Tuhan Berikanlah Aku Cinta

•Oktober 21, 2008 • 2 Komentar

Lukisan tulisan ini bisa mewakilkan suasana hatiku. Hati yang dulu bahagia, sedih kemudian bahagia kembali. Entah kebahagiaan yang kedua ini bersifat nisbi atau mutlak.

Ia mengusik kehidupanku dengan perhatian seorang adam kepada hawa yang seakan mencari-cari pasangannya selama tiga ratus tahun lamanya. Begitupun sang hawa. Hawa merindukan adam yang ia rindukan dalam kehidupannya. Hingga tiba saatnya skenario Allah bermain menyapa episode kehidupanku selanjutnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia membuat hari-hariku berwarna, mau makan ingat dia, mau apapun ingat dia, semua bayangnya selalu ada dihadapanku begitulah kata sang pencinta yang sedang di mabuk asmara. Ah… andai ku lebih tau asmara ini tak boleh dilanjutkan.

Tak boleh dilanjutkan karena bagai lagu yang pernah dipopulerkan Diva Indonesia yang akrab di sapa Uthe…

Aku cinta kepadamu…

Aku rindu di pelukmu…

Namun ku keliru telah membunuh cinta dia dan dirimu…

Atau seperti lagu Band Baru di kancah musik Indonesia The Massive

Kuakui ku sangat, sangat merindukanmu…

Tapi kini ku sadar ku diantara kalian…

Menyedihkan! Memalukan! Tak punya harga diri! Mau ditaruh dimana harkatmu sebagai wanita jika tidak bisa menghargai wanita lain yang sudah berada di sisinya?

Mundur! Aku harus mundur! Dengan segala caci maki yang kutujukan pada diriku sendiri. Tak punya malu! Aku mengutuki diri terus menyalahkanku…

“Tidak! Adik tidak salah dalam posisi ini… Aku yang salah mengelabui dan mengingkari kenyataan… tapi semua ini karena aku tidak ingin kehilanganmu adikku… adik sayang…”

Bah!!! Pujiannya tak mempan di hatiku jika masih mengorbankan hati yang lain.

“Percayalah… adik akan tetap menjadi bunga di hatiku yang selalu bersemi dan sekecil apapun adik tumbuh terus akan ku pupuk hingga berkembang”

Ia seakan menggenggam tanganku erat ketika mengatakan itu. Aku tidak bodoh!!! Aku tidak ingin menghancurkan hati yang lain…

“Hati yang mana? Siapa? Aku sudah memilih… adiklah hatiku… yang lalu biarlah berlalu… izinkan ku membuktikan kata-kataku..”

Kupalingkan muka darinya tidak hatiku. Hatiku tak bisa membohongi bahwa bunga itupun tumbuh bersemi dalam hati. Walau sekeras apapun kuhancurkan bunga itu tetap saja ia tumbuh sebagai bunga liar nan indah… ah… aku lemah…

Kuturuti kemauannya. Dan kemauanku… Sang Maha Penyayang lah yang berhak atas diriku dan ia. Ingin ku menunggu tapi aku takut penantianku ini hanya akan berbalas sia-sia. Tapi duhai tuan yang merasa bahwa aku menyayanginya aku akan tetap menumbuhkan rasa itu dalam hatiku, tak kan ku buang lagi meskipun kau tak akan pernah hadir dalam mimpi bahkan hidupku… bukankah cinta sejati adalah cinta yang tak pernah mengharapkan balasan? Cinta yang tulus adalah cinta yang selalu membahagiakan pasangannya? Aku akan berusaha menjadi bagian dari kesucian cinta dua manusia hingga akhir hayat nanti dan bertemu kembali di akhirat. Itulah tuan yang ingin ku tunggu.

Duhai tuan yang berada disana… kini ku tak perduli lagi siapa anda. Tuan yang memiliki hati yang merindukan cinta sejati, kini ku tak lagi mengharap balasan, kini ku tak perduli lagi nisbi kah fatamorgana kah cintamu yang sering tuan tujukan kepadaku…

Tuan yang membaca tulisan ini… lukisan tulisan ini bentuk rasa yang tak pernah aku gambarkan saat ini kepada tuan…

Tuhan berikanlah aku cinta…

Untuk temaniku dalam sepi…

Tangkap aku dalam terangmu…

Biarkanlah aku punya cinta…

PESONANYA TAK PERNAH PUDAR

•Oktober 19, 2008 • 2 Komentar

Subhanallah! Betapa baiknya hati isteriku, setelah aku mengatakan kalau aku akan menikah lagi dengan janda kaya tapi sesungguhnya aku menikahinya karena ingin mengajaknya menuju kebaikan. Lagipula wanita itu memang sedang belajar agama bersamaku. Aku takut terjadi fitnah, dan dia memang sedang membutuhkan seseorang yang menuntunnya dan keluarganya ke jalan Allah. Mungkin dengan bertemunya dia dengan ku adalah jalan yang diberikan Allah kepada kami.

Sepulang dari tempat pengajian, aku pulang ke rumah. Seperti biasa kalau aku pulang, dia menyempatkan diri untuk menyambutku walaupun sesibuk apapun dia di rumah. Wanita yang telah kunikahi 23 tahun silam ini seperti tak pernah bosan mengurusiku. Setelah makan malam, aku membicarakan keinginanku itu. Dengan ragu dan takut nanti Siti ini akan sakit hati atau terluka, akhirnya aku ungkapkan saja perihal itu. Lagipula kalau Siti tidak setuju dengan pernikahanku itu, akan aku batalkan niatku itu.

“Bunda, ayah mau mengatakan hal yang serius”

“Hal apa yah? Sepertinya serius sekali?”

“Bunda, boleh tidak kalau ayah menikah lagi?”

Sepintas seperti gurauan saja, tapi sebenarnya maknanya dalam. Aku lihat Siti agak kaget mendengar ucapanku itu. Dia terlihat tertunduk lesu, aku jadi tidak enak telah mengucapkannya.

“Tapi nda, ayah akan menikah kalau sudah dapat persetujuan dari bunda. Dan kalau bunda tidak setuju akan ayah batalkan”

Dengan menatap tajam mata Siti aku teruskan kata-kataku dengan alasanku menikah lagi

“Ayah ingin menikahi dia karena dia dan keluarganya butuh bimbingan agama. Dia sudah dua bulan ini belajar ngaji sama Ayah dan dia dan keluarganya paling sering bertanya tentang agama, makanya tak jarang Ayah pergi ke rumahnya hanya sekedar untuk mengajarkan keluarganya dan dia mengaji, Bunda juga tahu kan kalau Ayah pergi ke sana? Dia janda kaya harta tetapi Ayah melihatnya dia miskin agama. Sebagai sesama muslim, Ayah ingin membantunya dengan menikahinya sehingga Ayah lebih bisa sering membimbingnya, itupun dengan kerelaan hati Bunda”

Panjang lebar aku jelaskan keinginanku tanpa Siti bertanya padaku.

“Maaf yah, mungkin saat ini Bunda masih terkejut mendengar keinginan Ayah. Kalau Bunda tidak menjawabnya sekarang tidak apa-apa kan? Lagipula sudah malam, Ayah harus istirahat.”

Setelah membereskan piring, Siti beranjak dari meja makan. Aku tahu perasaannya belum bisa menerima kenyataan itu. Perasaan bersalah kini menggelayuti hatiku. Ku peluk Siti yang berbaring di sampingku dengan tidur membelakangiku, aku tidak marah dengan sikapnya malam itu, aku tahu ia terluka dan ku rasakan bahwa ia sedang menangis…

Keesokan harinya, seperti biasa. Siti menyiapkan sarapan pagi untukku dan untuk anak bungsu kami yang masih duduk di bangku SLTP. Kedua anakku yang lain berada di Jakarta kuliah di sana. Tak heran jika si bungsu ini amat manja dengan Bundanya.

“Bunda, besok Fifi ambil rapot, Bunda dateng ke sekolah ya”

“Sama Ayah aja ya nak, besokkan Ayah libur” Tawarku, bukannya aku ingin mengambil hati Siti karena ingin keinginanku dikabulkan olehnya, tapi aku besok memang libur dan aku tahu pekerjaan Siti lebih banyak.

“Oh ya udah deh, Ayah, Bunda, Fifi berangkat dulu ya, Assalamualaikum” Fifi bergegas keluar rumah menuju sekolahnya.

tak lama kemudian…

“Ayah…,”

Aku memalingkan muka ke Siti setelah membaca koran

“Setelah Bunda memikirkan apa yang ayah katakan semalam, dan setelah Bunda minta petunjuk sama Allah, Bunda ikhlas ayah menikah lagi. Tapi, dengan syarat Ayah harus berlaku adil kepada keluarga di sini dan keluarga disana.”

Subhanallah…Kata-kata itu dapat aku rasakan sangat ikhlas dan bijaksana. Tak mungkin aku dapatkan wanita seperti ini lagi, wanita yang ada sewaktu aku butuhkan, wanita yang setia menemaniku di saat senang dan sedih. Dan aku menjadi lebih sayang sama Siti. Siti memang wanita solehah yang Allah turunkan untukku.

“Tapi yah, kalau boleh jujur Bunda agak terluka ketika mengingat Ayah sedang berada di tempat lain sedangkan istri dan anak-anak ayah berada di sini, Bunda boleh tidak meminta Ayah sesuatu lagi?”

“Apa itu Bunda?”

“Bunda memang bukan isteri Rasul yang kuat ketika dimadu, Bunda juga bukan malaikat. Bunda hanya manusia biasa yang mempunyai rasa cemburu. Bunda minta ketika ayah berada di sini, tolong jangan ceritakan tentang kehidupan ayah yang lain, bersama isteri Ayah yang lain. Biarkan diri Ayah adalah Suamiku sendiri dan Ayah dari anak-anak kita tanpa dimiliki oleh orang lain”

“InsyaAllah, Ayah akan berlaku adil dengan isteri-isteri Ayah, dan InsyaAllah apa yang bunda inginkan akan dapat ayah wujudkan, Ayah juga butuh bimbingan Bunda”

Anggukan Siti membuatku tenang. Kudekati ia dan kupeluk erat tubuhnya, kurasakan kehagatan yang tulus ia berikan kepadaku, walaupun kami sudah tidak muda lagi, tapi perasaanku padanya masih seperti dulu sewaktu pertama kali aku menyukainya. Karena dia selalu bisa menjadi yang terbaik untukku. Ya Allah bahagiakanlah Siti di dunia dan di akhirat. Amin.

Pendampingku…

•Oktober 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Maafkan aku menduakan cintamu, walaupun berat rasa hatiku tinggalkan dirimu…

Aku terpaksa mendua demi cintaku padanya. Padahal aku mencintai dia lebih dari nyawaku sendiri. Aku mengagumi dia lebih dari wanita manapun. Aku menyayangi dia lebih dari menyayangi aku sendiri. Tapi aku tidak ingin melihatnya merana jika ia harus hidup bersamaku kelak…

1

Waktu itu, sepulang kuliah. Ku bergegas menuju kosannya. Ku ayunkan kaki dengan perasaan senang dan rindu. Sudah hampir empat hari aku tidak bertemu dengannya. Bagiku satu hari saja tidak bertemu dengannya hariku hampa tiada warna. Karena kesibukanku, baru hari ini aku bertemu dengannya.

Arini nama kekasihku itu, ia setahun lebih dulu menduduki bangku kuliah daripadaku. Aku jatuh cinta dengannya saat aku jumpa dirinya, auranya terpancar dari wajahnya. Aku mulai mengaguminya saat itu. Kini, ia sudah lulus sebagai Sarjana Ekonomi. Dan aku masih saja berkutat dengan kegiatanku di kampus.

Aku ingin sekali menikahinya, dilihat dari umurnya ia sudah cukup untuk mendapatkan pendamping dalam hidupnya. Tapi, aku merasa tidak pantas memilikinya. Aku yang masih kuliah dan belum mapan bekerja, dan background keluargaku pun menurutku tidak pantas disandingkan dengan keluarganya yang ada keturunan darah biru. Keluargaku termasuk keluarga Broken Home. Kini kedua orangtuaku sudah tiada, aku tinggal bersama adik dan nenekku. Walaupun ia tidak pernah memintaku untuk segera menikahinya, tapi aku tahu kalau ia juga menginginkannya. Kalau ingat hal itu, hatiku sedih dan aku ga tau harus berbuat apa. Padahal aku seorang laki-laki, tapi dalam menyangkut hal ini aku lemah. Aku kehilangan kekuatanku sendiri.

Sering aku bilang padanya, kalau ada seorang laki-laki akan menikahinya, aku serahkan ia kepada laki-laki itu. Yang pasti ia bertanggung jawab dan setia. Tapi setelah aku berbicara seperti itu, ia malah mengeluarkan air matanya yang bening itu. Hal itu membuat aku terluka juga bahkan semakin terluka, karena sebenarnya aku tidak ingin ada orang selain aku yang memilikinya lagi.

Hingga suatu hari selepas kuliah, aku menemuinya. Kulihat ia tetap cantik walaupun tidak memakai polesan bedak. Wajah kuning langsatnya membuatku tak bosan memandangi wajahnya.

“Arini, aku rindu sama kamu…”

“Rini juga…”

“Tapi Rin, ada sesuatu hal serius yang ingin aku bicarakan sama kamu”

“Apa itu?” Tatapnya tajam

“ Kamu benar-benar mau pindah ke desa kamu?”

Arini tidak menjawab, ia hanya mengangguk.

“Plis, bisa ga nunggu satu tahun lagi kamu tinggal di sini. Aku janji tahun depan aku akan lulus kuliah, tapi kamu harus di sini. Aku ga tau gimana hari-hariku tanpa kamu ada di sini”

“Tapi Lang…Ibuku membutuhkanku di sana, ia harus mengurusi usaha cateringnya sendiri selama aku berada di sini. Aku ingin berbakti dahulu sama ibuku sebelum aku menikah”

Sebenarnya jawaban itu pernah aku dengar sebelumnya, tapi aku ingin terus bertanya dan mendapatkan jawaban yang berbeda dan tentu saja jawaban yang dapat membuatku senang.

“Kapan kamu mau pulang?”

“Besok pagi”

“Secepat itukah?” Walaupun aku kecewa, tapi aku tidak dapat menahan keinginannya, besok pagi aku harus siap mengantarnya pulang. Udara Jakarta semakin panas, kutatap kedua bola mata Arini yang sendu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus lama tidak melihat mata indahnya itu nanti.

2

Alarm HP yang ku setting jam lima pagi cukup membuatku bangun cepat. Sebelumnya aku selalu saja tidak mengindahkan suara alarm berbunyi. Tapi karena pagi ini aku akan mengantar Arini pulang, semangatku harus ku pacu dengan cepat, demi Arini apapun akan kulakukan. Ku telfon Arini agar menungguku datang, sengaja aku pinjam mobil keluarga untuk mengantar Arini ke desanya di Cianjur. Setelah mendapat izin dari keluarga aku langsung men starter mobil menuju kos Arini.

Barang-barang yang di bawanya lumayan banyak. Sebelum berangkat, aku tanyakan lagi keseriusannya pulang ke desanya. Tapi tetap saja jawabannya ialah jawaban yang kemarin.

“Elang, aku pun merasakan apa yang kamu rasakan. Aku lebih kawatir ketika aku jauh dari kamu, kamu kan hanya bisa manja sama aku, trus bagaimana kalau aku ga ada, inilah saatnya kamu untuk bersikap dewasa. Aku menunggumu menjemputku di sana, dan kamu harus janji kalau kamu akan setia dengan cinta kita”

Memang, selain dengan mamaku yang telah tiada, aku hanya bisa bermanja-manjaan dengannya, aku temukan bahwa ia lah yang bisa membuatku tenang dan kubutuhkan.

“Iya Arini, aku ingin awal semester delapan nanti aku akan melamarmu. Aku juga minta kamu untuk setia sama aku ya” Ku kecup keningnya, aku berjanji setahun lagi aku akan meminangnya dan menjemputnya ke dalam pangkuanku. Perjalanan kali itu membuatku tenang.

==0==

Seminggu sudah Arini meninggalkan kota Jakarta. Perasaan rinduku sudah bisa membuatku sakit di dalam dada ini. Tapi aku tidak punya pilihan banyak. Aku bisa saja main ke rumahnya, tapi aku juga harus serius kuliah agar aku cepat selesai. Lagipula ongkos menuju rumahnya lumayan juga, untuk seorang aku yang hanya punya penghasilan dari mengajar privat. Aku hanya bisa bersabar menunggu semua ini. Sms darinya tak pernah alpa, tapi itu semua belum cukup kalau belum melihat wajahnya, foto berukuran dompet miliknya yang aku pinta pun belum cukup membuatku sedikit mengurangi rasa rinduku padanya. Aku sudah tergila-gila padanya, Arini…oh Arini…

Malam minggu ini aku duduk sendiri di luar rumah, biasanya aku sibuk mencari tempat yang belum aku kunjungi bersama Arini di Kota Jakarta ini. Namun mulai malam ini, aku harus sendiri memikirkan Arini…

Tut..tut..tut..tut HP Nokia 8210 ku berbunyi, kubuka sms yang datang. Sebuah pesan dari Danu temanku, ia memintaku untuk menjaga rental komputernya yang berada tak jauh dari rumahku. Ku turuti permintaannya daripada aku bengong sendirian tak ada teman. Hanya lima menit saja aku sudah sampai di rental. Suasana rental penuh dengan orang-orang yang berkepentingan. Padahal malam minggu, tapi masih saja banyak kerjaan, rental temanku Danu memang selalu ramai dikunjungi, kebanyakan dari anak-anak muda yang datang, karena tempatnya memang di buat untuk anak-anak muda. Setelah aku datang, aku langsung ditawari ngetik oleh Danu, “Nih, ketikin punya Nia. Dia minta diketikin, nanti jam sembilan dia ambil. Makanya gue minta bantu lo, soalnya kerjaan gue banyak juga ni” “Sip deh” Lumayan, bisa mengusir sedikit kerinduanku pada Arini.

Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, orang-orang yang berada di rental sudah mulai sedikit, ketikanku sebentar lagi sudah hampir selesai, kurang lebih dua jam sudah aku mengetik, capek juga. Tapi nanti aku bisa dapat komisi dari Danu. Tak lama kemudian, datang seorang gadis berambut sebahu, berbadan seksi dan wangi tubuhnya dapat aku rasakan dengan jarak satu meter. Dia menanyakan Danu padaku,

“Maaf, lo tau Danu dimana?”

“Oh, gue ga tau juga, soalnya dari tadi gue ngetik jadi ga tau kalo dia keluar, paling keluar sebentar, ntar juga dateng. Ada yang bisa gue bantu?” Tanyaku pada gadis itu

“Tadi gue nitip ketikan sama dia yang judulnya…nah ini dia, oh jadi lo yang ngetikin? Udah selesai belom?” Belum sempat ia memberitahukan judulnya, ia sudah menemukan jawabannya, ternyata ia Nia yang menitipkan ketikannya pada Danu tadi.

“Udah ni, tinggal di print” Jawabku.

“Udah di edit belom?”

“Udah dong, lagian janjinya kan datang jam sembilan, berarti sebelum jam sembilan udah harus selesai dong” Senyumku, diapun tersenyum puas. Terlihat sekilas ia manis juga untuk dilihat, tapi wujudnya belum bisa menghapus betapa sempurnanya Arini di mataku. Kecantikan dari dalam yang Arini pancarkan bisa mengalahkan gadis-gadis yang hanya memperlihatkan kecantikan luarnya saja. Kemudian Danu pun datang,

“Eh Nia, udah dateng, gimana Lang udah selesai kan?”

“Ini lagi di print”

“Oiya, Nu, gue kok ga dikenalin sama temen lo ini?” Nia berbicara, padahal ketika aku sudah tau namanya saja itu sudah cukup bagiku.

“Lho, emang dari tadi belom pada kenalan? Lang, kenalan dong” Pinta Danu

“Oh iya, Elang” Aku sodorkan tanganku padanya

“Nia…” Aku tidak bisa berlama-lama menjabat tangannya, aku takut kalau tindakanku ini akan menghianati cintaku pada Arini, Nia tersenyum padaku, ada sesuatu yang aneh kulihat dari matanya. Ah! tapi segera ku tepis semua itu, mungkin aku terlalu Ge eR saja.

“Danu, anterin gue pulang yuk, udah malem ni, gue takut pulang sendiri” Setelah semua urusan Nia selesai, dia pun ingin segera pulang.

“Ah, biasanya juga lo pulang sendiri” Tolak Danu

“Iiih, jahat banget sih sama gue, gue kan jarang-jarang ke sini malem-malem. Seringnya kan gue datengnya siang, ayo dong..bentar kok ga lama” Manja juga gadis ini, gumamku dalam hati

“Eh, Lang, lo mau ga nganterin Nia? Gue bentar lagi mau ketemu sama orang ni di sini penting, tar takut ga keburu, orangnya juga ga bisa lama-lama gitu nungguin gue, gimana mau ga? Lo pake deh motor gue” Akhirnya, Danu memintaku mengantar Nia yang sudah menunggu di luar. Padahal aku malas mengantarnya lagipula baru kenal, Danu juga sih terlalu sibuk jadi orang, Hhh sudahlah. Ku ambil kunci yang disodorkan Danu padaku.

“Kok lo yang nganter? Gue kan minta Danu yang nganterin. Mmm jadi ngerepotin lo ni? Emang Danu ga bisa anter ya?”

“Iya, dia mau ketemuan sama orang, takut ga keburu ketemu sama orang” Maafkan aku Arini, aku tidak bermaksud menghianatimu, aku hanya mengantarnya sebentar. Kukendarai motor Tiger milik Danu dan mengantar Nia pulang.

HP ku berbunyi lama, kubuka mataku sedikit untuk mengetahui siapa yang sudah meneleponku, terbaca tulisan “Arini” pada HP mungilku, kuangkat walaupun masih berat membuka mata

“Hallo sayang…”

“Hallo juga, eh sebentar lagi subuh lho, bangun yuk”

“Iya, ya, aduh makasih ya sayang udah mau bangunin aku, aku kange…n banget sama kamu, udah hampir dua minggu ini aku ga ketemu sama kamu, kamu kesini dong…” Kalau sudah ngobrol dengannya perasaan manjaku selalu saja kumat.

“Yee, kamu dong ke sini, aku juga kangen banget sama kamu pengen ketemu, aku di sini masih sibuk. Setelah ada aku, usaha catering Ibu lebih banyak orderan, jadi aku belum sempat ke Jakarta lagi”

Aku tersenyum dan bangkit dari tidurku “ Iya ni Rin, aku juga masih sibuk kuliah, tugasku semakin banyak lagi pula sebentar lagi aku akan PKL, doain aku agar aku kuat menghadapi semua ini ya sayang”

“Iya, doaku selalu menyertaimu…Nah sekarang bangun ya, azan subuh udah terdengar ni di Cianjur, kalau di Jakarta udah belum?” Tanyanya disertai tawa ringannya

“Belum tuh, tidur lagi ah, kan belum azan” Candaku

“Heh! Ga boleh! masak sih belum? Ih kamu…Udah dulu ya,”

“Iya, Honey…Miss U” Kututup telpon setelah Arini menutup telponnya, suasana bercanda inilah yang selalu membuatku rindu padanya.

3

“Elang, ketikin tugas gue lagi dong… Danu lagi ga ada di rental, sedangkan gue capek banget kalo harus ngetik sebanyak tujuh lembar ini setelah seharian gue ke kempus, mau ya? Pliiis… Besok dead line ni…” Telpon dari Nia selepas maghrib yang memintaku untuk membantu mengerjakan tugasnya. Mau tidak mau aku harus mengerjakannya, aku memang sedang membutuhkan uang untuk proposal Praktek Kerja Lapangan ku, uang hasil privat tidak cukup, karena uang itu aku pergunakan untuk ongkosku sehari-hari, aku sudah malu meminta sama nenekku, ya..walaupun aku masih belum bisa menyukupi kebutuhan adikku, paling tidak aku sudah bisa membiayai kehidupanku sendiri.

Nia sudah menungguku di depan teras rental, tampaknya ia kesal menungguku yang datang agak lama.

“Kemana aja sih lo? Gue kan udah nunggu lama…, nih” Dia menyerahkan bahan ketikannya.

“Sori, tadi nenek gue minta dibeliin sate dulu buat ade gue” Ku bergegas menuju meja komputer yang kosong dan mulai mengetik. Wangi aroma tubuh Nia membuatku nyaman mencium aromanya, tapi wangi tubuh Arini walaupun ia memakai parfum hanya sedikit, membuatku lebih nyaman berada dekat di sampingnya.

“Lang, biar cepet beres, gue bacain deh”

“Nah gitu dong” Kuserahkan kembali bahan ketikannya. Selama aku membantu Nia ngetik, tak jarang kami tertawa bersama, dia kuliah Diploma Tiga semester lima Jurusan Akuntan Bisnis di salah satu Universitas Swasta di Jakarta. Dia lucu juga, anaknya blak-blakkan. Mungkin karena umurnya lebih muda dua tahun dari aku, tak jarang dia menunjukkan sikap manjanya. Setelah selesai dia ingin aku mengantarnya pulang lagi.

“Tapi gue ga punya motor, lo mau gue anter pake angkot aja?”

“Ga pa pa deh, daripada gue di angkot sendirian, si Danu kemana lagi hari gini belom pulang” Gerutu Nia. Kemudian aku pulang setelah izin dengan Bang Hendri pemilik rental atau abang kandung Danu.

Diangkot, Nia menunjukkan ke agresifannya. Ntah kenapa dia selalu memegang pahaku saat mobil menyalip mobil yang lain, sebenarnya aku malah takut dengan sikapnya. Tapi ah mungkin ini hanya ketakutan saja. Padahal ketika aku naik angkot bersama Arini, aku yang merasa kawatir. Aku yang selalu siap memegang tangannya kalau-kalau ia terkejut, tapi Arini selalu tenang. Sangat berbeda dengan Nia.

“Thanks ya Lang, lo udah bantuin gue ngetik, udah nganter gue pulang lagi, eh duduk dulu yuk” Nia langsung menggandeng tanganku dan menuju kursi yang tersedia di teras rumahnya, padahal niatnya aku hanya mengantarnya pulang. Nia menyuruhku diam di kursi dan dia izin masuk sebentar. Tak lama kemudian ia membawakan dua gelas air jeruk dingin.

“Nih diminum ya, lo pasti capek udah ngetik disana ga disuguhin apa-apa” Aku hanya tersenyum, iya juga sih. Ku serup air jeruk manis itu. Selama itu Nia masih saja bercerita tentang dia, keluarganya dan semuanya yang bisa dia ceritakan padaku. Aku lebih banyak mendengarkan. Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, aku harus pulang karena tidak enak dengan keluarga Nia.

Hari-hari berikutnya, lebih sering kulalui bersama Nia. Entah kenapa, dia selalu ada tugas mengetik dan selalu aku yang disuruhnya mengetik, padahal ia juga sebenarnya bisa mengetik sendiri. Tapi, hari-hariku kini sedikit ada warnanya, bersamanya perasaan rindu kepada Arini tidak terlalu kurasakan seperti dulu yang kadang membuatku tidak enak makan. Nia selalu memberikan perhatiannya padaku. Pernah suatu hari ia mengatakan kalau ia sayang padaku, dan ia membutuhkan aku dalam hidupnya. Saat mendengar itu, perasaanku bimbang, di sisi lain aku sudah mempunyai Arini dan aku tidak ingin menghianati cintaku padanya tapi di sisi lain aku juga mulai menaruh perasaan sayang pada Nia.

Akhirnya aku ceritakan saja bahwa sebenarnya aku sudah mempunyai kekasih. Entah percaya atau tidak, Nia tetap ingin memiliki aku dan ia tidak peduli apakah aku sudah punya kekasih atau belum.

Arini, maafkan aku yang sudah menghianatimu. Tapi aku yakin dengan hatiku, posisimu tetap istimewa di dalam hatiku. Aku pun bingung apakah aku mempunyai perasaan cinta pada Nia atau aku hanya seorang laki-laki yang kesepian karena jauh dari kekasihku? Aku belum bisa mengatakan kalau aku cinta pada Nia, walaupun ia sering mengucapkannya padaku, aku selalu membalas ucapannya dengan kata sayang bukan cinta. Karena cintaku hanya buatmu Arini…

HP ku berbunyi lagi, sebuah sms dari Arini. “Elang, kenapa perasaanku akhir-akhir ini ga enak ya? Kamu baik-baik aja kan?” Memang benar Rin, aku sudah membohongimu, maafkan aku karena tidak jujur kepadamu tentang hidupku sekarang yang sudah menduakan cintamu. Sms nya tak kujawab, aku bingung menjawabnya. Selama ini aku tidak pernah membohonginya, mungkin aku laki-laki paling jujur kepada kekasihnya. Padahal bisa saja aku berbohong kalau perasaannya hanyalah perasaan seseorang ketika jauh dengan kekasihnya dan aku di sini baik-baik saja, tapi itu tidak kulakukan, Arini terlalu baik kalau harus dibohongi.

4

Enam bulan sudah Arini meninggalkan Kota Jakarta ini, kini sudah liburan semester tapi yang aku lakukan adalah melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan). Selama enam bulan ini, belum pernah aku mengunjunginya. Dan liburan ini inginnya aku mengunjunginya, tapi aku tak sempat lagi.

Hingga suatu malam, Arini menelponku. “Lang, hiks’!” Ia menangis,

“Elang…”

“Ada apa Rin?” Tanyaku tak tenang

“Hiks’..aku mau curhat sama kamu..”

“Ya udah, bilang sama aku kamu kenapa?”

“Mungkin ini hanya kesensitifan aku yang belum bisa menerima semuanya Lang,…” Sesaat Arini diam

“Ada seorang anak teman Ayah yang sudah beberapa kali datang ke rumahku, aku fikir ia hanya mengunjungi Ayah karena dia juga berbisnis dengan Ayah, tapi…tadi ia bilang ke Ayah kalau ia ingin melamarku…hiks hiks” Arini, menangis sesenggukan, ingin rasanya aku memeluknya dan menyandarkan kepalanya pada bahuku dan aku mendengarnya hanya bisa diam, hal yang aku takutkan terjadi juga, sebelum aku melamarnya sudah ada yang melamarnya dahulu.

“Walaupun Ayah menyerahkan semuanya sama aku, tapi aku ga punya alasan tepat kalau aku sebenarnya menginginkan kamu yang jadi suamiku nanti, lagipula kalau aku bilang aku masih ingin sendiri dulu itu bukan alasan tepat, Lang… usiaku memang sudah waktunya tapi aku masih ingin menunggu kamu…Lang, kamu janji ya jemput aku di sini?” Aku takut aku hanya memberinya harapan yang belum pasti, setelah lulus kuliah pun belum tentu aku langsung dapat pekerjaan. Aku takut ia tidak bahagia bersamaku nanti.

“Arini, kamu jangan terlalu berharap yang ga pasti, mungkin dia lebih baik dari aku. Dengar Arini, aku sayang dan cinta sama kamu, tapi aku ga ingin hidup kamu jadi ga bahagia ketika harus hidup bersama aku, masa depanku belum jelas, sedangkan dia sudah mempunyai pekerjaan dan aku yakin hidupmu akan tercukupi bersamanya” Mataku mulai memanas saat mengucapkan kata-kata itu

“Elang… bukan jawaban itu yang aku harapkan dari kamu, mana janji kamu yang waktu itu pernah kamu bilang sama aku kalau kamu ingin menjemputku dan kita akan hidup bersama? Lagipula, kalau hidupku berkecukupan tapi aku tidak mempunyai cinta bersama orang yang hidup bersamaku apa artinya hidup ini Lang…??” Aku diam, dadaku semakin sesak. Air mata mulai keluar dari kedua mataku. Segera ku hapus air mataku dan kutarik nafasku

“Arini… aku juga ingin membahagiakan kamu, tapi…” Belum sempat kuteruskan

“Elang! Kalau kamu udah ga mau mempertahankan dan memperjuangkan hubungan ini kenapa ga kamu bilang? Kalau kamu udah ga peduli lagi sama aku? Ya udah, mungkin selama ini aku salah selalu mengharapkan kamu, kamu berubah Lang…” Bip! Arini mematikan HP nya. Malam itu, malam yang mengejutkan buatku.

Esoknya, kutemui Nia. Aku mendatanginya karena aku ingin melampiaskan kesedihanku padanya. Aku mencoba menutupi kesedihanku dengan mencari kebahagiaan dari Nia. Nia yang manis selalu menyambutku dan membuatku senang berada di sampingnya, perasaan sedihku berkurang setelah bersamanya walaupun ia tidak tahu sebenarnya aku sedang bersedih.

==0==

Arini tidak lagi menghubungiku, dan entah mengapa setelah aku bertemu dengan Nia perasaanku sedikit mulai tidak perduli lagi dengan Arini. Mungkin karena aku sudah mendapatkan kebahagiaanku sendiri bersama Nia. Padahal perasaan inilah yang paling aku takutkan. Ya, aku takut Arini juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Aku paling tidak suka ketika Arini telah berpaling dari cintanya. Walaupun aku mungkin sudah melakukan hal itu. Aku memang egois untuk hal ini.

