mau menikah, kalau sudah mantap.
***
“Malam ahad nih! Kepengen banget mas Anto datang ke rumah malam ahad seperti cowok yang laen ngapeli kekasihnya” Tiya merenung di dalam kamarnya sambil membaca buku karangan Fikrul yang baru judulnya I have to found You-God Lanjutan buku I am sorry good bye. Anto tidak pernah apel setiap malam ahad. Ia biasa datang ketika hari ahadnya. Tiya suka hal romantis tapi selama itu Anto tidak pernah mengerti. Tiya menarik nafas dan meneruskan bacaannya.
“Tiya, besok kita ziarah ke ndero ya” Tiba-tiba ayahnya masuk kamar Tiya yang memang tidak di tutup itu
“Nggeh” Tiya menjawab singkat. Ndero adalah makamnya pendiri pesantren Al-Asy’Ariyyah. Para santri terbiasa ziarah dengan berjalan kaki. Jauhnya dari desa Kalibeber yaitu sekitar delapan kilometer. Dulu sewaktu Tiya masih SMP Takhasus Al-Quran, sering berjalan ke sana bersama teman-teman dan guru-guru di sana. Dulu jalannya masih koral dan banyak batunya. Sekarang sudah halus oleh aspal. Ayah Tiya juga pernah menjadi santri di sana. Makanya sering sebulan sekali mengunjungi makam itu.
“Buku apa ndok?” Tanya ayahnya lagi sambil melihat buku-buku di rak Tiya. “I have to found You-God” Karya Fikrul Ghifari yang kedua yah. “Oh yang buku pertamanya sudah di buat film itu ya?” Ayahnya bertanya “Iya” Tiya melihat sekilas wajah ayahnya. Ada guratan usia dan rasa lelah ditampakkan namun ayah tetap tersenyum. Ayah merasa bangga memiliki putra putri yang kini sudah berhasil. Tiya yang dulu bisa dikatakan lemah dalam sekolahnya. Nilai pelajaran di sekolahnya tidak pernah memuaskan. Hal itu karena ia dimasukkan satu tahun lebih awal dari teman-temannya. Tapi sejak SMA, Tiya sering di ajak oleh ayahnya ke toko buku agar menyukai baca. Hasilnya, Tiya selalu menjadi juara dan kini bisa menjadi penerus cita-citanya. Sejak dulu H. Muhammad Rahman menginginkan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan Tiya lah yang bisa meneruskannya.
Kalau Tio memang bisa dikatakan berotak encer sejak sekolah dulu. Walau Tio secara tidak langsung terjun membantu yayasan. Sebulan sekali ia mengirimkan uang ke rekening Tiya untuk kemajuan yayasan. Ia sangat mendukung adiknya untuk sabar dalam membangun yayasan itu.
Siapa jodohnya?
Perjalanan Tiya mencari seorang suami bisa dikatakan unik. Banyak yang datang kepadanya tapi tidak satu orang pun yang lolos seleksi. Kebanyakan yang serius dengannya sudah mapan dan berpendidikan sama bahkan lebih dari Tiya. Namun hati Tiya belum ada yang cocok. Mulai dari Satrio, kemudian ada guru MTs yang juga menyukai Tiya namanya Pak Nanang. Tapi satu sekolah tidak setuju kalau Tiya dengan dia. Pak Nanang terkenal dengan julukan playboy nya. Tiya sudah tahu, tapi dia menolak dengan halus, sehingga Pak Nanang tidak merasa sakit hati.
Ada lagi yang tiba-tiba berkenalan di toko buku. Mengaku masih bujangan. Namanya Selamet Tapi tampangnya sudah seperti kepala empat. Katanya sedang mencari calon istri. Tiya diajak kenalan bersama Dewi. Dewi yang mengetahui temannya sedang diincar selalu menggoda kalau jadi sama Mas Selamet nanti hidupnya bakal tenang terus. Tiya yang kesal mencubit pinggang Dewi. Kemudian Tiya buru-buru pergi dari toko buku itu.