Tapi saat ini aku membenci Arini. Mungkin kalau dari awal ia tidak meninggalkanku disini, aku dan Arini masih baik-baik saja. Jarak telah membuatku bersikap tidak dewasa. Aku berjanji tidak akan menghubunginya lagi, biarlah ia bahagia bersama laki-laki yang telah siap menikahinya dan aku tidak boleh mengharapkannya setia lagi padaku. Biarlah cerita antara aku dan Arini hanyalah cerita yang telah berakhir dengan kekecewaanku. Tapi cintaku pada yang lain hanyalah sisa-sisa cintaku pada Arini. Aku tidak mungkin memberikan semua cintaku pada orang lain karena cintaku sudah aku serahkan semua buat Arini, entah apa aku bisa memberikan cintaku seperti aku memberikan cintaku pada Arini. Aku sedang marah dengan keadaanku saat ini.

“Lang… Dari tadi kok bengong aja? Ada apa sih?” Tanya Nia membuyarkan lamunanku

“Oh, ngga” Aku hanya menjawab seperti itu. Nia pun diam, mungkin dia bingung melihatku diam.

“Nia, makasih ya kamu udah buat hari-hari aku berwarna, kamu selalu ada saat aku butuhin” Aku memegang erat tangannya dan kurasakan sentuhan jari-jarinya yang mungil itu, tapi kembali aku teringat tangan Arini yang sedang aku pegang, sebenci apapun aku pada Arini, sebahagia apapun aku dengan orang lain, tapi sosok Arini tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Aku diam kembali, aku ingin menangis tapi aku tahan, aku tidak akan menangis dihadapan orang lain kecuali di depan Arini, kecuali Arini yang memberikan punggungnya untuk ku sandarkan. Kini aku semakin rindu padanya, aku ingin menemuinya. Ya! Aku harus menemuinya, aku tidak akan menjadi laki-laki yang lemah. Aku harus mempertahankan hubunganku dengan Arini. Aku yakin Arini akan ada untukku ketika aku datang. Ku cium kedua tangan Nia dan ku kecup keningnya.

“Nia, aku pergi dulu ya. Sekali lagi makasih. Kamu udah ngasih semangat buat aku hari ini”

“Aku disini selalu ada buat kamu Lang, karna kamu kekasihku dan aku sayang banget sama kamu” Aku tersenyum

“Kamu mau kemana?”

“Aku mau pulang dulu ada tugas banyak” Tanpa memperdulikannya lagi, aku langsung pergi meninggalkan Nia sendiri. Maafkan aku Nia, kalau aku berkata jujur apa yang telah aku alami, kamu akan merasa sebagai pelampiasanku saja. Walaupun mungkin sebenarnya seperti itu.

Aku segera memasukkan beberapa pakaian yang akan aku bawa ke Cianjur. Aku berniat menginap di rumah saudaraku yang berada di sana. Mungkin saat inilah aku menemui Arini. Aku tahu, kesibukanku kuliah yang sudah membuatku tidak pernah mengunjunginya. Aku izin selama tiga hari hanya untuk Arini.

Berada di dalam bis selama lima jam adalah perjalanan yang cukup melelahkan bagiku. Pukul setengah tujuh malam aku tiba di terminal Cianjur. Semangatku belum padam untuk menemui Arini. Tapi dari terminal, rumah Arini masih jauh. Lagipula, aku belum mandi. Malam ini aku putuskan untuk menginap di rumah Pamanku. Aku sengaja tidak menelpon Arini, aku ingin memberinya surprise. Aku sangat rindu padanya.

Paginya, dengan berpakaian rapi dan tubuh wangi. Kuputuskan untuk menyegerai mengunjungi Arini. Enam bulan yang lalu aku baru mengetahui rumahnya Arini setelah satu tahun aku bersamanya. Kupercepat langkahku setelah turun dari angkot. Dadaku berdegup kencang, aku begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan Arini. Kutarik nafas dalam-dalam agar tenang.

Gerbang rumah Arini sudah kulewati, aku mulai menuju teras rumahnya yang asri itu. Tiba-tiba langkahku terhenti, aku melihat Arini dan seorang laki-laki yang sedang duduk di teras itu. Laki-laki itu tampak rapi dan usianya telihat tiga tahun lebih tua dibandingkan aku. Pikiranku mulai tidak karuan, Arini begitu serius mendengar cerita laki-laki tersebut. Hingga aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, kebahagiaanku sirna sudah.

“Elang!” Kudengar suara Arini memanggilku, tapi tak kuindahkan aku terus mempercepat langkahku. Aku dengar dia mengejarku.

“Elang tunggu!” Aku berhenti, aku tegarkan diriku. Aku pun ingin menyapanya dan bercerita tentang hidupku disana tanpa dia disisiku. Aku rindu padanya.

“Elang, aku ga tau kamu akan datang. Dan aku ga ngeh kalau kamu ada disana. Udah lama? Lang, akhirnya kamu datang, aku kangen sama kamu..” Senyuman manis tersirat dari wajahnya, Sentuhan tangan Arini menyambutku dan kusambut sentuhan itu. Sentuhannya masih hangat kurasakan.

“Ngga lama kok, tapi kayaknya kamu lagi ada tamu ya? Aku ganggu dong?”

“Kok ngomong gitu sih? Dia Danny anak temennya ayah, lagian dia lagi nunggu ayah. Tapi kata ayah aku disuruh nemenin dulu. Kamu kan udah jauh-jauh dateng kesini masuk yuk” Ajakan Arini membuat aku menjadi tak enak. Mungkin laki-laki itu adalah laki-laki yang akan menikahi Arini.

“Nggak Arini, aku pulang aja deh. Aku sudah melihat kamu aja udah seneng, kamu baik-baik aja kan? Kalau kamu senang dengan keadaanmu sekarang bersama Danny aku juga akan senang”

“Lang! Kamu kok sekarang kayak gitu sih? Aku ini masih Arini kamu, aku ga mau berpaling dari cinta kamu, lagipula Danny atau laki-laki lain ga ada yang bisa membuat aku jatuh cinta sama mereka, kamu yang selalu aku harapkan. Tapi kenapa kamu jadi begini? Kamu datang kesini untuk memantapkan cinta kita kan? Jawab Lang…” Nada suara Arini meninggi, aku pun tidak mau bertengkar lagi. Mungkin pembicaraan kami terdengar oleh Danny, kulihat dia masih diam di teras.

“Maafkan aku Rin, aku datang ke sini bukan untuk cinta kita. Aku kesini untuk memberitahu kalau…” Aku terpaksa mengatakan hal yang bisa menyakitkanku sendiri, aku diam sejenak mengumpulkan semua kekuatan yang ada.

“Aku bukanlah Elang yang dulu lagi, aku sudah, menghianati kamu. Aku kesini hanya untuk memberitahu kalau kamu jangan menaruh harapan lagi sama aku, aku sudah punya yang lain dan aku bahagia bersamanya, maafkan aku kalau selama ini aku berbohong sama kamu kalau aku masih cinta sama kamu. Hal itu karena aku bingung mengatakannya. Mungkin saat inilah hal yang tepat untuk aku mengatakannya” Berat aku mengatakannya, tapi mungkin dengan perkataanku seperti itu bisa membuat Arini tidak lagi mempertahankanku yang belum punya apa-apa ini.

“Nggak Lang, kamu bohong! Kamu ga mungkin seperti itu. Aku ga percaya!” Arini mengeluarkan butiran-butiran air matanya

“Maafkan aku Arini, aku harus pulang” Kulepaskan genggaman tangannya dan kuhapus air matanya “Dia lebih baik dari aku, aku yakin kamu pasti bahagia dengannya. Mungkin dia punya cinta buat kamu. Kalau kamu terus mempertahankanku yang ada hanya perasaan terluka, karena cintaku sudah aku berikan sama yang lain. Aku jahat Rin. Kamu jangan pilih aku” Air matanya semakin deras, tapi aku harus bergegas meninggalkannya karena semakin dia menangis semakin membuatku tak tahan melihatnya. Aku mendengar ia memanggilku kembali, tapi aku terus mempercepat langkahku. Pagi yang mendung semendung hatiku.

Dugaanku salah. Aku pulang ke Jakarta dengan perasaan terluka. Aku pengecut! Aku tidak bisa mempertahankan cintaku! Aku benci dengan keadaanku seperti ini. Tapi aku belum bisa berbuat banyak. Aku tahu perasaanmu Rin, tapi aku takut kamu tidak akan bahagia bersamaku nanti.

5

Cuaca Jakarta yang panas kembali kurasakan. Aku langsung pulang ke rumah. Tidak ada gairah hidup lagi dalam diriku. Ku buka pintu kamar, ku taruh tas punggungku dan kurebahkan tubuhku ke kasur yang kurang empuk ini. Kupejamkan mata, terasa panas. Dan kembali butiran air mata keluar dari kedua mataku. Kutarik nafas panjang dan segera ku hapus air mata. Aku segera beranjak menuju rumah Nia. Aku mencoba menghibur diri, aku masih punya Nia. Awalnya memang aku yang jahat kepada Arini menduakan cintanya, tapi sekarang aku yang terluka lebih terluka ketika melihat Danny berada di rumahnya menemaninya dan bayangan Danny dan Arini seolah-olah menghantuiku, aku melihat mereka tertawa bahagia. Aku sekarang hanyalah benalu yang ingin menganggu kehidupan mereka. Kini aku memang harus melepas Arini.

“Nia, kamu dimana? aku mau ketemu” Sebuah sms kulayangkan kepada Nia. Kemarin sms nya tak ku balas. Aku memang tidak memberitahunya kalau aku pergi ke Cianjur. Aku ingin hari ku hanya untuk Arini ketika aku berada di sana, tapi ternyata tak sesuai dugaanku.

“Sayang…kamu kemana aja sih? Koq sms ku ga kamu bales?” Tanya Nia saat kami bertemu

“Aku ada tugas banyak banget, jadi ga pengen diganggu, maaf ya” Bohongku

“Kamu bohong! Kamu pergi nemuin kekasih kamu ya? Aku udah curiga sama kamu, aku ga suka dibohongin” Darimana ia tahu?

“Kemarin aku ke rumah kamu, kata nenek kamu, kamu pergi ke Cianjur. Pastinya kamu ke sana hanya untuk nemuin dia kan? Kok kamu jahat sih sama aku? Aku kira, kamu udah lupa sama dia dengan seringnya aku bersama kamu, aku udah serahin semua cintaku sama kamu, tapi apa itu belum cukup juga? Aku ga mau kehilangan kamu Lang…” Nia menangis, aku tidak menyangka ia mencintaiku seperti itu dan tidak ingin kehilangan diriku.

“Aku tahu, aku udah merebut dia dari kamu. Tapi aku ga bisa melepas kamu saat kamu ada buatku. Aku ingin orang yang memiliki kamu tuh aku, bukan dia. Aku memang egois! Tapi aku ingin miliki kamu” Nia melanjutkan kepedihannya selama ini. Ini semua memang salah aku, sekarang aku tidak bisa melepas dia. Hal ini akhirnya tejadi, aku lebih memilih wanita lain dari pada Arini.

“Nia, aku memang pergi ke sana, tapi aku ke sana hanya untuk ngasih tahu kalau aku udah milih kamu, aku ketemu sama dia tapi aku bilang sama dia kalau aku sudah ada kamu yang menemani hari-hariku selama ini. Itu artinya aku milih kamu, maafkan aku udah bohong sama kamu, tapi saat ini aku ga akan nemuin dia lagi, karena udah ada kamu di hatiku” Ku peluk ia yang sedang terisak-isak, ia menatap mataku dan ku anggukkan kepalaku meyakinkannya. Kini memang saatnya aku serius pada hubunganku dengan Nia. Aku harus belajar untuk mencintai Nia. Selamat tinggal Arini…

==0==

Semua kenangan antara aku dan Arini masih kusimpan. Aku masih belum bisa membuangnya, biarlah menjadi kenangan manisku kalau aku pernah mencintai dan menjalani percintaan bersama seorang wanita indah yang sangat aku cintai. Kini foto yang menghiasi meja kamarku adalah foto Nia. Kupandangi wajahnya yang manis itu, aku berkata dalam hati kalau aku belum bisa mencintainya seperti aku mencintai Arini.

6

Skripsiku hampir selesai, waktu tiga bulan penelitian yang aku butuhkan untuk menyelesaikan skripsiku. Dan sebentar lagi aku menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Gelar yang sama dengan Arini. Huh! Kenapa selalu Arini yang ada di fikiranku, padahal sudah lima bulan aku tidak pernah menghubungi atau dihubunginya lagi. Aku sengaja mengganti nomorku, ketika ia menelpon ke rumah, aku selalu menghindar. Karena sikapku yang seperti itu, mungkin ia merasa aku sudah tidak peduli lagi denganku. Biarlah ia beranggapan seperti itu.

Dahulu, waktu aku masih bersamanya aku rela datang ke acara wisuda Arini. Padahal waktu itu aku sedang melaksanakan KKN atau Kuliah Kerja Nyata di daerah Banten dan aku tidak boleh izin kalau alasannya tidak jelas. Tapi aku nekat untuk izin menemui nenekku di rumah karena nenek membutuhkanku saat itu. Lagipula aku izin hanya satu hari saja, demi Arini apapun aku lakukan, termasuk berbohong dengan alasan nenek.

Kini, impianku dulu Arini juga melakukan hal yang sama. Aku ingin Arini lah yang menjadi pendamping wisuda ku dan ia yang memberi bunga dengan ucapan “selamat” tinggal kenangan. Aku hanya bisa tertegun dalam hati, semua sudah berubah. Lupakan Arini.

Besok tepatnya tanggal 29 Juli 2006 aku di wisuda. Tempatnya selalu sama di dalam kampusku sendiri karena memang sudah ada gedung yang dipakai buat acara wisuda atau acara besar lainnya. topi dan jubah Toga sudah menggantung di kamarku, jas dan sepatu sudah kusiapkan. Aku tidak ingin besok terlambat, karena pasti jalanan di sekitar kampus padat oleh mobil pribadi yang mengantar para wisudawan.

“Sayang, kamu lagi ngapain? Besok aku datang ke rumah kamu dulu ya, kamu jangan pergi dulu sebelum aku datang” sebuah sms dari Nia mengagetkanku yang sedang duduk di depan komputerku.

“Iya, makanya datengnya pagi-pagi biar ga aku tinggal” Kubalas sms nya.

Esoknya, setelah sarapan aku bersiap-siap memakai jas dan sepatu. Topi dan jubah toga niatnya aku pakai setelah sampai di kampus. Nia belum juga datang padahal sebentar lagi aku akan berangkat. Ku panaskan mobil di garasi, nenek dan adikku masih di dalam. Kembali aku teringat Arini, pasalnya semalam aku bermimpi bertemu dengannya, dalam mimpiku Arini hanya menampakkan dirinya dari kejauhan, kupanggil ia namun ia tetap berada di kejauhan itu. Akhirnya kudekati ia tapi ia malah pergi menjauh dariku, kupanggil ia tapi tetap saja ia menjauh dariku. Dalam mimpiku, terasa dijantungku berdegup kencang dan aku langsung terbangung dengan nafas tersengal-sengal. Apakah ini sebuah firasat bagiku?

“Dor!!” Suara kejutan Nia membuyarkan lamunanku.

“Kok bengong aja? Duh ganteng banget Elang ku ini, nenek di dalam? Aku temuin dulu ya” Aku hanya tersenyum, Arini…Arini kenapa selalu saja ada bayanganmu yang menghantuiku?

Kujalankan mobil dengan di temani nenek, adik, dan Nia. Dan tiba tepat pukul delapan di kampus. Aku langsung masuk gedung bersama nenekku. Nia bersama Adikku menunggu di tenda luar. Karena undangan hanya satu saja yang boleh memasuki gedung. Delapan ratus orang wisudawan tertampung di dalamnya di tambah delapan ratus undangan membuat gedung tampak ramai. Bangku-bangku pun di atur rapat. Wisuda kali ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Arini, andai kamu datang hari ini… Kembali aku memikirkan Arini.

Kurang lebih tiga jam sudah aku berada di gedung itu. Setelah acara selesai, aku keluar bersama nenekku menyapa teman-teman lainku yang belum sempat wisuda bersamaku dan barangkali ada Arini datang untukku.

Hiruk pikuk keadaan luar gedung membuatku gerah. Setelah bertemu dengan teman-teman, aku menuju mobil untuk segera pulang karena aku sudah lapar. Toga masih aku kenakan, karena mungkin saja masih ada teman-temanku yang belum bertemu denganku agar bisa berfoto denganku dengan toga ini, narsisku.

Tiba-tiba dari kejauhan samar-samar aku melihat sosok yang tak asing lagi bagiku, dia melemparkan senyumnya untukku di balik pohon rindang sekitar gedung. Kemudian ia berpaling dan pergi meninggalkan pohon itu setelah aku melihatnya. Arini! Pekikku dalam hati, aku tidak percaya ia akan datang untukku. Kubergegas menemuinya dan meninggalkan nenek, adik dan Nia. Aku mengejarnya dikerumunan orang, cepat sekali ia menghilang. Aku yakin dia adalah Arini, aku bisa merasakannya.

“Arini!” Panggilku setelah menemukannya.

“Arini tunggu!” Aku mengejarnya, namun dia terus mempercepat langkahnya, aku pun langsung menarik tangannya.

“Arini!” Dia membalikkan badannya, dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Selamat ya Lang, impianmu kini sudah terwujud” Ia tetap tersenyum, senyumnya yang dulu dan sangat aku rindukan.

“Arini, kamu datang juga. Aku ga nyangka kamu akan datang. Makasih ya” Tanpa berterimakasih atas ucapannya aku mengucapkan kata-kata itu karena perasaanku saat ini lebih bahagia.

“Aku udah janji sama kamu kalau aku akan datang saat kamu wisuda. Kini janji itu udah aku tepati, sekarang izinkan aku pergi” Entah mengapa tanganku tetap memegang erat tangannya, seakan aku tidak ingin melepasnya kembali

“Arini, kamu bahagia?” Tanyaku ingin tahu keadaannya dan ia hanya mengangguk pelan, tapi matanya kembali berkaca-kaca, seakan aku tak percaya dengan jawabannya itu.

“Kamu yakin kamu bahagia?” Tanyaku lagi menegaskan

“Iya Lang, aku bahagia saat kamu bahagia, aku tahu kamu sudah bahagia bersamanya, aku ga ingin mengganggu hubungan kalian” Arini mendongakkan kepalanya menegaskan jawabannya.

“Lalu bagaimana hubungan kamu dengan Danny?” Tanyaku penasaran.

“Dia menerima sikapku yang dingin kepadanya, dia ga ingin aku memilihnya karena terpaksa, Hhh… Kini aku sendiri lagi seperti dulu” Arini melepaskan genggaman tanganku dan kembali menunduk. Ternyata Arini masih tetap mempertahankan sikapnya pada Danny seperti dulu, aku menyangka setelah aku tinggalkan ia, Arini akan berpaling pada Danny yang bisa menjamin hidupnya, tapi ternyata Arini, masih yang dulu.

“Arini, kamu ga sendirian. Aku masih menyimpan perasaan sama seperti dulu pada kamu dan sebenarnya…” Belum aku melanjutkan kata-kataku, Nia datang dan berbicara.

“Sebenarnya kamulah wanita yang ia cintai dalam hidupnya, selama ini walaupun aku selalu bersamanya aku ga bisa merasakan cintanya Elang”

“Nia, kamu…” Lagi-lagi pembicaraanku dipotong Nia

“Diam kamu Lang, perasaan wanita itu lebih peka. Kamu bisa bilang cinta dan sayang sama aku, kamu bisa bersikap romantis sama aku, tapi kamu selalu membayangkan Arini kan? Semua perbuatan yang kamu lakukan itu bukan karena aku, tapi karena kamu ingin melupakan Arini, tapi kamu ga bisa Lang. Aku bisa merasakannya? Kamu memang jahat Lang. Kenapa kamu ga bilang terus-terang?”

“Arini, kamu adalah wanita yang pantas buat Elang, dia lebih membutuhkan kehadiranmu dalam hidupnya. Elang ga akan bisa hidup tanpa kamu, aku tahu itu”

“Nia, maafkan aku udah menghancurkan perasaan kamu, tapi aku datang ke sini bukan untuk merebut Elang dari kamu”

“Sssttt… Arini, aku yang udah merebut Elang dari kamu. Elang ga pernah menggodaku, Elang selalu jujur tentang kamu tapi aku selalu menapikannya. Aku udah egois merusak hubungan kalian. Sekarang aku ingin melihat kalian bahagia lagi” Nia meneteskan airmatanya dan memegang tanganku dan Arini

“Nia, kamu selalu baik sama aku. Kamu selalu mendengarkan keluh kesahku selama ini walaupun tentang Arini. Aku memang jahat”

“Sudahlah. Semua karena adanya kehadiranku dalam kehidupan kalian. Kalian adalah bukti cinta sejati yang tidak pernah putus” Nia memeluk Arini. Semoga Nia mendapatkan laki-laki yang baik dan setia harapku.

Hujan sudah menghiasi Kota Jakarta sejak dua hari yang lalu. Kini gerimis sudah mulai berjatuhan. Kami sama-sama menuju mobil untuk pulang. Arini, aku janji aku akan mempertahankan cintaku padamu, aku tidak akan melepaskanmu lagi karena kamulah wanita terindah dalam hidupku.

Sukabumi, 23rd 2006

KAMPUS PERUBAHAN (Serial Ketiga)

•Oktober 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hiruk pikuk suasana kelas sepuluh Madrasah Aliyah Al-Muhajirin sangat riuh. Ada yang bermain gitar, ada yang dandan dengan bedak two way cake nya, ada yang bercanda ngobrol tidak karuan. Seorang guru datang memasuki kelas itu. Mereka seketika berbenah diri duduk rapi ke tempat duduknya. Namun ada beberapa yang berjalan santai ke tempat duduknya.

Guru mengucapkan salam kepada mereka. Mereka menjawab dengan serempak. Ada yang sedikit berteriak. Kelas itu adalah kelas baru. Tahun ini mereka baru ada di Yayasan Al-Muhajirin. Kelas mereka baru satu kelas belum punya kakak kelas. Jumlah mereka baru sedikit yaitu hanya 15 orang saja. Mereka pun banyak yang berasal dari anak-anak buangan. Artinya, ketika mereka tidak di terima di sekolah negri atau sekolah swasta lain, mereka akhirnya memilih sekolah di MA Al-Muhajirin.

Al-Muhajirin terletak tak jauh dari Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah. Berjarak sekitar dua kilometer saja. Sebelumnya yayasan Al-Muhajirin ini sudah mempunyai Raudhotul Athfal, dan Madrasah Tsanawiyah. Tahun ini mendirikan Madrasah Aliyahnya. Administrasi MA di satukan dengan Mts. Walau sudah mempunyai kepala sekolah, namun masih saja administrasi di sana belum begitu baik. Maklum karena masih baru.

Begitu pun dengan kondisi anak-anaknya. Mereka yang sebagian besar alumni dari Mts Al-Muhajirin merasakan ketidak adilan dari guru-guru lain. Sebagian besar guru yang mengajar di MA adalah guru MTs. Hal itu karena mengirit biaya juga. Kadang guru MA juga jarang masuk karena honor yang murah itu. Kepala sekolah MA adalah adik dari kepala MTs. Masih ada unsur KKN juga.

Bagusnya, MA Al-Muhajirin tidak menarik biaya mahal seperti sekolah lain yang sederajat. Hal itu karena selain masih baru, MA Al-Muhajirin juga membantu masyarakat yang anaknya tidak bisa melanjutkan sekolahnya di tempat lain karena biaya tinggi agar bisa bersekolah seperti yang lain. Selain alasan lain yaitu tidak di terima sekolah lain.

“Fahrudin”

“Hadir bu!”

“Muttaqin!”

Setelah mengucapkan salam, ibu guru itu mengabsen murid kelas sepuluh itu. Sebenarnya itulah hari pertama ia masuk ke kelas itu.

“Ok anak-anak, sebelum memulai pelajaran. Baiknya kita berkenalan dulu ya. Nama saya Fatiya Nurrahman. Saya tinggal di Mojotengah sana. Saya memegang pelajaran Fisika dan Kimia menggantikan Pak Riyadi dan mulai saat ini pula saya menjadi wali kelas kalian” Ibu guru itu bernama Fatiya. Fatiya di minta Pak Riyadi kepala sekolah MA untuk menggantikan ia dalam mata pelajaran Fisika dan Kimia. Kebetulan hari sabtu Fatiya tidak ada kegiatan di PAUD Pancawarna atau di MTs Kalibeber. Jadi bisa mengajar di MA Al-Muhajirin. Pak Riyadi kenal Fatiya dari Bu Hera pengelola PAUD Al-Asy’ariyyah yang adalah kakak ipar Bu Hera. Kakaknya Bu Hera menikah dengan Pak Riyadi.

Menjadi wali kelas MA juga karena permintaan Pak Riyadi karena memang sudah hampir lima bulan ini kelas MA belum mempunyai wali kelas. Sementara itu wali kelas di pegang oleh Pak Riyadi. Dengan datangnya Fatiya pekerjaan Pak Riyadi terasa terbantu.

“Ibu lulusan mana?” Tanya Udin ketua kelas

“Dari UIN Malang jurusan Fisika. Ada lagi yang bertanya?”

“Mmm… sudah menikah belum bu?” Tanya Hafidz nyeleneh kemudian langsung diserbu suara ledekan anak-anak kelas

Fatiya tersenyum dan menjawab “Sudah, punya anak satu. Memang kalau belum, kamu mau daftar?”

“Boleh bu… sudah enam belas tahun nge jomblo nih bu…” Jawab Hafidz makin nyeleneh

“Hu…uuu…itu bukan jomblo! Tapi ga laku!!!” Teriak anak-anak

“Sudah…sudah… sekarang siap memulai pelajaran?” Fatiya membuka halaman bahasan selanjutnya yang dulu masih di pegang oleh Pak Riyadi.

Anak-anak terlihat tegang ketika belajar dengan Fatiya. Lumayan ketat juga Fatiya memberlakukan pembelajaran pada anak-anak super itu. Ada yang berbisik kok Fatiya tiba-tiba serius sekali berbeda ketika tadi perkenalan. Hal itu sebenarnya karena Fatiya sendiri belum begitu mengenal karakter mereka dan masih agak gugup juga mengajar di depan anak yang umurnya berusia di atas 15 tahun itu.

“Ibu! Izin ke belakang sebentar ya” Agung mengacungkan tangan ketika pembahasan sudah mulai kepada contoh soal

“Boleh… dua menit sudah kembali lagi ya. Kalau tidak masuk lagi. Saya tidak akan menerima kamu masuk” Jawab Fatiya tegas

Agung dan yang lain agak kaget. Baru kali ini ada guru baru yang berani dengan mereka. Agung pun keluar. Sangka anak-anak lain, ketika teman-teman mereka diancam oleh guru, mereka akan melawan. Apalagi kalau sudah diancam tidak diizinkan masuk, ya tidak masuk sekalian.

Dua menit kurang tujuh detik Agung datang dengan agak tergesa. Teman yang lain terbengong-bengong. Kok bisa? Padahal Agung termasuk anak yang jarang masuk kelas… Fatiya bangga untuk pertama kalinya.

Sisa waktu belajar digunakan Fatiya untuk merumuskan administrasi kelas yang belum rapi. Sekarang mulai diadakan uang kas, kemudian diterapkan peraturan-peraturan kelas yang sederhana saja tidak berlebih karena kalau langsung ketat, mereka akan semakin menolak. Strategi Fatiya adalah semua anak di kelas mempunyai tugas semua. Mulai dari memberi konsekuensi teman yang terlambat masuk atau kabur, hingga memanggil guru ke kantor. 15 anak itu mendapat tugas. Sebelas laki-laki dan empat perempuan. Setelah selesai, Fatiya keluar dengan menunggu hasil dari mereka satu minggu kedepan.

Lukman tidak menjemputnya hari ini karena tadi pagi berangkat ke Jakarta di undang menjadi pembicara selama dua hari pulang besok minggu. Bukunya laris manis oleh kaum enterpreuner amatir dan para pendiri koperasi. Fatiya di ajak Agung untuk naik motornya. Agung berniat mengantar Fatiya pulang. Teman-teman yang lain menangkap Agung sedang mengeluarkan jurus playboy nya. Wajah Agung lebih ganteng dari yang lain. Kulitnya putih dan badannya tinggi. Yang mau jadi pacarnya banyak dan dia memanfaatkan kelebihannya itu.

Fatiya menolak ajakan Agung dan memilih naik ojeg saja. Sejak menikah dengan Lukman, Fatiya sudah tidak memakai Yamaha Mio nya. Karena sekarang dipakai Alif yang kuliah di UNSOED Purwokerto.

“Assalamualaikum… Fikri… eeehh anak Ummi sudah bisa tertawa lagi ya…” Fatiya pulang dulu ke rumah Bu Safinah untuk mengambil Muhammad Fikri Zain yang baru berusia lima bulan itu. Bu Safinah sudah tidak bekerja lagi sejak satu tahun lalu setelah Fatiya menikah. Fikri saat itu sedang bermain-main di ruang tengah bersama neneknya Bu Safinah.

“Kok kamu lama sih pulangnya?” Tanya Bu Safinah

“Iya, tadi ngurus anak-anak baru kan bu. Mana lagi kelakuan mereka aneh-aneh… maklum sekolah baru. Jadi harus di perbaiki sistem pembelajarannya dulu” Jawab Fatiya sambil menggendong putra tercintanya itu

“Fikri rewel ndak bu?” Tadi pagi sebelum Fatiya pergi ke MA Al-Muhajirin, Fikri sempat menangis. Padahal sudah diberi susu dan sudah mandi. Mungkin manja saja, mau ditinggal Umminya. Ah ada-ada saja anak berusia lima bulan itu.

“Tadi pas kamu pergi ibu ajak saja melihat kolam di belakang. Ibu cerita sama dia. Eeh lupa dengan tangisannya dan asik melihat ikan-ikan. Terus pas ibu ajak masuk rumah lagi, dia nangis lagi. Wah anak ini ngantuk rupanya. Memang kamu bangunkan jam berapa sih?” Tanya Bu Safinah. Biasanya Fikri dititipkan kalau Fatiya dan Lukman sudah membereskan Fikri hingga mandi dan makan. Itu pun kalau sudah jam delapan. Pagi itu Fatiya mengantar Fikri ke Bu Safinah jam tujuh.

“Mas Lukman yang bangunkan bu. Mas Lukman kan mau pergi. Terus Fikri ga henti di cium sampai terbangun. Sudah bangun eh mas Lukmannya pergi lari dari tanggung jawab. Padahal Fikri masih ngantuk. Tiya sewot sendiri. Ya sudah dimandikan sekalian” Fatiya kemudian menidurkan Fikri kembali dan memberikan mainan kepada Fikri

“Ah kayak kamu ndak gitu aja. Dulu waktu Yasmin kecil kamu godain terus. Kalau sudah nangis, kamu lari deh. Ibu yang repot. Sekarang giliran kamu ya terima saja hukum alamnya” Bu Safinah meledek Fatiya. Fatiya malu sendiri. Kemudian tak lama, Fatiya pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumah Bu Safinah itu mengambil beberapa baju dan perlengkapan Fikri. Fikri ditinggal karena nanti Fatiya makan siang dan menginap di rumah Bu Safinah selama Lukman ke luar kota.

***

Sejak Fikri lahir, Fatiya sudah tidak mengajar di PAUD. Kini ia praktis bekerja di belakang meja kepala sekolah saja. Tidak langsung terjun mengajar anak-anak PAUD. Kini tutor PAUD yang menggantikannya adalah Ibu Susi. Maka waktu berdua an dengan Fikri lebih banyak. Kadang Fikri diajaknya ke dalam kelas PAUD sambil memperhatikan cara mengajar para Tutor. Kadang Fikri di ajak ke kolam. Ia senang sekali melihat kolam perusahaan Lukman yang baru di belakang masjid Pancawarna yang sedang dibangun itu. Alhamdulillah setelah Fikri lahir satu bulan, Yayasan Pancawarna mendapat dana bantuan untuk pembangunan masjid sebesar 1 milyar dari Islamic Development Bank. Memang sudah dua tahun lalu Fatiya mengirimkan proposal ke IDB tersebut. Namun baru tahun ini direalisasikan. Masjid yang baru jadi setengahnya sekarang dilengkapi hingga terasa nyaman.

Kadang juga Fikri diajak ke ruang siaran mendengar Fajar dan Nurdin penyiar tetap radio Pancawarna yang sedang cuap-cuap itu. Sambil mendengarkan lagu-lagu rohani diputar. Hal itu sengaja Fatiya lakukan untuk perkembangan otak Fikri. Walau dilihat belum paham tentang pekerjaan-pekerjaan itu, namun Fatiya tahu kalau usia nol hingga enam tahun adalah usia emas yang dimana anak-anak itu butuh informasi sebanyak-banyaknya. Walau memang terlihat kurang memahami, namun semakin sering diajak berinteraksi, maka tahun-tahun ke depannya perkembangan daya pikir anak akan mudah.

Kadang Fatiya pun mengajak Fikri berbicara ketika Fatiya melakukan pekerjaan apapun. Mau makan bicara dulu, mau sholat mengajak Fikri sholat, mau pergi juga bilang kepada Fikri. Semua yang dilakukan Fatiya, Fikri harus tahu. Fatiya pun mengajak orang seisi rumah agar terus cerewet dengan pangeran kecil itu.