“Ada-ada saja tuh orang. Udah gila kali ya? Dewi, kamu tuh tadi bukannya nolongin aku tadi” Tiya bersungut
“Waduuuh yang digodain cowok…” Dewi senang menggoda Tiya
“Wis ah koe meneng wae” Tiya berbicara agak kasar ke Dewi
“Eh kita mampir dulu di baso kasti ini yok. Katanya enak lho” Dewi menggandeng tangan sahabatnya itu tanpa memperdulikan Tiya setuju atau tidak. Tiya sengaja menyimpan motornya di parkiran umum. Kemudian mereka berjalan-jalan menyusuri Kota Wonosobo tanpa menggunakan motor. Dewi minta di temani untuk mencari buku masak. Sebentar lagi dia akan menikah. Makanya harus bisa memasak untuk bisa membahagiakan suami. Tiya yang sebenarnya juga tidak bisa memasak, akhirnya mau juga membeli satu buku masakan.
“Ti, aku rasa kamu tuh jodohnya sama Mas Rangga deh” Dewi kembali membuka pembicaraan setelah memesan dua mangkuk baso dan dua es teh manis.
“Hus! Dia udah punya pilihan lain” Tiya meminum es teh manis yang sudah datang duluan
“Kata siapa? Emang kamu tahu siapa pilihannya?” Dewi pun menyeruput es teh manisnya
“Katanya temen se kantornya. Waktu itu aku pernah tanya sama dia, kapan menikah. Trus udah punya calon belum? Trus dia jawab begitu”
“Jealous dong?”
“Sedikit… tapi ga lagi. Biarkan dia bahagia juga” Pesanan baso mereka sudah datang. Mereka menambah bumbu ke dalam baso mereka. Kemudian makan
“Tapi apa bener dia udah punya? Apa hanya karangan dia saja? Dia kan penulis. Bisa saja gadis itu hanya visualisasi dari impiannya saja. Yang sampai saat ini masih fiktif” Dewi menghentikan makannya sejenak
“Ngarang kamu. Rangga tuh ga pernah bohong sama aku. Makanya aku percaya. Udah makan lagi ah. Nanti keburu dingin”
Selagi makan Tiya teringat akan perkataannya Dewi. Ah dewi bisa saja. Pikirnya begitu.
Bertemu calon mertua
Tiga bulan sudah sejak perpisahan Tiya dengan Anto. Tak ada kabar lagi tentang Anto. Usaha Tiya mencari calon suami pun belum menumbuhkan hasil. Orang tuanya pun sudah berusaha mencarikan. Tetapi belum juga ada yang cocok di hati Tiya. Hingga suatu hari ayahnya berniat berkunjung ke Ponpes Al-Asy’ariyyah. Ayahnya minta petunjuk untuk jodoh putrinya itu di sana. Walau masih muda, ayah dan ibunya Tiya setuju jika Tiya menikah. Karena ayahnya tahu Tiya saat ini sedang berjuang untuk yayasannya seorang diri. Ayahnya ingin kelak suaminya menemani putrinya membangun yayasan. Lagipula selain itu menikah adalah sunnah rosul. Dan H. Muhammad Rahman tidak ingin keburu meninggal sebelum menikahkan putrinya itu.
Kebetulan di Kampus sedang libur semester. Haji Muhammad lebih sering berada di rumah meneruskan yayasan. H. Muhammad datang ke Mesjid Al-Asy’ariyyah setelah asar. Beliau niatnya akan melakukan itikaf di masjid meminta petunjuk dan berdoa. Kebetulan malam itu adalah malam jumat. Setelah sholat Isya, para santri akan melaksanakan Muhadhoroh bersama di aula masjid. H. Muhammad masih berdiam diri di dalam masjid karena santri belum banyak yang datang. Tak lama kemudian. Sattir dipasang untuk membatasi antara santri putra dan putri. Santri pun mulai berdatangan.
Muhadhoroh di pesantren itu yaitu dengan membacakan solawat nabi dibacakan dengan dilagukan sehingga terdengar indah. Setelah Muhadhoroh, biasanya diadakan pentas kreasi anak-anak santri. Dilakukan secara bergantian antara tingkatan. Dimulai dari tingkatan Uula, Wustho dan Ukhro baik santri putra dan putri biasanya bergabung. Mereka mementaskan sholawatan dengan di iringi rebana, pidato tiga bahasa yaitu bahasa Arab, Inggris dan Indonesia. Dan kreasi lainnya.
Kebetulan malam itu, yang membuka acara kreasi santri adalah Lukman dengan membacakan surat Ruum ayatnya yang berisi tentang pernikahan. Lukman begitu menghayati isi Al-Quran itu. Hingga saat ini dia belum juga menemukan calon istri yang cocok baginya. Di dalam masjid, H. Muhammad mendengar bacaan Lukman sangat jelas dan indah di dengar. Terdengar sangat menghayati dalam membacanya. H. Muhammad berniat akan berkenalan dengan Lukman setelah ia turun dari mimbar. H. Muhammad dan Lukman memang tidak pernah bertemu dan tidak pernah mengenal satu sama lain. Tiya tidak pernah cerita tentang Lukman. Lagipula Lukman belum pernah mengunjungi rumah Tiya dan koperasi Tiya. Walau mereka sering berkomunikasi tentang koperasi.
Setelah selesai membacakan ayat suci Al-Quran itu, Lukman turun dari mimbar dan kembali ke Koperasinya yang terletak tak jauh dari Masjid. Ia diminta oleh santri Ukhro untuk berdiri mengganti santri yang berhalangan hadir. Lagipula yang meminta adalah teman-temannya dulu. Dengan senang hati Lukman menerima tawarannya.
Begitu sampai di Koperasinya. H. Muhammad yang dari tadi memperhatikan Lukman masuk juga ke dalam Koperasi. Kebetulan Lukman akan menggantikan tugas Pak Khaidar suaminya Bu Hera sebagai kasir.
“Assalamualaikum” H. Muhammad masuk
“Wa’alaikum salam warhamatullah. Silakan pak” Sapa Lukman ramah
“Boleh saya duduk di sini nak?” Tanya H. Muhammad setelah berjalan masuk ke dalam. Memang selalu tersedia kursi di dekat kasir sebanyak dua buah, tapi tidak menghalangi orang yang akan melakukan pembayaran. Kursi itu disediakan dekat tempat kerjanya direktur utama alias tempat kerjanya Lukman sebagai ketua koperasi. Di sana tempat bertanya anggota koperasi yang baru atau sekedar berkonsultasi.
“Oh silakan pak” Lukman mengganti tempat duduknya. Yang semula sudah duduk di tempat kasir, kini duduk di tempat kerjanya. Lukman memanggil Deni karyawannya agar menggantinya sebentar.
“Ada yang bisa saya bantu pak?” Tanya Lukman
“Begini nak, kenalkan saya Muhammad, saya tadi sangat tersentuh ayat-ayat yang telah dibacakan oleh…maaf nak siapa?” H. Muhammad sengaja tidak menyebutkan namanya dengan Haji. Beliau terkenal dengan sikap Tawadhu’nya. Makanya Tiya sangat ingin memiliki calon suami yang sama seperti ayahnya. Ayahnya adalah contoh yang baik bagi Tiya.
“Saya Lukman pak Haji” Lukman memperkenalkan diri
“Lho, dari mana nak Lukman tahu kalau saya sudah Haji? Tidak baik memanggil secara berlebihan” Haji Muhammad mengelak
“Maaf kalau begitu pak haji. Tapi saya rasa pak haji memang sudah haji kan?” Lukman tetap ngeyel
“Sudahlah, haji atau bukan haji tidak terlalu penting bagi saya. Yang penting adalah tingkat ketakwaannya saja. Setuju?” Haji Muhammad mengakhiri perdebatan kecil itu
“Tapi ndak apa-apa toh kalo saya memanggil pak haji? Sebagai rasa hormat saya?”