“Fikri anak Abi… ini Abi sayang, Abi lagi tidur di hotel nih nak. Sendiri. Fikri sudah makan sayang? Jadi anak nurut sama Ummi ya. Salam buat Mbah putri, Mbah Kakung, Lik Yasmin juga ya. Dadah.. sekarang Fikri bobo dulu ya… Wassalamualaikum” Suara Lukman Fatiya keraskan agar Fikri mendengar kalau ayahnya itu sedang berbicara dengannya. Fikri yang diajak berbicara juga tak berhenti mengecoh tak jelas dari tadi. Fatiya dan Lukman meneruskan pembicaraan mereka di telpon dengan tertawa kecil melihat perilaku Fikri.

***

Hari senin Fatiya harus ke MA Al-Muhajirin karena ada rapat orangtua tentang persiapan ujian akhir semester satu. Selain itu juga membicarakan sikap anak-anak yang masih saja banyak yang kabur. Peraturan tetap peraturan. Yang baik kadang terbawa nakalnya. Fatiya hampir sebulan ini selalu mendapat laporan anak-anak MA Al-Muhajirin yang kabur atau bolos. Semoga saja dengan pertemua orangtua nanti akan ada perubahan dari anak-anak.

Undangan rapat jam sembilan. Namun baru dua orangtua murid yang hadir. Ketika di tanya, mereka bilang orangtua mereka tidak bisa hadir karena berhalangan hadir. Ada yang kerja dan pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan lah, ada yang sedang pergi ke luar kota lah, ada yang bilang sibuk mengurus dagangannya sehingga tidak bisa digantikan bahkan ada laporan undangan orangtua mereka tidak sampai kepada orangtuanya. Fatiya dan Pak Riyadi geleng-geleng kepala bagaimana agar perilaku mereka menenangkan hati guru-guru sekolah dan tidak membuat malu sekolah.

Jam sebelas belum ada satu orangtua murid selain yang dua tadi datang. Kebetulan mereka orangtua yang anaknya cukup baik yaitu sang ketua kelas Udin dan orangtua Ami. Mereka tidak pernah bolos atau melanggar peraturan sekolah. Jadi rapat sekedarnya saja memberitahu untuk persiapan ujian dan diberi keterangan semoga anak-anak mereka tidak terbawa teman yang lainnya untuk ikut-ikutan nakal.

Dua hari sebelumnya Fatiya harus datang ke sana. Karena mendapat laporan bahwa Bayu dan Rizki minum-minuman di belakang sekolah. Mereka awalnya tidak mengaku, namun akhirnya mengaku juga setelah diancam akan dikeluarkan dari sekolah. Belum lagi Rika yang jika memakai jilbab selalu terlihat rambut depannya. Itu belum seberapa kadang ia juga merokok di warung sebelah. Sayang sekali wajahnya yang cantik ditutupi dengan kelakuannya yang jelek itu.

***

Fatiya langsung duduk di sofa rumah. Cukup melelahkan hari ini. Satu jam ia bicara di depan anak sepuluh MA Al-Muhajirin. Ia kecewa dengan mereka. Satu persatu di tanya oleh Fatiya mengapa sampai tidak ada orangtua yang datang. Ada yang diam saja melihat Fatiya agak marah, ada juga yang santai saja. Pikiran Fatiya melayang. Kemudian berdoa semoga di tabahkan dan bersabar atas peristiwa ini.

“Eh, Ummi sudah datang tuh… capek ya… Fikri tadi ndak nangis dong… soalnya Abi nemenin terus seharian sih…” Lukman menirukan gaya bicara anak kecil kemudian mendekati Fatiya yang sedang duduk lemas dengan menggendong Fikri. Lukman sengaja tidak ke kantor koperasinya karena sudah dua bulan ini ada yang menggantikan ia sebagai asistennya. Adik kelasnya dulu di UNSIQ. Kini Lukman lebih sering mengelola perusahaan ikan mas nya di belakang rumah. Kolamnya baru ada tiga. Satu kolam untuk bibit ikan dua yang lain untuk yang sudah berkembang. Dia mempunyai empat karyawan untuk kolam ikan ini. Pak Ganda sebagai satpam yang selalu patroli menjaga ikan-ikan tersebut, dua yaitu guru TPQ Pancawarna Fauzan dan Taufik yang sudah lulus sekolah dan satu lagi Yusuf anaknya pak Ganda.

Ikannya segar dan kualitasnya bagus. Lukman membawa bibit unggulan dari peternakan ikannya di Pekalongan. Selain itu Fauzan yang pernah mengikuti pelatihan penanaman ikan air tawar juga sangat telaten merawat dan mengembangbiakkan ikan-ikan tersebut. Baru ada tiga restoran yang berlangganan ikan mas milik Lukman. Selain itu dijual ke pasar dan ada juga yang membeli langsung di tempat. Lukman mematok harga lumayan di bawah standar tapi kualitas tetap terjaga. Ia lebih mencari relasi dulu baru keuntungan akan datang ketika kepercayaan sudah ada.

“Oh… anak pintar… ndak nangis? Sudah makan belum?” Fatiya melihat Fikri dan hendak menggendongnya. Belum sempat Lukman menjawab, Fikri tiba-tiba menangis. Lukman akhirnya menyerahkan Fikri pada Fatiya. Fatiya tahu kalau Fikri haus, maka Fatiya menyusui Fikri yang sedang haus itu. Pintar sekali Fikri mengerti kalau ibunya sudah datang. Tadi sebelum Fatiya datang, di kasih susu formula sedikit juga mau. Tapi kalau sudah ada Fatiya, mana mau Fikri minum susu formula itu. Sudah cerdas dari awal. Kini Lukman gigit jari di cuekin oleh mereka. “Siaran radio ah….” Lukman ngeloyor pergi. Fatiya tersenyum.

***

Ujian Akhir semester pertama selesai sudah. Minggu depan, Remaja Masjid Agung Wonosobo akan mengadakan perkemahan sabtu minggu di kaki gunung Dieng. Pesertanya adalah para remaja masjid seluruh kecamatan di kota Wonosobo. Yayasan Al-Muhajirin mengikutsertakan dalam acara itu. Tapi mereka mengutus anak MA Al-Muhajirin karena remaja masjid Al-Muhajirin yang masih tergolong muda ya mereka itu. Tujuannya juga semoga ada pengalaman dan perubahan setelah mengikuti perkemahan itu. Jadi ada rasa tanggung jawab mereka. Selain itu juga untuk mengisi liburan semester ini.

Jumat sore Fatiya mengantar mereka bersama Lukman. Si kecil Fikri ikut menemani. Yang lain menyewa satu angkutan kota. Perlengkapan semua sudah di bawa. Ada ban, ada kayu bakar, peralatan masak. Semua perlengkapan perkemahan sudah lengkap semua. Pak Riyadi dan Pak Nugroho pembina siswa MA Al-Muhajirin ikut serta dalam mobil Lukman.

Iring-iringan tiba satu jam kemudian di lokasi. Semua peserta sudah mendapat jatah untuk mendirikan tenda. Semua anak kelas sepuluh ikut semua. Lokasi tenda putra dan putri dibuat terpisah. Tenda putri tidak dibedakan dengan yang laki-laki. Walau putri hanya empat orang saja namun karena yang biasa memasak dan makan di tempat putri maka harus memiliki tenda yang cukup memuat banyak. Satu tenda milik Yayasan Al-Muhajirin dan satu tenda dipinjam dari Lukman. Dulu sering dipakai Lukman untuk keperluan naik gunung. Tapi sudah jarang dipakai ketika lulus kuliah. Sewaktu kuliah, sering juga Lukman dan teman-temannya mendaki gunung tadabur alam katanya.

Tenda diturunkan dan segera dibuat. Lukman membantu membuat tenda perempuan sedangkan Pak Nugroho membantu tenda laki-laki. Si kecil Fikri yang berada dipelukan Fatiya sibuk mengoceh sendiri seakan sedang mengatur kegiatan ayahnya.

Setelah selesai, mereka berkumpul dilapangan. Acara dari panitia belum dimulai. Ini hanya pesan dari kepala sekolah saja.

“Assalamualaikum warahmatullohiwabarokaatuh” salam Pak Riyadi

“wa’alaikum salam… warahmatullohiwabarokaatuh” jawab yang lain serempak

“Anak-anak. Kalian disini bukan untuk main-main. Melainkan untuk menjaga nama baik sekolah dan juga mengharumkan nama remaja masjid di seklah kalian juga. Akan banyak pengalaman yang akan kalian dapat di sini. Ikuti peraturan panitia di sini. Patuhi saran dari Pak Nugroho karena beliau sudah banyak pengalamannya. Tidak merokok ketika kegiatan. Tidak bersikap macam-macam yang bisa mencemarkan nama baik sekolah dan masjid. Siap ya!” Pesan Pak Riyadi

“Siap pak!” jawab mereka

“Kamu din, sebagai ketua kelompok harus bisa mengajak teman-teman kamu mengikuti kegiatan ini dengan baik ya. Jika ada yang sakit laporkan ke panitia” Fatiya menambahkan.

Sebelum pulang, Pak Riyadi minta diantar Lukman ke saudaranya di dekat perkemahan. Fatiya tidak ikut dan sikecil Fikri mulai dipakaikan jaket tebalnya. Cuaca sudah agak dingin menjelang magrib itu.

Setelah sholat magrib. Fatiya meminta anak-anak lain mengumpulkan barang bawaannya ke tempat perempuan. Semacam beras, mi instan, piring dan gelas. Isti, Ami, Rika dan Nurul menyiapkan makan malam. Agung membawa gitar untuk meramaikan suasana. Api unggun kecil dibuat di depan tenda putri. Fahrudin ketua kelompok kumpul di lapangan perwakilan dari remaja masjid Al-Muhajirin. Yang lain menyiapkan untuk perkenalan nanti satu jam mendatang. Bocorannya harus membuat perkenalan yang unik dari masing-masing utusan. Agung yang juga pintar memainkan gitar itu dari tadi sudah membetot senar gitar agar menghasilkan nada suara yang pas untuk nyanyian perkenalan nanti.

Mereka sudah makan dan lagu perkenalan sudah jadi. Lukman dan Pak Riyadi sudah datang lagi. Fatiya pamit pulang dengan mereka. Besok akan datang lagi mengunjungi mereka. Si kecil Fikri tidur pulas di gendongan ibunya.

***

Paginya, Pak Ganda yang bertugas menjaga ikan-ikan Lukman tergopoh-gopoh mendatangi Lukman. Katanya satu kolam sudah di jebol orang semalam. Kebetulan semalam hujan gerimis agak deras, dan cukup lama. Sehingga Pak Ganda yang biasanya patroli tiba-tiba mengantuk sebelum patroli. Jadi kecolongan satu kolam ikan di belakang. Kolam yang ikannya sudah besar-besar. Semalam Pak Ganda bisa-bisanya lupa mengunci gerbang kolam. Taufik, Fauzan dan Yusuf sedang tidak ada di sana. Taufik dan Fauzan yang juga tinggal disana, sedang bertugas mengikuti MTQ se Jawa tengah. Taufik untuk kaligrafi dan Fauzan untuk qorinya. Yusuf memang tiap hari pulang dan pergi kerjanya. Rumahnya memang tak jauh dari sana hanya yusuf sering menemani ibunya di rumah karena juga dipercaya menjaga peternakan kambing milik H. Muhammad Rahman.

“Den Lukman, kayaknya bapak di sirep semalam. Masak bapak ngerasa mengantuk sekali den” sirep seperti di teluh. Tidak sadar.

“Jadi berapa kolam yang dijebol Pak?” Tanya Lukman

“Satu den. Maafkan bapak ya Den…” Pak Ganda merasa bersalah

“Sudah pak tidak apa-apa ini teguran buat kita. Mari kita lihat kesana” Lukman dan Pak Ganda beranjak dari rumah. Fatiya yang mendengarkan dari balik kamarnya berdoa agar suaminya diberikan ketabahan dalam kejadian ini. Seperti merasakan apa yang dialami ayahnya, Fikri tiba-tiba menangis. Fatiya meraih Fikri dan memberinya ASI. Fikri pun diam kembali.

Lukman melihat isi kolam ke tiga yang sudah kering itu. Ada beberapa ikan kecil yang masih hidup. Lukman meminta Pak Ganda agar kolam itu segera di aliri air lagi. Dengan dibantu Yusuf.

Setelah semua intruksi sudah diberikan kepada Pak Ganda, Lukman bersiap untuk mengantar Fatiya yang rencananya hari ini akan mengunjungi perkemahan.

“Kalau mas sedang sibuk, ndak usah kesana juga ndak apa-apa toh mas. Nanti biar kita terima laporan dari Pak Nugroho saja” Fatiya sedang memakai jilbabnya di kamar hendak pergi tapi merasa tidak enak dengan Lukman karena kejadian tadi pagi.

“Lho kok ndak jadi? Jangan salah ya de’ mas juga kangen suasana perkemahan gitu. Inget masa sekolah dan kuliah dulu. Makanya mas seneng waktu ade’ ajak mas kesana. Tadi mas sudah kasih tanggung jawab ke Pak Ganda, kekurangannya tinggal lapor saja nanti setelah pulang. Fikri mau diajak ndak?” Lukman pun berpakaian casual setelah mandi dan memakai celana gunung.

“Iya diajak dong mas. Biar dia juga jadi petualang” Maunya Lukman, Fikri dititipkan ke Bu Safinah saja. Soalnya Lukman ingin mengajak Fatiya naik gunung di sana jadi bisa berduaan lagi. Habisnya, setelah Fikri lahir perhatian Fatiya lebih sering ke Fikri, Lukman kadang sering dicuekin. Tapi Lukman ngerti. Sekarang Fikri masih kecil, nanti kalau sudah besar giliran ibunya di cuekin soalnya pasti Lukman lebih sering mengajak Fikri berpetualang. Ha… ha… ha… pikir Lukman menghibur diri.

Tiba di sana, kegiatan belum begitu padat. Anak-anak baru saja jalan pagi. Perut mereka yang lapar langsung melahap nasi megono yang dibawa Fatiya tadi di warung nasi bawah. Nasi yang dicampur kelapa dan sayur mayur itu memang enak dijadikan sebagai sarapan mereka apalagi dengan gorengannya. Tidak lama habislah bawaan Fatiya dimakan oleh anak-anak.

Setelah makan, Rika yang anaknya ramai dan centil bercerita kalau semalam Reno dan Bayu paling banyak makannya sehingga teman yang lain hanya kebagian sedikit. Pak Nugroho lebih sering berada di posko panitia karena memang salah satu panitia juga sehingga Udin ketua kelompok bertanggung jawab sekali dengan kegiatan mereka. Belum lagi Yugna yang penakut itu. Semalam teriak tidak jelas di kamar mandi membuat orang-orang terkejut juga dengan sikapnya. Setelah ditanya ada apa eh ternyata Yugna melihat sorban putih menggantung di kamar mandi. Yugna kaget waktu itu. Semua yang mendengarkan cerita tertawa.

Setelah sarapan, Lukman mengajak Fatiya untuk jalan-jalan naik ke atas gunung. Fatiya sengaja membawa kereta dorong untuk Fikri agar ia tidak repot ketika naik ke atas. Untungnya jalanannya sudah di aspal dan dibuat berkelok agar memudahkan ketika menaiki gunung. Tempat itu memang tempat wisata sehingga pemerintah membangun jalan aspal di sana. Mereka pun berjalan bertiga.

Tidak jauh Lukman mengajak Fatiya jalan-jalan. Kasihan juga dengan Fikri yang dari tadi menangis minta susu. Setelah mereka sampai di perkemahan, Fatiya langsung masuk ke tenda putri memberikan ASI pada Fikri. Lukman geleng-geleng kepala. Doyan sekali Fikri pikirnya sambil tersenyum.

Hari sudah mulai siang. Kegiatan di perkemahan akan dilaksanakan tentang perlombaan bakiak atau sendal dari karet dan kayu. Satu regu terdiri dari tiga orang. Ada grup putra dan putri juga ada lomba tarik tambang.

Semua peserta di persiapkan. Berhubung putri hanya sedikit, dan mereka enggan mengikuti lomba, maka tim pria yang dipersiapkan. Untuk lomba tarik tambang, pesertanya berjumlah tujuh orang. Dari MA Al-Muhajirin semua peserta tarik tambang tidak ada yang berbadan besar. Semua kurus-kurus. Tapi mereka tetap optimis akan berjuang sekuat tenaga bermain sebaik mungkin. Dan alhamdulillah mereka masuk final untuk lomba tarik tambang dan lawannya dari Remaja Masjid Al-Asy’ariyyah.

Lukman yang melihat dari tadi kenal betul dengan Remaja Masjid Al-Asy’ariyyah itu karena dulu mereka adalah murid qori nya Lukman. Lukman membela keduanya. Namun Fatiya tetap membela anak-anak MA Al-Muhajirin.

“Ok pemirsa sekalian..mari kita lihat pertandingan kedua finalis kita. Yang satu dari MA Al-Muhajirin dan yang satu lagi dari RM Al-Asy’ariyyah… tunggu aba-aba… satu….dua….tiga!!!” Pak Nugroho yang menjadi pembawa acara pada perlombaan kali itu. Setelah berjuang sekuat tenaga, akhirnya RM Al-Asy’ariyyah yang menang. Anak-anak MA Al-Muhajirin memegang lengannya yang sakit itu. Lawan mereka memang sangat kuat. Tapi karena lomba tarik tambang kalah, untuk lomba bakiak mereka tidak ingin kalah lagi. Dan benar saja, Alhamdulillah MA Al-Muhajirin menang juara satu untuk lomba bakiak. Dari sana mereka sangat kompak. Fatiya, Lukman dan Pak Nugroho tersenyum bangga.

Setelah itu mereka kumpul lagi di tenda putri bersiap makan siang karena sudah dimasak oleh kaum calon ibu. Nurul, Ami, Rika dan Eni. Setelah makan Fatiya berpesan

“Alhamdulillah kita menang dalam lomba pada hari ini. Jangan lihat lomba apa yang kita menangkan tapi nilai yang terkandung di dalam lomba tersebut. Bukankah kita jadi lebih kompak, bukankah kita jadi ingin memperjuangkan nama remaja masjid sekolah kita? Kemudian tadi ibu melihat Rizki marah ketika ada yang menjelekkan nama remaja masjid sekolah kita? Bukankah itu adalah pembuktian bahwa kita semua ingin nama remaja masjid kita khususnya dan sekolah kita umumnya bagus di pandang orang? Kalian sudah berhasil mewujudkan itu. Kemudian apa lagi yang kurang dalam diri kalian? Kalian semua mempunyai kelebihan. Kalian semua yang akan mengharumkan nama sekolah. Kalian semua perintis sekolah kita maju. Jadi mengapa masih malu sekolah di MA Al-Muhajirin? Mengapa masih ada yang merasa cemburu dengan MTs Al-Muhajirin? Semua guru-guru di MA dan MTs itu semua perhatian dengan kalian. Hanya saja kalian masih baru, dan mereka juga masih baru mengenal kalian. Coba kalian lebih aktif bertanya kepada mereka, coba kalian minta masukan agar MA Al-Muhajirin bisa di samakan dengan MTs yang sudah maju… saya yakin kalianlah yang akan mencatat sejarah bahwa MA Al-Muhajirin ada sejak kalian. Bahkan kemenangan lomba pada hari ini adalah sejarah pertama kalian. Sekarang mulailah membenahi diri. Tidak saling menyalahkan, lihat diri sendiri apakah kita sudah baik atau belum. Jika belum sebaiknya tidak menegur kesalahan orang. Ibu tau yang nakal siapa-siapa saja, yang suka bolos, yang kabur ketika belajar. Dan ibu tahu sebenarnya hati kecil kalian tidak menerima itu kan? Kalian juga ingin belajar seperti mereka yang lain. Masuk awal waktu dan keluar juga pada waktunya. Nah jika permasalahan terletak pada gurunya yang jarang hadir, cobalah berpikir kreatif. Cari buku di perpustakaan dan kalian tulis hingga didiskusikan dengan teman-teman. Jika belum mengerti catat dan tanyakan kepada guru yang bersangkutan pada pertemuan selanjutnya. Guru pun akan senang jika dibuat sibuk dengan keaktifan kalian. Kemudian jika kalian merasa ada masalah baik dalam keluarga atau masalah apapun dalam kehidupan kalian, jangan lupa serahkan semua kepada Allah dan ceritalah pada guru Bimbingan Konseling kalian ibu Norma. Sudah lama Bu Norma menganggur tidak di fungsikan tugasnya. Itu saja dari ibu. Ada pertanyaan?”

“Bu! Kadang juga guru nya suka ngga hadir. Jadi kami bingung. Buku di perpustakaan kan terbatas. Buku yang biasa dipakai untuk belajar dibawa oleh gurunya…” Tanya Ami

“Kalau begitu, mengapa tidak diskusi membuat tugas lain? Baca-baca buku di perpus kek…. atau diskusi tentang hobi kalian yang bisa kalian kembangkan menjadi suatu komunitas pencinta kreatifitas? Memang kalau tidak ada pembimbing akan sulit. Tapi cobalah tunjuk seseorang yang bisa menjadi penasehat. Yang pasti kalian percaya. Yaa jangan terlalu serius lah santai aja tapi terarah… paham kan maksud ibu?” Terang Fatiya dan yang lain manggut-manggut.

“Dan kalau kalian bingung apa bakat yang kalian miliki, kalian bisa datang ke rumah kami di Yayasan Pancawarna. Kami punya radio yang dimana setiap minggu kami selalu memanggil siswa perwakilan dari tiap sekolah untuk menjadi penyiar dua jam di radio kami, kami juga punya lahan untuk berwiraswasta dan kami punya keinginan kaju bersama anak-anak yang kreatif. Jika kalian mau, kami akan membimbing. Apapun bakat kalian kita sama-sama kembangkan di sana” Tambah Lukman.

Suasana sudah mulai cair. Mereka lebih banyak bertanya tentang penggalian hobi. Status guru dan murid berubah menjadi seperti dari teman ke teman namun masih tetap menjaga kesopanan.

Fikri yang mulai lelah dari tadi menangis dipelukan Fatiya. Fatiya pun izin pulang kepada anak didiknya. Sebelumnya Fatiya mengutip kata mutiara milik NORMAN VINCENT PEALE

Jadilah seorang yang percaya bahwa selalu ada
kemungkinan dalam segala hal. Tidak peduli betapa
gelap tampaknya hal-hal yang terjadi di sekelilingmu
, angkat wajahmu dan lihatlah kemungkinan yang ada, carilah selalu, karena segala kemungkinan itu selalu ada.

“Ok anak-anak… jadikan MA Al-Muhajirin kampus perubahan kalian… yup!!” Seru Fatiya

“Ok deh bu… SIAP!!!” Mereka ikut berseru

Mobil itu pun melaju diiringi tangisan Fikri. Yang lain menatap mobil itu hingga tak kelihatan di jalan. Terima kasih ibu… kata mereka pelan…

***

Kerugian yang dialami Lukman tidak begitu banyak. Karena kolam yang dijebol termasuk kecil dan ikan yang dimasukan baru sedikit dan juga yang paling diminati pembeli. Malam itu belum di isi lagi oleh Pak Ganda sehingga tidak terlalu banyak ikan yang di curi, namun Pak Ganda masih merasa tidak enak kepada Lukman. Tapi Lukman sudah mengikhlaskan itu semua karena memang apa yang dimilikinya bukanlah miliknya. Ia tidak mempunyai apa-apa, yang memiliki apa yang dimilikinya hanyalah Allah SWT semata. Tak pantas dia sombong.

Pak Ganda pun bercerita kalau pelakunya sudah tertangkap dan sudah di sidang di ruang RW. H. Muhammad Rahman ayah Fatiya yang menyidangnya karena ketua RW disana. Adalah Pak Ratmo dan adiknya Pak Zuki yang membobol kolam milik Lukman. Alasannya karena tidak mempunyai biaya untuk melunasi rekening listrik dan keperluan rumah tangga lainnya. Fatiya yang mendengar di dalam ingat pembicaraannya kemarin pada Irfan anak Pak Ratmo yang ia temui sepulang dari TPQ Pancawarna.

“Irfan, ibu perhatikan kamu tidak pernah memakai sandal ke TPQ. Memang kamu ndak punya sandal?” Tanya Fatiya waktu itu

“Ndak bu… alas kaki satu-satunya saya ya ini. Ke sekolah pakai ini, ngaji pakai ini, kemana-mana memakai ini” Irfan menjawab sambil mengikat tali sepatunya

“Masa’ sih sampai tidak bisa membeli? Kan harga sandal jepit anak-anak tidak terlalu mahal” Fatiya tidak percaya

“Buat makan juga susah bu. Apalagi beli ini itu. Yang ada dulu saja dipakai” Irfan langsung menyiumi tangan Fatiya pamit pulang. Perasaan Fatiya tertohok oleh ucapan Irfan tadi. Ada percaya dan tidak. Karena memang dari penampilannya, Irfan lebih terlihat orang tidak mampu. Bajunya sering kucel dan kumal. Sering Fatiya cerewet agar Irfan mengganti pakaian yang bersih. Kadang Fatiya juga kesal pada dia karena anaknya bandel. Tapi ngajinya rajin bagusnya itu. Fatiya tahu rumahnya dan tidak terlalu miskin dan bukan rumah kontrakan. Ah mungkin benar sedang tidak mempunyai uang karena ayahnya yang bekerja sebagai pekerja bangungan sedang belum mendapat pekerjaan lagi.

Niatnya, minggu depan setelah TPQ Pancawarna masuk lagi setelah dua gurunya pulang dari MTQ, Fatiya akan memberikan sandal untuk Irfan. Eeh kejadian pagi tadi membuatnya kaget dan awalnya berniat membatalkan memberi sandal karena Lukman yang sudah merelakan ayahnya mengambil ikan-ikannya dirasa bisa cukup membelikan sandal untuk Irfan. Tapi niat itu dihilangkan, dia sudah berjanji akan memberikan sandal pada Irfan.

Pulang dari perkemahan hingga datang, Fikri masih menangis karena badannya panas. Udara Dieng yang dingin membuat tubuh bayi itu ringkih. Fatiya merasa bersalah karena tidak menitipkan Fikri pada Bu Safinah tadi. Lukman agak marah juga karena tadi pagi memang sebaiknya Fikri tidak diajak. Sempat adu mulut juga pulang dari perkemahan suami istri itu. Karena sama-sama lelah. Tapi akhirnya Lukman mengalah dan mendengarkan omelan istrinya itu. Dalam hati Lukman berkata “lho kok yang sewot dia?” sambil tertawa dalam hati. Fatiya memang begitu sikapnya jika merasa salah. Marahnya cepat dan sekali mengomel ya sudah berhenti, tidak dipanjangkan. Paling lama lima belas menit ngomel. Lukman sudah tau itu. Nanti kalau sudah diam baru Lukman bicara.

Dari tadi Lukman mandi dan makan sendiri tidak mengajak Fatiya. Fatiya pun diam setelah ngomel. Setelah makan, Lukman ke kamar melihat keadaan Fikri. Masih panas rupanya. Fatiya pergi mandi dan sudah makan. Lukman tersenyum melihat tingkah istrinya. “Ya Allah… beginilah bumbu rumah tangga itu…” pikirnya sambil tidur di samping Fikri.

Setelah Fatiya mandi, Lukman bertanya pada Fatiya yang masih merengut itu. Kemudian mencandai istrinya itu.

“Sudah selesai marahnya??” Lukman menahan tawanya

“Belum!” Jawab Fatiya singkat

“Pake baju yang rapi sana. Kita ke dokter Rina periksakan Fikri” Lukman masih tiduran di kasur

“Ndak usah di bilang juga mau!” Fatiya masih sewot

“Aduh…aduh… istri ku ini kalau sudah marah kayaknya tambah cantik deh… mana sih mukanya? Suamimu mau lihat nih…” Lukman bangkit dan mencari-cari wajah Fatiya yang membelakanginya sedang mengganti baju dan “Cup” ciuman manis mendarat di pipi Fatiya. Tak tahan melihat tingkah suaminya, Fatiya akhirnya tertawa juga sambil memukul lembut dada Lukman.

“Iiiihhh… nakal ya… sssttt jangan berisik ada Fikri…” Fatiya akhirnya tersenyum

“Nah gitu dong senyum. Masak suaminya di cemberutin terus. Mas minta maaf tadi ya. Sudah menyalahkan ade’. Mau kan maafkan mas?” Lukman duduk di kasur dan meraih tangan Fatiya untuk duduk di kasur juga.

“Tiya yang minta maaf mas, makasih ya mas” Fatiya menatap Lukman sayang

“Oh…jadi harus dicium dulu baru mau maafkan mas?” Tanya Lukman menggoda

“Iiihh apa sih… ayo mas, nanti keburu hujan” Fatiya menahan malu dan menggendong Fikri pelan. Lukman masih saja senyum-senyum melihat Fatiya malu. “Masak sama suami saja malu de’…” kata Lukman. Fatiya tidak lagi mengindahkan kata-kata Lukman. Mereka pun membawa Fikri ke dokter Rina. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Fikri. Si kecil buah hati itu tetap nyenyak tidur di pangkuan Fatiya. Badannya sudah tidak sepanas tadi. Karena sudah dikasih vitamin dulu sebelum ke dokter.

Diperjalanan, pikiran Fatiya menerawang di atas sana. Semoga Bayu, Agung, Nurul, Rika dan yang lain bisa berubah menjadi lebih baik.

Sebuah masalah merupakan kesempatan bagimu

untuk melakukan yang terbaik (DUKE ELLINGTON)

Yasmin Ahmad. March 29th 2008

BUAH HATI AYAH DAN IBU (Serial Kedua)

•Oktober 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Malam itu hujan sedang turun. Tidak deras namun gerimis pekat. Suara tetes-tetes air menambah dinginnya suasana pada malam itu. Di kamarnya, Fatiya masih menekan keyboard pada laptop tua nya. Ia sedang membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran untuk dikumpulkan esok hari. Semua guru bidang studi apapun harus membuat RPP itu karena akan ada sertifikasi. Jika lulus, maka bisa mudah untuk menjadi Pegawai Negri. Kebetulan Fatiya juga belum menjadi Pegawai Negeri. Ah… tapi Fatiya juga tidak begitu ngoyo untuk menjadi Pegawai Negeri. Dihadapi dengan santai namun serius.

“De’, sudah hampir jam sebelas nih. memangnya ndak cape?” Lukman datang menghampiri isterinya itu sambil memijit punggung Tiya yang sedang duduk di depan laptop nya yang ia simpan di kasur.

“Iya mas, tinggal di edit sedikit lagi. Tapi kalo mas sudah mau tidur, biar Tiya lanjutkan besok pagi saja” Jika Fatiya ingin tidur kadang menunggu Lukman tidur dulu, dan ketika Lukman mengajaknya tidur, Fatiya pun harus menemani Lukman tidur.

“Lanjutkan saja dulu de’. Lagipula mas masih mau baca buku ini” Lukman pun naik ke tempat tidur. Fatiya melirik buku yang di baca suaminya itu. Ia sedang membaca Re Code DNA karya Reynald Kasali.

Hampir setengah jam Fatiya meng edit. Akhirnya ia selesai juga. Lukman yang dari tadi membaca ternyata sudah tertidur duluan dengan buku yang sudah tertutup. Fatiya jadi tidak enak. Kemudian Fatiya memindahkan laptop nya ke atas meja. Buku yang dibaca Lukman juga di simpan di atas meja. Fatiya mematikan lampu kamarnya dan tidur di samping Lukman kemudian mencium kening suaminya dengan penuh rasa cinta.

“Mas Lukman, maafkan Tiya ya” Fatiya berbisik setelah mencium kening suaminya itu.

***

Lukman menghidupkan sedan vios nya sebelum sarapan. Ia akan segera berangkat ke tempat kerjanya. Yaitu di Koperasi Al-Asy’ariyyah. Setelah itu ia pergi ke UNSIQ untuk mengisi acara pada seminar tentang kewirausahaan di kampus itu. Fatiya juga sudah siap mengajar di MTsN Kalibeber menyiapkan tas Lukman. Kemudian menemani Lukman sarapan.

“Wah mas, enak juga nasi goreng ini. Tiya jadi malu” Fatiya memuji masakan suaminya “Mas dari dulu suka masak de’, sering juga nyari resep masakan di buku-buku hingga ke internet. Lagipula mas sudah lama tinggal di kontrakan sendiri. Jadinya seneng masak-masak sama temen-temen yang pengen makan di kontrakan mas” Lukman pun menyantap masakannya yang ia buat bersama Fatiya tadi pagi sekali. Fatiya hanya bertugas mengupas bawang dan mencucinya saja, kemudian menyiapkan nasi. Sedangkan Lukman yang menumbuk bumbu hingga menggorengnya. Fatiya masih banyak belajar masak dari Lukman. Maklum, Fatiya dari kecil sudah sering dimanja dan tidak pernah dipaksa untuk memasak. Makanya sekarang jadi malu sama Lukman. Tapi Lukman sangat sabar membimbing Fatiya.

Setelah itu Lukman mengantar Fatiya ke MTs. Hari itu hari kamis, Fatiya tidak mengajar di PAUD Pancawarna (Pendidikan Anak Usia Dini). Mereka berpamitan dulu ke rumah Bu Safinah ibunya Fatiya yang letaknya hanya beberapa meter saja. Setelah menikah, mereka membangun rumah tak jauh dari kediaman H. Muhammad Rahman dan Bu Safinah. Hal itu karena pesan dari H. Muhammad yang ingin Fatiya dan Lukman mengurusi Yayasan Pancawarna itu.

Lima belas menit kemudian Fatiya tiba di MTs. Setelah pamit mencium tangan Lukman, kemudian ia langsung masuk ke ruang guru. Ia menyimpan tas dan mengambil buku Matematika kelas tujuh yang ia simpan di meja kerjanya.