“Silakan nak. Enaknya saja” Haji Muhammad tersenyum. Lukman pun tersenyum balik
“Maksud kedatangan saya sebenarnya adalah ingin menanyakan kepada nak Lukman, apakah sudah menikah atau belum?” Haji Muhammad menatap Lukman
“Belum pak Haji” Jawab Lukman singkat
“Alhamdulillah. Kebetulan saya mempunyai seorang putri. Dia juga belum menikah. Mungkin suatu hari nak Lukman bisa berkunjung ke rumah kami untuk bersilaturahmi dan bertemu dengan putri saya” Haji Muhammad mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkan kepada Lukman
“Terimakasih pak haji. InsyaAllah saya akan datang” Lukman menerima kartu nama itu
Kemudian Haji Muhammad pamit pulang karena sudah malam dan gerimis mulai turun. Lukman mengantar hingga tempat parkir mobil.
Lukman tersenyum sendiri. Bukan kali pertama ia ditawari putri seorang haji atau seorang bapak. Dia selalu datang, namun hanya sekedar silaturahmi. Untuk kelanjutan dengan para gadis itu Lukman mengelak dengan cara yang tidak menyakitkan para kaum hawa itu. Kalau pun mereka datang bersama putrinya, Lukman mengelak untuk berta’aruf lebih lanjut. Feeling Lukman sangat tajam. Ia tidak mau coba-coba untuk gadis lain. Ia sangat selektif dalam memilih pasangan. Hal itu karena ia ingin mendapat istri yang bisa menurunkan anak yang soleh dan berkualitas.
“Ya Allah ampuni hamba jika hamba sombong. Hamba hanya ingin Engkau memberikan yang terbaik untuk hamba. Hamba pun tidak ingin tergesa-gesa” Doa Lukman setiap ada gadis yang datang. Kali itu Lukman berjanji dalam hatinya akan datang ke rumah Haji Muhammad. Lukman terkesan dengan sikap yang ditunjukan oleh haji Muhammad. Lukman berpikir pasti putrinya sopan seperti ayahnya.
***
Jam sepuluh pagi, Lukman memanaskan motor bebeknya. Ia akan berkunjung ke rumah Haji Muhammad. Lukman membawa oleh-oleh opak. Ia masukkan ke dalam plastik putih milik koperasi. Sepuluh menit kemudian ia pergi menuju tempat tujuan. Tujuh belas menit kemudian Lukman sampai di rumah haji Muhammad. Lukman bergumam kalau rumah Haji Muhammad sangat asri. Banyak tanaman hias di pekarangannya. Di pojok rumah ada kolam ikan kecil. Air mancur terdapat di tengah-tengahnya. Lukman membuka helmnya dan memasuki teras rumah.
“Assalamualaikum” Lukman mengetuk pintu. Kebetulan hari itu hari sabtu. Semua keluarga haji Muhammad ada di rumah, kecuali Alif dan Yasmin yang sekolah. Tiya memang tidak ada jadual mengajar baik di MTs dan di PAUD. Karena PAUD hanya lima hari saja dan di Mts jadualnya hanya kamis dan jumat saja. Tio baru datang tadi pagi dari Jakarta, ia mengambil perjalanan malam menuju Wonosobo. Kontrak kerjanya sudah habis. Tapi dia sebulan lagi akan di panggil lagi sebagai karyawan tetap.
“Wa’alaikum salam waraohmatullah” Tio menjawab dan membukakan pintu
“Haji Muhammad ada?” Tanya Lukman pada Tio.
“Oh ada, silakan duduk” Tio mempersilakan Lukman untuk duduk di kursi teras. Sementara Tio masuk memanggil Haji Muhammad, Lukman tidak langsung duduk, ia melihat-lihat kelas PAUD yang terletak di samping teras rumah. Ia melihat permainan yang ada di PAUD itu dari kaca. Kemudian ia melihat Koperasi Pancawarna yang terletak beberapa meter di dekat kelas PAUD itu. Lukman tercengang, seperti Koperasi milik Fatiya pikirnya. Ah mungkin saja sama pikirnya lagi.
“Nak Lukman, silakan duduk” Haji Muhammad membuyarkan lamunan Lukman. Beliau keluar bersama Bu Safinah.