Fatiya melangkahkan kaki menuju kelas tujuh dua. Kelas tujuh ada dua kelas di sana. Ia masih melihat beberapa anak kelas tujuh dua berada di luar. Kemudian Fatiya memberi isyarat ke mereka agar mempercepat langkah kakinya segera masuk ke kelas. Kemudian setelah murid masuk ke kelas, Fatiya pun masuk mengucapkan salam membaca doa bersama.

“Anak-anak, walaupun semalam hujan hari ini masih terasa dingin, tolong jaket yang kalian pakai tidak di pakai di dalam kelas ya” Fatiya memberi peringatan pada beberapa anak yang masih memakai baju hangat di dalam kelas.

“Ibu, maaf. Saya tidak bisa membuka jaket saya ini. Semalam badan saya panas dan saya takut sakit lagi kalau jaket ini di buka” Tiba-tiba Yuda berbicara sambil mengacungkan tangannya ke Fatiya setelah memberikan peringatan itu.

“Kamu sakit? Kenapa tidak istirahat di rumah saja?” Fatiya kemudian menghampiri Yuda.

Yuda menggeleng lemas dan menjawab “Tidak bu, saya sudah sedikit baik. saya tidak ingin ketinggalan pelajaran” Fatiya menangkap sesuatu yang aneh pada diri Yuda. Akhirnya Fatiya mengakhiri pembicaraan pada Yuda dan memulai pelajaran.

Yuda berasal dari Dieng. Sewaktu di SD ia masih tinggal di sana bersama nenek dan kakeknya kedua orangtuanya sudah tidak ada. Ayahnya meninggal karena kecelakaan ketika menjadi pemandu wisata di Telaga Warna. Ada motor yang menabraknya. Ibunya meninggal setelah melahirkan Yuda, Tapi sekarang setelah MTs ia tinggal bersama Bu Lik nya di Desa Krasak tak jauh dari Kalibeber. Sejak tinggal bersama Bu Lik nya. Ia sering menjadi bulan-bulanan Bu Lik dan Pak Liknya. Mereka mempunyai anak hanya satu. Kemudian kakek neneknya menyarankan kepada Bu Mirna yaitu adik dari ayahnya untuk tinggal di rumahnya agar bisa melanjutkan sekolahnya sekaligus mengasuhnya. Karena kakek neneknya hanya sebagai buruh petani kentang saja dan sudah tua. Untuk biaya sekolah akan sulit sekali diandalkan.

Yuda pulang sekolah harus berjualan kue milik Bu Liknya. Dan tidak boleh pulang sebelum habis. Kalau belum habis biasanya di beri makan sedikit. Hal itu membuat Yuda semakin kurus dan sering sakit. Hari itu Yuda tidak mau membuka jaketnya bukan karena ia sakit panas semalam. Hal itu karena ada bekas pukulan bambu ke tangannya yang Bu Mirna lemparkan pada Yuda. Alasannya karena Yuda meminta bayaran sekolah kepada Bu Liknya itu, tapi karena Bu Mirna tidak mempunyai uang maka Yuda di suruh untuk menghabiskan jualan untuk hari kemarin. Tapi karena hujan dari pagi hingga sore sehingga membuat orang-orang segan untuk keluar rumah, maka dagangan pun tidak habis. Yuda akhirnya di pukul oleh Bu Mirna hingga tangannya memerah. Ia hanya diberi makan sedikit saja. Pak Liknya cuek saja melihat Yuda di pukuli oleh isterinya. Begitu pula dengan Jarwo sepupu Yuda yang sudah SMA itu tetap saja cuek dengan penderitaan Yuda. Bagaikan di sinetron, hidup Yuda sangat merana.

Yuda di sekolah cukup akrab dengan teman-temannya. Teman-temannya ada juga yang tinggal satu desa dengannya. Mereka tahu kalau Bu Liknya sering memukulnya. Orangtua mereka pun tahu kalau keluarga itu kejam pada Yuda. Tapi mereka tidak mempunyai nyali dan bukti. Mereka juga beranggapan sebenarnya keluarga Bu Mirna masih memberikan perhatian pada Yuda, mereka pun masih memberi makan pada Yuda walau sedikit dan masih menyekolahnya dia walau kadang tidak di beri jajan.

Bel jam istirahat berbunyi. Fatiya keluar dari kelas tujuh satu. Setelah mengajar di kelas tujuh dua ia mengajar di kelas tujuh satu. Fatiya melangkahkan kaki ke ruang guru. Di sana sudah ada Bu Sandra guru Sejarah.

“Bu, sudah buat RPP belum?” Tanya Tiya setelah duduk

“Belum nih bu, habisnya si kecil lagi sakit. Jadinya waktunya belum sempet” Bu Sandra baru punya anak perempuan. Ia menikah setelah seminggu Fatiya menikah. Kini anaknya baru berusia tiga bulan. Fatiya yang kini sudah menikah hampir satu tahun lebih belum juga dikaruniai anak

“Waduh seneng ya, tiap hari ada mainan. Saya kapan ya bu? Sudah kepengen juga nih” Fatiya memegang perutnya yang masih tipis itu

“Sabar aja bu, Bu Tiya kan urusannya banyak. Anaknya juga sudah banyak. Mungkin saat ini belum dikaruniai dulu. Karena takutnya kalau sudah dikaruniai anak, eh malah terbengkalai urusan yang lainnya. Syukuri saja bahwa ini yang terbaik buat ibu” Bu Sandra menenangkan hati Fatiya. Memang juga. Saat ini kegiatan Fatiya sedang sibuk-sibuknya. Anaknya memang banyak, tapi anak orang lain. Ia sangat mendambakan mengasuh anak sendiri bersama Lukman. Tapi Lukman tetap sabar menunggu isterinya itu hamil.

“Oh iya bu. Kalau saya perhatikan. Yuda itu sepertinya sakit terus deh kenapa ya? Sudah pernah nanya belum sama anaknya?” Fatiya menanyakan tentang Yuda pada wali kelasnya yaitu Bu Sandra.

“Saya sudah pernah tanya sama anaknya. Tapi dia memang ga mau bilang sama saya. Saya dengar dari temen-temennya kalau dia di rumah sering di pukul sama Bu Liknya. Tapi ketika saya datang ke rumahnya. Sikap Bu Lik dan Pak Liknya baik banget sama saya. Begitu pula sikap ke Yuda. Mereka seakan ber ackting di depan saya” Bu Sandra menjelaskan

“Kasihan aja saya melihatnya. Padahal dia pinter banget lho bu. Kemarin nilai saya dia dapet sembilan. Memangya ia rangking berapa?”

“Rangking dua bu. Iya saya juga kasihan melihat dia. Tapi ya bagaimana lagi. Saya juga bingung menghadapi sikap Bu Liknya itu” Bu Sandra menatap Fatiya lesu. Mereka kasihan melihat keadaan Yuda tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

***

Lukman memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Fatiya segera menuju ke rumah untuk menyambut Lukman. Ia dari kantor TPQ Pancawarna. Biasanya Lukman datang jam dua siang. Karena ia habis ada acara maka Lukman datang jam empat sore. Fatiya dari jam setengah tiga sore sudah berada di TPQ Pancawarna. Lukman mengunci mobilnya dan menuju rumah Bu Safinah. Ia tahu kalau rumahnya di kunci karena dari jam setengah tiga hingga jam lima Fatiya berada di sana.

“Mas, sudah pulang ya” Belum sempat Lukman menuju rumah Bu Safinah, Fatiya sudah datang duluan ke rumahnya. Fatiya segera mencium tangan Lukman

“Iya de’ capek banget. Tadi setelah seminar, mas ketemu guru besar Fakultas Syariah. Mas senang banget sama dia. Kita mengobrol dan kemudian mas antar beliau ke rumahnya” Lukman mengikuti Fatiya menuju pintu utama

“Assalamualaikum ya ahlal bait…” Lukman mengucapkan salam itu

“Wa’alaikum salam warahmatullah…” Fatiya membawakan tas Lukman ke kamar.

Setelah mandi. Lukman dan Fatiya segera menuju rumah Bu Safinah. Lukman sudah makan dan sholat di mesjid agung bersama guru besar Fakultas Syariah itu. Lukman segera menengok koperasi Pancawarna sebentar, kemudian siaran religi jam lima nya di Radio Pancawarna. Sedangkan Fatiya kembali ke kantor. Masih ada yang harus ia kerjakan.

Empat bulan setelah mereka menikah, mereka mendirikan Radio Pancawarna. Ialah Radio edukatif yang berisi tentang dakwah pendidikan anak. Ada pula tentang pengembangan diri, dan enterpreunership. Semua jadual siaran ada kaitannya dengan pendidikan. Untuk tiap hari sabtu, selalu di adakan wawancara dengan para tokoh masyarakat. Seperti dari Diknas, Ketua RW, Ketua RT, Lurah, Camat dan lain-lain yang bisa memberikan pesan yang baik tentang pendidikan kepada para pendengarnya. Untuk setiap hari senin, ia menjadualkan kepada anak PAUD nya untuk berkreasi secara langsung di Radio itu. Mereka ada yang bisa bernyanyi, bercerita, menjadi penyiar hingga berdakwah. Semua di beri jadual. Untuk hari selasa, giliran anak TPQ yang siaran. Itu pun ada jadualnya. Bagi yang mendapat giliran siaran, mereka memakai waktu istirahat ketika setelah sholat asar selama satu jam. Setelah sholat asar, yang siaran didahulukan untuk membaca Iqra’ atau Al-Quran dulu kepada ustadznya agar ketika siaran, mereka sudah mengaji. Sehingga tidak melewatkan pengajian mereka.

Setiap jam lima sore Lukman mengisi tentang tausiyah di Radio Pancawarna. Ada tanya jawabnya pula. Kadang Fatiya menemani Lukman menjawab permasalahan yang dialami kaum wanita. Untuk siaran yang lainnya, Lukman mengambil tiga orang karyawan Radio. Satunya sebagai teknisi merangkap manajer yaitu Pak Harun dan dua orang sebagai penyiar yaitu Nurdin dan Fajar. Mereka alumni Ponpes Al-Asyariyyah. Harapan semua, semoga dengan adanya Radio Pancawarna, dakwah menjadi mudah.

***

“Mas, Tiya masih kepikiran tentang Yuda” Fatiya duduk mendekati Lukman yang sedang ngetik di depan komputer. Ia sedang merencanakan membuat buku panduan tentang koperasi agar mudah dan cepat maju. Fatiya dan Lukman mempunyai komputer sendiri. Fatiya memakai laptop sedangkan Lukman memakai komputer yang ia simpan di ruang kerja khusus.

“Siapa Yuda de?” Lukman tetap mengetik

“Murid Tiya di MTs” Fatiya kemudian menceritakan tentang Yuda kepada Lukman. Lukman tidak mengetik lagi tetapi mendengarkan cerita Fatiya.

“Kita angkat saja dia sebagai anak kita ya mas? Kalau dia di rumah sini, dia bisa lebih cerdas dan badannya bisa gemuk lagi” Fatiya bersemangat ingin mengajak Yuda untuk tinggal di rumahnya.

“Mas sih setuju de’. Tapi gimana sama Bu Liknya itu? Nanti kita malah di salahkan kalau ada apa-apa” Lukman memberi saran

“Habisnya Fatiya suka sedih kalau ada anak yang sering di siksa sama orangtuanya. Lihat di TV aja udah kesel banget. Lha ini anak Tiya sendiri yang mengalaminya”

“Ade’ cukup memberikan perhatian kepada dia kalau sekiranya tidak bisa membantu untuk mengadopsi dia untuk tinggal di sini. Dengan begitu ia tidak merasa sendiri di dunia ini. Ia masih bisa merasakan kasih sayang dari orang-orang yang menyayanginya” Lukman kembali melanjutkan ketikannya.

“Trus mas, tadi Tiya juga ngiri banget sama bu Sandra. Dia cerita tentang Nabila anaknya. Fatiya jadi sedih belum bisa hamil” Fatiya masih saja bercerita kepada Lukman. Lukman pun kembali berhenti sejenak untuk melihat isterinya

Lukman pun tersenyum dan memeluk Fatiya yang duduk di sampingnya

“Fatiya Nurrahmanku tersayang, sabar ya. Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat kita. Mungkin waktunya belum tepat kalau saat ini kita di karuniai anak. Berprasangka baiklah pada Allah. Lagipula de’ kata teman-teman mas, kalau sudah punya anak, nanti ayahnya malah di acuhkan. Isterinya lebih sering mengurusi anaknya. Nanti mas kesepian deh” Lukman mencandai Fatiya

“Ihh… mas ini masak sih seperti itu? Semoga saja Fatiya ndak seperti itu. Lagipula suaminya juga jangan egois. Kalau isteri lagi capek mbok yo ngerti”

“Ngerti tentang apa ya? heh heh heh…” Lukman tertawa dan mengerti apa yang Fatiya inginkan malam itu. Lukman kemudian mematikan komputernya. Ia sudah tidak konsen lagi sejak Fatiya duduk di sampingnya. Rumah itu terasa sepi karena baru berpenghuni Fatiya dan Lukman. Mereka mendambakan bidadari kecil hadir di rumah itu.

***

Di pojok rumah berwarna hijau itu Yuda menggigil kedinginan. Hujan turun sangat deras. Ia bercelana pendek dan hanya memakai kaos. Ia duduk di lantai teras pemilik rumah. Ia membawakan kue pesanan milik Bu Liknya. Untung saja kue pesanannya ia bungkus berlapis-lapis sehingga tidak kebasahan. Ia hanya memakai payung kecil saja. Setelah ia menerima uang dari sang pemilik rumah, ia kemudian melanjutkan perjalanannya menjajakan dagangannya. Dari kejauhan terdengar suara adzan asar. Yuda menghentikan langkahnya di gerbang Yayasan Pancawarna. Hujan sudah tidak deras namun masih gerimis. Ia melihat beberapa santri keluar kelas untuk mengambil air wudlu. Yuda tidak tahu kalau itu adalah yayasan Fatiya gurunya sendiri. Jarak dari Desanya dan desa Tiya lumayan agak jauh jika di tempuh dengan jalan kaki. Yuda berjalan cukup jauh hari ini.

Fauzan guru TPQ Pancawarna melihat keberadaan Yuda di sana. Kemudian mendekati Yuda yang masih berdiri di luar gerbang.

“Dik, masuk ya ikut sholat berjamaah sama yang lain” Tubuh Yuda yang kecil karena kekurangan gizi masih bisa di lihat seperti anak kelas lima SD. Yuda mengangguk cepat. Ia sengaja setiap berdagang selalu membawa sarung di wadah dagangannya itu. Yuda kemudian mengambil air wudlu di sungai kemudian mengambil saf untuk sholat.

Hari itu Fatiya dan Lukman sedang berkunjung ke Banjar Negara untuk menemui Bu De nya Lukman Bu Hardiati. Bu De nya tidak mempunyai anak, kemudian mengangkat anak yang sekarang sudah kerja di Jakarta. Kini hidupnya betul-betul kesepian. Suaminya sudah pensiun, mereka menginginkan cucu dari Nursyal anak angkatnya tapi belum juga Nursyal menikah. Maka sering dua minggu sekali Lukman dan Fatiya berkunjung menemani Bu De dan Pak De Lukman itu.

Yuda setelah sholat berpamitan pulang ke rumah. Alhamdulillah dagangannya habis di beli oleh anak-anak TPQ dan Bu Safinah pun membeli untuk iseng-iseng di rumah.

Yuda ingin sekali mengaji bersama mereka. Namun ia harus segera pulang ke rumah, kalau tidak Bu Liknya akan marah. Ia biasa mengaji di Mushola kampung dekat rumah bersama Ustadz Abdul setelah sholat Magrib.

Ketika sampai di rumah ia langsung di marahi Bu Liknya

“Heh dari mana saja kamu? Sudah adzan magrib baru datang. Main ya?”

“Nggak Lik, Yuda habis dari Kalibeber menawarkan kue di sana. Ini dagangannya habis. Dan ini uangnya” Yuda menyerahkan uang kepada Bu Mirna

“Bagus kalau gitu. Sana makan dulu. Baru ke masjid” Bu Mirna memang berkepala dua. Kalau Yuda datang membawa uang banyak maka biasanya sangat baik, tapi kalau hanya sedikit Yuda dipukul dan di marahi. Masih saja ada kekerasan pada anak. Seakan mereka tidak pernah menjadi anak kecil saja.

***

Senin ini Fatiya mengajar di PAUD. Bel dinyalakan tanda sudah waktunya masuk. Anak-anak kelas A dan B berkumpul di dalam kelas masing-masing. Mereka tidak langsung duduk, namun berbaris dulu sambil menyanyikan lagu mari kita berbaris

Mari kita berbaris seperti aku ini

ayo angkat kakimu angkat berganti-ganti

ayo-ayo-ayo ayo-ayo-ayo berbaris yang rapi

ayo-ayo-ayo ayo-ayo-ayo seperti polisi…

Fatiya memimpin anak-anak untuk berbaris sebelum duduk di kelas.

“Ayo anak-anak, sekarang yang memimpin di depan adalah Zahra ya” Fatiya memanggil Zahra untuk memimpin teman-temannya

“Siap Grak!! Lencang depan grak!!!” Zahra menyiapkan dengan lancar.

“Ibu…” Teriak Iman kemudian

“Kenapa sayang?” Tanya Fatiya

“Ini bu, Rofi nakal dorong Iman” Adu Iman

Fatiya tersenyum dan menasehati

“Sudah tidak apa-apa ayo salaman dulu. Rofi, minta maaf sama Iman ya. Sekarang kita baris lagi” Rofi dan Iman akhirnya saling bersalaman. Anak-anak kelas A lebih sering menangis dan mengadu. Fatiya sudah tidak heran lagi kalau dalam lima menit pasti ada aduan dari anak.

Lukman yang belum berangkat menatap isterinya dari balik gorden. Dia habis dari Koperasi, kemudian sejenak melihat Fatiya mengajar. Dia tersenyum dan teringat akan cerita Bu Safinah. Kalau sebenarnya Fatiya dulu tidak menyukai anak-anak, Fatiya tidak mau mempunyai adik. Yasmin adiknya adalah anak angkat H. Muhammad dan Bu Safinah. Ia diangkat selagi masih bayi dari kampung Mbahnya di Purwokerto. Hingga sekarang Yasmin tidak tahu kalau mereka bukan orangtua kandungnya namun Yasmin tidak pernah curiga sedikitpun karena kasih sayang mereka ke Yasmin tidak lah kurang.

Lukman takjub akan kesabaran Fatiya menghadapi anak-anak itu. Semoga ketika menjadi ibu, Fatiya bisa lebih sabar menghadapi anaknya. Lukman pun pergi ke tempat kerjanya, sebelumnya Fatiya sudah pamit duluan mengajar di PAUD dan tidak bisa mengantar Lukman ke depan gerbang. Lukman pun mengerti.

***

Suasana kelas begitu hening. Pak Bambang sedang memberikan ulangan Bahasa Indonesia kepada anak kelas tujuh dua. Kelas Yuda. Pak Bambang berjalan mengitari kelas. Sehingga terkesan ketat ulangan hari itu.

“Bapak…Hidung Yuda berdarah…” Tiba-tiba Nizar teman sebangku Yuda berbicara. Yuda menahan sakit nya dengan mengadahkan kepalanya di atas. Pak Bambang langsung mendekati Yuda dan mengajaknya untuk ke UKS. Yuda segera diobati oleh Ibu Yanti kepala UKS. Yuda pendarahan di hidung karena panas dalam yang sudah kronis ditambah dengan tekanan hidupnya selama ini. Yuda kemudian istirahat sejenak di UKS.

Fatiya yang mendengar Yuda pendarahan di hidung segera menuju UKS. Hari senin ini ada rapat jam sepuluh siang. Makanya setelah mengajar di PAUD Fatiya segera datang ke MTs. Fatiya menanyakan keadaan Yuda sekarang. Yuda menjawab bahwa ia sudah baik-baik saja. Bu Sandra yang kebetulan ikut rapat dan sedang tidak mengajar di hari senin juga menyusul Fatiya ke UKS.

“Yuda, kamu mau tinggal sama ibu ya?” Fatiya duduk di samping Yuda bersama Bu Sandra sesaat setelah mereka bertanya mengapa Yuda sakit

Yuda diam sejenak dan melihat ke arah Bu Sandra. Bu Sandra pun mengangguk ke arah Yuda meyakinkan

“Terimakasih bu. Tapi saya harus bantu Bu Lik saya berdagang” Jawab Yuda lemas. Fatiya dan Bu Sandra saling berpandangan.

Fatiya mengalami banyak pengalaman tentang karakter anak dan kehidupan anak sejak mengajar di MTs, PAUD hingga di TPQ. Kelakuan anak ada-ada saja. Pernah suatu hari ketika ia sedang mengawas ujian di kelas delapan, Ridwan tiba-tiba mengamuk dan mencekik temannya Aldi di sampingnya. Ridwan memang memiliki keterbelakangan mental, ia cerdas dalam IQ nya namun EQ nya tidak. Jadi ia seperti anak autis yang asyik dengan dunianya sendiri. Tapi ketika ia ditanya tentang pelajaran, ia bisa menjawab. Hal itu karena orangtuanya sibuk bekerja kemudian ia di tinggal di dalam rumah tanpa teman. Ia hanya ditemani komputer, TV, DVD atau barang elektronik lain yang dianggap ia sebagai temannya. Ia hanya ditinggal oleh pembantunya saja. Pembantunya hanya memasak dan jarang mengajaknya berbicara. Ia diberi buku-buku namun tidak diajarkan bagaimana berinteraksi dengan orang lain.

Fatiya yang sedang mengawas itu langsung kaget dan keluar. Ia tidak berani melerai kemarahan Ridwan. Karena baru pertama kali ia melihat ada anak yang mengamuk, Ia segera memanggil ibu Nunung guru senior yang sudah lama mengajar di sana. Ibu Nunung langsung meredam amarah Ridwan. Teman-teman sekelasnya tidak ada yang bisa melerainya. Aldi langsung lari dari Ridwan setelah Ridwan melepaskan cekikannya. Kemudian Ridwan di bawa ke ruang guru bersama Bu Nunung. Fatiya yang masih shock langsung duduk lemas di meja guru. Kemudian setelah tenang, Fatiya menyarankan agar anak ujian dengan tenang kembali.

Itulah pendidikan orangtua yang salah kepada anaknya. Anak sebenarnya butuh perhatian orangtuanya. Namun kerap kali orangtua beralasan kalau mereka bekerja untuk kebahagiaan anaknya juga. Padahal seharusnya sesibuk apapun orangtua sebaiknya menyempatkan untuk menanyakan perkembangan anaknya. Perhatian sedikit namun sering bisa membuat anak tidak kurang perhatian. Jarang sekali orangtua yang berkonsultasi perkembangan anak kepada gurunya. Padahal guru sangat tahu kalau bakat anak ada di mana. Fatiya sebagai kepala PAUD Pancawarna sering kali mengajak kepada orangtua untuk konsultasi tentang perkembangan anak kepada Fatiya ataupun guru-guru PAUD lainnya. Namun himbauan itu hanya dianggap angin lewat. Kurangnya kesadaran pendidikan itu yang membuat mereka enggan berkonsultasi.

***

“De’, Bu De sudah sering bilang ke mas pengen angkat anak lagi” Lukman duduk di samping Fatiya yang sedang menonton TV itu.

“Mau angkat siapa mas?” Fatiya menengok sebentar ke arah Lukman kemudian menatap TV lagi

“Mas juga ndak tau De’. Mas kepengin yang nemenin Bu De itu anak yang nurut ga bikin Bu De kesel. Paling tidak seperti Nursyal dulu” Lukman bercerita sambil menonton TV juga

“Apa Yuda saja ya mas?” Fatiya kali ini menatap lekat Lukman

“Waduh de’ Yuda lagi, Yuda lagi. Segitu spesialkah Yuda di mata mu?”

“Iya mas, bagiku Yuda harus ditolong dari sekarang. Tiya harus menemui Bu Liknya kalau perlu. Tiya sudah tidak tahan lagi kalau Yuda hidup seperti itu. Tadi pagi saja, hidungnya berdarah karena mungkin ada tekanan yang sudah lama ia pendam dalam dirinya” Fatiya bercerita kejadian tadi pagi.

“Ya sudah, nanti kita coba ya. Sudah menonton TV nya. Tuh lihat sudah jam setengah tiga kurang sepuluh menit. Mau ke TPQ kan? Ayo, sekalian mas mau lihat kerjanya Pak Harun dan teman-temannya” Lukman beranjak dari kursi. Fatiya pun mengikuti masuk ke kamar untuk mengganti baju.

***

Yuda mempercepat langkahnya. Ia ingin kembali ke TPQ Pancawarna untuk belajar mengaji sebentar dan berdagang di sana. sakitnya tadi pagi sudah hilang. Ia tidak lagi merasakan sakit di hidungnya karena semangat ingin menuju ke TPQ Pancawarna itu.

Yuda menghentikan langkahnya di gerbang Yayasan Pancawarna. Anak-anak TPQ yang melihat ia dan dagangannya keluar untuk membeli dagangannya. Ada gorengan dan kue basah yang ia bawa. Fatiya yang baru keluar dari rumahnya melihat Yuda sudah ada di depan gerbang merasa kaget dengan kehadiran Yuda. Fatiya langsung mendekati Yuda.

“Yuda” Sapa Fatiya

“Eh Ibu” Yuda mencium tangan Fatiya yang selalu wangi itu

“Ini rumah Ibu ya? Saya baru tahu” Yuda kemudian berbicara lagi. Fatiya hanya tersenyum

“Gimana hidung kamu sekarang? Sudah baikan? Jangan dulu dagang kalau masih sakit” Saran Fatiya

“Sudah sembuh kok bu” Yuda kemudian membereskan dagangannya

“Sini masuk, ikut ngaji sebentar ya. Nanti setelah asar kamu boleh pulang. Setuju?” Fatiya mengajak Yuda untuk masuk ke kelas B untuk belajar. Yuda mengangguk dan langsung memakai sarungnya. Sebelum masuk, Lukman menghampiri Fatiya dan Yuda. Fatiya langsung mengenalkan Yuda pada Lukman. Yuda mencium tangan Lukman kemudian masuk ke kelas.

Setiap pulang sekolah setelah mengerjakan PR Yuda selalu berdagang di TPQ Pancawarna. Hal itu sudah ia lakukan selama satu minggu. Bu Liknya selalu merasa puas dengan hasil kerja Yuda selama ini karena dagangannya selalu habis di beli oleh anak TPQ dan juga keluarga Fatiya. Hal ini membuat Jarwo anak Bu Mirna merasa cemburu. Pasalnya ketika Jarwo meminta uang untuk membeli Tape Recorder, Bu Mirna mengaku selalu belum mempunyai uang. Pak Parmin suaminya yang sehari-hari hanya sebagai petani juga jarang memegang uang. Kalau hasil panen sudah di jual baru mempunyai uang. Uang sehari-hari biasanya didapat dari hasil dagangan Yuda.

Jarwo merasa kesal pada Bu Mirna dan Yuda. Akhirnya pada suatu pagi. Ketika Bu Mirna sedang pergi ke pasar, Yuda sudah sekolah dan Pak Parmin sudah ke sawah. Jarwo masuk lagi ke dalam rumah. Ia pura-pura berangkat sekolah pagi-pagi. Tetapi ia sebenarnya menunggu orang rumah pergi semua. Kemudian ia memakai kunci duplikat rumah yang telah ia buat jauh hari. Biasanya kunci asli di pegang oleh Bu Mirna jika ia akan ke pasar. Tapi pagi ini kunci di titipkan Yuda pada Bu Zaki tetangga yang rumahnya agak berdekatan dengan rumah Bu Mirna. Bu Mirna pagi itu harus berangkat duluan ke pasar karena ada pesanan kue banyak. Tahu rumah kosong, Jarwo berniat mengambil perhiasan milik ibunya. Ternyata kotak perhiasan ibunya dikunci rapat sehingga agak sulit untuk membukanya. Tapi Jarwo yang panjang akal segera mencari palu untuk membuka kotak perhiasan itu. Setelah di dapat, ia celingukan melihat keadaan. “Aman” pikirnya. Rumah mereka agak berjauhan dengan rumah tetangga. Sehingga jarang ada yang lewat. Jarwo tersenyum menang. Ia yakin Yuda lah yang akan di tuduh mencuri karena orang yang terakhir keluar rumah adalah Yuda.

Siangnya ketika Bu Mirna pulang dari pasar. Terdengar jeritan histeris dari kamar Bu Mirna. Bu Mirna menjerit setelah melihat lemarinya acak-acakan dan kotak perhiasannya tergeletak di lantai. Ia menangis dan segera mengambil sapu dan berkeliling rumah takutnya pencurinya masih ada di rumah. Namun ia tidak menemukan keanehan apa-apa. Ia tidak melihat kaca jendela terbuka. Pintu pun tidak ada yang rusak. Ia berpikir pasti salah satu penghuni rumah ini yang mengambilnya. Bu Mirna segera merapikan lemarinya dan menunggu orang rumah pulang.

Yuda pulang terakhir hari itu. Ia habis mengerjakan tugas dulu bersama teman-temannya. Ia biasa pulang jam satu siang, kini pulang jam dua. Yuda segera mempercepat langkahnya. Ia takut dimarahi Bu Liknya.

Baru saja sampai di rumah, Yuda langsung di pukuli oleh Bu Liknya itu.

“Kemana saja kamu hah? Takut pulang ke rumah ya setelah mengambil perhiasan Bu lik mu? Ayo ngaku!” Bu Mirna memukul Yuda sangat keras, Yuda yang terus menghindar membuat Bu Mirna tambah kalut

“Ampun Bu Liiiik, ampuuun…. Yuda tidak mengambil perhiasan Bu Lik…” Yuda masih saja menghindar karena merasa tidak bersalah

“Wis… wis… lah…Bu, joraken wae. Heh bocah gemblung. Rene koe!” Pak Parmin yang dari tadi menyaksikan itu menyuruh Bu Mirna untuk membiarkan Yuda dan memanggil Yuda untuk mendekat kepadanya

“Heh! Kamu ngaku saja kalau kamu yang mengambil perhiasan Bu Lik mu. Karena kamu yang terakhir keluar rumah ini. Hayo ngaku!” Pak Parmin setengah menampar Yuda, mata Yuda sudah mulai berair

“Bukan saya Pak Lik… hiks’…hiks’…” Yuda mulai menangis. Jarwo yang dari tadi berada di ruangan itu tampak tenang dan tersenyum bangga kalau hasil kerjanya tidak ada yang mengetahui. Ia tidak ingin berbicara apapun. Biarkan orangtua mereka yang memarahi Yuda.

“Aaahhh wis lah pak. Di usir saja anak nakal ini” Bu Mirna menyarankan Pak Parmin untuk mengusir Yuda dari rumah itu. Yuda menatap Pak Liknya dengan penuh harap untuk tidak menyetujui permintaan Bu Liknya.

“Iya. Mulai saat ini kamu ga usah tidur di rumah ini lagi. Pencuri ndak boleh tinggal di sini lagi. Sana pergi!” Pak Parmin menunjuk tangannya keluar rumah. Yuda langsung di usir begitu saja tanpa didengar alasannya.

Yuda menangis kencang “Ampun Bu Lik…Pak Lik… Yuda ndak mencuri… Yuda ndak tahu apa-apa…hu..hu..hu” Yuda menangis dan belum beranjak.

“Ah… sudah sini, kamu tuh memang pembawa sial di rumah ini. Ayo keluar!” Kini Jarwo ikut-ikutan marah pada Yuda dan menyeret Yuda untuk keluar rumah. Yuda tidak membawa buku-buku atau bajunya. Ia masih memakai baju Tsanawiyahnya. Sepatunya di dalam dan tidak diijinkan untuk mengambilnya. Yuda meninggalkan rumah itu dengan menangis. Para tetangga merasa iba dengan Yuda, tetapi mereka tidak berani menawarkan Yuda untuk tinggal di rumah mereka karena mereka tidak mau berurusan dengan keluarga Bu Mirna itu.

Yuda bingung akan pergi kemana. Ia menahan tangisnya. Ia terus berjalan hingga hujan turun deras. Ia berdiam diri di sebuah warung makan. Siang itu ia belum makan. Ia menatap beberapa lauk yang di pajang di warung itu. Pemilik warung melihat keberadaan Yuda, akan tetapi pemilik warung tidak mau memberikan makanan pada Yuda. Yuda hanya bisa menelan ludah sesekali.

Setelah hujan tak lagi deras, ia melanjutkan perjalanannya. Ia akan pergi ke Fatiya yang tempo hari pernah mengajaknya untuk tinggal di rumahnya. Semoga saja Fatiya bisa dijadikan tempat mengadu. Yuda mempercepat langkahnya ingin segera bertemu Fatiya Ibu gurunya. Setelah sampai di TPQ Pancawarna, ia melihat keadaannya sangat sepi. Tidak ada sandal anak yang tersusun rapi di depan pintu kelas. Ia melihat pintu rumah Bu Safinah tertutup rapat. Kemudian ia pergi ke rumah Fatiya juga tertutup rapat. Mobil vios milik Lukman pun tidak ada.