“Maturnuwun pak haji, Bu” Lukman kini duduk di hadapan Haji Muhammad dan Bu Safinah duduk di samping beliau. Mereka berbincang-bincang seputar kegiatan sehari-hari Lukman. Lukman pun merasa tertarik dengan profesi Haji Muhammad sebagai tenaga pendidik. Tak lama kemudian Tiya muncul membawakan air teh hangat untuk keduanya. Haji Muhammad sengaja tadi di dalam rumah menyuruh Tiya untuk membuat teh dan membawakan ke teras untuk tamunya. Tiya tidak diberitahu sebelumnya siapa tamu ayahnya itu.
Lukman terus memperhatikan wajah Haji Muhammad ketika Tiya menyerahkan gelas. Lukman hanya sekilas memandang jari Tiya. Kuning langsat. Kulit Tiya sudah tidak hitam lagi seperti dulu. Sejak putus dengan Anto, Tiya rajin mempercantik diri. Dengan facial, bahkan sampai mandi susu. Hasilnya kulitnya kini sudah mulai cerah. Tujuan Tiya bukan karena ingin menggoda laki-laki lain agar menyukai dia. Lagipula setiap hari Tiya memakai helm, jadi tidak bergitu terlihat orang banyak. Kalaupun di sekolah, Kebetulan hari kamis dan jumat semua guru laki-lakinya sudah menikah semua dan sisanya guru perempuan. Tiya mempercantik diri untuk mempersiapkan untuk suaminya nanti. Ia ingat pesan ibunya kalau nanti berdandan niatkan untuk suami. InsyaAllah kamu cepet jodohnya. Entah itu mitos atau perasaan Ibu Safinah saja yang merasakan jodoh Tiya tidak akan lama lagi. Dengan senang hati Tiya melaksanakan saran Ibunya itu. Tiya niat karena ingin mengabdi kepada Allah dan suaminya.
“Tiya, duduk sebentar sini sama bapak dan ibu” Haji Lukman menyuruh putrinya duduk dulu disamping. Lukman langsung kaget mendengar nama Tiya di sebut. Kemudian Lukman melihat Tiya yang telah duduk di samping Haji Muhammad. Lukman melihat Tiya tampak lebih segar. Tiya memakai kerudung biru tuanya. Wajahnya tampak terlihat lebih putih dan bersih. Tiya kaget pula, kemudian menyapa Lukman.
“Mas Lukman?” Sapa Tiya
“De’ Fatiya!” Sapa Lukman pula.
“Wah rupanya sudah saling kenal ya?” Bu Safinah mulai berbicara
“Wah Tiya kenal banget sama mas Lukman ini. Dia kan yang bantu Tiya untuk koperasi kita ini” Tiya menjelaskan pertemanan dengan Lukman. Akhirnya mereka berempat saling berbicara akrab sekali. Tio yang penasaran dengan suasana di luar ikut nimbrung dengan mereka. Mereka asyik berbicara hingga Zuhur tiba. Dan Haji Muhammad meminta Lukman untuk sholat berjamaah bersama setelah itu makan siang bersama. Walau agak sungkan dengan keluarga Haji Muhammad, tapi akhirnya mau juga karena Haji Muhammad sudah memintanya berkali-kali.
Setelah makan, Lukman pamit pulang. Semua keluarga Haji Muhammad mengantar hingga luar. Oleh-oleh opak sudah diterima dari tadi. Tiya yang menerimanya. Pertemuan tadi membicarakan tentang perjodohan antara Lukman dan Tiya. Mereka ditanya malu-malu. Baik Lukman dan Tiya. Tiya lebih banyak diam ketika Haji Muhammad menggoda tentang Lukman kepada putrinya itu. Sementara Lukman tampak malu-malu kucing juga. Lukman terlihat sangat bahagia siang itu. Lukman berkata kepada Haji Muhammad untuk memberi jawaban setelah tiga hari. Dia ingin istikhoroh dulu dan meminta izin kepada ibunya. Semoga jawaban Allah untuk jodohnya adalah Tiya. Karena sudah lama Lukman berharap dengan Tiya hanya saja dugaannya selama ini melemahkan keinginannya.