Hanya Koperasi Pancawarna dan Radio Pancawarna saja yang buka. Yuda segera menuju Koperasi Pancawarna setelah dari rumah Fatiya dan menanyakan kepada Bu Juli tentang keberadaan Fatiya dan yang lainnya. Ternyata mereka sedang berkunjung ke pesantren Al-Asyariyyah karena ada Haul Alh. KH. Muntaha al-Hafidz. Semua santri dan keluarga Fatiya pergi ke sana. Yuda kemudian duduk lemas setelah mendengar itu. Perutnya sangat lapar. Bu Juli memperhatikan wajah Yuda yang kusut.

“Nama kamu siapa nak? Muridnya Bu Fatiya ya?” Bu Juli menghampiri Yuda dan duduk disampingnya. Yuda menjawab pertanyaan Bu Juli diiringi anggukan mengiyakan pertanyaan selanjutnya.

“Sudah makan?” Tanya Bu Juli. Yuda hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian Bu Juli bangkit menuju ke dalam untuk memasak mie instan dan menyiapkan susu. “Kasihan sekali anak itu” Batin Bu Juli.

Bu Juli menemani Yuda yang sedang memakan mie nya dengan lahap. Yuda tidak bercerita tentang keadaanya pada Bu Juli. Ia beralasan baru pulang sekolah dan sepatunya sengaja tidak ia kenakan. Bu Juli tahu bahwa Yuda sedang berbohong. Tapi biarkan saja Yuda bercerita seperti itu. Sepertinya ia hanya ingin Fatiya yang mendengarkan kisahnya. Karena Yuda terus saja bertanya kapan Fatiya pulang.

Pukul lima sore rombongan keluarga Fatiya dan santri pulang ke Yayasan Pancawarna. Satu buah angkot disewa untuk mengangkut anak-anak sedangkan keluarga Fatiya memakai vios milik Lukman. Yuda sedang tertidur di kursi Koperasi ketika mereka datang. Bu Juli yang mengetahui kepulangan Fatiya dan rombongannya dan segera membangunkan Yuda pelan. Yuda mengucek matanya dan duduk sebentar. Sementara itu Lukman segera memarkir mobil nya di garasi rumah setelah singgah di depan rumah H. Muhammad Rahman.

Yuda berpamitan kepada bu Juli untuk menemui Fatiya dan mengucapkan beribu terimakasih atas kebaikannya tadi. Yuda lama berdiri di sudut pagar rumah Fatiya. Hujan sudah lama reda. Ia tidak berani untuk menemui Fatiya. Akhirnya ia pergi meninggalkan rumah Fatiya tanpa tujuan. Air matanya kembali menetes. Ia kedinginan…

***

“Assalamualaikum Warahmatullohiwabarokaatuh” Sapa Fatiya pada anak-anak kelas delapan dua. “Wa’alaikumsalam Warhamatullahi Wabarokaatuh” Sapa anak-anak. Ia langsung membagikan kerta ulangan kepada anak-anak. Selagi menunggu anak-anak mengisi jawaban, ia iseng keluar sebentar melihat kelas Yuda. Mungkin saja ia bisa melihat Yuda tersenyum hari ini. Ketika melihat dari kaca belakang kelas tujuh lima, kelas Yuda. Fatiya melihat kursi Yuda yang kosong. Ia melihat Pak Bambang sedang mengisi pelajaran. Fatiya bertanya dalam hati, apakah Yuda sakit lagi sehingga ia tidak bisa masuk hari ini? Fatiya kembali ke kelas delapan dua dan berniat menanyakan Yuda pada Pak Bambang nanti ketika istirahat.

Suasana kelas ribut. Fatiya segera mengambil sikap berjalan menuju lorong bangku anak-anak agar mereka konsentrasi lagi dan bekerja sendiri untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan Fatiya.

“Ayo kerjakan sendiri! Minggu lalu ibu sudah bilang untuk belajar. Maka sekarang tidak ada alasan bagi kalian tidak bisa mengerjakan. Soal-soal ini sama seperti yang pernah ibu contohkan dan sudah ibu berikan materinya”

Anak-anak diam dan saling menyikut tangan di sampingnya. Fatiya kembali duduk di bangku depan meneruskan memeriksa buku Biologi anak-anak yang sebelumnya dikumpulkan untuk dinilai tugasnya.

Pukul sepuluh tepat Fatiya keluar dari kelas sembilan. Setelah mengajar di kelas delapan, ia mengajar di kelas sembilan. Fatiya menemui Pak Bambang yang sudah duluan sampai di ruang guru. Jawaban Pak Bambang mengenai Yuda yang didapat dari beberapa temannya di desanya bahwa Yuda di usir dari rumahnya. Fatiya yang mendengar itu langsung kaget dan menelpon Bu Sandra siapa tahu Bu Sandra tahu keberadaan Yuda sekarang.

Setelah menelpon Bu Sandra. Fatiya duduk lemas. Karena jawaban Bu Sandra pun tidak tahu keberadaan Yuda. Fatiya perlahan meneteskan air matanya. Yuda sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

“Ya Allah… kemana hamba harus mencari Yuda” Ucapnya lirih…

***

Ditempat lain, Yuda tidur di halte Kota. Ia ingin menemui kakek dan nenek nya di Dieng. Padahal jarak dari Wonosobo ke Dieng cukup jauh. Jika menggunakan kendaraan bisa mencapai waktu sekitar empat jam.

Yuda merasa terganggu tidurnya dengan suara kendaraan yang lalu-lalang. Ia membuka matanya dan duduk. Ia melihat di sekelilingnya. Ada beberapa orang yang duduk di sampingnya dan ada yang berdiri menunggu angkutan kota yang akan lewat. Ia merasa haus juga lapar. Kemudian ia berjalan menuju sebuah warung makan yang tak jauh dari halte.

Yuda melihat ke dalam warung makan itu. Ibu pemilik warung mengusirnya karena penampilan Yuda sudah sangat kumal dan bau. Ia hanya menahan tangisannya saat itu. Sudah banyak ia mengeluarkan air mata kemarin. Ia terus berjalan menyusuri jalan dengan lunglai. Kemudian ketika menemukan sebuah masjid, ia langsung masuk ke dalam tempat wudlu dan meminum air keran. Untung saja, air keran di Wonosobo masih bisa dikatakan jernih karena belum banyak tercemar oleh pabrik.

Kemudian ia istirahat sejenak membasuh bajunya yang kotor karena kecipratan kendaraan tadi malam. Masjid masih sepi. Ia melihat jam di dinding masjid masih pukul delapan pagi. Ia hanya menenukan seorang kakek tua sedang membersihkan WC. Kakek tua itu biasa di sebut Mbah Carik atau kepala desa karena dulu ia pernah menjabat sebagai kepala desa di desa itu lama di sana dan tidak tahu keberadaan Yuda. Yuda ingin sholat subuh. Ia ketinggalan sholat subuh karena kelelahan semalaman berjalan. Tapi baju yang ia kenakan sudah tidak sah untuk di pakai sholat. Yuda melihat sarung menggantung di dalam masjid. Sarung itu sengaja disiapkan pihak masjid untuk dipakai bagi jamaah yang tidak membawa alat perlengkapan sholat.

Yuda mengambil sarung itu dan pergi menuju tempat wudlu untuk mencuci baju dan celananya. Mbah Carik yang dari tadi tidak mengetahui Yuda, kini sudah tahu bahwa ada Yuda di sana.

“Le, mau cuci baju di sini?” Mbah Carik menyebut Yuda dengan sebutan tole. Yuda mengangguk kaget

“Nih mbah punya sedikit sabun. Pakai saja ya. Sekarang mbah mau ngepel masjid dulu” Mbah Carik memberikan sisa sabun colek yang sudah di gunakan di embernya untuk mengepel lantai masjid. Yuda hanya diam dan mengangguk saja. Mbah Carik sungguh baik dan tidak banyak bertanya. Ia kembali teringat kepada kakek dan neneknya yang selalu menyayangi Yuda.

Setelah menjemur bajunya dan setelah mengejar sholat subuh, Yuda ikut membantu Mbah Carik membersihkan masjid. Perut Yuda yang kelaparan berkali-kali mengeluarkan suara seperti orang sedang makan kerupuk. Mbah Carik yang melihat kondisi Yuda merasa prihatin dan pergi duluan ke rumahnya yang tak jauh dari masjid dan mengambil sepiring nasi. Yuda yang belum sadar apa yang dilakukan Mbah Carik terus menyelesaikan tugasnya.

“Le, ayo sini” Mbah Carik mengajak Yuda menghampirinya ke samping pelataran masjid. “Sebentar Mbah…” Yuda menyelesaikan sedikit kerjaannya dan langsung menyimpan alat pel dan mencuci tangannya.

“Ini, makanlah. Mbah tau Le pasti lapar” Mbah Carik menyerahkan sepiring nasi dan segelas minuman. Yuda tanpa berbasa basi langsung menerima makanan itu. Lahap sekali Yuda memakan makanan itu. Setelah makan, Yuda menceritakan apa yang telah terjadi padanya hingga singgah sementara ke masjid.

“Oh jadi nama Le itu Yudistira toh… bagus seperti nama tokoh pewayangan” Mbah Carik bergumam sedangkan Yuda mengambil air minumnya ia telah selesai makan.

“Nah Yuda. Sekarang kamu Mbah sarankan menginap saja dulu di rumah Mbah. Nanti kalau Mbah sudah punya uang, nanti Mbah antarkan kamu ke Dieng ya” Setelah makan Yuda ditawari Mbah Carik untuk tinggal di rumahnya sebentar.

“Tapi Mbah, Yuda tidak bermaksud untuk merepotkan Mbah. Saya akan pulang sendiri dengan berjalan kaki dan singgah dari masjid ke masjid hingga sampai ke Dieng” Yuda tulus berkata seperti itu

“Ha..ha..ha.. kamu tuh ada-ada saja Le… memangnya nanti kamu mau makan apa selama perjalanan nanti? Ayo sudah tinggal dulu sementara di sini ya. Sambil Bantu-bantu Mbah ngurus masjid” Mbah Carik mengajak Yuda ke rumahnya. Mbah Carik tinggal bersama anak perempuannya yang janda. Cucunya juga seumuran Yuda. Laki-laki bernama Nanang masih duduk di kelas enam SD namun badannya lebih tinggi dari Yuda sehingga Nanang bisa meminjami bajunya untuk sementara ini. Istri Mbah Carik sudah meninggal dua tahun lalu karena sakit. Kini Yuda sementara tinggal bersama mereka. Keluarga Mbah Carik sangat baik sekali kepada Yuda. Kesedihan Yuda sudah tidak begitu terasa di sana.

***

Di tempat lain Fatiya jatuh sakit. Banyak yang ia pikirkan. Tubuhnya rentan dan ia jarang makan. Maka sering sakit. Apalagi jika banyak pikiran. Pikirannya kini bercabang antara ingin hamil, mengurus yayasan, dan Yuda.

“De’ sudah toh jangan dipikirkan…ini memang skenario Allah yang harus di jalani. Kalau kamu ndak makan, nanti tambah sakit. Nih makan ya” Lukman menyuapi Fatiya yang tidur di pembaringan rumahnya. Fatiya memalingkan muka dari suapan Lukman.

“Lho kok malah acuh? Emangnya mas mu ini kurang ganteng apa sih? He..he.. Iya nanti kita ke dokter lagi ya periksa kandungan mu walau kata dokter kemarin nda apa-apa hanya kamu jangan terlalu capek dan banyak pikiran aja de’” Lukman mencandai Fatiya dan kini Fatiya mau makan karena dijanjikan pergi ke dokter untuk memeriksa kandungannya. Memang sudah lama Fatiya menginginkan kehamilan terjadi pada dirinya.

Setelah makan, Lukman memanaskan mobilnya. Mereka akan pergi ke dokter Rina. Fatiya bersiap memakai baju hangatnya dan setelah mengunci pintu rumah ia masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju ke arah kota.

Tiba di sana, dokter Rina terus menggoda pasangan muda ini

“Wah mas Lukman, Fatiya mu ini sakit karena manja ingin diperhatikan sama mas nya. Mbok Yo kalo kerja jangan sibuk-sibuk amat toh mas” Dokter Rina yang usianya sepuluh tahun lebih dari Lukman mencandai Lukman seperti ke adiknya sendiri

“Lho saya ndak sibuk-sibuk amat toh… waktunya pulang ya aku pulang” Lukman membela diri

“Iya, tapi karena sekarang Koperasi nya tambah maju, mas jadi sering pergi ke luar kota ngisi materi. Apalagi bukunya sudah beredar. Gimana nanti suamiku banyak yang nge_fans” Fatiya bersungut

Lukman dan dokter Rina tertawa

“Oh…itu toh…iya deh…mas minta maaf ya ade ku sayang…nanti kalau kamu udah sehat mas ajak kamu kemana pun Ok…” Lukman masih menahan tawanya

“Lagipula bukan itu aja sih mas. Aku masih aja kepikiran Yuda. Pulang dari sini kita jalan-jalan dulu ke kota ya. Siapa tau kita ketemu Yuda” Fatiya tampak bersemangat kali ini

Lukman pun mengangguk. Kemudian mereka keluar ruangan dokter Rina setelah mendapat resep vitamin untuk Fatiya.

Sewaktu berangkat tadi di rumah agak gerimis. Tapi setelah di Kota, cuaca sudah terang kembali namun jalanan tampah basah sepertinya sudah hujan besar. Lukman dan Fatiya menyusuri seluruh kota. Mulai dari pasar hingga terminal tetap saja tidak ada ciri-ciri Yuda di sana. Kumandang azan asar telah berbunyi ketika mereka menyusuri kota satu jam lalu. Agar tenang, mereka singgah dulu ke masjid al-Ikhlas yang sebenarnya masjid depan rumah Mbah Carik. Lukman sebenarnya sudah melarang Fatiya mencari Yuda terlalu lama karena kondisinya masih kurang fit. Tapi Fatiya begitu ngotot ingin mencari Yuda. Ya sudah daripada beradu mulut akhirnya Lukman menuruti keinginan Fatiya dengan catatan tidak boleh lebih dari dua jam.

Lukman segera memarkir mobilnya di pelataran masjid. Fatiya turun kemudian mereka berpisah ke tempat wudlu yang berbeda untuk pria dan wanita. Setelah itu Fatiya duluan masuk ke masjid bagian wanita. Sementara itu di teras samping Yuda sedang membersihkan teras masjid yang kotor oleh daun-daun yang berterbangan oleh angin karena hujan tadi. Lukman menatap sekilas punggung Yuda namun segera memalingkan muka untuk bersegera sholat. Lukman kurang begitu hafal dengan fisik dan wajah Yuda karena baru satu kali bertemu dengannya.

Setelah Lukman selesai sholat. Lukman langsung menuju mobil mengingat Fatiya sudah harus kembali istirahat. Ia tidak lagi mengindahkan pandangannya pada Yuda yang masih menyapu teras masjid. Namun ketika hendak masuk ke mobil, Fatiya melihat Yuda yang ternyata dari tadi melihat Fatiya dari jauh namun tidak mau mendekatinya karena takut nanti disuruh pulang ke Bu Lik nya lagi. Walau sebenarnya Yuda pun ingin mengadu kepada Fatiya. Yuda segera memalingkan mukanya dan mempercepat langkahnya menuju rumah Mbah Carik. Fatiya tidak menghiraukan ajakan Lukman untuk segera masuk mobil karena cuaca kembali mendung takut hujan.

Fatiya mengikuti Yuda, ia yakin bahwa yang dilihat tadi adalah Yuda. Lukman pun akhirnya mengunci mobilnya lagi dan menyusul istri tercintanya itu.

“Yuda! Yuda!…” Fatiya memanggil Yuda berharap yang dipanggil menghentikan langkahnya atau memalingkan mukanya. Namun Yuda terus saja mempercepat langkahnya. Fatiya yang masih lemas akhirnya kalah dan memilih duduk di teras masjid. Mbah Carik yang melihat kejar-kejaran kecil itu menghentikan langkah Yuda.

“Yuda. Itu siapa? Dari tadi memanggilmu. Dia keluarga kamu?” Mbah Carik bertanya setelah Yuda menghentikan langkahnya Yuda mengangguk pelan dan bicara “Dia adalah guru saya. Dia sudah saya anggap seperti ibu saya sendiri tapi…” Belum sempat Yuda meneruskan penjelasannya, Mbah Carik menuntun Yuda untuk bertemu dengan Fatiya yang duduk di teras sudah ditemani Lukman.

Yuda langsung meneteskan air mata di depan Fatiya setelah sampai di depannya. Fatiya pun meneteskan air matanya sedikit. Yuda segera meraih tangan Fatiya dan menangis sesenggukan di atas tangan Fatiya

“Ibu… tolong Yuda bu… Yuda ndak mau pulang ke Bu Lik lagi…” Yuda menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan jajan oleh ibunya. Fatiya mengelus kepala Yuda dan itu membuat Yuda tenang dan kemudian mengangkat mukanya.

Fatiya tersenyum “Yuda, tenangkan hatimu ya. Yang bisa menolong hanya Allah, ibu hanya perantaranya saja. Sudah sekarang tenangkan hatimu ya”

Setelah tangisannya reda. Mbah Carik mengajak Lukman dan Fatiya mampir ke rumahnya sekaligus menceritakan pengalaman yang dialami Yuda. Hujan pun turun seketika. Membasahi kota itu. Angin kembali menari. Daun-daun di pinggir masjid yang tadi belum gugur kini gugur bergantian menari-nari pula mengacuhkan pekerjaan Yuda yang sudah membersihkan teras masjid seakan ingin di sentuh oleh sapuan Yuda. Tapi hari itu adalah hari terakhir Yuda membersihkan teras masjid karena Fatiya dan Lukman mengajaknya tinggal bersama mereka untuk sementara.

***

Dua bulan sudah sejak peristiwa “kabur” nya Yuda dari sekolah. Kini Yuda tinggal bersama Bu De nya Lukman di Banjar Negara dan diangkat menjadi anaknya. Kakek dan Nenek Yuda di Dieng juga sudah mengetahui kejadian itu. Bu Mirna mengaku salah terlalu keras bersikap kepada Yuda. Awalnya Bu Mirna menahan Yuda agar tetap tinggal di rumahnya. Karena sebenarnya sejak Yuda pergi penghasilannya jadi menurun. Dagangannya jarang habis. Jarwo memang dari dulu pemalas dan tidak pernah membantu Bu Mirna berdagang. Bu Mirna pun menyesal telah mengusir Yuda. Pencuri emas nya pun sudah diketahui sejak dua hari setelah Yuda pergi dari rumah namun Bu Mirna bingung mencari Yuda kemana. Mau ke Dieng takut dimarahi orangtuanya yaitu kakek dan neneknya Yuda.

Karena kakek dan nenek Yuda sudah mengetahui keadaan Yuda selama di Bu Mirna, maka akhirnya kakek dan nenek Yuda sepakat kalau Yuda tinggal di Banjar Negara. Bu Mirna pun pasrah dengan keputusan itu. Fatiya dan Lukman yang mengantar Yuda ke Banjar Negara. Kini Yuda meneruskan sekolahnya di sana bersama kedua orangtua barunya.

***

Musim hujan masih saja turun. Padahal di perkirakan oleh Badan Meteorlologi dan Geofisika pada bulan ini hujan sudah berhenti. Tapi perkiraan manusia tidak bisa di sejajarkan dengan kekuasaan Allah. Segalanya Allah yang mengatur. Dalam hujan pasti terdapat berkah yang banyak.

Fatiya senam kecil di depan rumah. Hujan semalam menambah segar cuaca pagi ini. Seperti biasa ia berolah raga kecil di sana. Menggerak-gerakkan badan sementara itu Lukman sedang mencuci mobilnya di halaman rumah. Tiba-tiba perut Fatiya mual dan kepala agak pusing. Kemudian Fatiya muntah-muntah yang langsung ia muntahkan ke halaman rumah. Lukman yang melihat kejadian itu menghentikan kerjaannya dan memijat punggung istrinya.

“De’ kenapa? Pusing?” Lukman bertanya masih dengan memijat leher dan punggung Fatiya. Setelah selesai, Fatiya baru menjawab “Ndak tau mas… mual rasanya” Fatiya dibimbing Lukman duduk di bangku teras. “Ya sudah sekarang ade istirahat dulu di kamar nanti kita ke dokter ya” Fatiya mengangguk dan masuk ke dalam kamar. Lukman melanjutkan kerjaannya dengan cepat.

Pukul delapan mereka pergi ke dokter Rina. Alhamdulillah dokter Rina membawa kabar gembira kepada pasangan muda itu. Fatiya akhirnya hamil dan sudah berusia dua bulan. Sejak saat itu Lukman sangat perhatian kepada Fatiya. Fatiya mau kemana pun harus Lukman yang mengantar. Beda waktu dulu Lukman hanya mengantar Fatiya dari rumah ke MTs saja. Kalau ada undangan rapat untuk Fatiya biasanya kalau Lukman sempat diantar kalau tidak Fatiya pergi sendiri. Tapi kini sempat tidak sempat Lukman harus menyempatkan. Fatiya malah bingung dengan sikap suaminya itu. Tapi kadang lucu juga. Seharusnya Fatiya yang ngidam eh malah Lukman yang ngidam. Fatiya yang hamil, Lukman yang doyan makan. Alhasil tubuh Lukman yang dulu kurus sekarang sudah agak gemuk tidak buncit perutnya. Hanya timbangan berat badannya agak naik.

“De’ nanti jangan makan yang pedas-pedas di sana ya. Terus jangan banyak makan gorengan. Terus juga kalau di sana banyak makan buah-buahan. Mas kuatir kalau kamu pergi de’. Apa ade’ ndak usah pergi aja ya?” Fatiya mendengar pesan suaminya itu ketika sedang memasukkan bajunya ke dalam travel bag. Fatiya di utus dari Dinas Pendidikan Luar Sekolah untuk mengikuti pelatihan PAUD di Purwokerto selama dua hari.

“Mas… mas… iya…iya… Tiya turuti keinginan mas. Lho kok ndak jadi pergi sih? Ini kan tugas mas. Lagi pula kan dua hari. Terus mas kan yang antar dan jemput. Doakan saja agar Tiya baik-baik saja di sana ya” Fatiya menutup tas nya itu sementara Lukman tersenyum kecut. Dua hari ditinggal istri tercinta. “Nasib-nasib… jadi suami pelayan umat seperti kamu de’…emmm tapi mas bangga kok” Lukman membawa tas Fatiya ke mobil. Fatiya berdiri di depan kaca. Ia melihat tubuhnya dari samping. Walau belum begitu jelas terlihat bahwa di perutnya ada isinya, namun Fatiya sudah merasakan ada tubuh mungil yang diam dan tidur di perutnya.

“Anakku… Ummi bahagia sekali Allah menitipkanmu pada Ummi. Setelah satu tahun lamanya Ummi dan Abimu menunggu kehadiranmu. Jadilah anak yang soleh ya. Berbhakti kepada orangtua, guru, dan agamamu. Amiin” Fatiya tersenyum di depan kaca sambil mengusap usap perutnya yang belum buncit itu. Klakson mobil sudah berdering dari tadi. Fatiya segera menuju pintu dan keluar dengan mengunci pintu rumah.

Calon Ayah dan Ibu itu tak sabar ingin berjumpa dengan bidadari kecil mereka, buah hati mereka. Semoga rahmat dan berkah bagi mereka semua.

Yasmin Ahmad, March 26th 2008

PUISI TERINDAH UNTUK SUAMIKU (Serial Pertama)

•Oktober 10, 2008 • Komentar Dimatikan

Hari yang Melelahkan

Waktu menunjukkan pukul 13.15 WIB. Fatiya baru pulang ke rumah lagi setelah dia pergi ke Bank mengirim uang ke Mbahnya di Purwokerto dari titipan Ibunya tadi pagi. Ibunya Bu Safinah kerja hingga sore hari, maka dititipkan kepada Tiya yang mempunyai waktu luang agak banyak.

Tiya membuka jilbabnya. Cukup panas hari ini. Dia menuju da

pur melihat apa masakan hari ini yang telah dimasak mba Eni tetangganya. Mba Eni kerja di rumahnya dari pagi jam tujuh hingga siang hari sekitar jam dua belas siang, mba Eni pulang ketika masakan, rumah dan setrikaan selesai dikerjakan. Keluarga Tiya memang sibuk semua. Ayahnya H. Muhammad Rahman, M.E. kerja di Yogyakarta sebagai Dosen di Universitas Gajahmada. Memegang mata kuliah Ekonomi. Pulangnya satu minggu sekali. Kakaknya sudah bekerja di Jakarta di salah satu Bank swasta. Sehari-hari dia tinggal bersama ibu, dan dua adiknya yang masing-masing masih sekolah. Yasmin adiknya paling kecil masih kelas lima SDN Kalibeber I dan adiknya yang laki-laki bernama Alif masih sekolah di SMA 1 Wonosobo.

“Yah… daging kambing…” Gerutu Tiya ketika melihat makanan di atas meja makannya.

“Assalamualaikum…” Yasmin baru pulang sekolah dan langsung meletakkan sepatunya di dalam rak sepatu. “Wa’alaikum salam… baru pulang Yas…” Yasmin mengangguk dan menyalami Tiya yang duduk di meja makan. Kemudian Yasmin mengambil gelas di dapur dan kembali lagi ke meja makan untuk mengambil air minum dari teko. “Glek…glek…glek… ahhhh… seger…” Yasmin baru duduk setelah minum. “Alhamdulillah tho ndok…” Kata Tiya, Yasmin pun nyengir memperlihatkan giginya yang bolong-bolong.

“Yas, beli baso aja yuk… mba lagi ga pengen makan makanan rumah ni…ga selera” Ajak Tiya pada Yasmin

“Emang mba Eni masak apa?” Tanya Yasmin

“Daging kambing” jawab tiya singkat. “Iya deh…aku juga moh makan daging… bau” Kakak beradik itu pun pergi meninggalkan rumah untuk membeli baso mas Melodi di seberang rumah. Sementara itu anak-anak TPQ sudah ada beberapa yang datang mereka sudah meletakkan tas nya di dalam kelas dan bermain di luar.

Selain mengajar di Mts, Fatiya juga membuka sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sorenya TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) Keduanya di beri nama PAUD Pancawarna dan TPQ Pancawarna. Sudah dua tahun ini dia mendirikan dua kegiatan pendidikan itu di rumahnya dibawah Yayasan Pancawarna yayasan yang didirikan ayahnya. Tahun lalu dia sudah mendapat bantuan dari Pemda Wonosobo untuk mendirikan sebuah kelas untuk kegiatan belajar mengajar. Kelas yang satu lagi berada di dalam mushola rumah yang di sulap menjadi kelas, namun bersih seperti aula. Jadi kelas pagi dan kelas siang memiliki dua kelas.

Fatiya makan bersama Yasmin lahap sekali. Akhir-akhir ini Tiya sering merasa lapar jika sudah waktunya makan. Hal itu disebabkan karena dua minggu lalu dia di vonis sakit maag dan hatinya pun sudah terkena. Maka dia tidak ingin merasakan sakit itu lagi. Dia tidak mau mengambil resiko minum obat yang pahit. Lagipula jika ia sakit, pekerjaannya akan terganggu. Banyak yang membutuhkan kesehatan dia.

Setelah makan, dia sholat berjamaah bersama Yasmin. Seketika itu pula anak-anak TPQ lainnya sudah banyak yang berdatangan.

***

“Bu…, ada yang mau daftar” Kata salah satu santri kelas B ketika memasuki kantor TPQ. “Iya suruh masuk saja” Kata Tiya, dia sedang merapikan meja yang berserakan buku-buku yang di pakai untuk mengajar di Play Group tadi pagi.

“Assalamualaikum bu…” Seorang ibu berusia 25 tahun masuk ke dalam kantor dan menyodorkan kedua tangannya untuk bersalaman

“Wa’alaikum salam Warohmatulloh… silakan duduk bu” Jawab Tiya sambil bersalaman dengan ibu itu.

“Saya mau mendaftarkan anak saya di TPQ ini”

“Baik bu, saya data dulu ya”

***

Tak jauh, Fauzan dan Taufik sedang menuju TPQ Pancawarna. Mereka adalah ustadz yang mengajar di TPQ Pancawarna. Fauzan adalah lulusan SMA Takhasus Al-Quran Kalibeber Wonosobo tahun lalu. Saat ini sedang sibuk mengirimkan lamarannya pada perusahaan-perusahaan di dalam kota dan luar kota. Namun usahanya sampai saat ini belum juga berhasil. Untuk mengisi kekosongannya, dia mengabdi pada Yayasan Pancawarna ini untuk mengamalkan ilmunya. Lagipula ia pernah belajar di SMA yang terkenal dengan hafalan Al_qurannya itu. Paling tidak, lulusannya harus hafal juz 30.

Sedangkan Taufik masih menjadi seorang siswa kelas tiga di SMAN I Mojotengah. Taufik tinggal tak jauh dari rumah Fauzan. Mereka sama-sama lulusan dari MTsN Kalibeber. Fatiya mengenal mereka dari kepala sekolah MtsN Kalibeber Pak Nu’man.

Setelah sampai di TPQ Fauzan dan Taufik masuk ke dalam kantor berukuran 3 x 4 meter itu untuk mengambil buku dan spidol. Di dalam Fatiya masih sibuk di depan komputernya. Dia hanya mengangguk saja ketika Fauzan dan Taufik masuk. Tiya terus meneruskan ketikannya.

Fauzan memegang kelas A kelas anak-anak yang usianya di bawah dari sembilan tahun. Fauzan ditempatkan Tiya di sana karena menurut Pak Nu’man, Fauzan lebih sabar orangnya. Anak yang usianya sekitar sembilan tahun ke bawah memang biasanya lebih suka rewel daripada sembilan tahun ke atas. Dan Taufik memegang kelas B. Ada yang sudah setingkat SMP juga mengaji di sana.

Sebenarnya diam-diam Fauzan mengagumi Tiya. Fauzan menginginkan mempunyai kakak seperti Tiya. Mereka terpaut usia tiga tahun saja. Tiya berusia 22 tahun, sedangkan Fauzan masih berusia 19 tahun. Namun karena Fauzan tinggi besar, dia tidak terlihat berusia 19 tahun. Fauzan kagum akan kinerja dan ide-ide Tiya. Tiya di mata Fauzan cukup kreatif mengelola pendidikan di Yayasan Pancawarna itu. Tiya saat ini memang masih bergerak sendiri, Ayahnya yang pulang seminggu sekali hanya bisa mengelola yayasan ketika dua hari saja yaitu sabtu dan ahad. Selebihnya di kelola oleh Tiya.

Fauzan hanya mempunyai adik. Itu pun laki-laki, adiknya masih duduk di bangku SD kelas enam dan juga ikut mengaji di TPQ itu masuk ke kelas B yang dipegang oleh Taufik. Fauzan betul-betul menginginkan sosok kakak perempuan yang bisa dia ajak sharing. Tiya termasuk pendiam sebagai seorang kepala TPQ. Dia berbicara seperlunya saja kepada Fauzan dan Taufik. Mereka pun kadang segan untuk memulai pembicaraan. Jika tidak ditanya maka tidak berbicara. Sedangkan Tiya sebenarnya juga masih canggung dengan kedua ustadz itu, mungkin mereka baru mengajar sekita tiga bulan sehingga Tiya juga segan berbicara aneh-aneh di luar pembicaraan tentang TPQ.

“Mba…antar Yas ke SMP 1 ya, alun-alunnya di pake Ustad Jefri Al-Bukhori ceramah, jadi Yas latihannya di pindah” Yasmin mendengarkan permintaan adiknya itu tanpa berhenti mengetik

“Lima menit lagi ya” Jawab Tiya. Tiya sering membuat cerpen sejak dia masih duduk di bangku Tsanawiyah. Pernah waktu itu cerpen pertama nya di muat di majalah Annida ketika ia masih duduk di bangku Aliyah kelas dua. Namun sampai saat ini cerpen-cerpen nya belum ada yang dimuat. Karena memang dia jarang mengirimkan lagi sejak kuliah di Universitas Islam Negri Malang. Kalaupun membuat cerpen, ending nya belum pernah ia selesaikan. Saat ini, dia ingin menyelesaikan cerpen-cerpennya yang sempat tertunda jalan akhir ceritanya.

Lima menit kemudian, Tiya mengeluarkan Mio nya dari garasi, tak lama ia panaskan, ia pun siap mengantarkan yasmin pergi ke SMP 1 Wonosobo untuk latihan Karate. Yasmin senang dengan kegiatan Bela diri itu. Yasmin baru dua bulan sudah meraih sabuk kuning. Sebelum berangkat, Tiya sempat menitipkan rumah pada Fauzan dan Taufik. Jika hendak mengambil air wudlu, kunci gerbang belakang yang menuju sungai sudah di letakkan di atas meja kantor. Santri TPQ Pancawarna terbiasa sholat berjamaah sholat asar, karena memang ada jadualnya. Karena di belakang rumah Tiya ada sungai tembusan sungai Serayu, maka para santri mengambil wudlu di sungai. Sungainya masih jernih dan arusnya tidak begitu deras, maka kebanyakan mereka lebih sering bermain di sungai daripada buru-buru mengambil saf untuk sholat. Taufik yang terkenal tegas, sering sekali memukul kaki mereka dengan bambu jika ada santri putera khususnya yang berlama-lama di sungai. Tiya sudah tahu para santri putera ada yang nakal seperti itu, sekali di kasih tahu, mereka malah melawan. Dulu sebelum Fauzan dan taufik datang, Tiya lah yang memarahi mereka.

Sebelum Taufik dan Fauzan datang, sholat asar dibuat terpisah antara santri putra dan santri putri. Santri putri sholat berjamaah dengan Tiya dan santri putra sholat dengan Alif adiknya Tiya. Tapi kalau Alif sudah pulang dari sekolah, seringnya setelah asar ALif baru pulang karena ikut kursus bahasa inggris dari pulang sekolah hingga asar. Sering Tiya menunjuk Gias untuk menjadi imam teman-temannya. Walau dia masih duduk di kelas enam, namun bacaan Quran nya lebih bagus dari Irvan, Levi dan Safar yang sudah duduk di kelas SMP.

Sekarang karena sudah ada Fauzan dan Taufik, Tiya sudah tidak mengajar santri lagi dan yang mengimami bisa bergantian antara Fauzan dan Taufik. Tiya paling hanya memantau bacaan Al-Quran santri atau memantau cara mendidiknya Fauzan dan Taufik.

***

Fatiya menghentikan motor Mio nya. Dia cukup lama juga berada di jalan. Jalanan macet karena SMP 1 melewati alun-alun yang katanya magrib ini akan ada Ustad Jefri Da’I kondang yang akan berdakwah di alun-alun itu. Temannya, Dewi mengajak untuk melihatnya. Tiya sebenarnya ingin juga, tapi ia mungkin kelelahan jika harus menuruti ajakan temannya, lagipula temannya juga bersama teman kerjanya. Tiya bilang tidak janji bisa ikut menemani Dewi untuk melihat UJ.

Anak santri masih berada di luar. Mereka memang di kasih waktu lima belas menit setelah sholat asar untuk istirahat. Ada yang memanfaatkan untuk hafalan surat dan doa sehari-hari, ada yang jajan, ada pula yang bermain ayunan milik PAUD. Permainan yang ada di PAUD Pancawarna memang sumbangan dari dana bantuan Pemda waktu itu. Untuk kelas PAUD, anak-anak dikenai biaya perbulan hanya lima ribu rupiah saja sedangkan TPQ nya hanya dua ribu saja. Itu pun masih banyak yang menunggak. Belum lagi di sekitar lingkungan Tiya masih banyak anak-anak yang bermain daripada mengaji. Mungkin kurangnya kesadaran pendidikan di dalam keluarga. Itulah tujuan tiya dan ayahnya mendirikan yayasan pendidikan Pancawarna ini. Semoga ke depannya kampungnya Desa Kalibeber bisa lebih baik dari segi pendidikannya.

“Ibu sudah pulang? Sudah sholat belum? Kalo belum tunggu Tiya mau mandi dulu ya. Gerah ni” Tiya melihat Ibunya masih istirahat di meja makan di temani segelas air putih “Iya, Ibu juga baru pulang banget. masih sumuk[1]” Jawab Ibu.

Tiya mandi cepat, dia masih ingin melanjutkan menulis cerpennya. Komputernya sengaja tidak di matikan. Alif sudah pulang ketika Tiya mengantar Yasmin latihan dan langsung memakai komputer yang sedang menyala itu. Setelah mandi Tiya dan Ibunya sholat berjamaah. Sekarang ini setelah TPQ ada yang memegang, Tiya dan Ibunya sering sholat berjamaah. Dan Ibu sering pulang sebelum sholat asar. Ibunya biasa di sebut Bu Nah, karena namanya bu Safinah. Ibunya sudah pegawai negri di Departemen Agama. Berangkat dari pukul delapan pagi pulang pukul tiga sore. Kalau ada proyek biasanya pulang hingga pukul lima sore. Walaupun sibuk, Ibunya tidak pernah absen membuat sarapan bagi anak-anaknya. Dari dulu Fatiya tidak pernah jajan pagi-pagi atau merasa lapar ketika belajar di kelas. Itu karena Ayah dan Ibunya selalu menyarankan untuk sarapan pagi di rumah. Sampai saat ini Fatiya sudah bekerja pun Ibunya selalu menyiapkan sarapan. Kadang dibantu oleh Tiya, kadang juga tidak. Karena kadang kalau malamnya Tiya terlalu lelah, habis subuh ia tidur lagi dan bangun jam setengah tujuh pagi. Sarapan sudah siap di meja makan. Fatiya memang masih manja dengan Ibunya walau sudah punya adik dua orang.

Setelah sholat, Tiya meneruskan menulis cerpennya. Sebelumnya, ia membuka winamp pada komputer, ia klik lagu berjudul “Ruang Rindu” karya Letto. Tiya memang menyukai karya-karyanya Letto. Tiya mengartikan cinta pada syair itu cinta pada sang khalik.

Tak berapa lama, Ilham santri TPQ datang ke kantor “Bu, latihan drama ga?” Tanyanya “Lho, memang sudah selesai? Ustadz Taufik mana?” Tiya menghentikan sejenak kerjaannya. “Itu lagi di kelas A bantuin ustadz Fauzan” Lanjut Ilham lagi “Oh, ya sudah kalau begitu, kamu ambil tape itu ya” Tiya menunjuk pada sebuah Tape butut yang ia beli dulu ketika masih kuliah, Tape itu hasil dari dia mengawas ujian SPMB di Universitasnya. Honornya ia belikan Tape Recorder itu. Kemudian Tiya men save kerjaannya tadi dan menuju kelas B untuk latihan drama.

Tiya biasa membuat pementasan drama bagi santri TPQ karena biasanya di yayasan sering diadakan acara-acara besar seperti maulid nabi, atau pun perpisahan santri dan perpisahan anak PAUD. Saat ini Tiya melatih santri untuk tampil pada acara perpisahan.

Tiya mengarang skenario dan yang melatihnya. Dramanya lebih ke drama musikal, karena Tiya memang suka menyanyi. Dulu ketika SD pernah dijadikan perwakilan sekolahnya untuk tampil pada perlombaan sinden cilik di sekolah di kota Wonosobo. Namun dia hanya menang sebagai juara tiga.

Tema cerita tentang mencintai ciptaan Allah. Dan setting nya dipakai setting sinetron Entong Abunawas dari Betawi, hal itu dimaksudkan agar anak-anak tidak lah bosan berlatih.

***

Malam pun tiba. Habis Isya, Tiya membuka buku matematika kelas sembilan dan kelas delapan. Besok Tiya masih harus mengajar di MtsN Kalibeber. Memang Tiya sengaja mengambil jurusan Matematika ketika di Bandung, hal itu karena masih kurangnya tenaga pendidik yang berasal dari jurusan matematika. Kebanyakan guru yang mengajar matematika asalnya bukan berasal dari jurusan matematika. Maka setelah Tiya lulus, Pak Nu’man kepala sekolah MTsN langsung merekrut Tiya yang sebenarnya masih berstatus sebagai pamannya Tiya.

Untuk guru di Kober, tiya sudah mempunyai dua orang temannya yang mau mengajar di sana. Yang satu adalah lulusan dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan akuntansi namanya Heny. Hari senin sampai rabu kelas A Kober di pegang oleh Tiya, dan Heny bertugas sebagai TU yang mengurusi uang tabungan dan sumbangan. Kemudian hari kamis dan jumatnya, Tiya menyerahkan kelas A kepada Heny, karena harus mengajar di MTsN. Satunya lagi guru kelas B, namanya Ratna kalau dia memang lulusan PGTK yang memang jurusan untuk pengajar anak-anak usia 0-6 tahun.

Heny tinggal sekampung dengan Tiya, rumahnya dengan Tiya hanya terbatas lima rumah saja. Sedangkan Ratna tinggal di kampung sebelah yaitu Desa Mojotengah.

Setelah belajar untuk pembasahan besok di MTsN, Tiya mengambil buku agenda khusus PAUD. Ia mencatat kegiatan apa yang seharusnya diberikan besok pada anak PAUD, agar Heny tidak terlalu bingung karena tiga harinya kelas A dipegang oleh Tiya. setelah selesai, Tiya kembali meneruskan cerpennya. Hari ini dia begitu bersemangat untuk menghayal lagi dalam dunia fiksinya. Dia pun menyalakan modemnya. Hari ini dia belum melihat apakah ada surat yang masuk pada inboknya. Selingan ketika dia buntu cerita.

You have 3 recheave message” tulisan itu tertulis pada pojok kiri sesaat setelah Tiya mengaktifkan Yahoo Messengernya. Dia pun meng klik tulisan itu. Sambil menunggu, Tiya membuka kembali cerpennya. Setelah selesai menuangkan ide yang ada pada cerpennya, Tiya melihat surat yang datang untuknya. Satu dari Friendster dan satu lagi dari kakaknya Tio yang berada di Jakarta dan satu lagi dari Rangga.

Tiya membuka surat dari kakaknya dulu

Assalamualaikum dek, kakak cukup sedih denger adek ga jadi menikah. Tapi kakak tahu adek pasti kuat menghadapi ini, adek pasti tegar. Laki-laki bukan Cuma dia kok. Masih banyak yang mau berjuang bersama. Semangat ya. Kakak maunya pulang, tapi kerjaan di sini cukup banyak. Libur pun hari ahad saja. Kakak terus berdoa dari Jakarta ini buat adek ya. Semoga adek selalu bahagia

-Kakakmu Tio-

Tiya menarik nafas, menahan air matanya yang akan jatuh. Kemudian dia pun membuka surat dari Rangga

Salam,…

Dik gimana kabarnya? tidak sedih lagi ya. Adik harus kuat dan tegar. Allah bersama adik. Doanya mas mau pergi ke Medan mengisi acara bedah buku bersama Fikrul Ghifari selama dua hari. Nanti kalau adik masih nangis, cerita saja sama mas. Kalau mau chating, sms mas. InsyaAllah kalau ada waktu, mas siap “dengerin” adik. Sudah dulu ya. Ini mas titip cerpen karangan mas ketika mendengar berita dari adik seminggu lalu.

Wassalam

Tiya membuka Attachment yang tertulis di bawah surat itu. Dia buka dan dia masukkan ke dalam file nya ia menunda untuk membacanya. Cerpennya juga dia pending lagi. Dia sudah tidak konsen lagi. Tiya ingin segera berlari untuk mengambil wudlu, ia ingin menangis lagi di hadapan Allah. Komputer dan modem segera ia matikan. Waktu telah menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh lima menit. Tiya pun mengambil air wudlu. Matanya sudah memanas.

Pertemuan dengan Rangga

Tiya sholat hajat dua rokaat dan tiga witir. Dia selalu ingat pesan Rangga kalau mau tidur di usahakan tidak meninggalkan sholat witir. Rangga sudah Tiya anggap kakaknya sendiri. Dia usianya hampir sama dengan kakaknya Tio 26 tahun. Hanya beda beberapa bulan saja. Mereka bertemu di sebuah pameran buku yang diadakan oleh Forum Lingkar Pena Kota Wonosobo. Rangga adalah penulis. Kebetulan dia sudah melahirkan karyanya yang bagus dikonsumsi untuk kalangan pelajar dan mahasiswa. Lebih ke hal romantis, namun tujuannya untuk beromantis ria dengan Allah. Rangga pun banyak memasukkan ayat-ayat Al-Quran pada novelnya. Dia mempunyai misi berdakwah lewat novelnya itu. Rangga Syaputra nama penanya. Nama penanya memang sama dengan nama aslinya. Karyanya yang terkenal adalah novel berjudul “Kasih Bukan Sekedar Cinta”. Novel itu sudah terkenal di kalangan pelajar dan mahasiswa, termasuk Tiya sendiri. Saat itu Tiya tidak menyangka akan bertemu langsung dengan Rangga di pameran tersebut, pasalnya Rangga memang bukan berasal dari Kota Wonosobo melainkan berasal dari Surakarta. Tapi saat itu Rangga menyempatkan ikut menjadi panitia pameran buku di Wonosobo itu. Sekaligus promosi novelnya juga.

Pertemuan pertama dengan Rangga, Tiya saat itu sedang membaca prolog novel karangan Fikrul Ghifari yang berjudul “I’am Sorry Good Bye” karena bukunya masih terbungkus plastik. Rangga yang kebetulan berada di stand buku-buku baru mendekati Tiya yang sedang asik membaca prolog buku tersebut yang lumayan panjang.

“Assalamualaikum dik, penasaran dengan buku ini ya?” Sapa Rangga

“Wa’alaikum salam… eh.. i…iya” Tiya tampak kaget dengan sapaan Rangga

“Daripada penasaran lebih baik di beli saja. Di jamin tidak akan menyesal setelah membeli dan membacanya. Saya yakin Fikrul ini akan menjadi penulis yang besar” Rangga menjelaskan

“Oh ya? Menarik juga promosinya. Apa mas sudah pernah membacanya? Atau ketemu dengan orangnya?” Tiya sudah mulai membalikkan badannya ke arah Rangga

“Kebetulan dia kakak kelas saya ketika berada di Mesir dulu. Karyanya sudah tersebar di kalangan mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir, hanya dia tidak mau dulu menelurkan karyanya di Indonesia sebelum dia merampungkan S-2 nya” Rangga menjelaskan

“Oh begitu ya? Berarti mas kuliah juga di Mesir? Wah, saya berbicara dengan orang hebat dong” Tiya sedikit meledek

“Biasa saja dik, tidak usah dilebih-lebihkan” Rangga merendah. Sebenarnya Tiya belum tau dia berbicara dengan siapa. Tiya pernah membaca buku karya Rangga hanya dia belum membelinya. Karena dia pernah di pinjami Dewi untuk membaca novel Rangga, makanya Tiya agak segan membelinya karena memang sudah pernah dibaca dan tidak penasaran lagi. Lagipula di biodata penulis, tidak ada foto Rangga.

“Ok deh… saya beli buku ini. Tapi sebelumnya saya mau tanya dulu sama mas tentang buku Fikrul ini. Dari prolog di belakang buku ini diceritakan ada seorang perempuan yang pernah terjun ke lembah kenistaan hingga ia sempat mau bunuh diri namun tidak jadi karena ia mulai merasakan hidayah yang Allah berikan padanya. Nah yang saya tanyakan adalah mengapa judulnya itu “I am sorry good bye” bukannya “I have to good bye”. Karena agar jelas bahwa perempuan itu memang tidak lagi mengulang perbuatannya dulu. Itu saja pertanyaan saya” Tiya memborong pertanyaan kepada Rangga. Sementara itu Rangga mulai asik dan mengagumi kecerdasan Tiya yang tanpa ia sadari di keluarkannya lewat kritikannya itu

“Ok.. begini ya dik.. bukannya saya tidak ingin menjelaskan mengapa Fikrul ini mengarang judul “I am sorry good bye” bukannya “I have to good bye” semua dijelaskan oleh pengarang dengan kita mengikuti alur ceritanya. Maka judul yang sesuai ya memang judul ini. Kita sebaiknya tidak membacanya hanya sepintas atau hanya berdasarkan pemikiran yang lebih banyak mengandung unsur subjektifnya, sebaiknya dibaca dan di ikuti alur cerita ini. Memang, banyak yang mengatakan novel ini terlalu berbelit. Tapi justru dari cerita yang berbelit inilah judul yang sesuai bisa di cerna. Paham dik?” Rangga menjelaskan panjang lebar

Tiya manggut-manggut. Tiya pun merasa senang bisa berdiskusi dengan Rangga.

“Oh iya dik, ini ada buku untuk kamu gratis dari saya” Rangga menyerahkan buku dengan sampul biru berjudul “Kasih Bukan Sekedar Cinta” Yaitu novelnya sendiri “Wah terimakasih ya mas. Sebenernya saya sudah pernah membacanya, jadi saya agak males untuk membelinya. Padahal saya seneng lho isi novel ini. Apalagi lebih banyak hal romantisnya yang cenderung di sukai kaum hawa seperti saya ini” Tiya mengambil buku yang di sodorkan Rangga.

“Tapi mas, memangnya mas tidak di marahi panitia lain kalo saya tidak membayarnya. Berarti itu dibayar oleh mas dong. Trus nanti honor mas berkurang. Wah saya ndak enak ni mas” Tiya mulai gelisah

“Sudah ambil saja. Ini gratis dari pengarangnya kok” Rangga tersenyum

“Maksud mas gratis dari Rangga? Kalau iya, mas ketemu dimana? Saya penasaran juga dengan pengarang buku ini lho. Kira-kira dimana saya bisa bertemu dia?” Tiya sedikit agresif. Sementara itu Rangga geli melihat gadis yang ada di depannya itu kebingungan. Namun tawa nya ia tahan untuk menjaga sikapnya.

“Ini kartu nama saya dan ada email saya, jika ada yang perlu di diskusikan saya suka untuk berbagi” Bukannya menjawab pertanyaan Tiya, Rangga malah memberikan kartu nama pada Tiya. Tiya jadi sedikit jengkel namun tetap mengambil kartu nama Rangga, dan seketika itu pula Tiya melotot ke kartu itu seakan melihat kejadian aneh

“Ja…jadi mas adalah Rangga Syaputra?” Tiya langsung bertanya lagi pada Rangga, dan Rangga dengan gaya cool nya hanya mengangguk saja. Tiya kemudian diam dan malu.

“Maaf ya dik, bukannya saya mau membohongi adik tapi, saya suka berkenalan dengan cara seperti ini, perkenalan kita cukup menarik kan? dan bisa menjadi sumber inspirasi saya untuk karya saya selanjutnya” Dasar penulis… Tiya akhirnya minta tandatangan dari Rangga. Walau sebenarnya dalam novelnya itu sudah ada tandatangan Ranga, tapi sebenarnya itu hanyalah kopi-an saja. Dan Rangga pun mau menandatangani kembali buku novelnya yang telah di berikan kepada Tiya.

Sejak itu, Tiya dan Rangga sering berdiskusi tentang dunia seni khususnya tentang karya tulis. Tiya yang punya hobi membuat cerpen sering mengirimkan cerpen pada Rangga untuk di edit. Ikatan emosional mereka pun semakin dekat. Kadang Rangga merasakan sesuatu yang dirasakan oleh Tiya, begitupun sebaliknya. Ya, Tiya dan Rangga memiliki perasaan lebih bukan sekedar adik kakak atau teman biasa. Perasaan itu datang tiba-tiba tanpa disadari lewat karya-karya yang sering Rangga kirimkan pada Tiya dan karya-karya Tiya dan dikirimkan kepada Rangga. Rangga mulai jatuh hati, apalagi melihat visi misi kehidupan Tiya yang ingin memajukan pendidikan di Kampungnya. Cerita kehidupan Tiya merupakan karya terbesar yang akan di buat oleh Rangga selanjutnya.

Mereka tidak menyatakan perasaan mereka, namun mereka sudah bisa merasakannya. Ketika Tiya membutuhkan Rangga, Rangga ada untuk Tiya. Tiya merasa diperhatikan oleh Rangga. Sungguh indah jika dijalani. Tapi sayang, sejak pertemuan pertama, Tiya dan Rangga sering bertemu hanya dalam waktu satu bulan saja. Itupun hanya enam kali pertemuan. Sejak pameran buku berakhir, Rangga tidak pernah lagi bertemu Tiya. Hal itu karena Rangga bekerja di sebuah majalah di Jakarta. Rangga diangkat sebagai editornya. Dan juga merangkap sebagai tim ide kreatif. Untuk menemui Tiya akan sulit sekali. Seperti kakaknya Tio, Rangga hanya bisa menyapa lewat surat elektronik dan telpon juga sms. Lagipula sebenarnya Rangga adalah tulang punggung keluarganya. Rangga adalah anak yang sekolah jauh hingga Mesir, dia harus menjadi kebanggan keluarga dan keluarga pun menuntut jika sekolah jauh, maka penghasilan pun harus besar. Ayah dan Ibunya hanya petani biasa. Adiknya ada tiga lagi yang masih sekolah, dua kakaknya sudah menikah dan sudah mempunyai tanggungan masing-masing. Saat ini Rangga lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Karena Rizki adiknya yang besar juga sedang belajar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Rangga pun harus mempunyai bekal untuk biaya kehidupan adiknya selanjutnya nanti di sana, walau sebenarnya Rizki sering bilang tidak usah repot membiayai. Tapi hati seorang Rangga sangat bertanggung jawab pada adik-adiknya.

Kabar sedih

Tiya menarik nafas panjang ketika selesai sujud di atas sajadah nya. Ia telah meminta kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik untuk kehidupannya. Tiya sedang di uji Allah dalam kesabarannya. Ia teringat akan Febrianto.

Febri atau biasa di panggil Anto adalah kakak kelas Tiya ketika kuliah di Malang. Anto berasal dari kota Banjarnegara tapi kini ia mengajar di SMAN I Mojo Tengah. Anto menyewa kontrakan untuk tempat tinggalnya. Tiya mengenal Anto ketika sudah menjadi guru di SMAN. Ketika kuliah dulu ia mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam dan hampir tidak pernah bertemu dengan Tiya, Karena setahun setelah Tiya masuk UIN Malang, Anto wisuda. Pertemuan mereka ketika Tiya berkunjung ke SMAN I Mojo Tengah almamaternya dulu untuk memberikan undangan pernikahan temannya. Disana ia bertemu Anto. Keakraban mereka karena sama-sama berasal dari UIN Malang fakultas yang sama. Karena Tiya pun masuk ke Fakultas Tarbiyah atau keguruan.

Tiya bertemu Anto dulu sebelum bertemu Rangga. Anto perhatian dengan Tiya begitupun Rangga. Tiya merasa masih asik berteman dengan keduanya. Hingga suatu hari Anto menyatakan keseriusannya untuk menjadi kekasih Tiya. Saat itu Tiya ragu akan orang yang di pilihnya. Di sisi lain Tiya memiliki perasaan lebih kepada Rangga tapi perhatian Anto cukup bisa membuat perasaan Tiya bahagia.

Tiya belum memutuskan sejak sebulan Anto menyatakan keseriusannya. Tiya memang sudah ingin menikah karena usianya yang walaupun tergolong masih muda, namun Tiya ingin menikah muda. Kalau menunggu Rangga yang masih punya tanggungan adik-adiknya lagipula tempat kerjanya jauh. Tiya akan sulit memahami karakter Rangga. Lagipula Tiya tidak ingin merusak persahabatan dengan Rangga. Ia ingin Rangga tetap menjadi temannya hingga tua nanti. Itu berarti ia bisa memilih Anto. Anto pun adalah seorang yang prima di mata Tiya. Kriteria suami idaman Tiya ada di diri Anto kurang lebih seperti itu. Namun ada beberapa kekurangan yang dimiliki Anto, tapi itu tidak masalah bagi Tiya yang mempunyai rasa optimis. Tiya berpikir, seiring berjalannya waktu, sikap-sikap itu akan bisa di rubah.

Setahun yang lalu akhirnya Tiya memilih Anto. Ia cukup bahagia dengan kehadiran Anto yang begitu perhatian. Anto pandai berpujangga. Walau ketika bertemu, Anto kadang bersikap cool tidak seperti ketika Anto mengirimkan sms puitis kepada Tiya. Tiya sudah sedikit memahami karakter Anto. Tiya begitu sabar menghadapi sikap Anto yang menurut kaum hawa kurang romantis. Anto memang romantis lewat puisi-puisi nya saja. Tiya begitu bangga dengan Anto, begitupun Anto. Teman-teman mereka sering mengatakan mereka adalah pasangan serasi.

Rangga tahu hubungan antara Tiya dan Anto. Tiya tidak pernah melewatkan untuk menceritakan kehidupannya pada Rangga. Tiya pun bangga pada Rangga. Sejak Tiya memilih Anto, Tiya akan berhenti berpikir untuk memiliki Rangga sebagai kekasihnya. Ia akan terus menganggap Rangga bagaikan Tio kakaknya.

Seiring berjalannya waktu. karena dari awal hubungan Tiya meminta hubungan yang serius pada Anto begitupun Anto seperti itu. Akhirnya mereka berniat menikah setahun setelah hubungan mereka memahami karkater masing-masing.

Tiya yakin bahwa Anto lah jodohnya. Begitupun Anto. Persiapan pernikahan pun akan dilaksanakan. Orangtua Tiya sudah mengetahui maksud Anto ingin menikahi Tiya. Namun terkadang konflik terjadi pada diri Anto. Konflik itu terjadi ketika Tiya dan keluarganya meminta maskawin kepada Anto. Anto yang sudah tidak memiliki orang tua merasa tidak enak jika tidak bisa memenuhi permintaan keluarga Tiya. Padahal sebenarnya keluarga Tiya menyerahkan kepada Anto sebagai pihak laki-laki untuk memberikan maskawin semampunya. Awalnya Anto agak sulit untuk mengambil keputusan dan bahkan pernah bicara ke Tiya untuk mundur dari pernikahan. Tapi dengan pengertian Tiya akhirnya disetujui pula oleh Anto. Namun, Anto kembali berpikir. Untuk memberikan maskawin sudah tidak ada masalah, hanya bagaimana nanti selanjutnya. Dia belum menjadi Pegawai Negri dan masih menjadi guru honorer. Gajinya perbulan belum cukup jika dipakai untuk kehidupan berdua. Kadang Anto harus berpuasa karena uangnya sudah habis.

Hal itu tidak menjadi alasan bagi Tiya. Tiya terus meyakinkan diri Anto untuk terus menggapai niat suci pernikahan. Toh Tiya juga bekerja, itu artinya Tiya tidak ingin merepotkan suami nantinya.

Hingga sebulan lalu Tiya meminta kepastian Anto. Siap menikah atau tidak dengan Tiya. Tiya rasa sudah saatnya untuk meminta ketegasan Anto. Jika hubungan tanpa ada kepastian dan tidak ada usaha menuju pernikahan lebih baik berpisah daripada diteruskan begitu pikir Tiya. Itu pun atas saran orangtua Tiya. Mereka tidak ingin anaknya berpacaran lama-lama.

Tiya meminta Anto untuk datang melamar pada hari ahad. Karena kebetulan ayahnya sedang ada di rumah. Tiya meminta ketegasan jika Anto tidak datang pada hari itu, maka hubungan mereka cukup sampai di situ. Mungkin Tiya terlalu memaksa Anto jika seperti itu, tapi karena sifat Tiya yang koleris[2] membuat Tiya harus mengambil sikap. Tiya akan siap dengan segala resiko. Nanti atau sekarang, Tiya niat menikah karena Allah.

Namun apa yang terjadi. Anto tidak pernah datang ke rumah Tiya. Tiya sudah berbicara kepada orangtuanya kalau Anto akan datang bersama pamannya untuk melamarnya. Tiya bilang seperti itu karena seminggu sebelum hari itu Anto menyanggupi permintaan Tiya. Bahkan Anto bilang sudah persiapan.

Tiya terpukul dan sedih. Harapannya sirna. Anto tidak datang dan hanya memberi kabar lewat telpon saja.

Tiya, sudahlah cari laki-laki lain yang bisa membahagiakan kamu. Mas tidak sanggup melihat kamu sedih jika hidup bersama Mas yang dalam kehidupan sehari-harinya saja serba kekurangan. Mas selalu berharap ingin hidup bersama kamu. Tapi Mas lemah Tiya, mas tidak ingin kamu terluka. Tapi inilah keputusan yang terbaik buat kita

Tapi mas, kenapa saat itu mas mengiyakan? Tiya sudah bicara sama bapak dan ibu. Mereka kira mas akan datang. Mas jahat sudah mempermainkan hati Tiya.” Tiya kesal pada Anto

Kok Tiya beranggapan seperti itu? Mas tersinggung dengan kata-katamu. Mas tidak ada niat mempermainkan kamu. Kamu tau sendiri keadaan mas…”

Tiya tidak bisa berbicara apa-apa lagi, dia hanya menangis di dalam kamarnya. Kemudian Anto langsung mematikan Hp nya sehingga Tiya tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara lagi. Anto pun merasa sakit karena tidak bisa membahagiakan Tiya. Anto berpikir lebih baik Tiya hidup bersama orang lain yang bisa membuatnya bahagia.

Tiya menangis di dalam kamar. Ibu datang menghampirinya. “Sudah nak… kamu bisa tegar kok. Mungkin saja Anto belum jodohmu, tapi mungkin memang jodohmu hanya perjalanannya harus seperti ini dulu” Ibu terus mengelus rambut Tiya. Ibu sangat tau perasaan yang dialami Tiya saat itu.

***

Tiya menghapus air matanya yang jatuh dari tadi. Mukenanya basah oleh airmatanya. Kejadian seminggu lalu masih saja terbayang olehnya. Tiya harus segera tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu ruang tengah sudah di matikan oleh Ibunya. Yasmin tidur di kamar Ayah dan Ibu jika ayah sedang tidak pulang. Tiya melipat mukenanya mematikan lampu kamarnya kemudian tidur dengan selimutnya yang tebal. Udara Wonosobo terlalu dingin jika tidur tidak memakai selimut. Karena letaknya tak jauh dari Gunung Dieng yang terkenal dengan banyak terdapat candi itu.

Gebyar Muharam

Tiya keluar dari kelas delapan. Setelah istirahat ia sudah tidak mengajar lagi di Mts karena jam pertama ia memegang kelas sembilan. Tapi ia masih harus tetap berada di sekolah hingga pukul dua belas siang. Karena ia mendapat giliran guru piket. Ia memasuki ruang guru yang sudah ada ibu Fufah dan ibu Sandra. Bu Fufah adalah guru Biologi dan ibu Sandra adalah guru Sejarah. Kemudian ada Pak Dedi guru Ekonomi berada di ruang guru. Mereka semua masih single kecuali pak Dedi yang tergolong masih penganten baru. Pak Dedi menikah lima bulan lalu. Nama Istrinya hampir sama dengan Fatiya. Hanya kalau Fatiya nama panjangnya adalah Fatiya Nurrahman sedangkan istri pak Dedi hanya Fatiya saja.

Pak Dedi pernah bilang kepada Fatiya jika ia belum menemukan istrinya, pasti ia akan memilih Fatiya Nurrahman bukan Fatiya saja. Begitulah lelucon yang sering dikatakan Pak Dedi kepada Tiya. Tiya hanya senyum-senyum saja dan selalu berkata kepada pak Dedi “Syukuri pak, pasti istri bapak lebih baik dari saya, makanya kita tidak berjodoh. Salam ya buat mba Fatiya”

Kepala sekolah yang adalah paman Tiya masuk ke dalam ruang guru. Ia menemui Tiya yang masih asik ngobrol dengan Bu Sandra, Bu Fufah dan Pak Dedi.

“Fat, bapak mau bicara sebentar tolong ke ruangan saya ya” Tiya mengikuti Pak Nu’man dari belakang dan memasuki kantor kepala sekolah. Pak Nu’man biasa memanggilnya Fat bukan Tiya seperti yang lain. Itu adalah panggilan keluarga ayahnya kepada Tiya. Pamannya adalah adik ayahnya. Sedangkan keluarga Ibunya Tiya dan Tiya sendiri biasa memanggil dengan sebutan Tiya.

“Begini Fat, dua hari lagi kan mau diadakan gebyar Muharram di sekolah kita, waktu itu ustadz Subhan bersedia untuk mengisi acara kita ini. Tapi tiba-tiba malam tadi dia mengundurkan diri karena ia harus mengantar ibunya berobat ke Singapura. Katanya diperlukan waktu selama tiga hari berada di sana. Karena ayahnya sudah tidak ada. Dia lah yang bertanggung jawab. Dia pun tidak menyangka karena waktu paman memintanya untuk mengisi acara di sini ibunya sehat-sehat saja. Tapi katanya kemarin Ibunya terlalu banyak pikiran, maka berakibat pada jantungnya. Beliaupun menyayangkan kejadian ini. Nah maksud paman apa kamu punya teman yang bisa menggantikan Ustadz Subhan?”

Jika di depan para guru memang Pak Nu’man membiasakan diri mengaku Bapak kepada Tiya tapi kalau sudah di dalam ruangan kadang kata-kata paman keluar dengan sendirinya.

“Wah piye toh iki[3] saya juga ndak punya teman yang bisa dihubungi paman. Mmm tapi nanti saya coba tanya Fauzan aja. Dia kan lulusan SMA Takhasus Al-Quran barangkali punya temen atau kenalan yang bisa bantu kita”

“Yo wis[4] semua saya serahkan sama kamu ya Fat”

“Ok paman… Tiya ke ruang guru lagi ya” Tiya undur diri dari kantor kepala sekolah. Tiya berpikir, seandainya dia masih berhubungan dengan Anto pasti Anto lah yang akan menggantikan Ustadz Subhan. Tapi ia pesimis Anto akan menyanggupi permintaan Tiya. Apalagi saat ini nomor Hp Anto sudah tidak bisa dihubungi lagi. Tiya juga tidak pernah menyimpan nomor Hp temannya Anto. “Ah sudahlah, harapan lain ada pada Fauzan” pikirnya begitu.

***

Gebyar Muharram MTsN Kalibeber Wonosobo cukup meriah dengan hadirnya tim marawis sekolah asuhan pak Fuad. Mereka membawakan lagu Nawarti Ayyami, Ya Ghali, hingga sufna sufna. Tiya paling suka lagu sufna sufna apalagi yang membawakannya adalah Rendra anak kelas sembilan. Suaranya renyah karena sudah pecah, tapi dengan perubahan suaranya itu semakin membuat lagunya enak di dengar.

Pengganti ustad Subhan adalah Lukman Al-Hakim. Ia adalah pengajar di Ponpes Al-Asy’ariyyah. Karena SMP dan SMA Takhasus Al-Quran berada di bawah Yayasan Al-Asy’ariyyah, Fauzan dulu juga sering ikut pengajian bersama ustadz Lukman yang masih tergolong muda itu. Pada zamannya Lukman adalah Hafidz termuda. Usianya baru genap 15 tahun ketika ia sudah menjadi Hafidz pada acara Khotmil Quran Yayasan Al-Asy’ariyyah bersama peserta lainnya. Peserta lainnya kebanyakan sudah berusia 17 tahun ke atas ketika menjadi hafidz. Usianya kini baru 27 tahun. Ia kini memegang qiraat di pesantren itu. Suaranya bagus. Ia pernah dikirim untuk mengikuti MTQ tingkat kota.