Sepulang Lukman pergi meninggalkan rumah Fatiya, Lukman langsung sujud syukur lagi di kontrakannya sebelah pesantren. Ia berdoa kembali, semoga Tiya lah jodohnya. Begitu pula yang dilakukan Fatiya. Fatiya berdoa juga semoga Lukman lah jodohnya. Haji Muhammad dan Bu Safinah tersenyum bahagia melihat putrinya juga terlihat bahagia hari ini. Tio pun merasa bahagia dia yakin adiknya itu sebentar lagi akan menikah. Ia jadi ingat pesannya dulu kepada Tiya setelah lulus dari UIN Malang bahwa seharusnya Tiya pulang ke rumah bantu ayah untuk membangun yayasan, kemudian menikah sama ustadz. Akhirnya sebentar lagi akan kesampaian. “Semoga mereka berjodoh” Doa Tio lirih.
Puisi terindah
Keluarga Lukman datang dua hari sebelum pernikahan di mulai. Setelah tiga hari sejak kedatangan Lukman ke rumah Haji Muhammad, Lukman memberitahu kalau keluarganya akan datang hari ahad depan. Secepat itu Lukman memberitahu Ibunya dan Ibunya juga ingin segera agar Lukman menikah. Kemudian pertemuan dua keluarga itu telah disepakati bahwa pernikahan dilaksanakan dua minggu kemudian. Bukan terburu-buru, mereka sebenarnya sudah saling mengenal hanya saja belum bisa saling terbuka antara satu sama lain. Dan ketika sudah ada jalannya, mereka pun tidak ingin di lama-lama kan.
Keluarga Lukman menginap di kontrakan rumah Lukman. Mereka membawa persiapan pernikahan. Mulai dari ikan mas yang akan diserahkan kepada keluarga Tiya untuk di pepes hingga semua baju dan aksesoris pernikahan, keluarga Lukman yang mempersiapkan. Keluarga Tiya hanya membantu sedikit. Hj. Aminah begitu bersemangat kalau putranya kini akan menikah. Hj. Aminah menemukan kebahagiaan lagi di wajah putranya.
Lukman Al-Hakim yang sebentar lagi akan melaksanakan pernikahannya bersama Fatiya Nurrahman sedang berdiam diri di masjid pesantren. Disaat semuanya sibuk, dia malah duduk di dekat mimbar. Dia melatih dirinya untuk menghafalkan ijab qobul nanti. Ia tidak mau kalau harus mengulang. Ia terus melakukan sholat dan meminta agar pernikahannya tidak di tunda lagi atau sampai tidak jadi.
Begitupun dengan Tiya. Ia cukup nervous menghadapi hari pernikahan yang tinggal dua hari itu. Ia lupa memberi tahu kepada Rangga. Dan ketika ia sadar, ia langsung menelpon Rangga.
“Assalamualaikum” Sapa Tiya ketika Rangga sudah mengangkat
“Wa’alaikum salam dik… Apa kabar?” Sapa Rangga
“Alhamdulillah baik mas, mas sendiri?” Tanya Tiya masih berbasa basi
“Ada apa nih dik? Kayaknya suaranya lagi seneng betul?”
“Iya nih mas. Tiya mau minta maaf”
“Kok malah minta maaf?” Rangga heran
“Tiya mau minta maaf kalau baru memberi tahu mas kalau insyaAllah lusa Tiya menikah…” Tiya menjelaskan
Rangga diam sejenak. Kemudian menjawab
“Alhamdulillah. Mas ikut seneng dik. InsyaAllah mas datang” Rangga terkesan buru-buru. Karena memang dia sedang mengerjar dead line edit an artikel untuk di muat di koran.
“Alhamdulillah juga kalau begitu. Fatiya tunggu ya mas. Ajak Mba Karin juga. Hehe. Sudah dulu ya mas. Wassalamualaikum” Tiya langsung menutup telponnya. Karin adalah gadis yang diceritakan Rangga waktu Tiya bertanya sedang dekat dengan siapa selain dengan Tiya. Karin itu gadis yang dianggap Dewi gadis fiktif dan misterius. Tapi Tiya yakin, Rangga tidak bohong tentang keberadaan Karin.
***
Jam tiga pagi Tiya sudah bangun. Ia harus bersiap-siap untuk di dandani, luluran dan sebagainya. Semua orang di rumah Tiya sudah bangun semua, kecuali si kecil Yasmin. Beberapa keluarga Ibunya dari Purwokerto bersama Mbahnya datang satu hari yang lalu. Sedangkan keluarga ayahnya memang berasal dari Wonosobo sehingga mereka jauh hari sudah membantu persiapan pernikahan Fatiya.
Tiya sholat Tahajud sendiri kemudian bersama keluarganya dipimpin Haji Muhammad sholat subuh berjamaah. Setelah itu Fatiya di luluri sebelum mandi agar kulitnya halus. Udara Wonosobo kala subuh sangat dingin sekali. Berkali-kali Tiya bersin-bersin menahan dingin, karena ia diluluri hanya memakai selembar kain saja.
Tiga puluh menit kemudian Tiya mandi, setelah itu baru didandani. Pelaminan dan tempat untuk melaksanakan akad nikah sudah di pasangi kain putih. Tiya memang meminta agar nuansa pernikahannya putih. Baju yang dikenakan pun serba putih. Jam tujuh pagi keluarga Lukman dan Lukman sudah datang ke calon mempelai istri. Hati Tiya dan Lukman berdegup kencang. Kemudian Lukman duduk di depan penghulu. Fatiya menunggu di dalam. Lukman sangat lancar membacakan ijab qobulnya. Setelah ijab qobul, Fatiya keluar untuk mencium tangan Lukman yang sudah menjadi suaminya itu.
Lukman pun mencium kening Fatiya yang sudah menjadi istrinya. Suasana haru dan bahagia menyelimuti seluruh ruangan. Tak terkecuali dengan Rangga yang datang bersamaan dengan rombongan Lukman. Dia memakai Bis malam dari Jakarta. Fatiya meneteskan air mata ketika keningnya dikecup oleh Lukman. Mereka sudah sah menjadi suami istri. Merekapun menyalami ayah ibu dan keluarganya yang hadir pada acara akad nikah itu.
Semua undangan baik dari pesantren hingga guru-guru di MTsN Kalibeber berdatangan. Murid-murid tampak ramai dan mempersembahkan lagu marawis yang selalu dibawakan oleh Rendra.
Ketika Rangga menyalami Tiya dan Lukman, Fatiya memperkenalkan Rangga pada Lukman bahwa Rangga adalah penulis hebat dan adalah masnya setelah Tio. Lukman yang ramah langsung menerima pelukan Rangga. Rangga berbisik pada Lukman untuk selalu membuat bahagia Fatiya. Lukman pun mengangguk. Tiya bertanya pada Rangga mengapa tidak mengajak Karin. Jawaban Rangga adalah “Karin masih dalam hayalku saja dik” Rangga tersenyum. Fatiya tidak percaya dan tetap tidak percaya.
Satu hari menjadi Raja dan Ratu telah dilewati kedua insan itu. Kamar pengantin telah di sediakan untuk mereka berdua. Kamar itu nuansanya biru. Fatiya ingin mulai dari kasur hingga kelambunya berwarna biru. Fatiya masuk duluan ke kamar diikuti Lukman. Mereka bingung akan melakukan apa. Kemudian Fatiya membuka jilbabnya dihadapan Lukman.
“Kau tampak cantik de’” Puji Lukman. Tiya hanya tersenyum kemudian menyisir rambutnya. Lukman masih duduk di kasur. Kemudian Fatiya menyerahkan puisi kepada Lukman yang telah ia buat tiga bulan lalu. Ia persiapkan untuk suaminya kelak dan dibaca ketika malam pertama.