Sebagai penanggung jawab, Tiya harus menemani Lukman sebelum naik ke panggung. Tiya sedikit diskusi tentang pribadi Lukman. Lukman lulusan dari Universitas Ilmu Al-Quran yang dulunya Institut Ilmu Al-Quran. Fakultas Sayriah dan dia mengambil jurusan Perbankan Syariah. Saat ini dia dipercaya menjadi ketua koperasi Ponpes Al-Asy’ariyyah dia pun membuka cabang di daerah asalnya yaitu daerah Pekalongan. Untuk koperasi di daerahnya di percayakan kepada adiknya Umar. Jika Koperasi di Ponpes Al-Asy’ariyyah saat ini sudah berbentuk seperti supermarket mini, kalau di Pekalongan baru berbentuk toko yang berisi dengan sembako juga berfungsi sebagai koperasi simpan pinjam. Koperasi di Pekalongan sudah berjalan tiga tahun dan dia berniat tahun depan akan membuat koperasinya menjadi mini market juga.

Tiya yang juga baru mendirikan Koperasi di Pancawarna sangat tertarik dengan ilmu yang di miliki Lukman. Tapi sayang, Lukman hanya mempunyai waktu sedikit. Maka pembicaraan selanjutnya bisa lewat email atau Tiya datang langsung ke Ponpes Al-Asy’ariyyah.

Acara siang itu berjalan dengan baik. Ustadz Lukman mulai di perhitungkan oleh Pak Nu’man. Sebenarnya Lukman ceramah bisa dihitung dengan jari. Dia paling tidak mau ceramah jika isi yang dibawakan pada ceramahnya hanya menempel saat itu saja. Ketika beberapa hari kemudian biasanya hilang dengan kebiasaan-kebiasaan yang sudah lumrah walau tidak boleh dilakukan. Lukman lebih suka jika dijadikan pembicara tentang tema pengembangan diri atau berkaitan dengan ekonomi Islam khususnya tentang Koperasi. Lukman mau ceramah di MTsN Kalibeber karena Fauzan memintanya dengan sangat memelas dan memang Fauzan sudah dianggap adik sendiri bagi Lukman karena sering mengikuti latihan Qiraat. Tema yang dibawakan Lukman juga tidak jauh dengan Pengembangan Diri. Karena usia Mts biasanya sudah mulai sulit di atur. Karenanya Lukman membawa kan tema itu. Pembawaan Lukman tidak seperti menggurui tapi lebih ke tanya jawab dan diskusi sehingga tidak seperti ceramah melainkan diskusi. Itulah ciri khas Ustadz Lukman.

***

Tiya malam itu tidur cepat. Dia melewatkan sholat witir sebelum tidur. Ia setelah magrib ketiduran. Biasanya jika tidak ada ayah, dan hari biasanya, sholat Magrib, Isya dan Subuh selalu dilakukan berjamaah bersama, Alif yang mengimami. Untuk Zuhur dan Asar pun jika ada lebih dari satu orang mereka mengharuskan untuk terus berjamaah. Kalau ada ayah karena ayah ada setiap weekend dan semua libur, sholat lima waktu terus di lakukan berjamaah tanpa terlewat. Malam itu Ibu sengaja tidak membangunkan Tiya, Ibu melihat Tiya tertidur sangat lelap.

Pukul dua pagi Tiya terbangun. Tubuhnya sudah di selimuti. Lampu kamarnya sudah dimatikan dan pintu kamarnya sudah di tutup. Tiya bangun untuk mengambil wudlu. Sebelum ia melangkah ke ruang tengah terdengar suara “gedebuk” suara ada yang jatuh. Ia segera menyalakan lampu ruang tengah yang tak jauh dari kamarnya. Owalah… ternyata Yasmin baru saja terjatuh dari sofa di ruang tengah. Yasmin biasa menonton TV hingga tertidur di sofa. Ibu selalu membangunkan dia untuk pindah namun tetap saja tidak mau. Ya mau tidak mau, Yasmin di tinggal di sofa. Mau di angkat, dia bukan anak kelas tiga lagi yang waktu dulu jika tertidur di sofa bisa dipindahkan. Bahkan ALif sekalipun yang badannya tinggi agak kerepotan untuk mengangkatnya.

Tiya tertawa setelah melihat Yasmin yang jatuh dari sofa itu. Sementara Yasmin dengan muka manyun tanpa memperdulikan Tiya yang tertawa langsung masuk ke dalam kamar Ibu. Yasmin pun terlelap kembali.

Setelah sholat Isya, ia melanjutkan sholat hajat dan Tahajjud dan diakhiri sholat witir. Tak lupa ia berdoa dengan meneteskan air matanya untuk diberikan ketenangan hati dan diberikan yang terbaik untuknya. Dia juga meminta untuk diberikan pengganti yang lebih baik jika memang Anto bukanlah jodohnya. Tiya kemudian teringat Rangga. Rangga selalu ada jika ia sedang sedih. Apakah Rangga memang jodohnya kelak. Tiya terus berharap semoga Allah memberikan yang terbaik.

Tingkah anak PAUD

Tiya sedang mengajar di PAUD. Ketika mengajar anak-anak kecil itu, kesedihan Tiya bisa dilupakan. Ada saja tingkah yang dibuat anak-anak. Ada Dzikri yang usianya masih empat tahun ia tiba-tiba memotong rambutnya ketika sedang bermain menggunting kertas. Saat itu Tiya masih sibuk dengan tugas yang akan diberikan kepada anak-anak nanti sepulang sekolah. Kemudian Dzikri datang dan memberikan potongan rambutnya kepada Tiya “Ibu, Dzikri motong rambut ni” Tanpa rasa bersalah dzikri memberikan potongan rambutnya dengan menyeringai tertawa. Spontan saja Tiya kaget dan langsung memberi pengertian kalau gunting itu hanya digunakan untuk memotong kertas. Kalau untuk memotong rambut ada gunting jenis lain. Dzikri pun akhirnya menurut.

Ada pula yang jika ke sekolah selalu menangis jika ibunya tidak mau mengantarnya. Sebagai gurunya harus terus memperhatikan anak-anak seperti itu. Belum lagi jika ada yang mau buang air kecil, hampir semua anak ikut-ikutan temannya yang mau ikut buang air kecil. Kejadian itu banyak di alami di kelas A. Karena masih kecil-kecil dan jika mau buang air kecil, celana mereka harus dibuka kan oleh Tiya kemudian di pasangkan kembali. Hanya beberapa yang sudah bisa memakai sendiri. Kadang Heny membantu Tiya setelah selesai memasukkan uang sumbangan atau tabungan ke dalam kas PAUD.

PAUD di mulai pukul delapan pagi dan selesai pukul sepuluh. Tiya ada janji dengan Pak Bambang di MTs hari ini. Pak Bambang adalah guru Bahasa Indonesia. Dia lulusan dari Unsoed Purwokerto. Usianya 29 tahun. Dan baru mempunyai anak satu berusia 5 tahun. Pak Bambang termasuk orang yang bilang jika belum menikah, pasti akan memilih Tiya sebagai pendampingnya. Tiya sebenarnya tidaklah secantik Zaskia Mecca atau Dian Sastrowardoyo. Posturnya pun tidak terlalu tinggi. Tapi ia mempunyai wajah imut, itam manis. Tapi juga imut sebenarnya, jika Tiya memakai baju putih abu-abu masih bisa disejajarkan dengan anak SMA lainnya. Wajahnya unik. Selain itu prestasinya yang membuat orang lain kagum dengannya. Begitulah kata orang. Tiya sendiri masih sangsi jika Pak Bambang dan Pak Dedi berbicara seperti itu.

Tiya segera menemui Pak Bambang yang sudah berada di ruang guru. Setelah menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya untuk menyatakan salaman dengan Pak Bambang, Tiya bertanya tentang maksud ajakan Pak Bambang semalam tadi. Selama ini Pak Bambang sering bertanya tentang PAUD kepada Tiya karena kebetulan Tiya juga dipercaya sebagai ketua HIMPAUDI Kecamatan Mojotengah Kota Wonosobo. HIMPAUDI adalah Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini. Jika TK ada IGTK atau Ikatan Guru Taman Kanak-kanak ada pula IGRA atau Ikatan Guru Raudhotul Athfal. Maka ini adalah organisasi PAUD. Sedangkan Pak Bambang mendirikan PAUD di kabupaten Wonosobo. Dugaan Tiya sih seperti itu juga.

“Memang ada apa sih pak? Apa tentang PAUD lagi? Dananya belum turun ya? Sing sabar wae toh…” Tiya membredel pertanyaan ke Pak Bambang.

“Bukan itu kok. Begini, langsung saja ya. Kemarin teman SMP saya namanya Satrio datang ke rumah saya. Dulu kita pernah satu pondok di Ponpes Al-Ihsan Purwokerto. Dia sedang S-2 di Unsoed jurusan Bahasa Inggris dan sekarang sedang tesis. Dia sebenarnya sudah ingin menikah, dia tidak bisa konsen melanjutkan tesisnya jika tidak menikah dulu. Karena dia memang sudah siap menikah. Dia menginginkan isteri seorang pendidik. Karena dia juga mempunyai yayasan di daerah Dieng. Dia ingin istrinya nanti juga bisa berjuang bersama di yayasan dia. Dia mempercayakan kepada saya untuk mencarikan jodohnya. Dia selama ini tidak pernah berani untuk menyatakan cinta kepada seorang perempuan. Dia sangat percaya pada saya bu. Saat itu saya bingung merekomendasikan siapa. Padahal masih banyak guru yang single dan juga seorang pendidik. Tapi yang kira-kira cocok adalah Bu Fatiya ini. Kalau ibu mau ta’aruf kita bisa ketemu dia di Mesjid Agung sekarang, siapa tahu cocok. Tadi saya sudah sms dia. Gimana bu?”

Pak Bambang memang menyangka Tiya masih sendiri sejak setahun lalu masuk ke Mts itu sampai saat ini. Tiya cukup apik menyimpan urusan pribadinya kepada teman-teman gurunya. Tiya berpikir sejenak tentang ajakan Pak Bambang. Jarang-jarang Tiya kenalan dengan orang yang sedang kuliah S-2. Siapa tahu bisa cocok dan kemudian menikah dengan Satrio.

“Iya deh pak, boleh. Tapi sebelumnya saya mau tanya dulu. Usianya berapa ya?” Tiya sedikit nyengir bertanya tentang usianya

“27 tahun”

“Oh begitu…sekarang pak jalannya?”

“Ok”

Mereka berdua menuju mesjid Agung. Pak Bambang dan Tiya masing-masing membawa motor. Sehingga saling beriringan menuju mesjid Agung.

Lima belas menit kemudian mereka tiba di Mesjid Agung. Satrio sudah sampai sepuluh menit yang lalu ketika di sms oleh pak Bambang. Satrio berkacamata, sehingga terlihat suka membaca. Tiya ketika bertemu dengan Satrio langsung suka dengan penampilannya. Seperti Lukman gumamnya. Lukman pun berkacamata. Tiya memang suka laki-laki berkacamata, terlihat lebih inteleknya.

Mereka pun berkenalan dan pembicaraan lebih di dominasi oleh Satrio. Seakan Satrio pun langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Tiya hanya menjawab seadanya ketika ditanya oleh Satrio. Pak Bambang berada di tengah mereka. Kadang Tiya bertanya kepada Satrio tapi hampir semua pertanyaannya telah dijelaskan oleh Satrio. Satrio begitu semangat hari itu.

Sudah hampir dua jam mereka berbincang-bincang. Tiya sedikit menjelaskan tentang dirinya kepada Satrio karena sebagian besar sudah diceritakan Pak Bambang. Adzan Zuhur pun berkumandang. Mereka sholat berjamaah di mesjid.

Setelah itu, Tiya izin pamit karena harus pulang. Alasannya anak-anak TPQ akan datang sebentar lagi. Dan di rumahnya pasti tidak ada siapa-siapa karena biasanya jam 12 siang mba Eni sudah pulang ke rumahnya di sebelah. Walaupun berada di sebelah rumah, ia tidak enak untuk meminta bantuan mba Eni lagi karena anak-anaknya pun sudah pulang. Satrio sebenarnya masih ingin berlama-lama di mesjid itu. Dan ingin segera mendapat jawaban Tiya bersediakah menjadi istrinya kelak. Satrio memang sudah merasa cocok dengan Tiya dari hasil cerita Pak Bambang dan setelah melihat wujudnya, Satrio langsung yakin bahwa pak Bambang tidak salah memilih Tiya untuk dikenalkan pada Satrio. Akhirnya Tiya bisa pulang juga. Walau agak alot menolak ajakan Satrio untuk berlama-lama dulu meneruskan pembicaraan di mesjid.

Tiya pulang dengan sedikit perasaan malas untuk bertemu kembali dengan Satrio. Tiya menyukai kepintaran Satrio. Tapi dia kurang suka dengan gaya bahasanya. Terlalu tinggi untuk Tiya. Dan tadi pun Satrio lebih mendominasi pembicaraan. Tiya menyukai laki-laki yang tawadhu’ namun tidak merasa tawadhu’. Satrio sekilas tampak sempurna dimata Tiya namun setelah bertukar pikiran, kurang cocok. Berbeda ketika ia bertemu dengan Rangga atau Lukman.

Tiya rasa sebaiknya tidak meneruskan hubungan dengan Satrio. Lagipula suasana hati belum stabil. Baru satu minggu ia putus dengan Anto. Walaupun diusahakan sedikit-sedikit melupakan Anto, namun perasaan trauma masih ada. Ia masih ingin menenangkan diri dulu. Walau ia juga terus berikhtiar.

Malamnya, Pak Bambang sms ke Tiya menanyakan bagaimana kesan pertama dia bertemu dengan Satrio. Tiya menceritakan apa adanya pada Pak Bambang dan sebaiknya Satrio tidak menunggu dia karena alasannya kurang cocok. Pak Bambang mencoba untuk menjelaskan kepada Tiya untuk menunggu beberapa hari dan beberapa pertemuan lagi setelah itu baru bisa diputuskan. Namun Tiya tidak setuju dengan saran Pak Bambang. Tiya tidak akan bisa jika melanjutkan hubungan dengan Satrio ke arah serius. Pak Bambang akhirnya mengerti. Tiya pun bernafas lega.

Menjadi artis

Di tempat lain. Rangga sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi acara temu penulis besok. Ia menemani Fikrul Ghifari yang menciptakan buku I’m Sorry Good Bye. Buku itu laris manis sampai telah dibuat film nya. Dugaan Rangga benar bahwa Fikrul akan menjadi seniman besar. Rangga bercita-cita seperti itu. Saat ini sedang ia persiapkan. Ia diminta oleh ketua umum FLP Indonesia Mba Helvy Tiana Rosa untuk menemani road show bersama Fikrul. Tugasnya di kantor ia titipkan pada timnya. Ia hanya pergi seminggu saja.

Ia sekamar dengan Fikrul malam itu di Hotel. Mereka bagai teman yang sudah lama tidak bertemu. Fikrul pernah satu rumah dengan Rangga ketika di Mesir. Tapi hanya dua tahun saja. Setelah itu Rangga selesai S-1 dan Fikrul masih harus menyelesaikan S-2 nya. Fikrul menelpon anak dan Istrinya di Sukabumi. Fikrul asli Sukabumi. Sementara itu Rangga membuka laptop usangnya. Ia memasang internet wairless di laptopnya. Ia ingin bercerita kepada Tiya. Kalau di sms, tidak akan puas batinnya. Rangga pun segera membuka Hp nya memberi tahu agar Tiya mengaktifkan komputernya dan memasang modemnya. Itu pun jika Tiya tidak sibuk, jika Tiya sibuk biasanya Rangga hanya menulis surat yang nantinya akan dibaca oleh Tiya.

“Dik, mas lagi buka Yahoo ni. Adik sibuk ga? Chat yuk jika tidak sibuk” Begitulah sms yang dikirimkan Rangga pada Tiya. Lima menit kemudian, Tiya menjawab.

“Maaf mas, komputernya sedang dipakai ayah. Jadi kemungkinan ndak bisa. Mas kirim surat saja ya. Pasti Tiya baca”

“Mau chatting sama siapa?” Tiba-tiba Fikrul yang tadi menelpon keluarganya duduk di samping Rangga. Mereka bagai kakak beradik. Usia Fikrul tiga puluhan.

“Adik” Jawab Rangga singkat

“Yang di Yogya?”

“Bukan… yang di Wonosobo”

“Oh…adik ketemu gede ya?” Fikrul menggoda Rangga. Rangga hanya tersenyum. Memang iya dalam hatinya. Tapi ah, cukup sebagai adik saja. Pikir Rangga selanjutnya.

Sebelum Rangga mengirimkan surat kepada Tiya, Hp Rangga berbunyi lagi. Sebuah sms datang. Rangga membukanya, ternyata dari Tiya.

“Oh iya mas, katanya mau ke Medan nemenin mas Fikrul ya? Kalau ketemu dia, tolong salamin ya. Aku juga suka karya-karyanya” Rangga tersenyum. Kemudian bicara kepada Fikrul yang sudah siap untuk tidur

“Mas, adikku Tiya nitip salam. Adikku yang diwonosobo. Katanya penggemar sampeyan juga”

“Wa’alaikum ‘alaihassalam” Jawab Fikrul. Kemudian Rangga sms balik ke Tiya.

Pupus

Lukman duduk di pojok Masjid Al-Asy’ariyyah. Dia sedang bingung memikirkan kata-kata Ibunya tadi siang di telpon. Kata Ibunya Rika sudah mempunyai pilihan lain. Dia tidak ingin dijodohkan dengan Lukman. Padahal Lukman sudah menunggu Rika selama dua tahun agar ia menyelesaikan kuliahnya dulu setelah itu mereka menikah.

Usia Lukman waktu itu masih 25 tahun. Ia mengatakan kepada Ibunya Hj. Aminah bahwa ia sudah ingin menikah. Tapi ia ingin Ibunya yang memilih jodoh untuknya. Karena ibunya kenal dengan Haji Rozak teman ayahnya Lukman, Haji Zaenal. Haji Rozak adalah teman Haji Zaenal ketika berada di Jakarta dulu. Mereka sama-sama berasal dari Pekalongan. Kemudian mereka mengadu nasib di Jakarta ketika usia mereka masih muda. Mereka baru lulus SMA. Mereka berguru kepada Kiai di Ponpes As-syafi’iyah. Mereka membantu memasak di dapur pesantren. Karena mereka memang tidak mempunyai uang. Mereka mau bekerja apa saja asal bisa belajar. Dari sana mereka akhirnya bisa membuka usaha sendiri. Haji Rozak membeli tanah di daerah Bekasi dan Haji Zaenal pulang ke Pekalongan dan mengembangkan usahanya di sana. Usahanya adalah usaha perikanan air tawar. Kemudian mereka menikah dan masing-masing mempunyai anak. Haji Zaenal Mempunyai Putra bernama Lukman dan Umar sedangkan Haji Rozak mempunyai tiga anak yaitu Rayhan, Rika, dan Ruslan.

Kini Haji Zaenal telah meninggal ketika usia Lukman sudah 23 tahun. Dia baru lulus dari UNSIQ. Ekonomi keluarga langsung di pegang oleh Lukman. Tentang perikanan, Lukman belum begitu ahli. Maka sekarang perikanan itu dipegang oleh adiknya Haji Zaenal yaitu pak Zaelani. Namun statusnya bagi hasil. Lukman pun yang pernah mengikuti pelatihan Koperasi langsung memasukkan usaha perikanan itu di bawah Koperasinya. Alhamdulillah usahanya tambah maju. Ibunya Lukman sangat bangga pada putranya itu. Haji Zaenal pernah berpesan sebelum meninggal kepada Hj. Aminah istrinya kalau bisa salah satu anaknya ada yang dinikahkan dengan anak Haji Rozak untuk mempererat tali silaturahim. Tapi itu tidak memaksa. Takutnya nanti tidak cocok. Itu hanya harapan Haji Zaenal saja. Syukur-syukur kalau di penuhi.

Haji Rozak senang sekali jika Rika mau menikah dengan Lukman. Lukman yang cerdas, kreatif, kaya pula. Jika Lukman ikut menjadi cover boy Indonesia wajahnya bisa termasuk nominasi. Hanya kekurangannya pada mata. Walau begitu, dia cukup bisa memakai model kacamata agar tidak terlihat seperti yang kekurangan penglihatan. Dia sudah Min dua. Lukman sering baca dari dulu. Tak heran jika sekarang min nya sudah dua.

Rika saat itu masih kuliah semester awal. Rika bilang kepada ayahnya belum siap jika harus menikah saat itu karena masih ingin meneruskan kuliah dulu. Kalau ia sudah semester tujuh atau delapan mungkin sudah siap untuk menikah. Lukman pun siap menunggu. Lagipula Lukman mulai dipercaya memegang Koperasi Pesantren Al-Asy’ariyyah sehingga bisa menabung lebih banyak untuk menikah.

Mereka bertemu kadang satu tahun hanya beberapa kali saja. Awal-awal mereka dijodohkan, Lukman sering bersilaturahmi ke Bekasi untuk menemui Haji Rozak dan keluarganya. Rika pun sudah menganggap bahwa kelak Lukman menjadi suaminya. Tahun pertama sangat mulus. Hanya di tahun ke dua. Setelah Rika mengikuti berbagai kegiatan di kampus, kemudian berkenalan dengan berbagai teman. Rika pun menjalin hubungan dengan teman kampusnya. Rika juga memiliki wajah anggun. Tak heran banyak yang menyukainya. Ia terkenal dengan pintar berbicara. Rika sengaja mengambil jurusan Publik Relation di Universitas Indonesia. Karena ia bercita-cita ingin menjadi presenter. Tubuhnya tinggi putih. Tutur bahasanya bagus.

Banyak teman Rika tidak memakai jilbab, tapi Rika tetap memakai jilbab. Ia sudah diajarkan ayahnya untuk memakai jilbab sejak duduk di tingkat SMP. Ayahnya memasukkan dia tinggal di pesantren Al-Masturiyah. Ketika SMA ia pindah ke Bekasi lagi. Dan meneruskan di SMU 8 Jakarta. Namun jilbab yang dipake Rika kini berbeda ketika ia sekolah di tingkat SMP dan SMA. Ketika SMA ia jarang untuk mengikat jilbabnya ke leher. Tapi ketika kuliah semester tiga, dia mulai coba-coba mengikat jilbabnya. Alasannya karena kini aktifitasnya lebih banyak sehingga ribet jika jilbabnya tidak simple. Pergaulannya sudah agak bebas.

Ayah dan Ibunya sudah sering berpesan agar hati-hati dalam pergaulan. Tapi Rika selalu menjelaskan “Ini kan tuntutan profesi aku mah, pah, lagian nanti aku yakin akan menjadi penyiar TV yang terkenal. Yang bangga pasti mamah papah juga kan?” Ayah Ibunya hanya bisa geleng-geleng kepala. Rika memang dari kecil sering dimanja karena anak perempuan satu-satunya di keluarga itu.

Rika mempunyai kekasih teman se jurusannya. Mereka merasa cocok karena mempunyai kecocokan. Lukman sudah sering diabaikannya. Ketika Lukman datang ke Bekasi, Rika sering alasan mau pergi mengerjakan tugas. Lukman sama sekali tidak curiga. Lukman merasa senang kalau calon istrinya nanti adalah wanita yang aktif. Namun jika sudah menikah nanti harus terkontrol kesibukannya untuk tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.

Baru saja bulan lalu Lukman pulang dari Bekasi. Biasanya Lukman tidak pernah menginap di sana. Lukman sering memesan tiket pesawat pulang pergi. Kalaupun kemalaman di Bekasi, ia akan menginap di penginapan saja. Ia masih sungkan dengan keluarga Haji Rozak walau sudah sering bertemu. Sebulan lalu ia tidak bertemu dengan Rika. Katanya Rika sedang pelatihan presenter di Bandung. Padahal Lukman sudah memberitahu Rika akan datang dan bertanya apakah ia ada di rumah atau tidak. Jika tidak ada mungkin kedatangannya bisa di tunda. Rika waktu itu menjawab ada. Tapi ternyata Rika berangkat lebih awal sebelum Lukman datang.

Sejak saat itulah Rika sudah tidak tahan dengan perjodohan itu. Awalnya Rika menyukai Lukman. Tapi mungkin Rika lebih cocok dengan kekasihnya yang baru karena lebih nyambung jika berbicara. Pembicaraan Lukman lebih sering ke enterpreuner dan bisnis. Sedangkan Rika tidak begitu menyukai itu. Rika pun bicara kepada orangtuanya bahwa ia akan memutuskan hubungan dengan Lukman. Kedua orang tuanya kaget mendengar itu. Di bujuk bagaimanapun tetap saja Rika memilih kekasihnya yang baru. Akhirnya dengan sangat berat Haji Rozak memberitahu kepada Hj. Aminah. Ia sengaja tidak bilang kepada Lukman. Biarlah Ibunya yang memberitahunya.

Air mata Lukman menetes. Mesjid sudah gelap. Mesjid itu sengaja tidak di kunci. Karena banyak santri yang tertidur di sana karena habis belajar atau habis menghafal Al-Quran. Di Mesjid itu juga banyak yang melakukan I’tikaf. Lukman menyerahkan semua kepada Allah apa yang telah terjadi. Bagi Lukman Rika adalah istri impiannya. Selain fisik yang indah, Rika juga cerdas. Lukman berfikir jika mereka menikah, anak-anak mereka juga akan menjadi cerdas. Agamanya dapat diperoleh dari ayahnya, sedangkan ilmu dunianya didapatkan dari Ibunya. Itulah impian Lukman selama ini sebelum menikah dengan Rika. Lukman telah menutup hati bagi gadis lain. Walaupun banyak anak Kiai yang meminta dirinya untuk bersedia menjadi suami atau bahkan Kiai itu sendiri yang datang untuk meminta Lukman menjadi suami dari putri-putri mereka. Lukman dengan tegas mengatakan bahwa ia sudah mempunyai calon. Lukman sangat bangga dengan Rika. Tapi apa yang dilakukan Rika, ia menghianati Lukman. Tapi memang sudah begitu jalannya dan Lukman hanya bisa bersabar. Harapannya pupus sudah.

Kini Lukman menyerahkan semuanya pada Allah. Semoga Allah memberikan penggantinya yang lebih baik.

Tersenyum sendiri

Fatiya membuka sms nya. Ia baru selesai mandi. Sms itu dari Ibu Hera pengelola PAUD Asy-‘ariyyah katanya ingin meminjam proposal bantuan PAUD. Fatiya menjawab sms itu. Dan akan menemui di PAUD bu Hera.

Setelah mengajar di PAUD, Tiya menyalakan Mio nya. Ia akan menemui bu Hera di rumahnya. PAUD Asy-‘ariyyah dan rumah Bu Hera hanya berjarak seratus meter saja. Tadinya Tiya datang ke PAUD dulu. Tapi kata Bu Yuli bu Hera sudah ada di rumahnya. PAUD itu masih di bawah Yayasan Al-Asy‘ariyyah. Bu Hera masih keponakan dari salah satu putra Alm. KH. Muntaha Alhafidz. Entah Putra yang mana. Yang jelas masih keturunan dari pendiri Ponpes itu.

Mereka membicarakan seputar HIMPAUDI dan tentang ke PAUD-an. Bu Hera sudah berumur 30 tahun, namun ia masih belum dikaruniai anak. Kadang Bu Hera bercerita tentang masa muda nya sebelum nikah kepada Tiya. Tiya merasa senang jika ada yang percaya kepadanya dan mereka bercerita kepada Tiya hingga hal yang paling rahasia. Banyak dari yang bercerita kepadanya mengaku baru pertama kali cerita kepada Tiya. Itu artinya hanya Tiya yang tahu dan sangat dipercaya. Itu karena Tiya dinilai lebih banyak mendengarkan ketika ada yang berbicara dan lebih kalem ketika di ajak curhat.

“Jadi gimana ndok hubunganmu sama mas e?” Bu Hera bertanya tentang hubungan Tiya dengan Anto. Bu Hera dan Ibu Pengelola PAUD lainnya beserta tutor sudah tahu kalau Tiya sudah akan menikah dengan guru SMAN I Mojo Tengah itu, yaitu Anto. Karena tiga bulan lalu HIMPAUDI Kecamatan Mojo Tengah sudah mengadakan acara gebyar HIMPAUDI diantaranya lomba-lomba untuk anak-anak Usia Dini. Anto menjadi juri hafalan doa dan surat pendek. Itu pun atas keputusan bersama. Dari sana, hubungan Tiya dengan Anto diketahui oleh anggota HIMPAUDI lainnya. Termasuk bu Hera.

“Anu bu… saya… sudah ndak hubungan lagi sama mas Anto” Tiya menjawab pertanyaan Bu Hera. Sedih

“Serius kamu? Kenapa? Kok bisa?” Kadang Bu Hera memanggil Tiya dengan Ibu. Tapi kadang di luar pembicaraan organisasi Bu Hera memanggil dengan ndok, kamu atau adek.

“Iya bu, kejadiannya baru aja minggu lalu. Mas Anto ga siap menikah” Tiya kini terlihat tegar menceritakan semuanya pada Bu Hera yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri.

Setelah selesai urusannya. Tiya pamit pulang. Sebelumnya ia ingin mampir dulu ke warung Mbok Darmi.Warung itu sudah lama berdiri sejak dulu mbok Darmi masih gadis. Sekarang Mbok Darmi sudah punya cucu lima. Sekarang mungkin sudah di pegang sama Mba Siwi anaknya yang nomer dua. Warung itu terletak di samping Koperasi Ponpes Al-Asy‘ariyyah. Tiya ingin membeli Nasi Megono yang terbuat dari nasi dicampur dengan sayur-sayuran dan kelapa, dia juga mau membeli gorengannya sekalian, dia paling suka membeli gembos atau ampas tahu yang di goreng dengan terigu, dan Rolado yaitu daun singkong yang telah direbus kemudian dibuat bulat-bulat seperti bola kemudian digoreng bersama telur yang dikocok. Makanan itu menjadi makanan favoritnya bersama teman-temannya dulu ketika masih sekolah di SMP Takhasus Al-Quran.

Tiya pernah mencoba membuat semua makanan tadi di rumah bersama Ibu dan Yasmin. Tapi rasanya kurang enak dan pas. Makanya ia akan membeli banyak makanan itu, karena ia sudah lama ngidam makanan itu. Pastinya orang rumah pun suka makanan tradisional Wonosobo itu.

Pulangnya Tiya mampir ke Koperasi pesantren. Ada yang harus ia beli lagi, yaitu opak. Opak ini juga salah satu makanan ciri khas dari Kalibeber berasal dari singkong di haluskan. Opak di sini berbeda dengan kota lain. Warnanya putih dan rasanya khas sekali. Penduduk Desa Kalibeber hampir semua bisa membuat opak ini. Opak ini adalah oleh-oleh terbanyak yang diborong oleh keluarga santri yang datang menengok atau santri yang akan pulang pasti membawa oleh-oleh ini. Termasuk Tiya, dia akan membeli banyak. Untuk tambahan isi koperasinya.

Ketika masuk, Tiya langsung bertemu dengan Lukman. Kebetulan Lukman sedang mengontrol Koperasi Al-Asy‘ariyyah itu. Mereka langsung saling sapa sebentar. Kemudian Tiya langsung mengambil Opak dan dengan cepat balik lagi ke kasir. Tiya mengajak Lukman berbicara tentang koperasinya di yayasannya. Tiya meminta link dari Lukman untuk distribusi opak ini di koperasinya. Dengan senang hati Lukman menyanggupinya. Selanjutnya mereka meneruskan bisnis mereka lewat Hp saja. Karena Tiya harus buru-buru pulang. Tiya sakit perut belum makan. Dan segera ingin makan nasi megono nya.

Lukman memperhatikan Tiya ketika keluar dari Koperasi. Wajah ceria Tiya membuat Lukman juga cerah. Walau kemarin dia baru saja bersedih. Lukman berpikir, gadis menarik itu pasti sebentar lagi akan menikah. Andai saja belum, pasti dia akan melamarnya. Pikirnya begitu. Karena Tiya termasuk gadis berbeda dengan purtri Kiai lainnya. Tiya ini selalu terlihat ceria dan energik. Tiya pun terlihat cerdas. Dari gaya bicaranya sudah terlihat kalau dia cerdas. Lukman suka kepribadiannya.

Tiya pun berpikiran sama. Lukman selalu terlihat menarik. Tak beda ketika ia bertemu untuk pertama kalinya. Dia berpikir andai saja Lukman belum akan menikah, dan mau dengannya, Tiya tidak akan menolak lagi. Karena Lukman termasuk tipe suami idaman Tiya. Seperti Anto, tapi Lukman lebih banyak. Tiya mengendarai motor sambil tersenyum-senyum sendiri. Untung saja dia memakai helm, jadi tidak terlihat orang-orang dijalan kalau ia senyum-senyum sendiri.

“Aduh…ma’e…perutku terus berbunyi je’ ” Tiya menyeringai menahan perutnya. Tiya tahu kalau Lukman akan segera menikah. Cerita itu ia dapat dari Bu Hera. Karena suami Bu hera adalah karyawan koperasi Al-Asy‘ariyyah. Kabarnya pernikahannya akan dilangsungkan sekitar dua bulan lagi. Seluruh karyawan koperasi itu sudah mengetahui bahwa bos mereka akan mengakhiri masa lajangnya. “Hhhh… Tiya, Tiya. Mbok yao sadar… Mas Lukman itu mau nikah. Pastinya calon istrinya cantik, putih, tinggi. Beda dengan kamu, udah item, kurus, ga tinggi-tinggi amat. Eh tapi yakin kok, akan ada yang datang menjemputku dengan segenap cintanya. Ciee…” Tiya masih saja berkhayal.

Malamnya, Tiya membuka emailnya. Surat dari Rangga belum dibacanya.

Assalamualaikum dik, Semoga sehat ya. Mas bagaikan artis lho di sana. Walau sebenarnya yang artis bukanlah mas. Tapi karena Mas Fikrul duduknya ga jauh dari mas, jadi serasa ikut kecipratan deh. Hehe. Eh iya dik, dapet salam dari mas Fikrul juga. Gimana PAUDnya? TPQ nya? Koperasinya? Semoga lancar ya. Kemarin mas baru lihat foto-foto kegiatan Pancawarna di friendster adik. Alhamdulillah kayaknya ada kemajuan ya dik. Mas doakan agar adik bisa bertahan memperjuangkan semuanya. Amiin

Kemudian Tiya me Reply membalas surat dari Rangga.

Wa’alaikum salam. Alhamdulillah apik mas. Gimana dengan mas Rangga? Hati-hati jangan sampe kecape’an yo. Perute ojo di kosongi. Tiya bangga lho mas jadi adik mas. Apalagi bisa nitip salam langsung sama mas Fikrul. Alhamdulillah semua lancar mas. Hati Tiya juga insyaAllah udah ndak sedih-sedih amat. Maaf. Surat kemarin baru bisa di balas sekarang. Ya sudah. Semoga hidup kita semua selalu diberkahi Allah. Amiin

Kemudian Tiya mengirim surat ke Tio. Tiya menceritakan pertemuannya dengan Lukman. Saat ini, Tiya hanya ingin bercerita tentang Lukman ke Tio daripada ke Rangga. Tiya berpikir mungkin kalau cerita ke Rangga kalau sudah menemukan calon yang pas saja. Kalau sebulan lagi mau menikah, kalau sudah mantap.

***

“Malam ahad nih! Kepengen banget mas Anto datang ke rumah malam ahad seperti cowok yang laen ngapeli kekasihnya” Tiya merenung di dalam kamarnya sambil membaca buku karangan Fikrul yang baru judulnya I have to found You-God Lanjutan buku I am sorry good bye. Anto tidak pernah apel setiap malam ahad. Ia biasa datang ketika hari ahadnya. Tiya suka hal romantis tapi selama itu Anto tidak pernah mengerti. Tiya menarik nafas dan meneruskan bacaannya.

“Tiya, besok kita ziarah ke ndero ya” Tiba-tiba ayahnya masuk kamar Tiya yang memang tidak di tutup itu

Nggeh” Tiya menjawab singkat. Ndero adalah makamnya pendiri pesantren Al-Asy’Ariyyah. Para santri terbiasa ziarah dengan berjalan kaki. Jauhnya dari desa Kalibeber yaitu sekitar delapan kilometer. Dulu sewaktu Tiya masih SMP Takhasus Al-Quran, sering berjalan ke sana bersama teman-teman dan guru-guru di sana. Dulu jalannya masih koral dan banyak batunya. Sekarang sudah halus oleh aspal. Ayah Tiya juga pernah menjadi santri di sana. Makanya sering sebulan sekali mengunjungi makam itu.

“Buku apa ndok?” Tanya ayahnya lagi sambil melihat buku-buku di rak Tiya. “I have to found You-God” Karya Fikrul Ghifari yang kedua yah. “Oh yang buku pertamanya sudah di buat film itu ya?” Ayahnya bertanya “Iya” Tiya melihat sekilas wajah ayahnya. Ada guratan usia dan rasa lelah ditampakkan namun ayah tetap tersenyum. Ayah merasa bangga memiliki putra putri yang kini sudah berhasil. Tiya yang dulu bisa dikatakan lemah dalam sekolahnya. Nilai pelajaran di sekolahnya tidak pernah memuaskan. Hal itu karena ia dimasukkan satu tahun lebih awal dari teman-temannya. Tapi sejak SMA, Tiya sering di ajak oleh ayahnya ke toko buku agar menyukai baca. Hasilnya, Tiya selalu menjadi juara dan kini bisa menjadi penerus cita-citanya. Sejak dulu H. Muhammad Rahman menginginkan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan Tiya lah yang bisa meneruskannya.

Kalau Tio memang bisa dikatakan berotak encer sejak sekolah dulu. Walau Tio secara tidak langsung terjun membantu yayasan. Sebulan sekali ia mengirimkan uang ke rekening Tiya untuk kemajuan yayasan. Ia sangat mendukung adiknya untuk sabar dalam membangun yayasan itu.

Siapa jodohnya?

Perjalanan Tiya mencari seorang suami bisa dikatakan unik. Banyak yang datang kepadanya tapi tidak satu orang pun yang lolos seleksi. Kebanyakan yang serius dengannya sudah mapan dan berpendidikan sama bahkan lebih dari Tiya. Namun hati Tiya belum ada yang cocok. Mulai dari Satrio, kemudian ada guru MTs yang juga menyukai Tiya namanya Pak Nanang. Tapi satu sekolah tidak setuju kalau Tiya dengan dia. Pak Nanang terkenal dengan julukan playboy nya. Tiya sudah tahu, tapi dia menolak dengan halus, sehingga Pak Nanang tidak merasa sakit hati.

Ada lagi yang tiba-tiba berkenalan di toko buku. Mengaku masih bujangan. Namanya Selamet Tapi tampangnya sudah seperti kepala empat. Katanya sedang mencari calon istri. Tiya diajak kenalan bersama Dewi. Dewi yang mengetahui temannya sedang diincar selalu menggoda kalau jadi sama Mas Selamet nanti hidupnya bakal tenang terus. Tiya yang kesal mencubit pinggang Dewi. Kemudian Tiya buru-buru pergi dari toko buku itu.

“Ada-ada saja tuh orang. Udah gila kali ya? Dewi, kamu tuh tadi bukannya nolongin aku tadi” Tiya bersungut

“Waduuuh yang digodain cowok…” Dewi senang menggoda Tiya

Wis ah koe meneng wae[5]” Tiya berbicara agak kasar ke Dewi

“Eh kita mampir dulu di baso kasti ini yok. Katanya enak lho” Dewi menggandeng tangan sahabatnya itu tanpa memperdulikan Tiya setuju atau tidak. Tiya sengaja menyimpan motornya di parkiran umum. Kemudian mereka berjalan-jalan menyusuri Kota Wonosobo tanpa menggunakan motor. Dewi minta di temani untuk mencari buku masak. Sebentar lagi dia akan menikah. Makanya harus bisa memasak untuk bisa membahagiakan suami. Tiya yang sebenarnya juga tidak bisa memasak, akhirnya mau juga membeli satu buku masakan.

“Ti, aku rasa kamu tuh jodohnya sama Mas Rangga deh” Dewi kembali membuka pembicaraan setelah memesan dua mangkuk baso dan dua es teh manis.

“Hus! Dia udah punya pilihan lain” Tiya meminum es teh manis yang sudah datang duluan

“Kata siapa? Emang kamu tahu siapa pilihannya?” Dewi pun menyeruput es teh manisnya

“Katanya temen se kantornya. Waktu itu aku pernah tanya sama dia, kapan menikah. Trus udah punya calon belum? Trus dia jawab begitu”

Jealous[6] dong?”

“Sedikit… tapi ga lagi. Biarkan dia bahagia juga” Pesanan baso mereka sudah datang. Mereka menambah bumbu ke dalam baso mereka. Kemudian makan

“Tapi apa bener dia udah punya? Apa hanya karangan dia saja? Dia kan penulis. Bisa saja gadis itu hanya visualisasi dari impiannya saja. Yang sampai saat ini masih fiktif” Dewi menghentikan makannya sejenak

“Ngarang kamu. Rangga tuh ga pernah bohong sama aku. Makanya aku percaya. Udah makan lagi ah. Nanti keburu dingin”

Selagi makan Tiya teringat akan perkataannya Dewi. Ah dewi bisa saja. Pikirnya begitu.

Bertemu calon mertua

Tiga bulan sudah sejak perpisahan Tiya dengan Anto. Tak ada kabar lagi tentang Anto. Usaha Tiya mencari calon suami pun belum menumbuhkan hasil. Orang tuanya pun sudah berusaha mencarikan. Tetapi belum juga ada yang cocok di hati Tiya. Hingga suatu hari ayahnya berniat berkunjung ke Ponpes Al-Asy’ariyyah. Ayahnya minta petunjuk untuk jodoh putrinya itu di sana. Walau masih muda, ayah dan ibunya Tiya setuju jika Tiya menikah. Karena ayahnya tahu Tiya saat ini sedang berjuang untuk yayasannya seorang diri. Ayahnya ingin kelak suaminya menemani putrinya membangun yayasan. Lagipula selain itu menikah adalah sunnah rosul. Dan H. Muhammad Rahman tidak ingin keburu meninggal sebelum menikahkan putrinya itu.

Kebetulan di Kampus sedang libur semester. Haji Muhammad lebih sering berada di rumah meneruskan yayasan. H. Muhammad datang ke Mesjid Al-Asy’ariyyah setelah asar. Beliau niatnya akan melakukan itikaf di masjid meminta petunjuk dan berdoa. Kebetulan malam itu adalah malam jumat. Setelah sholat Isya, para santri akan melaksanakan Muhadhoroh bersama di aula masjid. H. Muhammad masih berdiam diri di dalam masjid karena santri belum banyak yang datang. Tak lama kemudian. Sattir dipasang untuk membatasi antara santri putra dan putri. Santri pun mulai berdatangan.

Muhadhoroh di pesantren itu yaitu dengan membacakan solawat nabi dibacakan dengan dilagukan sehingga terdengar indah. Setelah Muhadhoroh, biasanya diadakan pentas kreasi anak-anak santri. Dilakukan secara bergantian antara tingkatan. Dimulai dari tingkatan Uula, Wustho dan Ukhro baik santri putra dan putri biasanya bergabung. Mereka mementaskan sholawatan dengan di iringi rebana, pidato tiga bahasa yaitu bahasa Arab, Inggris dan Indonesia. Dan kreasi lainnya.

Kebetulan malam itu, yang membuka acara kreasi santri adalah Lukman dengan membacakan surat Ruum ayatnya yang berisi tentang pernikahan. Lukman begitu menghayati isi Al-Quran itu. Hingga saat ini dia belum juga menemukan calon istri yang cocok baginya. Di dalam masjid, H. Muhammad mendengar bacaan Lukman sangat jelas dan indah di dengar. Terdengar sangat menghayati dalam membacanya. H. Muhammad berniat akan berkenalan dengan Lukman setelah ia turun dari mimbar. H. Muhammad dan Lukman memang tidak pernah bertemu dan tidak pernah mengenal satu sama lain. Tiya tidak pernah cerita tentang Lukman. Lagipula Lukman belum pernah mengunjungi rumah Tiya dan koperasi Tiya. Walau mereka sering berkomunikasi tentang koperasi.

Setelah selesai membacakan ayat suci Al-Quran itu, Lukman turun dari mimbar dan kembali ke Koperasinya yang terletak tak jauh dari Masjid. Ia diminta oleh santri Ukhro untuk berdiri mengganti santri yang berhalangan hadir. Lagipula yang meminta adalah teman-temannya dulu. Dengan senang hati Lukman menerima tawarannya.

Begitu sampai di Koperasinya. H. Muhammad yang dari tadi memperhatikan Lukman masuk juga ke dalam Koperasi. Kebetulan Lukman akan menggantikan tugas Pak Khaidar suaminya Bu Hera sebagai kasir.

“Assalamualaikum” H. Muhammad masuk

“Wa’alaikum salam warhamatullah. Silakan pak” Sapa Lukman ramah

“Boleh saya duduk di sini nak?” Tanya H. Muhammad setelah berjalan masuk ke dalam. Memang selalu tersedia kursi di dekat kasir sebanyak dua buah, tapi tidak menghalangi orang yang akan melakukan pembayaran. Kursi itu disediakan dekat tempat kerjanya direktur utama alias tempat kerjanya Lukman sebagai ketua koperasi. Di sana tempat bertanya anggota koperasi yang baru atau sekedar berkonsultasi.

“Oh silakan pak” Lukman mengganti tempat duduknya. Yang semula sudah duduk di tempat kasir, kini duduk di tempat kerjanya. Lukman memanggil Deni karyawannya agar menggantinya sebentar.

“Ada yang bisa saya bantu pak?” Tanya Lukman

“Begini nak, kenalkan saya Muhammad, saya tadi sangat tersentuh ayat-ayat yang telah dibacakan oleh…maaf nak siapa?” H. Muhammad sengaja tidak menyebutkan namanya dengan Haji. Beliau terkenal dengan sikap Tawadhu’nya. Makanya Tiya sangat ingin memiliki calon suami yang sama seperti ayahnya. Ayahnya adalah contoh yang baik bagi Tiya.

“Saya Lukman pak Haji” Lukman memperkenalkan diri

“Lho, dari mana nak Lukman tahu kalau saya sudah Haji? Tidak baik memanggil secara berlebihan” Haji Muhammad mengelak

“Maaf kalau begitu pak haji. Tapi saya rasa pak haji memang sudah haji kan?” Lukman tetap ngeyel

“Sudahlah, haji atau bukan haji tidak terlalu penting bagi saya. Yang penting adalah tingkat ketakwaannya saja. Setuju?” Haji Muhammad mengakhiri perdebatan kecil itu

“Tapi ndak apa-apa toh kalo saya memanggil pak haji? Sebagai rasa hormat saya?”

“Silakan nak. Enaknya saja” Haji Muhammad tersenyum. Lukman pun tersenyum balik

“Maksud kedatangan saya sebenarnya adalah ingin menanyakan kepada nak Lukman, apakah sudah menikah atau belum?” Haji Muhammad menatap Lukman

“Belum pak Haji” Jawab Lukman singkat

“Alhamdulillah. Kebetulan saya mempunyai seorang putri. Dia juga belum menikah. Mungkin suatu hari nak Lukman bisa berkunjung ke rumah kami untuk bersilaturahmi dan bertemu dengan putri saya” Haji Muhammad mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkan kepada Lukman

“Terimakasih pak haji. InsyaAllah saya akan datang” Lukman menerima kartu nama itu

Kemudian Haji Muhammad pamit pulang karena sudah malam dan gerimis mulai turun. Lukman mengantar hingga tempat parkir mobil.

Lukman tersenyum sendiri. Bukan kali pertama ia ditawari putri seorang haji atau seorang bapak. Dia selalu datang, namun hanya sekedar silaturahmi. Untuk kelanjutan dengan para gadis itu Lukman mengelak dengan cara yang tidak menyakitkan para kaum hawa itu. Kalau pun mereka datang bersama putrinya, Lukman mengelak untuk berta’aruf lebih lanjut. Feeling Lukman sangat tajam. Ia tidak mau coba-coba untuk gadis lain. Ia sangat selektif dalam memilih pasangan. Hal itu karena ia ingin mendapat istri yang bisa menurunkan anak yang soleh dan berkualitas.

“Ya Allah ampuni hamba jika hamba sombong. Hamba hanya ingin Engkau memberikan yang terbaik untuk hamba. Hamba pun tidak ingin tergesa-gesa” Doa Lukman setiap ada gadis yang datang. Kali itu Lukman berjanji dalam hatinya akan datang ke rumah Haji Muhammad. Lukman terkesan dengan sikap yang ditunjukan oleh haji Muhammad. Lukman berpikir pasti putrinya sopan seperti ayahnya.

***

Jam sepuluh pagi, Lukman memanaskan motor bebeknya. Ia akan berkunjung ke rumah Haji Muhammad. Lukman membawa oleh-oleh opak. Ia masukkan ke dalam plastik putih milik koperasi. Sepuluh menit kemudian ia pergi menuju tempat tujuan. Tujuh belas menit kemudian Lukman sampai di rumah haji Muhammad. Lukman bergumam kalau rumah Haji Muhammad sangat asri. Banyak tanaman hias di pekarangannya. Di pojok rumah ada kolam ikan kecil. Air mancur terdapat di tengah-tengahnya. Lukman membuka helmnya dan memasuki teras rumah.

“Assalamualaikum” Lukman mengetuk pintu. Kebetulan hari itu hari sabtu. Semua keluarga haji Muhammad ada di rumah, kecuali Alif dan Yasmin yang sekolah. Tiya memang tidak ada jadual mengajar baik di MTs dan di PAUD. Karena PAUD hanya lima hari saja dan di Mts jadualnya hanya kamis dan jumat saja. Tio baru datang tadi pagi dari Jakarta, ia mengambil perjalanan malam menuju Wonosobo. Kontrak kerjanya sudah habis. Tapi dia sebulan lagi akan di panggil lagi sebagai karyawan tetap.

“Wa’alaikum salam waraohmatullah” Tio menjawab dan membukakan pintu

“Haji Muhammad ada?” Tanya Lukman pada Tio.

“Oh ada, silakan duduk” Tio mempersilakan Lukman untuk duduk di kursi teras. Sementara Tio masuk memanggil Haji Muhammad, Lukman tidak langsung duduk, ia melihat-lihat kelas PAUD yang terletak di samping teras rumah. Ia melihat permainan yang ada di PAUD itu dari kaca. Kemudian ia melihat Koperasi Pancawarna yang terletak beberapa meter di dekat kelas PAUD itu. Lukman tercengang, seperti Koperasi milik Fatiya pikirnya. Ah mungkin saja sama pikirnya lagi.

“Nak Lukman, silakan duduk” Haji Muhammad membuyarkan lamunan Lukman. Beliau keluar bersama Bu Safinah.

Maturnuwun pak haji, Bu” Lukman kini duduk di hadapan Haji Muhammad dan Bu Safinah duduk di samping beliau. Mereka berbincang-bincang seputar kegiatan sehari-hari Lukman. Lukman pun merasa tertarik dengan profesi Haji Muhammad sebagai tenaga pendidik. Tak lama kemudian Tiya muncul membawakan air teh hangat untuk keduanya. Haji Muhammad sengaja tadi di dalam rumah menyuruh Tiya untuk membuat teh dan membawakan ke teras untuk tamunya. Tiya tidak diberitahu sebelumnya siapa tamu ayahnya itu.

Lukman terus memperhatikan wajah Haji Muhammad ketika Tiya menyerahkan gelas. Lukman hanya sekilas memandang jari Tiya. Kuning langsat. Kulit Tiya sudah tidak hitam lagi seperti dulu. Sejak putus dengan Anto, Tiya rajin mempercantik diri. Dengan facial, bahkan sampai mandi susu. Hasilnya kulitnya kini sudah mulai cerah. Tujuan Tiya bukan karena ingin menggoda laki-laki lain agar menyukai dia. Lagipula setiap hari Tiya memakai helm, jadi tidak bergitu terlihat orang banyak. Kalaupun di sekolah, Kebetulan hari kamis dan jumat semua guru laki-lakinya sudah menikah semua dan sisanya guru perempuan. Tiya mempercantik diri untuk mempersiapkan untuk suaminya nanti. Ia ingat pesan ibunya kalau nanti berdandan niatkan untuk suami. InsyaAllah kamu cepet jodohnya. Entah itu mitos atau perasaan Ibu Safinah saja yang merasakan jodoh Tiya tidak akan lama lagi. Dengan senang hati Tiya melaksanakan saran Ibunya itu. Tiya niat karena ingin mengabdi kepada Allah dan suaminya.

“Tiya, duduk sebentar sini sama bapak dan ibu” Haji Lukman menyuruh putrinya duduk dulu disamping. Lukman langsung kaget mendengar nama Tiya di sebut. Kemudian Lukman melihat Tiya yang telah duduk di samping Haji Muhammad. Lukman melihat Tiya tampak lebih segar. Tiya memakai kerudung biru tuanya. Wajahnya tampak terlihat lebih putih dan bersih. Tiya kaget pula, kemudian menyapa Lukman.

“Mas Lukman?” Sapa Tiya

“De’ Fatiya!” Sapa Lukman pula.

“Wah rupanya sudah saling kenal ya?” Bu Safinah mulai berbicara

“Wah Tiya kenal banget sama mas Lukman ini. Dia kan yang bantu Tiya untuk koperasi kita ini” Tiya menjelaskan pertemanan dengan Lukman. Akhirnya mereka berempat saling berbicara akrab sekali. Tio yang penasaran dengan suasana di luar ikut nimbrung dengan mereka. Mereka asyik berbicara hingga Zuhur tiba. Dan Haji Muhammad meminta Lukman untuk sholat berjamaah bersama setelah itu makan siang bersama. Walau agak sungkan dengan keluarga Haji Muhammad, tapi akhirnya mau juga karena Haji Muhammad sudah memintanya berkali-kali.

Setelah makan, Lukman pamit pulang. Semua keluarga Haji Muhammad mengantar hingga luar. Oleh-oleh opak sudah diterima dari tadi. Tiya yang menerimanya. Pertemuan tadi membicarakan tentang perjodohan antara Lukman dan Tiya. Mereka ditanya malu-malu. Baik Lukman dan Tiya. Tiya lebih banyak diam ketika Haji Muhammad menggoda tentang Lukman kepada putrinya itu. Sementara Lukman tampak malu-malu kucing juga. Lukman terlihat sangat bahagia siang itu. Lukman berkata kepada Haji Muhammad untuk memberi jawaban setelah tiga hari. Dia ingin istikhoroh dulu dan meminta izin kepada ibunya. Semoga jawaban Allah untuk jodohnya adalah Tiya. Karena sudah lama Lukman berharap dengan Tiya hanya saja dugaannya selama ini melemahkan keinginannya.

Sepulang Lukman pergi meninggalkan rumah Fatiya, Lukman langsung sujud syukur lagi di kontrakannya sebelah pesantren. Ia berdoa kembali, semoga Tiya lah jodohnya. Begitu pula yang dilakukan Fatiya. Fatiya berdoa juga semoga Lukman lah jodohnya. Haji Muhammad dan Bu Safinah tersenyum bahagia melihat putrinya juga terlihat bahagia hari ini. Tio pun merasa bahagia dia yakin adiknya itu sebentar lagi akan menikah. Ia jadi ingat pesannya dulu kepada Tiya setelah lulus dari UIN Malang bahwa seharusnya Tiya pulang ke rumah bantu ayah untuk membangun yayasan, kemudian menikah sama ustadz. Akhirnya sebentar lagi akan kesampaian. “Semoga mereka berjodoh” Doa Tio lirih.

Puisi terindah

Keluarga Lukman datang dua hari sebelum pernikahan di mulai. Setelah tiga hari sejak kedatangan Lukman ke rumah Haji Muhammad, Lukman memberitahu kalau keluarganya akan datang hari ahad depan. Secepat itu Lukman memberitahu Ibunya dan Ibunya juga ingin segera agar Lukman menikah. Kemudian pertemuan dua keluarga itu telah disepakati bahwa pernikahan dilaksanakan dua minggu kemudian. Bukan terburu-buru, mereka sebenarnya sudah saling mengenal hanya saja belum bisa saling terbuka antara satu sama lain. Dan ketika sudah ada jalannya, mereka pun tidak ingin di lama-lama kan.

Keluarga Lukman menginap di kontrakan rumah Lukman. Mereka membawa persiapan pernikahan. Mulai dari ikan mas yang akan diserahkan kepada keluarga Tiya untuk di pepes hingga semua baju dan aksesoris pernikahan, keluarga Lukman yang mempersiapkan. Keluarga Tiya hanya membantu sedikit. Hj. Aminah begitu bersemangat kalau putranya kini akan menikah. Hj. Aminah menemukan kebahagiaan lagi di wajah putranya.

Lukman Al-Hakim yang sebentar lagi akan melaksanakan pernikahannya bersama Fatiya Nurrahman sedang berdiam diri di masjid pesantren. Disaat semuanya sibuk, dia malah duduk di dekat mimbar. Dia melatih dirinya untuk menghafalkan ijab qobul nanti. Ia tidak mau kalau harus mengulang. Ia terus melakukan sholat dan meminta agar pernikahannya tidak di tunda lagi atau sampai tidak jadi.

Begitupun dengan Tiya. Ia cukup nervous menghadapi hari pernikahan yang tinggal dua hari itu. Ia lupa memberi tahu kepada Rangga. Dan ketika ia sadar, ia langsung menelpon Rangga.

“Assalamualaikum” Sapa Tiya ketika Rangga sudah mengangkat

“Wa’alaikum salam dik… Apa kabar?” Sapa Rangga

“Alhamdulillah baik mas, mas sendiri?” Tanya Tiya masih berbasa basi

“Ada apa nih dik? Kayaknya suaranya lagi seneng betul?”

“Iya nih mas. Tiya mau minta maaf”

“Kok malah minta maaf?” Rangga heran

“Tiya mau minta maaf kalau baru memberi tahu mas kalau insyaAllah lusa Tiya menikah…” Tiya menjelaskan

Rangga diam sejenak. Kemudian menjawab

“Alhamdulillah. Mas ikut seneng dik. InsyaAllah mas datang” Rangga terkesan buru-buru. Karena memang dia sedang mengerjar dead line edit an artikel untuk di muat di koran.

“Alhamdulillah juga kalau begitu. Fatiya tunggu ya mas. Ajak Mba Karin juga. Hehe. Sudah dulu ya mas. Wassalamualaikum” Tiya langsung menutup telponnya. Karin adalah gadis yang diceritakan Rangga waktu Tiya bertanya sedang dekat dengan siapa selain dengan Tiya. Karin itu gadis yang dianggap Dewi gadis fiktif dan misterius. Tapi Tiya yakin, Rangga tidak bohong tentang keberadaan Karin.

***

Jam tiga pagi Tiya sudah bangun. Ia harus bersiap-siap untuk di dandani, luluran dan sebagainya. Semua orang di rumah Tiya sudah bangun semua, kecuali si kecil Yasmin. Beberapa keluarga Ibunya dari Purwokerto bersama Mbahnya datang satu hari yang lalu. Sedangkan keluarga ayahnya memang berasal dari Wonosobo sehingga mereka jauh hari sudah membantu persiapan pernikahan Fatiya.

Tiya sholat Tahajud sendiri kemudian bersama keluarganya dipimpin Haji Muhammad sholat subuh berjamaah. Setelah itu Fatiya di luluri sebelum mandi agar kulitnya halus. Udara Wonosobo kala subuh sangat dingin sekali. Berkali-kali Tiya bersin-bersin menahan dingin, karena ia diluluri hanya memakai selembar kain saja.

Tiga puluh menit kemudian Tiya mandi, setelah itu baru didandani. Pelaminan dan tempat untuk melaksanakan akad nikah sudah di pasangi kain putih. Tiya memang meminta agar nuansa pernikahannya putih. Baju yang dikenakan pun serba putih. Jam tujuh pagi keluarga Lukman dan Lukman sudah datang ke calon mempelai istri. Hati Tiya dan Lukman berdegup kencang. Kemudian Lukman duduk di depan penghulu. Fatiya menunggu di dalam. Lukman sangat lancar membacakan ijab qobulnya. Setelah ijab qobul, Fatiya keluar untuk mencium tangan Lukman yang sudah menjadi suaminya itu.

Lukman pun mencium kening Fatiya yang sudah menjadi istrinya. Suasana haru dan bahagia menyelimuti seluruh ruangan. Tak terkecuali dengan Rangga yang datang bersamaan dengan rombongan Lukman. Dia memakai Bis malam dari Jakarta. Fatiya meneteskan air mata ketika keningnya dikecup oleh Lukman. Mereka sudah sah menjadi suami istri. Merekapun menyalami ayah ibu dan keluarganya yang hadir pada acara akad nikah itu.

Semua undangan baik dari pesantren hingga guru-guru di MTsN Kalibeber berdatangan. Murid-murid tampak ramai dan mempersembahkan lagu marawis yang selalu dibawakan oleh Rendra.

Ketika Rangga menyalami Tiya dan Lukman, Fatiya memperkenalkan Rangga pada Lukman bahwa Rangga adalah penulis hebat dan adalah masnya setelah Tio. Lukman yang ramah langsung menerima pelukan Rangga. Rangga berbisik pada Lukman untuk selalu membuat bahagia Fatiya. Lukman pun mengangguk. Tiya bertanya pada Rangga mengapa tidak mengajak Karin. Jawaban Rangga adalah “Karin masih dalam hayalku saja dik” Rangga tersenyum. Fatiya tidak percaya dan tetap tidak percaya.

Satu hari menjadi Raja dan Ratu telah dilewati kedua insan itu. Kamar pengantin telah di sediakan untuk mereka berdua. Kamar itu nuansanya biru. Fatiya ingin mulai dari kasur hingga kelambunya berwarna biru. Fatiya masuk duluan ke kamar diikuti Lukman. Mereka bingung akan melakukan apa. Kemudian Fatiya membuka jilbabnya dihadapan Lukman.

“Kau tampak cantik de’” Puji Lukman. Tiya hanya tersenyum kemudian menyisir rambutnya. Lukman masih duduk di kasur. Kemudian Fatiya menyerahkan puisi kepada Lukman yang telah ia buat tiga bulan lalu. Ia persiapkan untuk suaminya kelak dan dibaca ketika malam pertama.

Setelah ijab qobul mengesahkan semuanya, semua telah di ikat dengan ikatan suci. Janji yang diucap selayaknya dijaga…

Suamiku… sebelumnya maafkan aku jika kau akan merasakan rasa kecewa jika telah hidup bersama. Semua yang jelek pada diriku, kau akan mengetahuinya.

Aku tak salahkan kalau akulah tulang rusukmu yang lama kau cari…?

Izinkan aku untuk kau jaga, untuk kau lindungi, untuk kau bimbing hingga aku menemuimu di akhirat sana dengan keadaanku yang suci …

Perempuan beruntung itu adalah aku suamiku… Perempuan bahagia itu adalah isterimu suamiku…

Senyum mengembang akan selalu kupasang dalam hidupku setelah menemukanmu…

Doamu untukku untuk selalu menjadi Isteri solehah yang tidak pernah mengeluh untuk menemanimu hidup, menjadi makmum bagimu, menjadi pelayanmu…

Suamiku tercinta… izinkan aku untuk selalu kau manja, untuk selalu kau buat tersanjung dan menjadi isteri paling bahagia…

Pukullah aku dengan kasih sayangmu jika aku mengecewakanmu…

Bimbinglah aku untuk menuju jalan-Nya dalam susah maupun senang…

Suamiku… Jika aku berkarya, aku ingin kau mendukungku dengan segala nasehat baik untukku agar aku tidak menjadi takabur dan lupa akan tugasku…

Suamiku… Jika Allah memberimu keturunan melalui rahimku… asuhlah ia seperti ibumu mengasuhmu… seperti ayahmu mendidikmu… Jadilah ayah yang bijaksana, disiplin dan disegani… Juga sebagai suri tauladan bagi putra putrimu…

Suamiku… Jika aku tua nanti… Izinkan aku tetap mengurusmu hingga aku tidak bisa mengurusmu karena alam kita yang sudah berbeda…

Jika aku tua nanti… Akupun ingin kau selalu setia pada janjimu dulu ketika ijab qobul terluncur dari hatimu dan mulutmu… Peganglah janjimu kuat-kuat dan walaupun umurmu sudah tidak muda lagi…ingatlah bahwa janjimu tidak akan pernah terlupakan dari hidupmu… Janji kita berdua…

Suamiku… Jika aku meninggal nanti, teruskanlah cita-cita kita, bimbinglah selalu putra-putri kita, doakanlah aku selalu di sana, doakan agar kita bertemu kembali di alam yang kekal abadi selamanya…

Teruntuk suamiku…

Lukman membaca surat itu menangis. Ia menangis dihadapan Tiya. Fatiya yang duduk disampingnya menghapus air mata yang jatuh dari kedua mata suaminya. Lukman pun berkata.

“De’, Fatiya Nurrahman ku tersayang. Puisi ini adalah puisi terindah yang pernah mas terima. sungguh indah namamu ku sebut, sungguh damai hatiku jika berada di sampingmu. Harapanmu ini adalah harapanku juga de’ kita sama-sama menjalaninya. Ade’ bisa menerima mas apa adanya begitu juga mas bisa menerima apa adanya ade’. Kita harus saling menutupi kekurangan kita. Sini mas peluk istriku yang manis” Lukman menggoda Tiya. Tiya pun menerima pelukan Lukman. Mereka melengkapi ritual sunnah Rosul itu. Udara Wonosobo yang dingin tidak membuat mereka kedinginan. Karena mereka sudah saling melengkapi satu sama lain.

Tiba-tiba Fatiya bernyanyi di telinga Lukman ketika sedang memeluknya

Semenjak ada dirimu, dunia terasa indahnya semenjak kau ada di sini ku mampu melupakannya… Semenjak ada dirimu, dunia terasa indahnya, semenjak kau ada di sini tak ingin melepaskanmu…” Suara Tiya terdengar halus di telinga Lukman. Berbahagialah dua insan yang sedang dilanda asmara itu. Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Wa Rahmah…

Yasmin Ahmad, February 10th 2008


[1] Gerah

[2] keras

[3] bagaimana ini

[4] Ya sudah

[5] Sudah ah kamu diam saja

[6] Cemburu

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.