Setelah ijab qobul mengesahkan semuanya, semua telah di ikat dengan ikatan suci. Janji yang diucap selayaknya dijaga…
Suamiku… sebelumnya maafkan aku jika kau akan merasakan rasa kecewa jika telah hidup bersama. Semua yang jelek pada diriku, kau akan mengetahuinya.
Aku tak salahkan kalau akulah tulang rusukmu yang lama kau cari…?
Izinkan aku untuk kau jaga, untuk kau lindungi, untuk kau bimbing hingga aku menemuimu di akhirat sana dengan keadaanku yang suci …
Perempuan beruntung itu adalah aku suamiku… Perempuan bahagia itu adalah isterimu suamiku…
Senyum mengembang akan selalu kupasang dalam hidupku setelah menemukanmu…
Doamu untukku untuk selalu menjadi Isteri solehah yang tidak pernah mengeluh untuk menemanimu hidup, menjadi makmum bagimu, menjadi pelayanmu…
Suamiku tercinta… izinkan aku untuk selalu kau manja, untuk selalu kau buat tersanjung dan menjadi isteri paling bahagia…
Pukullah aku dengan kasih sayangmu jika aku mengecewakanmu…
Bimbinglah aku untuk menuju jalan-Nya dalam susah maupun senang…
Suamiku… Jika aku berkarya, aku ingin kau mendukungku dengan segala nasehat baik untukku agar aku tidak menjadi takabur dan lupa akan tugasku…
Suamiku… Jika Allah memberimu keturunan melalui rahimku… asuhlah ia seperti ibumu mengasuhmu… seperti ayahmu mendidikmu… Jadilah ayah yang bijaksana, disiplin dan disegani… Juga sebagai suri tauladan bagi putra putrimu…
Suamiku… Jika aku tua nanti… Izinkan aku tetap mengurusmu hingga aku tidak bisa mengurusmu karena alam kita yang sudah berbeda…
Jika aku tua nanti… Akupun ingin kau selalu setia pada janjimu dulu ketika ijab qobul terluncur dari hatimu dan mulutmu… Peganglah janjimu kuat-kuat dan walaupun umurmu sudah tidak muda lagi…ingatlah bahwa janjimu tidak akan pernah terlupakan dari hidupmu… Janji kita berdua…
Suamiku… Jika aku meninggal nanti, teruskanlah cita-cita kita, bimbinglah selalu putra-putri kita, doakanlah aku selalu di sana, doakan agar kita bertemu kembali di alam yang kekal abadi selamanya…
Teruntuk suamiku…
Lukman membaca surat itu menangis. Ia menangis dihadapan Tiya. Fatiya yang duduk disampingnya menghapus air mata yang jatuh dari kedua mata suaminya. Lukman pun berkata.
“De’, Fatiya Nurrahman ku tersayang. Puisi ini adalah puisi terindah yang pernah mas terima. sungguh indah namamu ku sebut, sungguh damai hatiku jika berada di sampingmu. Harapanmu ini adalah harapanku juga de’ kita sama-sama menjalaninya. Ade’ bisa menerima mas apa adanya begitu juga mas bisa menerima apa adanya ade’. Kita harus saling menutupi kekurangan kita. Sini mas peluk istriku yang manis” Lukman menggoda Tiya. Tiya pun menerima pelukan Lukman. Mereka melengkapi ritual sunnah Rosul itu. Udara Wonosobo yang dingin tidak membuat mereka kedinginan. Karena mereka sudah saling melengkapi satu sama lain.
Tiba-tiba Fatiya bernyanyi di telinga Lukman ketika sedang memeluknya
“Semenjak ada dirimu, dunia terasa indahnya semenjak kau ada di sini ku mampu melupakannya… Semenjak ada dirimu, dunia terasa indahnya, semenjak kau ada di sini tak ingin melepaskanmu…” Suara Tiya terdengar halus di telinga Lukman. Berbahagialah dua insan yang sedang dilanda asmara itu. Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Wa Rahmah…
Yasmin Ahmad, February 10th 2008

Ditulis dalam Serial Fathiya
Komentar Terakhir